NovelToon NovelToon
OM CEO Itu Suamiku

OM CEO Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Perjodohan
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: jlianty

Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.

Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.

Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hidup mandiri & Berubah

Zahra menyerahkan draft skripsi finalnya ke Bu Hana pada Selasa pagi.

Sangat amat butuh perjuangan, ada lingkaran hitam di bawah matanya yang tak sepenuhnya hilang meski sudah tidur delapan jam, ada sisa kopi yang menempel di sudut meja kamarnya dari tiga malam begadang berturut-turut, dan ada satu momen di minggu kedua ketika dia duduk di ruang baca jam dua pagi dengan kepala di atas meja dan betul-betul hampir menyerah.

Yang membuat ia tak boleh menyerah adalah segelas kopi yang muncul di sebelah tangannya tanpa suara.

Zahra tidak mendongak waktu itu. Tidak perlu ia sudah hafal langkah kaki itu.

Rafandra.

Yang seharusnya sudah tidur dari dua jam lalu. Zahra menatap kopi itu sampai uapnya berhenti mengepul, lalu kembali ke laptopnya dengan sesuatu yang hangat di dadanya yang ternyata cukup untuk membuatnya bertahan sampai subuh.

Bu Hana membaca draft itu dalam dua hari. Dua hari yang Zahra habiskan dengan pura-pura tidak gelisah scroll HP tanpa tujuan, makan tapi tidak menikmati, bolak-balik dari kamar ke dapur ke ruang baca tanpa alasan yang jelas sampai Mbak Reni dengan halus. "Apakah Mbak Zahra baik-baik saja."

"Baik, Mbak. Cuma nunggu kabar."

"Kabar apa, Mbak?"

"Yang bikin hidup atau mati."

Mbak Reni menatapnya dengan ekspresi yang tidak tahu harus merespons apa. Zahra menepuk bahunya dan pergi ke dapur mengambil air minum yang sebenarnya tidak dia butuhkan.

.

.

.

Hari kedua, jam sepuluh pagi, pesan dari Bu Hana.

Bu Hana: Zahra, ke ruang dosen jam dua.

Hanya itu, tak ada petunjuk atau bocoran. Bu Hana memang tak pernah memberikan petunjuk.

Zahra duduk di depan pintu ruang dosen dengan jantung yang tidak bisa diajak diam. Di sebelahnya, bangku kayu panjang yang sudah menampung ratusan mahasiswa dengan kecemasan yang sama. Di tangannya, HP yang sudah dia buka tutup tujuh kali dalam sepuluh menit bukan karena ada notifikasi, tapi karena tangannya butuh melakukan sesuatu.

Zahra: Gue udah sampe ruang dosen. Doain ya.

Pesan ke Sinta. Balasan datang dalam tiga detik:

Sinta: BISMILLAH ZAH. Gue doain dari sini sambil makan keripik buat ngurangin anxiety gue ikut-ikutan.

Zahra tak kuasa menahan tawa, tapi cuma setengah.

Pintu ruang dosen terbuka. Bu Hana muncul di ambangnya, menatap Zahra dengan ekspresi yang sudah dua semester tak pernah bisa Zahra baca dengan benar.

"Masuk."

.

.

.

Zahra keluar dari ruang dosen itu delapan menit kemudian. Dua coretan kecil di bab tiga. Satu catatan di margin bab lima dan satu kalimat dari Bu Hana yang diucapkan sambil menyerahkan kembali draft-nya.

"Ini sudah layak sidang."

Tidak ada tepuk tangan atau senyum lebar sebagai Kata selamat. Bu Hana langsung kembali ke layar laptopnya seolah baru saja menandatangani surat biasa.

Tapi Zahra berdiri di koridor kampus itu selama hampir satu menit penuh tidak bergerak, tidak bersuara, hanya berdiri dengan draft skripsi di tangan dan kalimat itu yang masih bergema di kepalanya.

'Layak sidang.' Dua kata. Tapi beratnya terasa seperti dua tahun.

HPnya bergetar. Sinta yang jelas sedang menunggu di seberang sana dengan keripik dan kecemasan yang dia bilang ikut-ikutan.

Zahra mengangkat telepon sebelum sempat bicara apa-apa, Sinta sudah berteriak:

"ZAHRA NGOMONG GA SEKARANG! ATAU GUE PINGSAN—"

"Layak sidang."

Dua detik hening.

Lalu suara yang cukup keras untuk membuat tiga orang di ujung koridor menoleh.

"ALHAMDULILLAH YAAAAAA ALLAAAAHHHH—"

.

.

.

Zahra tidak langsung pulang. Ia beli es krim satu cone di kantin kampus rasa cokelat, yang selalu jadi pilihannya waktu butuh merayakan sesuatu sendirian dan duduk di bangku luar yang menghadap lapangan parkir yang tidak terlalu fotogenik tapi cukup terbuka untuk merasa bebas.

Angin siang meniup rambutnya ke satu sisi. Matahari sedikit terlalu terik tapi Zahra tidak bergerak ke tempat teduh.

Ia makan es krimnya pelan-pelan. Menatap orang-orang yang lalu lalang di bawah sana mahasiswa yang terburu-buru, yang duduk berkelompok, yang sendirian dengan headphone di telinga.

Dan di bangku itu, sendirian, Zahra merasakan sesuatu yang belum pernah betul-betul dia rasakan. Bukan bahagia yang meledak. Bukan lega yang dramatis. Tapi cukup penuh, utuh, seperti potongan puzzle yang selama ini hilang tiba-tiba jatuh ke tempat yang pas dengan bunyi klik yang pelan tapi pasti.

Ini miliknya.

Bukan karena pernikahan. Bukan karena Rafandra. Bukan karena keluarga Hendra atau tekanan atau apapun di luar dirinya.

Tapi karena ia yang duduk di depan laptop jam dua pagi waktu semua orang tidur, ia yang memilih untuk tidak menyerah Dan ia yang mengetik kata demi kata sampai draft itu layak untuk dibaca orang lain.

"Ini hak gue, setelah mengerjakan kewajiban"

HPnya bergetar. Rafandra.

Rafa: Sudah selesai bimbingan?

Zahra menatap pesannya, menggigit ujung cone es krimnya. Lalu mengetik:

Zahra: Lebih dari itu. Draft gue layak sidang.

Tiga titik muncul lebih lama dari biasanya, cara Rafandra mengetik yang tidak pernah terburu-buru.

Rafa: Selamat.

Satu kata.

Zahra sudah cukup belajar bahasa Rafandra untuk tahu bahwa dari mulutnya, satu kata itu setara dengan paragraf panjang dari orang lain. Bukan karena dia pelit kata tapi karena ia hanya mengeluarkan kata-kata yang betul-betul dia maksud.

Zahra: Makasih, Om.

Rafa: Malam ini kamu mau makan apa.

Bukan tanda tanya. Cara Rafandra yang khas bukan bertanya, tapi menyatakan bahwa malam ini dia yang akan memutuskan sesuatu untuk dirayakan.

Zahra tersenyum manis ke layar HPnya.

Zahra: Bebek goreng.

Rafa: Ada tempat yang bagus di Menteng. Aku sudah reservasi.

Zahra: Om nggak perlu repot-repot.

Rafa: Aku tahu. Tapi kamu layak mendapatkan itu hari ini, sebagai Kata selamat atas pencapaianmu.

Zahra menatap kalimat terakhir itu lebih lama dari yang perlu.

"Tapi kamu layak mendapatkan itu hari ini, sebagai kata selamat atas pencapaianmu."

Sederhana, langsung, khas Rafandra membuat sesuatu di dada Zahra hangat dengan cara yang sudah tidak asing tapi belum pernah benar-benar ia terima dengan tenang.

Dia menyelesaikan makan es krimnya.

Lalu berjalan ke pintu keluar dengan langkah yang berbeda dari waktu masuk tadi pagi.

Lebih ringan, dan legah.

.

.

.

Restoran di Menteng itu tidak seperti yang Zahra bayangkan waktu mendengar Rafandra yang memilih.

Bukan tempat yang mewah berlebihan atau yang mencoba terlalu keras untuk kelihatan eksklusif. Lebih seperti rumah besar yang diubah jadi restoran dinding bata merah, lampu-lampu kuning yang menggantung rendah, meja kayu yang sudah makan banyak usia, dan dari dapur yang setengah terbuka menguar aroma bebek goreng yang membuat Zahra langsung ingat bahwa dia belum makan siang dengan benar.

"Om yang pilih tempat ini?" tanya Zahra waktu mereka duduk.

"Ada masalah?"

"Nggak." Zahra menatap sekelilingnya. "Cuma nggak nyangka. Kirain yang lebih..." Dia mengangkat bahu. "Formal."

Rafandra membuka menu yang hanya satu lembar, dicetak sederhana. "Hari ini bukan soal formal."

Zahra menatapnya sebentar.

"Hari ini bukan soal formal." Dari Rafandra yang bahkan makan sarapan pun kadang masih dalam mode CEO kalimat itu terasa seperti sesuatu yang sengaja dia pilih.

Mereka memesan. Zahra bebek goreng dengan nasi putih dan sambal yang dia minta dibanyakin. Rafandra bebek bakar dan waktu Zahra menatapnya dengan alis terangkat, dia hanya berkata "lebih sehat" dengan nada yang betul-betul serius sampai Zahra tidak bisa tidak tertawa.

Makanan datang.

Di tengah-tengah, Rafandra berkata tanpa mendongak dari makanannya.b"Kamu berubah."

Zahra berhenti mengunyah. Menelan. "Berubah gimana?"

"Lebih mantap." Rafandra menatapnya sebentar, tapi cukup. "Cara kamu duduk, cara kamu bicara. Bahkan cara kamu makan bebek itu."

"Cara gue makan bebek?"

"Kamu tidak berhati-hati berlebihan." Rafandra kembali ke makanannya. "Seperti seseorang yang tidak lagi mencoba membuktikan sesuatu."

Zahra menatapnya. Lalu menatap bebek goreng di depannya. Lalu kembali menatap Rafandra.

"Itu komplimen?"

"Observasi."

"Yang terdengar seperti komplimen."

Sudut bibir Rafandra bergerak sangat tipis, sangat singkat, tapi Zahra sudah cukup ahli untuk tidak melewatkannya.

"Anggap saja begitu," katanya.

Zahra kembali ke makanannya dengan senyum yang dia sembunyikan di balik sendok.

Di luar jendela restoran, Menteng malam hari berlangsung dengan caranya sendiri pohon-pohon tua di pinggir jalan yang sudah ada sejak sebelum Zahra lahir, lampu jalan yang kekuningan, sesekali suara motor yang lewat. Jakarta yang tidak pernah betul-betul tidur tapi di sudut-sudut seperti ini terasa lebih manusiawi.

"Om," kata Zahra.

"Hm."

"Gue mau mulai kerja." Zahra meletakkan sendoknya. "Bukan setelah sidang. Sekarang, sambil skripsi jalan." Dia menatap Rafandra langsung dengan cara yang tiga bulan lalu tidak ada di repertoarnya. "Ada lembaga think tank kecil yang buka posisi junior researcher. Temanya relevan sama skripsi gue. Gue mau apply."

Rafandra mendengarkan. Tidak menyela.

"Gue nggak minta izin," lanjut Zahra. "Gue cuma kasih tau. Karena kita sepakat untuk saling kasih tau."

Sesuatu bergerak di mata Rafandrasesuatu yang terlihat seperti kagum yang dia sembunyikan dengan cara mengambil minum.

"Bidang apa tepatnya?"

"Kebijakan fiskal dan dampaknya ke sektor informal. Relevan banget sama bab empat skripsi gue."

"Kalau butuh referensi—"

"Gue cari sendiri dulu." Zahra memotong tidak kasar, tapi tegas dengan cara yang betul-betul miliknya. "Kalau stuck, gue bilang."

Rafandra menatapnya.

Lalu mengangguk satu anggukan yang bukan persetujuan, bukan izin. Tapi pengakuan. Bahwa Zahra tidak perlu keduanya.

"Baik, jangan sungkan minta bantuan," katanya.

Dan di kata itu singkat, langsung, tanpa embel-embel Zahra mendengar sesuatu yang tidak pernah dia minta tapi ternyata sangat dia butuhkan. Bukan sebagai istri, bukan sebagai anak Hendra, bukan sebagai bagian dari situasi yang mempertemukan mereka.

Tapi sebagai Zahra yang punya arah sendiri dan cukup kuat untuk berjalan ke sana.

.

.

.

Pulang dari restoran, mereka duduk di ruang keluarga. Rafandra dengan laptopnya, Zahra dengan buku catatan dan rencana yang sudah mulai dia tulis sejak di restoran tadi posisi yang mau dia apply, dokumen yang perlu disiapkan, timeline yang realistis sambil skripsi jalan.

Tapi di satu titik Zahra berhenti menulis.

Menatap Rafandra yang fokus ke layarnya rahang tegas, mata yang bergerak membaca, sesekali jarinya berhenti di keyboard sebelum mulai lagi.

"Kamu berubah," kata Rafandra tadi.

"Om juga," pikir Zahra sekarang.

Orang yang dua bulan lalu tak pernah memilih restoran bebek goreng dengan lampu kuning dan meja kayu tua. Orang yang tidak pernah bilang "hari ini bukan soal formal." Orang yang tidak pernah mengangguk dengan cara yang artinya "kamu tidak perlu izinku" karena dulu ia yang selalu jadi sumber izin itu dan untuk pertama kali sejak semua ini dimulai Zahra tidak merasa berjalan sendiri.

.

.

.

1
Liadjamileba 08
bagussss bangettt
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼
jlianty: sabar ya, masih dalam peninjauan bab selanjutnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!