Jay menikmati hari-harinya yang tenang dan santai—kerja sama rumahnya dengan yayasan berjalan lancar, bersama Malakos dan makhluk dimensi lain. Namun kedatangan Rara mengubah segalanya: batas antar dimensi retak parah, dunia paralel hilang tanpa bekas, dan rumah serta Desa Wening akan ikut lenyap jika tidak dihentikan.
Terpaksa keluar zona nyaman, Jay menjelajahi Titik Diam di seluruh Indonesia dan bertemu orang-orang dengan cara pandang berbeda. Di perjalanan ini, dia menemukan rahasia buku tua yang selalu mengikutinya, serta hubungan kakeknya dengan sang pencipta.
Dengan sikap santainya yang khas, Jay harus membuktikan bahwa berguna tidak selalu perlu kerja keras. Ketika menghadapi sumber Titik Diam yang menyebabkan kekacauan, dia harus memilih: akhiri semua cerita agar tidak ada kehancuran, atau temukan cara agar semua dunia hidup berdampingan—sambil tetap punya waktu buat main game dan makan snack!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kucing samge, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 6: "KAMPUNG KEMARIN" part 3
Setelah anggota Pasukan Kebebasan yang tersisa menyadari kesalahannya, suasana di Kampung Kemarin mulai berubah drastis. Udara yang tadinya dingin dan penuh dengan kesan menyeramkan kini menjadi hangat dan penuh dengan harapan. Mereka semua berkumpul di depan rumah tua kakek Jay, beberapa duduk di atas batu atau pagar bambu yang sudah mulai stabil kembali, sementara yang lain berdiri dengan wajah yang penuh dengan rasa syukur.
Jay sendiri sudah kembali duduk di atas batu besar yang dia tempati tadi, bahkan sudah membuka bungkusan snack baru yang berisi keripik singkong rasa pedas yang dia simpan khusus untuk saat-saat penting. Dia mengemil dengan santai, kadang kala memberikan beberapa biji kepada makhluk gaib teman kakeknya maupun anggota Pasukan Kebebasan yang baru saja menyadari kesalahannya.
"Kalau kalian mau cobain ini juga boleh lho," ucap Jay sambil memberikan sejumput keripik kepada salah satu makhluk gaib yang bentuknya seperti kupu-kupu besar. "Rasanya pedas tapi enak, aku beli banyak di pasar sebelum berangkat ke sini. Untungnya tidak basah atau lumer ya, kalau tidak kan sayang banget."
Rara mendekat dengan senyum dan duduk di sebelah Jay. "Kamu benar-benar fokus sama snack aja ya Mas Jay," ucapnya dengan nada bercanda. "Padahal baru saja terjadi peristiwa besar yang bisa mengubah nasib semua makhluk di berbagai dimensi."
Jay hanya mengangkat bahu dan mengambil lagi beberapa biji keripik. "Ya sudah lah, masalahnya sudah selesai kan? Selain itu, makan snack itu penting agar energi tetap terjaga. Kalau aku tidak makan, gimana aku bisa baca cerita dari buku kakekku tadi?"
Malakos yang kini sudah berubah bentuk menjadi kabut berwarna ungu muda mulai mengelilingi Jay, bahkan membuat bentuk seperti tangan yang sedang mengambil snack dari bungkusan nya. "ꀘꋬ꒒ꋬ꒤ ꀘꋬꂵ꒤ ꂵꏂꂵꋬꋊꍌ ꒒ꏂꃳ꒐ꁝ ꊰꄲꀘ꒤ꇙ ꇙꋬꂵꋬ ꂵꋬꀘꋬꋊꋬꋊ ꒯ꋬꋪ꒐ꉣꋬ꒯ꋬ ꉣꏂꋪ꓄ꏂꂵꉣ꒤ꋪꋬꋊ," ucap Malakos dengan suara yang mirip dengungan lembut. "꓄ꋬꉣ꒐ ꒐꓄꒤ ꀘꋬꋊ ꌦꋬꋊꍌ ꂵꏂꂵꃳ꒤ꋬ꓄ ꀘꋬꂵ꒤ ꒤ꋊ꒐ꀘ—꒯ꏂꋊꍌꋬꋊ ꉔꋬꋪꋬ ꌦꋬꋊꍌ ꇙꋬꋊ꓄ꋬ꒐ ꒯ꋬꋊ ꉣꏂꋊ꒤ꁝ ꒯ꏂꋊꍌꋬꋊ ꉔ꒐ꋊ꓄ꋬ ꉣꋬ꒯ꋬ ꂵꋬꀘꋬꋊꋬꋊ, ꀘꋬꂵ꒤ ꃳ꒐ꇙꋬ ꂵꏂꋊꌦꏂ꒒ꏂꇙꋬ꒐ꀘꋬꋊ ꂵꋬꇙꋬ꒒ꋬꁝ ꌦꋬꋊꍌ ꇙ꒤꒒꒐꓄."
Semua orang yang ada di sana mulai tertawa, termasuk anggota Pasukan Kebebasan yang tadinya penuh dengan kemarahan. Mereka mulai berbagi cerita tentang pengalaman mereka masing-masing, dan makhluk gaib teman kakek Jay mulai bercerita tentang masa muda Budi Santoso yang juga sering lupa dengan hal penting karena terlalu fokus pada makanan yang dia suka.
"ꇙꋬꋬ꓄ ꒐꓄꒤ ꒻꒤ꍌꋬ, ꀘꋬꀘꏂꀘꂵ꒤ ꉣꏂꋪꋊꋬꁝ ꒒꒤ꉣꋬ ꒤ꋊ꓄꒤ꀘ ꂵꏂꋊꍌꁝꋬ꒯꒐ꋪ꒐ ꋪꋬꉣꋬ꓄ ꉣꏂꋊ꓄꒐ꋊꍌ ꒯ꏂꋊꍌꋬꋊ ꉣꏂꂵ꒐ꂵꉣ꒐ꋊ ꒯ꋬꋪ꒐ ꃳꏂꋪꃳꋬꍌꋬ꒐ ꒯꒐ꂵꏂꋊꇙ꒐ ꁝꋬꋊꌦꋬ ꀘꋬꋪꏂꋊꋬ ꒯꒐ꋬ ꂵꋬ꒤ ꂵꏂꋊ꒤ꋊꍌꍌ꒤ ꄲꋊ꒯ꏂ-ꄲꋊ꒯ꏂ ꌦꋬꋊꍌ ꒯꒐ꃳ꒤ꋬ꓄ ꒐ꃳ꒤ꋊꌦꋬ ꂵꋬ꓄ꋬꋊꍌ," cerita salah satu makhluk gaib dengan suara yang penuh dengan candaan. "ꋊꋬꂵ꒤ꋊ ꋬꀘꁝ꒐ꋪꋊꌦꋬ, ꋪꋬꉣꋬ꓄ ꓄ꏂꋪꇙꏂꃳ꒤꓄ ꉣ꒤ꋊ ꒯꒐꓄꒤ꋊ꒯ꋬ ꀘꋬꋪꏂꋊꋬ ꇙꏂꂵ꒤ꋬ ꄲꋪꋬꋊꍌ ꒻꒤ꍌꋬ ꒐ꋊꍌ꒐ꋊ ꂵꏂꋊꉔ꒐ꉔ꒐ꉣ꒐ ꄲꋊ꒯ꏂ-ꄲꋊ꒯ꏂ ꓄ꏂꋪꇙꏂꃳ꒤꓄."
Jay hanya tertawa dan menambahkan, "Wah, ternyata aku memang mirip banget sama kakekku ya. Kalau ada makanan yang enak, apa saja bisa ditunda dulu kan?"
Saat bulan mulai naik lebih tinggi dan menerangi seluruh kampung dengan cahaya yang terang, suasana menjadi semakin magis. Jay melihat ke arah pagar bambu tua yang sudah mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan, lalu melihat langsung ke arah pembaca dengan wajah yang penuh dengan candaan namun juga penuh dengan makna.
TITIK PUNCAK EPISODE: Jay melihat ke arah pembaca dan bilang: "Kadang kita harus tahu masa lalu untuk memahami masa depan ya. Jangan pernah meremehkan cerita dari orang tua atau nenek moyang kita—karena cerita itu bisa jadi kunci buat menyelesaikan masalah yang kita hadapi sekarang!"
Suaranya terdengar jelas dan penuh dengan semangat, bahkan dia masih memegang bungkusan snack di tangan kanannya saat berbicara. Setelah berkata demikian, dia langsung mengemil lagi dengan senyum lebar, seolah sudah menyelesaikan tugas penting dan sekarang waktunya untuk bersantai.
Pagar bambu tua kakek Jay mulai pulih dengan sendirinya—bambu-bambu yang tadinya retak dan roboh mulai menyatu kembali dengan sendirinya, membentuk pola anyam yang lebih kompleks dan indah dari sebelumnya. Setiap ruas bambu mengeluarkan cahaya kebiruan dan keemasan yang bergantian, membuat pagar tersebut terlihat seperti karya seni yang hidup. Pola-pola pada pagar mulai bergerak perlahan, menampilkan cerita-cerita tentang masa lalu Kampung Kemarin yang damai dan masa depan yang penuh dengan harapan.
Dan suara nyanyian anak-anak menjadi lebih jelas dan menyenangkan—suaranya kini penuh dengan kebahagiaan, menyanyi lagu rakyat yang sama namun dengan lirik baru tentang persahabatan dan kerja sama antara manusia dan makhluk gaib. Dari balik rumah-rumah kosong, mulai muncul kilatan cahaya kecil yang semakin banyak dan terang, menunjukkan bahwa makhluk gaib yang tinggal di kampung ini kini merasa lebih bahagia dan damai.
Kala yang sudah mulai menyimpan tongkat perlindungannya mendekat ke arah Jay. "ꇙꏂꀘꋬꋪꋬꋊꍌ ꀘ꒐꓄ꋬ ꇙ꒤꒯ꋬꁝ ꃳ꒐ꇙꋬ ꀘꏂꂵꃳꋬ꒒꒐ ꌦꋬ ꂵꋬꇙ ꒻ꋬꌦ," ucapnya dengan senyum. "ꀘ꒐꓄ꋬ ꉣꏂꋪ꒒꒤ ꂵꏂꂵꉣꏂꋪꇙ꒐ꋬꉣꀘꋬꋊ ꇙꏂꍌꋬ꒒ꋬ ꇙꏂꇙ꒤ꋬ꓄꒤ ꒤ꋊ꓄꒤ꀘ 'ꁝꋬꋪ꒐ ꉣꏂꋪ꓄ꏂꂵ꒤ꋬꋊ ꋬꋊ꓄ꋬꋪ ꒯꒐ꂵꏂꋊꇙ꒐' ꃳ꒤꒒ꋬꋊ ꒯ꏂꉣꋬꋊ, ꒯ꋬꋊ ꀘꋬꂵ꒤ ꉣꋬꇙ꓄꒐ ꉣꏂꋪ꒒꒤ ꂵꏂꂵꃳꏂ꒒꒐ ꒒ꏂꃳ꒐ꁝ ꃳꋬꋊꌦꋬꀘ ꇙꋊꋬꉔꀘ ꒒ꋬꍌ꒐ ꀘꋬꋊ?"
Jay mengangguk dengan senang dan mulai menyimpan sisa snack ke dalam tasnya dengan hati-hati. "Tentu saja! Aku sudah merencanakan mau beli berbagai macam snack—mulai dari keripik, kacang rebus, hingga kue-kue tradisional yang mungkin juga disukai makhluk gaib. Oh iya, aku juga mau cobain bikin kue lapis sesuai resep nenekku lho, mungkin bisa jadi makanan spesial untuk acara itu."
Anggota Pasukan Kebebasan yang tersisa mendekat dan memberikan janji bahwa mereka akan membantu mempersiapkan acara tersebut. Mereka bahkan menawarkan untuk membantu memperbaiki rumah-rumah di Kampung Kemarin agar bisa menjadi salah satu tempat pertemuan untuk makhluk gaib dan manusia.
"Saya dan teman-teman saya akan menjaga kampung ini dengan baik," ucap pemimpin kelompok tersebut dengan suara yang penuh dengan tekad. "Kita akan membuat kampung ini kembali menjadi tempat yang damai dan penuh dengan cerita, seperti yang diinginkan oleh kakekmu."
Mereka semua mulai berjalan ke arah mobil yang berada di jalan masuk kampung. Saat mereka berjalan, pagar bambu tua kakek Jay mengeluarkan cahaya yang semakin terang, menyinari jalan mereka dengan cahaya yang hangat dan menyenangkan. Suara nyanyian anak-anak masih terdengar jelas di udara, menyatu dengan suara langkah kaki mereka yang riang.
Setelah sampai di depan mobil, Jay melihat ke arah Kampung Kemarin untuk terakhir kalinya malam itu. Dia tersenyum dan berkata, "Kampung ini memang bagus ya. Mungkin lain kali kita bisa datang lagi dan bawa lebih banyak snack. Kalau bisa juga cari tahu ada warung makan mana aja yang masih buka di sekitar sini ya."
Rara hanya menggeleng-geleng kepala dengan tersenyum lalu membuka pintu mobil. "Baiklah Mas Jay, kita akan cari tahu. Tapi sekarang kita harus pulang dulu agar kamu bisa beristirahat dan merencanakan daftar belanja snack kamu kan?"
Jay masuk ke dalam mobil dengan senang hati, bahkan sudah mulai menghitung uang yang dia miliki untuk membeli snack di pasar besok. Malakos kembali masuk ke dalam tasnya, sementara Rara mulai menghidupkan mesin mobil. Saat mobil mulai bergerak menjauh dari Kampung Kemarin, mereka masih bisa melihat cahaya dari pagar bambu tua yang semakin terang dan suara nyanyian anak-anak yang masih bergema di udara—tanda bahwa masa lalu yang terlupakan kini sudah menemukan tempatnya kembali, dan masa depan yang penuh dengan harapan sudah mulai terbuka lebar.