NovelToon NovelToon
Alea & Adrian

Alea & Adrian

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Percintaan Konglomerat / Pernikahan rahasia
Popularitas:403
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.

Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.

Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Bayangan yang Tertinggal

Malam setelah pertemuan dengan Clarissa meninggalkan sesuatu yang tidak nyaman di benak Adrian.

Bukan karena percakapan mereka berlangsung buruk.

Justru sebaliknya.

Terlalu baik.

Terlalu tenang.

Terlalu penuh kenangan.

Dan itulah yang membuatnya sulit untuk diabaikan.

Pagi hari di Hutama Industries dimulai seperti biasa.

Tumpukan laporan keuangan.

Rapat strategis.

Presentasi investasi.

Akuisisi perusahaan.

Seluruh rutinitas yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari hidup Adrian.

Namun hari itu, sesuatu terasa berbeda.

Fokusnya tidak lagi setajam biasanya.

Pikirannya berkeliaran ke tempat-tempat yang tidak seharusnya.

"Pak Adrian?"

Suara salah satu direktur membuatnya kembali sadar.

Adrian mengangkat kepala.

"Ada masalah?"

Direktur itu tampak bingung.

"Anda belum menjawab pertanyaan kami selama lima menit terakhir."

Ruangan rapat langsung sunyi.

Adrian menatap layar presentasi.

Benar saja.

Semua orang sedang menunggunya.

Hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya.

"Aku setuju dengan usulan tahap kedua."

jawab Adrian singkat.

Untungnya keputusan itu memang sesuai dengan pembahasan.

Namun setelah rapat berakhir, Adrian tetap duduk di kursinya.

Sendirian.

Menatap jendela besar yang menghadap kota.

Pertanyaan Clarissa kembali muncul.

"Kau mencintainya?"

Seharusnya pertanyaan itu mudah dijawab.

Namun semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin keras suara itu kembali.

Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya...

Adrian tidak yakin terhadap dirinya sendiri.

Dulu semuanya sederhana.

Clarissa adalah seseorang yang ia kenal.

Seseorang yang menemaninya ketika Hutama Industries masih dalam tahap pembangunan.

Seseorang yang memahami kesepiannya.

Seseorang yang pernah ia pikir akan tetap berada di sampingnya.

Lalu datang Alea.

Seorang wanita yang awalnya hanya bagian dari kontrak.

Seseorang yang seharusnya tidak mengubah apa pun.

Namun perlahan justru mengubah segalanya.

Dan Adrian tidak tahu kapan tepatnya itu terjadi.

Apakah saat Alea berani menentangnya di ruang rapat keluarga?

Apakah saat mereka menghadapi ancaman Aurora bersama?

Apakah saat wanita itu berdiri di sampingnya ketika semua situasi menjadi rumit?

Atau...

Apakah saat Alea tertidur di bahunya malam itu?

Adrian mengusap wajahnya.

Merasa frustrasi.

Ia tidak suka ketidakpastian.

Tidak suka area abu-abu.

Tidak suka emosi yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.

Namun saat ini ia terjebak tepat di tengah semuanya.

Sore harinya.

Tanpa sadar Adrian memarkir mobilnya di depan galeri milik Clarissa.

Ia bahkan baru menyadarinya setelah mesin mobil dimatikan.

"Hebat."

gumamnya.

"Aku bahkan tidak tahu kenapa aku datang."

Namun beberapa menit kemudian ia tetap masuk.

Clarissa sedang melukis ketika Adrian tiba.

Wanita itu menoleh.

Sedikit terkejut.

Lalu tersenyum.

Senyuman yang sudah sangat dikenalnya.

"Aku tidak menyangka kau datang."

kata Clarissa.

"Aku juga."

jawab Adrian jujur.

Clarissa tertawa kecil.

Dan untuk beberapa saat mereka hanya berbicara tentang hal-hal sederhana.

Tentang pameran.

Tentang bisnis.

Tentang kehidupan.

Semuanya terasa mudah.

Familiar.

Nyaman.

Dan justru itu yang membuat Adrian semakin bingung.

Karena bersama Clarissa, ia merasakan ketenangan masa lalu.

Sebuah dunia yang pernah ia kenal dengan baik.

Namun entah kenapa...

Saat melihat Clarissa tersenyum, yang muncul di kepalanya justru wajah Alea.

Hal itu membuat Adrian merasa bersalah.

Sangat bersalah.

Malam mulai turun ketika ia akhirnya meninggalkan galeri.

Di perjalanan pulang.

Ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk.

Dari Alea.

"Kau pulang malam?"

Hanya satu kalimat pendek.

Sangat biasa.

Sangat sederhana.

Namun Adrian mendapati dirinya membaca pesan itu beberapa kali.

Lalu tanpa sadar tersenyum.

Dan saat itulah rasa bersalah itu muncul lagi.

Lebih kuat dari sebelumnya.

Kenapa pesan sederhana dari Alea bisa membuatnya tersenyum?

Kenapa ia merasa ingin segera pulang?

Kenapa ia mulai menantikan percakapan-percakapan kecil mereka?

Bukankah Clarissa adalah orang yang pernah ia pilih?

Bukankah Clarissa adalah seseorang yang pernah menjadi bagian penting hidupnya?

Lalu kenapa sekarang semuanya terasa berbeda?

Adrian tidak memiliki jawabannya.

Ketika ia tiba di The Obsidian, Alea sedang duduk di ruang tengah.

Membaca sebuah novel.

Rambutnya tergerai.

Kakinya ditekuk di atas sofa.

Penampilannya jauh lebih santai dibanding citra dingin yang dikenal publik.

Alea mengangkat kepala.

"Kau akhirnya pulang."

Kalimat sederhana itu membuat Adrian berhenti sejenak.

Seolah seseorang memang menunggunya pulang.

Perasaan aneh itu kembali muncul.

Hangat.

Nyaman.

Dan berbahaya.

"Ya."

jawab Adrian.

"Hari yang panjang."

Alea menutup bukunya.

"Kau sudah makan?"

Pertanyaan itu sederhana.

Namun Adrian tidak bisa mengingat kapan terakhir kali ada seseorang yang menanyakan hal seperti itu kepadanya.

Bukan sekretaris.

Bukan asisten.

Bukan rekan bisnis.

Melainkan seseorang yang benar-benar peduli.

"Aku belum sempat."

jawabnya.

Alea menghela napas panjang.

"Kau benar-benar tidak bisa menjaga diri sendiri."

Kemudian wanita itu bangkit.

Berjalan menuju dapur.

Adrian memperhatikannya.

Tanpa sadar.

Beberapa menit kemudian Alea kembali membawa dua mangkuk pasta hangat.

"Makan."

perintahnya.

Adrian hampir tertawa.

"Kau terdengar seperti bos."

"Aku memang bos."

"Sayangnya bukan bosku."

"Masih bisa diperdebatkan."

Mereka makan bersama.

Berbicara tentang hal-hal kecil.

Hal-hal yang tidak penting.

Namun entah kenapa terasa jauh lebih berarti daripada rapat bernilai miliaran kredit yang Adrian hadiri sepanjang hari.

Dan itu semakin membingungkannya.

Karena saat duduk di sana bersama Alea...

Ia merasa nyaman.

Namun saat mengingat Clarissa...

Ia juga tidak bisa mengabaikan semua yang pernah mereka lalui.

Masa lalu dan masa kini.

Keduanya berdiri di hadapannya.

Dan Adrian tidak tahu ke mana langkahnya harus diarahkan.

Malam itu.

Saat Alea sudah kembali ke kamarnya.

Adrian berdiri sendirian di balkon.

Menatap lampu-lampu Valerika.

Untuk pertama kalinya sejak menjadi CEO...

Ia menghadapi sebuah masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan strategi.

Karena ini bukan soal perusahaan.

Bukan soal investasi.

Bukan soal Aurora.

Melainkan hati.

Dan hati tidak pernah mengikuti aturan logika.

Di dalam kamar.

Tanpa diketahui Adrian.

Alea juga sedang terjaga.

Menatap layar ponselnya.

Melihat foto berita Clarissa sekali lagi.

Lalu mematikannya.

Karena jauh di dalam dirinya, muncul ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Bagaimana jika suatu hari Adrian menyadari bahwa wanita yang benar-benar ia inginkan bukan dirinya?

Bagaimana jika pada akhirnya ia hanya menjadi persinggahan sementara dalam hidup pria itu?

Pertanyaan itu membuat dadanya terasa sesak.

Sementara di balkon.

Adrian masih berdiri dalam kebimbangan.

Tidak menyadari bahwa ketidakmampuannya memilih arah perlahan-lahan akan melukai seseorang yang mulai menaruh hatinya kepadanya.

Dan ketika hati mulai terlibat...

Tidak ada seorang pun yang akan keluar dari permainan ini tanpa luka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!