Sebuah kecelakaan tragis menimpa Lin Xinyu, Tuan Putri Kerajaan Beiyan. Pamannya yang haus kekuasaan ingin melengserkannya dari takhta dan mengambil alih Kerajaan Beiyan. Terdesak oleh bahaya yang mengancam nyawanya, Lin Xinyu terpaksa melarikan diri. Dalam keputusasaan, ia akhirnya melompat dari tebing tinggi yang curam.
Namun, ia tidak mati. Jiwanya justru melintasi waktu, terlempar jauh ke masa depan, dan memasuki tubuh Yu Anqi, seorang gadis muda di dunia modern. Di sana, ia bertemu rekan-rekan baru dan berhasil memecahkan banyak kasus yang terjadi di zaman itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Bundir
Di Zaman Modern
Di RS Nuwa
Ada seorang gadis bernama Yu Anqi yang sedang berdiri sendirian di atas atap rumah sakit. Ia berdiri tepat di tepiannya, badannya sedikit goyah, seolah-olah siap untuk melompat. Semua itu karena penderitaan yang ia rasakan sudah terlalu berat.
Ibu Anqi tidak pernah menginginkannya. Ayahnya dulu adalah orang yang kasar dan selalu menyiksa ibu Anqi dan sekarang, ibu Anqi mengalihkan kebencian itu ke padanya. Pukulan dan siksa terus menimpanya sampai akhirnya ia terbaring di rumah sakit. Merasa tidak punya harapan lagi, Yu Anqi memutuskan untuk bunuh diri.
Begitu orang melihatnya di atas atap, banyak yang keluar dari rumah sakit, berteriak dan berusaha mencegahnya. Tapi tatapan Yu Anqi sudah kosong, seolah jiwanya sudah tidak ada di tubuhnya.
Tiba-tiba, seorang dokter muda tampan naik ke atap. Rambutnya hitam rapi, matanya tajam namun ekspresinya tenang. Ia mendekati perlahan, tidak mau membuat Anqi terkejut.
“Nona, tolong jangan nekat,” ucap dokter itu dengan suara lembut tapi tegas. “Tempat ini sangat berbahaya. Ayo kita turun dulu, bicara baik-baik. Ada cara lain untuk menghadapi semua ini, kan?”
Yu Anqi hanya diam, tidak menoleh. Tubuhnya semakin condong ke depan.
Dokter itu melihat ada tali di sudut atap. Ia menoleh ke arah beberapa perawat yang juga sudah naik, lalu mengucapkan dengan bisikan, “Ambil tali itu.” ucap Dokter dengan suara pelan.
Perawat-perawat itu segera melakukan apa yang disuruh. Tali itu pun dipasangkan ke tubuh dokter itu, sementara dokter itu terus berbicara dengan Anqi untuk mengalihkan perhatiannya.
“Nona, Aku tahu pasti sekarang kau merasa sangat putus asa. Tapi percayalah, ada banyak orang yang mau membantumu. Kau tidak sendirian,” ucapnya, semakin mendekati Anqi.
Tidak lama kemudian, Anqi melompat terjun tanpa peringatan. Tanpa ragu, dokter itu pun ikut melompat, sambil cepat menarik lengan Anqi. Sementara itu, perawat-perawat di belakangnya menarik tali yang terikat di tubuh dokter itu sekuat tenaga.
Namun, nasib naas terjadi. Krek!! Suara tali yang putus terdengar jelas. Semua orang langsung panik melihat kedua orang itu terjatuh bebas dari atas atap.
Dalam kecepatan yang luar biasa, dokter itu mengarahkan tubuhnya ke bawah, melindungi tubuh Anqi sepenuhnya. Tiba-tiba, mereka mendarat di atas balon besar yang sudah disiapkan oleh pihak rumah sakit sebagai antisipasi.
Untungnya, kedua orang itu selamat. Tapi Anqi langsung pingsan. Dokter itu segera membawanya ke IGD.
Selama perjalanan ke IGD, denyut jantung Anqi terus melemah. Dokter itu tidak berhenti melakukan pertolongan pertama, ia menekan dada Anqi secara teratur, berusaha menyelamatkan nyawanya.
Begitu sampai di IGD, tim medis segera melanjutkan penanganan. Tapi tidak lama kemudian, dokter kepala IGD mengangkat kepala dengan wajah sedih.
“Kami sudah melakukan yang terbaik. Denyut jantungnya sudah tidak ada lagi. Dia sudah meninggal.”
Hati dokter muda itu terasa terhenti sejenak. Setelah semua upaya yang telah dilakukannya, ia tidak bisa menyelamatkan nyawa gadis itu. Akhirnya, jenazah Yu Anqi dibawa ke kamar mayat.
Di Ruang Jenazah
Di dalam ruang jenazah yang dingin dan sunyi itu, tiba-tiba muncul cahaya putih terang yang melesat cepat, langsung masuk ke dalam tubuh Yu Anqi yang terbaring diam. Cahaya itu bukanlah hal lain, melainkan jiwa Putri Lin Xinyu yang akhirnya menemukan tempat barunya.
Tak lama kemudian, jantung Yu Anqi kembali berdetak. Ia terbangun dengan napas berat, lalu duduk perlahan, menatap sekeliling dengan tatapan bingung dan dingin. Baginya, tempat ini sama sekali asing dan aneh. Tanpa pikir panjang, ia turun dari ranjang besi itu dan berjalan keluar ruangan, berniat mencari seseorang yang bisa memberi penjelasan.
Sesampainya di meja resepsionis, ia berdiri tegak, menatap para petugas di sana dengan wajah datar dan mata yang tajam.
“Di mana ini sebenarnya?” tanyanya dengan nada dingin, tanpa ekspresi sedikit pun.
Para perawat yang saat itu sedang bertugas dan beberapa di antaranya tadi ikut berusaha menyelamatkan nyawanya langsung terkejut (shock). Wajah mereka pucat pasi melihat sosok yang tadi dinyatakan meninggal dunia sekarang berdiri di depan mereka seolah tidak terjadi apapun.
“M-mayat itu… hidup lagi!” teriak salah satu perawat histeris.
“Jangan mendekat! Hantu! Itu pasti hantu!” jerit yang lain, lalu mereka berlarian menyelamatkan diri.
Kabar itu pun menyebar cepat, membuat satu rumah sakit langsung gempar dan heboh. Dokter muda yang tadi berusaha menyelamatkan nyawanya pun segera datang ke lokasi. Melihat Yu Anqi berdiri sehat wal'afiat, ia merasa lega sekaligus heran, lalu berjalan mendekat perlahan.
“Nona… syukurlah kau masih hidup. Aku pikir kau sudah…” ucap dokter itu pelan, berniat memeriksa kondisinya.
Namun, tubuh yang didiami jiwa Lin Xinyu itu hanya menatapnya dengan pandangan yang sangat dingin dan asing. Saat dokter itu berusaha menyentuh lengannya untuk memeriksa nadi, Yu Anqi dengan gerakan cepat mencengkeram dan memelintir tangan dokter itu hingga sang dokter meringis kesakitan.
“Apa yang mau kau lakukan?” tanyanya ketus, masih memegang tangan dokter itu. “Katakan, sebenarnya tempat apa ini? Dan kenapa kalian semua memakai pakaian putih yang aneh itu? Apakah ini semacam upacara?”
Dokter itu menarik tangannya pelan sambil menahan sakit, ia bingung melihat sikap gadis itu. "Nona, ini Rumah Sakit. Kau pasien kami. Tadi siang kau mencoba bunuh diri dengan melompat dari atap, apa kau tidak ingat?".
Yu Anqi mengerutkan kening, sama sekali tidak mengerti perkataan itu. “Bunuh diri? Melompat dari atap? Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Namaku Lin Xinyu, Aku tidak mungkin melakukan hal bodoh seperti itu.”
Belum sempat dokter itu menjelaskan lagi, terdengar suara langkah kaki kasar dan teriakan marah dari arah lorong. Seorang wanita paruh baya, ibunya Yu Anqi, Meyli, datang dengan wajah penuh amarah, tangannya sudah terangkat tinggi hendak menampar pipi gadis itu.
“Dasar anak sialan! Bikin malu saja! Kenapa kau tidak mati saja tadi?! Berani-beraninya kau membuat masalah lagi di sini!” hardik Meyli.
Tapi sebelum tangan itu sempat menyentuh wajahnya, Yu Anqi dengan sigap menangkisnya, lalu memelintir pergelangan tangan ibunya itu hingga Meyli berteriak kesakitan. Dengan mudah, ia mendorong wanita itu hingga jatuh terduduk ke lantai.
“Kurang ajar! Berani sekali kau mengangkat tangan padaku?” ucap Yu Anqi dingin, tatapannya mengancam. “Kalian semua ini pasti sudah gila. Bicara tidak jelas, dan bertindak kasar.”
Sambil mendengus kesal, ia berbalik badan dan mulai berjalan keluar meninggalkan rumah sakit itu.
“Nona! Tunggu dulu! Kau tidak boleh pergi begitu saja, tubuhmu belum pulih!” ucap dokter itu, hendak mengejarnya.
Namun Yu Anqi berhenti sebentar, menoleh ke belakang dan menatap dokter itu dengan sorot mata yang begitu tajam dan dingin, seolah sedang menatap orang asing yang tidak berharga. Tatapan itu membuat langkah dokter itu terhenti seketika, merasakan hawa dingin yang entah kenapa membuatnya merinding.
Tanpa menoleh lagi, Yu Anqi pergi keluar pintu rumah sakit, meninggalkan semua orang yang masih terpaku dengan rasa bingung dan takut. Dokter muda itu hanya bisa diam menatapnya menjauh, merasa ada sesuatu yang sangat aneh.
Di luar rumah sakit, Yu Anqi yang kini jiwanya adalah Lin Xinyu, berjalan terhuyung-huyung. Ia masih mengenakan baju pasien rumah sakit yang berwarna putih pucat dan agak kotor. Langkahnya sempoyongan, tubuhnya terasa asing dan lelah. Karena tidak terbiasa dengan kondisi tubuh ini, ia tidak sengaja menabrak seorang wanita yang sedang berjalan terburu-buru.
“Hei! Matamu ke mana, hah? Jalan pakai mata!” hardik wanita itu dengan wajah marah, sambil merapikan bajunya yang tersenggol.
Namun, Yu Anqi sama sekali tidak peduli. Ia hanya melirik sekilas dengan tatapan dingin, lalu terus berjalan pergi begitu saja, seolah tidak mendengar apa-apa. Wanita itu mendengus kesal, tapi akhirnya memilih pergi karena merasa aneh melihat tingkah gadis itu.
Yu Anqi terus melangkah, matanya menatap sekeliling dengan penuh kebingungan dan keterkejutan. Di mana-mana ia melihat bangunan-bangunan yang menjulang tinggi, bentuknya aneh dan terbuat dari kaca yang berkilauan. Kendaraan-kendaraan besi melaju kencang mengeluarkan suara bising, dan orang-orang di sekitarnya memakai pakaian dengan potongan aneh, sangat berbeda dengan jubah dan pakaian adat yang biasa ia kenal di istana.
“Tempat apa ini sebenarnya? Kenapa semua bangunannya tinggi sekali dan bentuknya aneh begini?” gumamnya pelan, wajahnya penuh kerutan bingung. “Dan pakaian apa yang mereka pakai ini? Tidak ada yang sopan, potongannya pendek-pendek dan ketat. Semuanya terasa asing dan aneh sekali...”
Berjalan tanpa tujuan, ia tiba di depan sebuah bangunan besar dengan kaca yang bening. Tanpa sadar, ia masuk ke dalam tempat itu, sebuah supermarket yang luas dan terang. Ia berjalan mendekati kaca yang besar, mengira itu adalah cermin. Saat ia melihat pantulan dirinya, ia langsung terkejut dan mundur beberapa langkah ke belakang.
Yang terlihat di sana bukanlah wajah dirinya sendiri yang ia kenal. Wajahnya yang dulu berbentuk lonjong dan tajam kini berubah menjadi tirus yang manis. Kulitnya putih, tapi rambutnya yang dulu hitam panjang kini berubah menjadi rambut cokelat kemerahan, bergelombang, dan hanya sebahu.
“Ini… ini bukan aku!” ucapnya berteriak, tangannya gemetar menyentuh wajah dan rambutnya sendiri. “Kenapa aku ada di sini? Tubuh siapa ini?! Di mana tubuhku yang sebenarnya?!”
Teriakannya yang tiba-tiba itu membuat pengunjung lain di supermarket kaget dan menoleh ke arahnya. Mereka mulai berbisik-bisik, merasa heran melihat gadis berbaju pasien yang berbicara sendiri dan berteriak-teriak. Beberapa orang bahkan mulai menjauh, mengira gadis itu gila.