Mahesa seorang OB culun dan miskin mendapatkan kitab sakti dan merubah hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Sabar Sekeras Karang
Siang itu, matahari ibu kota bersinar dengan sangat terik, memancarkan gelombang panas yang membakar aspal di area pusat perbelanjaan mewah Grand Indonesia. Namun, di dalam kompleks mal berpendingin udara itu, atmosfer persaingan ego antara sang nona besar dan pengawal pribadinya terasa jauh lebih menyengat. Sesuai dengan "Aturan Main" ketat yang dibuatnya, Alena berjalan dengan dagu terangkat tinggi, melangkah anggun dari satu butik mode mewah ke butik lainnya tanpa memedulikan sekelilingnya.
Sementara itu, tepat sepuluh meter di belakangnya, Mahesa berjalan dengan langkah yang konstan dan tenang. Kedua lengan kekarnya kini sudah dipenuhi oleh belasan kantong belanjaan besar dari berbagai merek desainer internasional ternama. Beban total barang-barang mewah tersebut mencapai belasan kilogram, namun Mahesa membawanya dengan gestur yang sangat ringan. Setelan jas hitam premiumnya masih melekat sempurna di tubuhnya, tanpa ada satu pun lipatan yang kusut atau tetesan keringat yang membasahi kemeja putihnya.
Alena mendadak menghentikan langkahnya di depan sebuah toko sepatu mewah, lalu melirik ke belakang melalui pantulan dinding kaca butik. Ia mendengus kesal saat melihat ekspresi wajah Mahesa yang tetap sedingin es dan datar melalui pantulan tersebut. Sejak dua jam yang lalu, Alena sengaja berjalan memutar-mutar mengelilingi lantai mal yang luas, sengaja masuk ke toko-toko yang penuh sesak, dan sengaja membeli barang-barang berat hanya untuk menguras tenaga fisik serta meruntuhkan mental Mahesa. Namun, mantan OB yang sangat dibencinya itu justru terlihat seperti robot yang tidak mengenal rasa lelah.
"Heh, OB! Sini lu!" panggil Alena dengan suara yang sengaja dikerasakan dan sangat manja, membalikkan tubuhnya dengan bertumpu pada sepatu hak tingginya yang runcing.
Mahesa segera melangkah maju, memangkas jarak sepuluh meter di antara mereka dalam beberapa detik secara taktis, lalu membungkukkan tubuh tegapnya dengan sangat hormat di hadapan Alena. "Iya, Nona Alena. Ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya Mahesa dengan nada suara berat aslinya yang terdengar sangat tenang, jernih, dan berwibawa.
Alena melepaskan kacamata hitam mahalnya dengan sentakan manja, menatap Mahesa dengan pandangan mata yang dipenuhi keangkuhan. "Gua haus banget tahu nggak! Lu beliin gua iced caramel macchiato di kedai kopi seberang sana sekarang juga! Inget ya, gulanya harus cuma sesendok, kopinya harus diganti yang rendah kafein, dan susunya harus pakai susu almond! Kalau salah sedikit aja, gua bakal siram minumannya ke muka lu!" perintah Alena dengan nada penuh ancaman dan kesombongan yang masif.
"Baik, Nona Alena. Mohon tunggu di bangku tunggu butik ini sebentar. Saya akan segera kembali," sahut Mahesa tanpa ada bantahan sedikit pun. Ia meletakkan belasan tas belanjaan itu di dekat pilar toko dengan rapi, lalu membalikkan tubuhnya untuk melaksanakan tugas tersebut.
Secara emosional, siapa pun pria normal yang berada di posisi Mahesa pasti sudah akan meledak amarahnya karena diperlakukan layaknya pelayan rendahan yang tidak memiliki harga diri di depan umum. Namun, Mahesa bukanlah manusia biasa. Di dalam rongga dadanya, aliran hawa murni dari inti sari Kitab Jagat Kuno terus bergolak lambat, memancarkan energi sejuk yang menjaga emosi batinnya tetap stabil, jernih, dan sekeras batu karang di dasar samudra yang tak akan goyah oleh empasan ombak sekecil apa pun. Bagi Mahesa, semua keusilan childish dan sifat manja Alena hanyalah ujian kecil bagi keteguhan jiwanya yang sedang mengemban mandat profesional dari Pak Subroto.
Tidak sampai lima menit, Mahesa sudah kembali dengan sebuah gelas plastik berisi kopi pesanan Alena. Ia menyodorkannya dengan kedua tangan sembari membungkuk hormat. "Ini pesanan Nona. Iced caramel macchiato dengan satu sendok gula, kopi rendah kafein, dan susu almond. Persis seperti yang Nona inginkan," tutur Mahesa dengan intonasi yang sangat teratur.
Alena menyambar gelas itu dengan kasar, meminumnya sedikit melalui sedotan untuk menguji keaslian racikan tersebut. Wajah cantiknya sempat berkerut karena rasanya benar-benar pas dan tidak ada kesalahan sedikit pun. Merasa rencananya gagal lagi, Alena memutar otaknya yang cerdik untuk mencari keusilan baru. Ia sengaja melonggarkan pegangan jarinya pada gelas plastik yang masih penuh tersebut, lalu menjatuhkannya tepat di atas lantai marmer putih bersih di depan sepatu kets hitam milik Mahesa.
Plorrrut! Cairan kopi berwarna cokelat manis itu langsung tumpah berhamburan, mengotori lantai marmer dan beberapa cipratannya mengenai ujung sepatu Mahesa.
"Ups! Sori banget ya, tangan gua mendadak lemes banget nih gara-gara kecapekan jalan dari tadi," ucap Alena dengan nada suara yang dibuat-buat polos namun diiringi dengan senyuman sinis yang sangat puas di bibirnya. Beberapa pengunjung mal yang melintas mulai menoleh ke arah mereka, berbisik-bisik melihat kelakuan manja sang nona besar. "Gimana dong? Lantainya jadi kotor banget begini. Oh iya, gua lupa... lu kan mantan OB kantor Papa ya? Tugas bersihin lantai kotor kayak gini kan emang udah jadi keahlian alami lu dari lahir kan? Buruan bersihin, gih!"
Mendengar hinaan verbal yang sangat kejam dan merendahkan martabat itu, beberapa pramuniaga butik di sekitar mereka tampak menahan napas, merasa bahwa tindakan Alena sudah sangat keterlaluan dan tidak berperikemanusiaan. Namun, Mahesa sama sekali tidak menunjukkan gurat kemarahan atau sakit hati di wajah tampannya. Sepasang mata elangnya tetap menatap lurus dengan ketenangan batin yang mutlak. Melalui ajaran kitab kuno, Mahesa tahu bahwa membalas kebodohan dengan kemarahan hanya akan menurunkan derajat spiritualitas dirinya sendiri.
"Tidak masalah, Nona Alena. Menjaga kebersihan lingkungan sekitar adalah hal yang mulia, tidak peduli apa pun jabatan seseorang saat ini," balas Mahesa dengan kalimat yang sangat tenang, dewasa, dan penuh dengan kedalaman makna.
Mahesa kemudian berlutut dengan satu kaki di atas lantai marmer, mengeluarkan sapu tangan kain putih bersih dari saku dalam jas hitamnya yang mahal, lalu mulai menyeka tumpahan kopi manis itu dengan gerakan tangan yang sangat rapi, cepat, dan profesional. Ia sama sekali tidak terlihat minder atau malu, postur tubuh tegapnya yang saat berlutut justru memancarkan aura wibawa seorang ksatria sejati yang sedang menjalankan tugas dengan kebesaran hati yang luar biasa.
Alena yang berdiri tepat di atas Mahesa, mendadak tertegun membisu melihat pemandangan tersebut. Kalimat ejekan yang sudah ia siapkan di tenggorokannya mendadak tersangkut begitu saja. Ada rasa sesak dan tidak nyaman yang mendalam merayap di dalam lubuk hati emosional Alena saat menyaksikan ketabahan luar biasa dari pria di bawahnya ini. Alena mengira Mahesa akan membalas makiannya, atau setidaknya menunjukkan raut wajah kesal yang bisa ia jadikan alasan untuk mengadu ke Papa-nya. Namun, kesabaran Mahesa yang sekeras baja membuat semua keusilan Alena terasa hambar dan justru membuat dirinya sendiri terlihat sangat kekanak-kanakan dan jahat di depan umum.
"Lu... lu beneran nggak punya urat marah ya?!" tanya Alena akhirnya dengan suara yang sedikit bergetar emosional, tidak mampu lagi menahan rasa penasarannya yang membuncah di dalam dada. "Gua udah numpahin kopi, gua udah ngehina status lama lu di depan orang-orang, tapi muka lu tetep aja lempeng kayak papan penggilasan! Lu sengaja ya akting begini biar Papa gua makin kasihan sama lu?!"
Mahesa selesai menyeka seluruh tumpahan kopi tersebut hingga lantai marmer kembali bersih mengkilap tanpa sisa. Ia bangkit berdiri secara anggun, melipat sapu tangan kainnya yang kini bernoda cokelat ke dalam kantong plastik kecil, lalu kembali menatap Alena dengan tatapan mata yang teduh namun penuh dengan ketegasan tekad yang tak terbantah.
"Nona Alena, kemarahan adalah emosi yang sangat mahal, dan saya tidak akan menyediakannya untuk hal-hal keduniawian yang tidak mendatangkan manfaat bagi keselamatan nyawa Nona," jawab Mahesa dengan nada penuh wibawa seorang pelindung sejati. "Tugas saya yang diberikan oleh Pak Subroto adalah menjadi perisai hidup Nona. Jika dengan membiarkan Nona meluapkan kekesalan atau kemanjaan kepada saya bisa membuat batin Nona merasa lebih tenang pasca-trauma penyerangan kemarin, maka saya akan dengan senang hati menerimanya setiap hari tanpa ada rasa dendam sedikit pun."
Mendengar untaian kata-kata yang begitu mendalam, profesional, dan sarat akan ketulusan hati dari mulut Mahesa, jantung Alena mendadak berdegup dengan ritme yang sangat aneh. Ego keangkuhannya yang setinggi langit seolah baru saja dihantam oleh palu gada raksasa yang tak kasatmata hingga retak di beberapa bagian. Sepasang mata indahnya menatap lekat ke arah wajah tegap Mahesa, mencari kebohongan di sana, namun yang ia temukan hanyalah ketulusan murni seorang pria macho yang siap pasang badan untuk melindunginya dari segala badai darah di luar sana.
Alena memalingkan wajah cantiknya dengan cepat, menyembunyikan semburat merah tipis yang mendadak muncul di kedua pipinya akibat rasa malu dan gejolak batin yang campur aduk. "Halah! Bacot lu gede banget! Bilang aja lu takut dipecat sama Papa!" ketus Alena, berusaha keras mempertahankan nada tingginya yang sombong meski kini suaranya terdengar sangat rapuh dan tidak memiliki kekuatan seperti tadi. "Gua mau makan siang di restoran Prancis lantai atas! Inget aturan mainnya, lu dilarang duduk satu meja sama gua! Nunggu di luar sana sampai gua selesai!"
"Baik, Nona Alena. Saya akan membawa semua barang belanjaan Nona dan menjaga jarak sepuluh meter di belakang Anda," jawab Mahesa dengan senyuman tipis penuh misteri yang tersungging di sudut bibirnya.
Alena segera membalikkan tubuhnya dan berjalan dengan langkah yang lebih cepat menuju area lift, sementara Mahesa kembali memikul belasan tas belanjaan besar dengan kedua lengan kekarnya, melangkah konstan mengawal sang nona besar dari kejauhan dengan tingkat kewaspadaan indra supernya yang tetap terjaga penuh. Babak perundungan mental itu telah usai, meninggalkan sepercik perubahan dinamis yang tak kasatmata di dalam benak Alena, seiring dengan kesabaran sekeras karang milik Mahesa yang secara perlahan mulai mengikis dinding keangkuhan sang putri mahkota di bawah bayang-bayang kemegahan ibu kota siang itu.