NovelToon NovelToon
Ternyata Dia Masih Ada

Ternyata Dia Masih Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:179
Nilai: 5
Nama Author: Auliya Wulandari

Duan Melahirkan di usia 16 tahun, selama 7 tahun ini ia selalu percaya jika putra yang ia lahirkan dengan mempertaruhkan nyawa malah meninggal di hari kelahirannya, namun siapa yang menyangka saat dirinya kembali ke ibu kota muncul seorang bocah laki laki yang sangat menyebalkan namun Yan Fei merasa dirinya tak bisa membiarkan bocah itu jauh darinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auliya Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenangan di Balik Cahaya Lentera

“Wah, Nona, lihatlah! Sangat indah sekali!” seru Li Xia dengan suara kagum begitu kereta keluarga Duan berhenti tepat di depan sebuah bangunan megah yang bertuliskan nama Yueli.

Bangunan ini bukanlah tempat sembarangan. Ia didirikan khusus sebagai tempat berkumpulnya kalangan terhormat, tempat para bangsawan menikmati teh berkualitas, membahas sastra, serta saling bertukar puisi dan pemikiran. Karena itu, tempat yang terpelihara rapi dan penuh keanggunan ini hanya dikunjungi oleh orang-orang terpandang dan berkedudukan tinggi di ibu kota.

“Jangan berlarian dan menjaga sikap,” pesan Yanfei dengan nada lembut namun tegas, mengingatkan pelayan yang mulai terpesona oleh suasana di sekitarnya, ada keramaian pasti akan ada kejahatan, lebih baik menjaga sikap agar terhindar dari hal hal yang tidak di perlukan

“Baik, Nona,” jawab mereka serempak, lalu segera berjalan mendahului untuk membuka jalan dan memastikan segala sesuatunya tertata rapi.

Mereka pun dipandu masuk ke sebuah ruangan pribadi yang terletak di lantai paling atas. Begitu jendela besar dibuka, pemandangan luar terbentang luas di hadapan mata. Dari ketinggian itu, terlihat jelas seluruh jalanan ibu kota yang mulai diterangi oleh ribuan lampu minyak dan lentera berwarna-warni. Di sepanjang aliran sungai yang membelah kota, permukaan air dipenuhi oleh lentera berbentuk bunga teratai yang mengapung, memancarkan cahaya lembut yang memantul ke air dan menciptakan pemandangan yang terang, megah, sekaligus memukau.

“Nona, lihatlah betapa ramainya suasana ini. Apakah Nona ingin ikut memasang dan melepaskan lentera ke sungai? Konon, lentera yang kita kirimkan dapat membawa segala doa dan harapan kita hingga ke hadapan para dewa,” ujar Li Xia dengan semangat yang tak tertahankan, sudah lama ia tak melihat keramaian ini,

Saat itu ia tak ikut sang majikan ke lembah obat, karena alasan satu dan lain hal ia di tempatkan di sisi nyonya tua, namun hari itu saat menjemput Yanfei kembali ia memohon untuk ikut serta, karena Li Xia sedari awal memang pelayan Yanfei tentu saja ia di perintahkan untuk kembali ke sisi Yanfei.

Festival Lentera memang merupakan perayaan yang paling ditunggu-tunggu sepanjang tahun. Baik warga asli ibu kota maupun pendatang dari berbagai wilayah di kerajaan selalu datang memadati jalanan untuk merasakan kemeriahannya. Bagi banyak orang, malam ini adalah momen untuk memohon keberuntungan, kedamaian, dan terwujudnya segala cita-cita.

Yanfei hanya menatap ke luar jendela sambil tersenyum tipis, lalu menjawab tenang, “Masih terlalu sore. Tunggu saja sampai langit benar-benar gelap dan bintang mulai bermunculan, barulah pemandangannya akan terasa lebih sempurna.”

Ia duduk santai di atas kursi empuk, sesekali meraih camilan kue dan teh yang disajikan di meja. Namun, meski matanya memandang keindahan di depan sana, pikirannya justru melayang jauh ke masa lalu, tujuh tahun silam. Saat itu, ia baru berusia lima belas tahun—masih gadis muda yang lincah, keras kepala, dan penuh rasa ingin tahu yang meledak-ledak.

Saat itu, ayahnya sudah berencana mengajak seluruh anggota keluarga untuk pergi melihat perayaan ini bersama-sama. Namun, dengan sifatnya yang bandel, ia menolak mentah-mentah ajakan itu.

“Aku tidak ingin pergi dalam rombongan besar, terasa sangat membosankan dan tidak bebas,” pikirnya kala itu.

Dengan nekat, ia menyamar mengenakan pakaian laki-laki yang longgar, mengikat rambutnya rapi ke belakang, lalu menyelinap keluar dari pintu samping kediaman tanpa diketahui siapa pun. Ia berjalan menyusuri jalanan, bercengkrama dengan pedagang keliling, mencicipi berbagai makanan khas, dan menikmati kemeriahan malam itu sepuas hati. Rasanya bebas, menyenangkan, dan ia merasa telah menguasai seluruh dunia di ujung kakinya.

Namun, di tengah kegembiraan itu, ia lupa akan waktu. Hingga saat ia mulai merasa pusing dan tubuhnya terasa sangat berat, ia baru sadar bahwa dirinya sudah berada di sebuah kamar penginapan yang asing. Ia tidak ingat bagaimana bisa sampai di sana, hanya menyadari bahwa seluruh tubuhnya terasa sangat sakit, lemas, dan kepalanya terasa berputar hebat.

Saat itu, ia hanyalah gadis muda yang masih polos dan belum memahami banyak hal soal dunia dewasa. Ia mengabaikan segala keanehan yang terjadi pada tubuhnya, berpikir itu hanyalah akibat terlalu lelah berjalan dan bermain seharian. Begitu tenaga sedikit pulih, ia segera menyelinap pulang ke kediaman, berbaring di tempat tidur seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Selama beberapa hari berikutnya, ia hanya menganggap rasa lelah itu wajar. Ia masih beranggapan bahwa rasa pusing, mual, dan cepat lelah hanyalah dampak dari terlalu bersemangat menikmati hidup dan menjelajahi kota. Namun, kenyataan pahit perlahan mulai terungkap.

Hari demi hari berlalu, tubuhnya justru makin melemah. Wajahnya yang dulu cerah berubah menjadi pucat pasi, selera makannya hilang sama sekali, dan tenaganya perlahan habis. Hingga akhirnya, ia tidak lagi memiliki kekuatan untuk bangun dari tempat tidur, apalagi untuk berjalan-jalan mengelilingi kota seperti kebiasaannya dulu.

Keluarga Duan sangat menyayangi dan memanjakan putri mereka. Melihat kondisi Yanfei yang memburuk begitu cepat, hati ayah dan ibunya terasa sangat cemas. Mereka segera memanggil tabib-tabib terbaik untuk memeriksa kondisi tubuhnya, berharap bisa menemukan obat yang tepat untuk memulihkan kesehatan putri kesayangan itu.

Namun, hasil pemeriksaan itu datang bagaikan sambaran petir di siang bolong yang menghancurkan ketenangan seisi rumah. Tabib itu menunduk dalam, menyampaikan kabar yang tak terduga: Yanfei, gadis yang masih sangat muda itu, sedang mengandung. Usia kandungannya diperkirakan sudah mencapai hampir enam minggu.

Mendengar kabar itu, dunia seolah runtuh di hadapan mereka. Keterkejutan, kekecewaan, kemarahan, dan rasa sedih bercampur menjadi satu. Bagi keluarga terhormat seperti Duan, kabar ini bukan hanya masalah kesehatan semata, melainkan juga sebuah aib besar yang bisa merusak nama baik keluarga selama turun-temurun. Sejak saat itulah, hari-hari yang penuh kesulitan dan kepedihan benar-benar dimulai bagi Yanfei dan seluruh keluarganya.

Ia terbangun dari lamunan ketika suara keramaian di luar semakin terdengar jelas. Langit kini sudah berubah menjadi ungu gelap, dan cahaya lentera mulai bersinar lebih terang. Masa lalu itu terasa begitu jauh, namun jejaknya masih terasa membekas di hatinya.

Li Xia melihat perubahan raut wajah sang nona, lalu bertanya dengan lembut, “Nona, apakah ada yang mengganggu pikiran? Atau apakah Nona ingin segera turun ke tepi sungai untuk melepaskan lentera?”

Yanfei menarik napas panjang, membuang sisa-sisa kenangan pahit itu, lalu tersenyum tipis. “Tidak apa-apa. Sekarang sudah waktunya. Ayo kita turun dan melihat lebih dekat.”

Malam ini berbeda dengan malam tujuh tahun silam. Ia bukan lagi gadis muda yang polos dan ceroboh, melainkan wanita yang telah melewati badai kehidupan. Lentera yang akan ia lepaskan malam ini mungkin tidak lagi membawa harapan masa muda yang ceria, melainkan doa agar ia bisa melangkah maju, menerima kenyataan, dan menemukan kedamaian yang telah lama ia cari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!