Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.
Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”
Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
Program Kerja Lapangan (PKL) tahunan SMA Pelita selalu menjadi agenda yang paling dinantikan sekaligus melelahkan bagi para murid tingkat akhir. Berbeda dengan sekolah lain yang melakukan kunjungan industri biasa, yayasan SMA Pelita memilih konsep semi-edukasi dan sosial di sebuah kawasan agrowisata terpadu di kawasan Bogor, Jawa Barat. Selama tiga hari dua malam, para murid dituntut untuk membaur dengan alam, melakukan penelitian botani, sekaligus menjalankan program bakti sosial di desa sekitar.
Pagi itu, udara Bogor terasa sejuk namun perlahan menghangat seiring naiknya matahari. Lapangan utama agrowisata dipadati oleh ratusan murid berseragam kaos olahraga putih-biru khas SMA Pelita. Riuh obrolan dan candaan kasual menggema di mana-mana. Namun, fokus dari sebagian besar pasang mata di lapangan itu tetap tertuju pada barisan kelas IPS-1, di mana sebuah pemandangan posesif yang sudah menjadi rahasia umum kembali tersaji.
Zayn Dominic berdiri tegap dengan kedua tangan terbenam di saku celana olahraga hitamnya. Meskipun hanya mengenakan kaos olahraga sekolah, aura intimidatif dan dominan sebagai penguasa sekolah tidak berkurang sedikit pun. Di sebelahnya, Elva Ileana berdiri dengan anggun.
Rambut hitam panjangnya dikuncir kuda dengan rapi, membingkai wajah polosnya yang tampak segar dan bersih. Topi olahraga putih yang dikenakannya tidak mampu menyembunyikan kalung perak berliontin inisial 'Z' dan 'E' yang melingkar manis di lehernya.
"Inget, tas lo biar gue yang bawa. Jangan sok kuat bawa ransel seberat itu sendiri," ketus Zayn rendah, suaranya terdengar judes namun tangannya dengan telaten membetulkan letak tali ransel kecil Elva agar tidak menyakiti pundak gadis itu.
Elva tersenyum murni, sebuah senyuman manis yang selalu berhasil meruntuhkan ketegangan di wajah kaku Zayn. "Iya, Zayn. Ransel besarku kan sudah ditaruh di bus tadi. Ini cuma tas kecil isi air minum dan buku catatan kok."
Zayn hanya mendengus pelan, namun tangan kirinya bergerak otomatis meraih jemari tangan Elva, menggenggamnya dengan cengkeraman yang hangat dan erat di depan seisi lapangan. Sifat protektif Zayn semakin meninggi karena dia tahu, di tempat terbuka seperti ini, ada banyak mata yang bisa menatap gadisnya—termasuk satu sosok yang kini berdiri tidak jauh dari barisan mereka.
Christian Narendra, sang angin baru dari London, tampak sedang mendengarkan instruksi dari pemandu wisata dengan sangat tenang. Setelah mengumpulkan informasi mengenai masa lalu kelam Elva beberapa hari lalu, Christian memilih untuk mengubah taktiknya menjadi lebih halus dan berwibawa. Dia tidak lagi memprovokasi Zayn secara mentah. Sebaliknya, dia memposisikan diri sebagai seorang gentleman yang ramah, menghormati privasi Elva, namun selalu berada di waktu dan tempat yang tepat saat ada celah yang tercipta.
...----------------...
"Baik anak-anak, untuk sesi pertama PKL hari ini, kita akan melakukan pemetaan vegetasi dan pengumpulan sampel tanaman di area hutan pinus belakang agrowisata," seru Pak Joko, guru biologi sekaligus koordinator lapangan, menggunakan pengeras suara portable.
"Kelompoknya masih sama dengan kelompok tugas sejarah kemarin ya, agar kalian bisa sekalian berdiskusi untuk proyek integrasi nilai!"
Mendengar pengumuman tersebut, Elva refleks menegang kecil. Dia melirik ke arah Zayn, dan benar saja, rahang tegas sang tuan muda seketika mengeras sempurna hingga urat-urat di lehernya menegang kuat. Sepasang mata elang Zayn berkilat memancarkan api cemburu murni yang sangat mengerikan.
Berdasarkan pembagian kelompok yang sudah dirombak Zayn secara paksa di kelas kemarin, Elva kini satu kelompok dengan Kevin, sementara Christian dipasangkan dengan murid lain.
Namun, masalahnya adalah seluruh kelompok kelas IPS-1 harus berjalan menyusuri jalur setapak hutan pinus yang sama secara beriringan.
"Kevin, lo jalan di depan Elva. Arkan, lo di belakang. Kalau ada lalat London atau siapa pun yang berani deket-deket cewek gue dalam jarak dua meter, langsung kasih tahu gue," perintah Zayn dingin kepada sahabat-sahabatnya saat mereka mulai melangkah memasuki area hutan pinus yang rindang. Zayn sendiri harus berjalan di barisan paling depan bersama Leo selaku perwakilan OSIS untuk mengoordinasi jalur bersama pemandu utama.
"Siap, Bos! Pengawalan ketat tingkat tinggi dilaksanakan!" sahut Kevin dengan cengiran lebar khasnya, sengaja mengeraskan suara agar murid-murid kelas sebelah mendengar.
Perjalanan menyusuri hutan pinus awalnya berjalan lancar. Udara yang bersih dan aroma khas pohon pinus membuat Elva merasa sangat rileks. Namun, kontur tanah perbukitan yang basah dan licin akibat embun pagi mulai menyulitkan langkah kaki mungil Elva. Beberapa kali sepatunya tergelincir di atas tanah merah yang gembur.
Pada satu tanjakan yang cukup curam dan dipenuhi akar pohon yang melintang, Kevin yang berjalan di depan Elva melangkah terlalu cepat karena sibuk menggoda Arkan di belakang. Elva yang berusaha menyusul tiba-tiba kehilangan keseimbangan saat menginjak akar pohon yang licin.
"Ah...!" Elva memekik pelan, tubuh mungilnya terhuyung ke arah kanan, siap untuk terjatuh ke atas semak-semak berdaun tajam.
Namun, sebelum tubuh Elva menyentuh tanah, sebuah sepasang tangan panjang yang sangat sigap dan kokoh mendadak menangkap kedua lengan Elva dengan akurasi yang luar biasa tepat. Dengan satu tarikan yang lembut namun bertenaga, tubuh Elva ditarik tegak kembali hingga bersandar pada dada bidang seorang cowok.
Elva mendongak dengan napas yang terengah-engah karena terkejut, dan matanya langsung bertumpu pada sepasang mata hazel yang menatapnya dengan pancaran kekhawatiran yang sangat tulus.
Christian Narendra.
Cowok pindahan London itu ternyata berjalan tepat di jalur sebelah kanan kelompok Elva. Dengan refleksnya yang terlatih dari latihan basket, Christian berhasil menyelamatkan Elva tepat pada waktunya. Jarak di antara mereka begitu dekat, hingga Christian bisa mencium aroma wangi sampo stroberi yang manis dari rambut hitam panjang Elva yang sedikit berantakan.
"Lo nggak apa-apa, Elva?" tanya Christian lembut, suara bariton British-nya terdengar begitu menenangkan di tengah kesunyian hutan pinus. Dia tidak langsung melepaskan pegangannya pada lengan Elva, memastikan gadis itu bener-bener sudah seimbang.
"Jalurnya agak licin di sebelah sini. Lo harus lebih hati-hati."
"A-aku nggak apa-apa, Christian. Terima kasih banyak," cicit Elva canggung, wajah polosnya merona merah muda karena malu. Dia buru-buru menarik lengannya mundur dengan sopan untuk menjaga jarak aman.
Di barisan depan, Zayn yang sejak tadi tidak tenang dan terus melirik ke belakang langsung menangkap momen itu. Ketika dia melihat tangan Christian menyentuh lengan Elva, darahnya mendadak mendidih. Urat-urat di pelipisnya menegang, dan mata elangnya berkilat tajam penuh amarah.
Tanpa memikirkan sekeliling, Zayn langsung berbalik arah dan menghentakkan kakinya kasar, bersiap untuk menghampiri mereka dan menghajar Christian di tempat.
Namun, baru saja Zayn mengambil dua langkah lebar, tubuh tegapnya mendadak dihadang oleh Kang Dedi, kepala pemandu agrowisata yang sejak tadi mendampinginya di barisan depan.
"Eh, Mas Zayn, mau ke mana? Jangan balik arah dulu, Mas," potong Kang Dedi dengan sigap, merentangkan tangannya menghalangi jalur Zayn.
"Ini gerbang pos pembagian logistik di depan sudah dekat. Tolong Mas Zayn sebagai ketua OSIS ikut saya sekarang ke gudang peralatan di sebelah kiri untuk menghitung jumlah papan sandi dan kompas buat kelompok belakang. Penting ini, Mas, biar anak-anak nggak kesasar."
Zayn mengepalkan tangannya di dalam saku celana hingga buku jarinya memutih sempurna. "Gue ada urusan di belakang, Kang. Minggir," desis Zayn rendah, suaranya sedingin es dan memancarkan aura intimidasi yang pekat.
"Nggak bisa, Mas Zayn. Ini instruksi langsung dari Pak Joko. Kelompok satu dan dua sudah menunggu logistiknya di atas," tegas Kang Dedi, tidak goyah oleh tatapan membunuh sang tuan muda karena dia bertanggung jawab penuh atas keamanan seluruh murid.
"Yuk, ikut saya sebentar saja. Cuma lima menit."
Leo yang menyadari situasi mulai kritis langsung menepuk pundak tegap Zayn dengan kuat. "Zayn, lo urus logistik dulu sama pemandu. Biar gue, Arkan, sama Kevin yang jagain Elva di sini. Gue pastiin anak London itu nggak bakal dapet celah lagi," bisik Leo dengan nada serius namun menenangkan.
Zayn menarik napas pendek yang sangat berat, mencoba menekan ego dan emosinya yang hampir meledak di tengah hutan. Dia melemparkan satu tatapan laser yang sangat mematikan ke arah Christian dari kejauhan, seolah menandai wajah cowok itu untuk perhitungan di kemudian hari. Tanpa berkata apa-apa lagi, Zayn membalikkan badannya dengan kasar dan mengikuti langkah pemandu menuju gudang logistik, meninggalkan atmosfer jalur setapak yang masih pekat oleh sisa gesekan ketegangan.
Di belakang, Kevin dan Arkan langsung bergerak cepat mengambil posisi membentengi Elva. "Ayo Elva, jalan lagi. Manusia es di depan bisa ngamuk total kalau liat kita mandek di sini," seloroh Kevin dengan cengiran khasnya, mencoba mencairkan kecanggungan Elva. Elva mengangguk pelan, melangkah maju menyusuri sisa jalur tanjakan dengan hati-hati.