Cerita ini berpusat pada seorang wanita yang terjebak dalam pernikahan kontrak atau "pernikahan pajangan" dengan pewaris takhta perusahaan besar (Chaebol). Peran utamanya adalah menjadi pendamping sempurna di acara publik, namun di balik layar, hubungan mereka mungkin dingin atau penuh benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Mahkota di Balik Pintu yang Terkunci
Malam yang dingin itu perlahan mulai terkikis oleh ambisi. Di dalam kehangatan rumah barunya, Devan mencoba meredam amarah Viona dengan logika yang paling ia pahami: kekuasaan.
"Sayang, dengarkan aku," ucap Devan sambil memegang kedua bahu Viona. "Kalau wasiat itu dibacakan dan ada harta atau saham besar yang diberikan atas namaku, bukankah kamu juga yang akan senang? Kita butuh itu untuk masa depan kita."
Viona terdiam, matanya yang tadi berapi-api kini mulai menghitung keuntungan. "Kalau begitu, aku harus ikut! Aku tidak mau mereka merendahkanku lagi. Aku harus ada di sana saat kau menerima hakmu."
Devan terdiam cukup lama. Ia tahu membawa Viona ke mansion Jacob saat pembacaan wasiat adalah sebuah skandal besar, namun melihat keras kepalanya Viona, ia akhirnya mengangguk. "Ya sudah, ayo."
Saat mereka keluar, pemandangan menyedihkan menyambut mereka. Vanya masih terduduk di bangku taman, tubuhnya yang basah mulai mengering.Wajahnya sepucat kertas, namun matanya terbuka sedikit, mencoba mempertahankan sisa-sisa kesadarannya.
"Vanya, ayo pulang!" perintah Devan ketus.
Vanya mencoba berdiri. Kakinya terasa seperti jelly, dan kepalanya berdenyut seolah akan pecah. Ia berjalan sangat pelan, meraba udara untuk mencari keseimbangan.
"Cepetan, Vanya! Lama banget!" Devan kehilangan kesabarannya. Melihat Vanya yang linglung, secara refleks Devan melangkah maju dan langsung menggendong Vanya dalam pelukan bridal style.
Viona membelalakkan mata, tangannya mengepal kuat. "Devan! Apa yang kau lakukan?!"
Tanpa menjawab, Devan terus berjalan dan memasukkan Vanya ke bangku belakang mobil, lalu ia segera masuk ke kursi kemudi.
"Devan!" teriak Viona yang masih berdiri di luar kehujanan.
Devan tersentak, ia baru sadar telah meninggalkan kekasihnya. Ia segera turun lagi dengan terburu-buru. "Maaf sayang, aku lupa. Maaf ya," ucap Devan sambil membukakan pintu depan untuk Viona dengan penuh rasa bersalah.
Perjalanan menuju Mansion Jacob terasa sangat panjang dan penuh keheningan yang menyesakkan. Sesampainya di sana, suasana sudah sangat tegang. Pak Andrew ternyata sudah menunggu di ruang tamu utama, dikelilingi oleh Olivia, Karlo, dan Rose yang tampak seperti singa kelaparan.
Saat Devan masuk menggandeng Viona, seluruh ruangan mendadak hening.
"Anda siapa?" tanya Pak Andrew sambil menatap Viona dengan tatapan dingin di balik kacamatanya.
"Saya calon istri Devan," jawab Viona dengan dagu terangkat, mencoba terlihat berwibawa di depan keluarga elit itu.
Pak Andrew menarik napas panjang, melepaskan kacamatanya, dan memijat pangkal hidungnya. Keberanian wanita ini benar-benar di luar nalar hukum. "Surat ini mau saya bacakan atau tidak?" tanya Pak Andrew pada seluruh anggota keluarga.
"BACAKAN!" jawab Olivia, Karlo, dan Rose serentak.
"Lalu kenapa orang asing masuk ke sini?" tanya Pak Andrew tegas. "Dan di mana Nyonya Devan?"
Olivia menoleh ke arah Devan dengan mata melotot. "Devan! Di mana Vanya?! Dan kau, Viona... beraninya kau menginjakkan kaki di sini di hari sepenting ini. Keluar dari rumah ini sekarang!"
"Tante, kok gitu?" Viona merengek, menatap Devan minta pertolongan.
Devan merasa terpojok. "Sayang, kamu tunggu di mobil dulu ya? Aku mohon. Hanya sebentar sampai ini selesai," bisik Devan memelas.
Viona menghentakkan kakinya dengan kesal namun akhirnya lari keluar menuju mobil. Tak lama kemudian, Vanya masuk dengan langkah santai. Ia sudah mengganti pakaiannya dengan dress kering yang disiapkan pelayan di area belakang, namun wajahnya tetap pucat pasi.
"Vanya! Cepat kemari!" teriak ibu mertuanya tanpa sedikit pun rasa kasihan melihat menantunya baru saja hampir mati kedinginan.
Pak Andrew berdiri, ia menatap Vanya dengan tatapan yang sangat berbeda—tatapan penuh hormat. "Anda baik-baik saja, Nona?"
Vanya mengangguk lemah, ia duduk di kursi yang paling ujung, mencoba menahan rasa pening yang luar biasa. "Iya... saya baik. Silakan bacakan, Pak Andrew."
Pak Andrew membuka koper kulitnya. Ia mengeluarkan sebuah dokumen tebal dengan segel emas resmi dari otoritas hukum Amerika. Suasana ruangan itu seketika menjadi begitu sunyi hingga detak jantung masing-masing orang bisa terdengar.
"Sesuai instruksi terakhir almarhum Tuan Davit Jacob," suara Pak Andrew bergema di ruangan itu. "Wasiat ini bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat."
Olivia dan Karlo memajukan duduk mereka, mata mereka berbinar penuh keserakahan, tidak menyadari bahwa kata-kata selanjutnya akan meruntuhkan seluruh dunia yang mereka bangun di atas kebohongan.
Pak Andrew menegakkan punggungnya, menarik napas panjang, dan membuka lembaran wasiat berkekuatan hukum tetap itu. Suaranya bergema dingin, membelah keheningan ruang tamu yang kini terasa mencekam.
"Saya, Davit Jacob, dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan, menyatakan bahwa seluruh harta kekayaan saya—baik berupa saham mayoritas di Jacob Group, properti di dalam maupun luar negeri, koleksi benda berharga, hingga seluruh simpanan perbankan—dengan ini seluruhnya diberikan dan diwariskan kepada menantu saya, Vanya Benjamin."
Ruangan itu mendadak sunyi, seolah oksigen tersedot keluar. Olivia, Karlo, dan Rose membeku di posisi masing-masing.
"Keputusan ini bersifat final dan tidak dapat diganggu gugat," lanjut Pak Andrew tanpa ekspresi. "Semua aset yang disebutkan telah melalui proses balik nama di bawah otoritas hukum internasional. Lebih lanjut, seluruh aset yang saat ini dipegang oleh istri dan anak-anak saya akan diaudit ulang dalam satu bulan ini. Bila ditemukan aset yang bukan haknya atau didapat secara ilegal, akan langsung diproses secara hukum."
Pak Andrew menutup dokumen itu. "Demikian isi surat wasiat ini. Tertanda, Davit Jacob."
BRUK!
Olivia Jacob jatuh tak sadarkan diri dari kursinya. Kepalanya terkulai, ia pingsan seketika karena syok yang teramat sangat. Karlo hanya bisa menatap kosong ke lantai, otaknya tidak mampu memproses bagaimana seluruh rencana besar yang ia bangun bersama ibunya hancur hanya dalam hitungan detik. Sementara itu, Rose jatuh lemas bersimpuh di samping kursi, tangannya gemetar hebat membayangkan hidup tanpa fasilitas mewah yang selama ini ia banggakan.
Devan berdiri mematung di tengah ruangan. Wajahnya yang tadi sombong kini tampak pucat pasi. Ia menatap Pak Andrew dengan tatapan nanar.
"Apa... tidak ada satu pun aset atas namaku?" tanya Devan dengan suara parau yang hampir tak terdengar.
Pak Andrew menatap Devan dengan tatapan tajam di balik kacamatanya. "Tidak ada, Tuan Devan. Almarhum tidak meninggalkan satu sen pun atas nama Anda."
Mendengar itu, kekuatan di kaki Devan seolah hilang. Ia terjatuh, berlutut di atas karpet mahal yang kini—secara teknis—adalah milik istrinya. Pria yang tadi menganggap Vanya hanya pajangan, kini tersadar bahwa dirinya hanyalah seorang pengemis di rumahnya sendiri.
Di tengah kekacauan itu, Vanya hanya terdiam. Ia duduk dengan punggung tetap tegak, meski wajahnya masih pucat karena demam yang mulai menyerang tubuhnya. Tidak ada binar kemenangan di matanya, hanya ada rasa haru yang mendalam. Ia teringat pesan Pak Davit di atas tebing: "Papa titip Devan."
Vanya menoleh ke arah jendela, di mana di luar sana Viona sedang menunggu di dalam mobil, tidak tahu bahwa pria yang ia puja demi hartanya itu baru saja menjadi orang yang paling miskin di keluarga Jacob.
Vanya menatap Devan yang masih berlutut lemas. Perang telah usai, namun tanggung jawab besar untuk membenahi reruntuhan keluarga ini baru saja dimulai. Di tangan Vanya Benjamin, sejarah baru keluarga Jacob akan segera ditulis.