Nadia anak kandung yang di abaikan, keluarganya lebih memilih anak orang lain ketimbang anak kandung,,,Nadia bahkan mau di singkirkan oleh ibunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 PULANG KE RUMAH
Nadia manjat tembok pelan-pelan menuju kamarnya yang ada di lantai tiga, lantai paling atas rumah itu. Sebenarnya, tempat itu bahkan nggak layak disebut kamar karena bentuknya lebih mirip ruang sisa yang dipakai seadanya.
Dulu ruangan itu cuma gudang, tempat nyimpen barang-barang lama yang udah nggak kepakai lagi dan dibiarkan menumpuk begitu saja. Tapi karena nggak ada ruang lain, Nadia bikin sekat sendiri lalu mengubahnya jadi kamar kecil buat dirinya.
Nadia menyalakan lampu, dan cahaya kuning redup langsung menyebar memenuhi ruangan sempit itu dengan suasana yang terasa sepi. Dia mengambil handuk lalu pergi mandi di kamar mandi lantai tiga yang bahkan jauh banget dari kata nyaman.
Nggak ada marmer mengilap, nggak ada bathtub mewah, nggak ada apa pun yang kelihatan bagus seperti rumah orang-orang kebanyakan. Di sana cuma ada ember hitam dan gayung sederhana yang sudah menemani hari-hari Nadia selama ini.
Tapi buat Nadia, semua itu udah lebih dari cukup karena sejak dulu dia memang nggak pernah terbiasa meminta banyak hal. Selama masih bisa dipakai dan masih bisa bertahan, dia selalu berusaha menerima semuanya.
Setelah selesai mandi, Nadia kembali lagi ke ruang kecilnya dengan langkah pelan sambil membawa rasa lelah yang rasanya menempel sejak tadi. Dia menutup pintu lalu membiarkan suasana hening mengisi ruangan kecil itu.
Nadia duduk diam di pinggir tempat tidurnya yang sederhana sambil menatap kosong ke arah dinding selama beberapa saat. Hari ini rasanya berat lagi, bahkan lebih berat dari yang ingin dia akui pada dirinya sendiri.
Dari tadi dia terus kepikiran soal orang-orang yang menyuruhnya mengundurkan diri dan menganggap dirinya cuma beban yang menyusahkan. Bahkan orang tuanya sendiri juga nggak mau jadi penjamin buat dirinya, dan semua itu bikin dadanya terasa sesak.
Tapi seperti biasanya, Nadia tetap nggak bisa nangis walaupun hatinya rasanya sudah penuh dan kepalanya semakin berat. Entah kenapa air matanya seperti selalu tertahan meskipun rasa sakitnya terus menumpuk di dalam dirinya.
Tangannya malah semakin menggenggam pensil yang ada di tangannya, lalu dia mengambil kertas dan buku matematika yang sudah mulai kusut. Setelah itu Nadia membuka halaman demi halaman soal dan mulai menatap angka-angka di depannya.
Dia mulai menulis rumus, menghitung pelan-pelan, lalu mencari jawaban satu demi satu dengan fokus yang seolah menutup semua hal lain. Matanya terus mengikuti angka-angka itu seperti sedang mencari tempat untuk bersembunyi.
Setiap kali selesai mengerjakan satu soal, Nadia akan menghapusnya lagi meskipun sebenarnya jawabannya nggak salah sedikit pun. Bukan karena dia mau mengulang dari awal, tapi karena dia harus hemat kertas buat masa depannya nanti.
Lalu dia mengulang semuanya lagi dengan cara yang sama seperti biasanya, menulis pelan, menghapus, menulis lagi, lalu menghapus lagi tanpa berhenti. Dia terus melakukannya sampai tangannya mulai terasa pegal dan matanya perlahan terasa semakin berat.
Di balik kebiasaannya yang keras, yang sering olahraga berlebihan buat meluapkan semua emosi yang dia pendam sendirian, Nadia juga punya cara lain buat menenangkan dirinya. Cara itu mungkin kelihatan aneh buat orang lain, tapi buat dia justru terasa menenangkan.
Nadia menenggelamkan dirinya di angka-angka dan rumus-rumus matematika yang memenuhi halaman di depannya sampai pikirannya mulai terasa lebih ringan. Semakin dia memaksa otaknya terus bekerja, justru semakin tenang isi kepalanya.
Dan malam itu, sama seperti malam-malam sebelumnya, Nadia tetap memilih diam dan menyimpan semuanya sendiri tanpa mengeluh sedikit pun. Padahal di dalam kepalanya, dia sedang berlari sangat jauh dari semua hal yang terus mengejarnya.
..
Pagi datang, Nadia sudah siap dengan seragam sekolahnya. Celana abu-abu, baju putih, dan hoodie yang menutupi bagian luar seragamnya membuat penampilannya terlihat santai. Ia turun melalui tangga. Walaupun di rumah itu ada lift, seolah-olah Nadia tidak pernah diperbolehkan menggunakannya.
Saat melewati ruang makan, terdengar obrolan hangat keluarga yang sedang sarapan bersama. Dan tentu saja, seperti biasanya, Yulia menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di sana.
“yulia kamu harus jaga kesehatan jangan terlalu di porsir belajarny,” suara Rini terdengar begitu lembut.
“iya sayang mamah janji habis olimpiade kita akan keliling eropa,” suara Rani menimpali dengan penuh semangat.
Nadia tetap melanjutkan langkahnya. Namun saat dirinya lewat di depan ruang makan, semua orang langsung terperangah melihat kehadirannya yang tiba-tiba.
“nadia bagaimana mungkin kamu pulang,” suara Rani terdengar keras menggelegar.
Nadia membalikkan badan. “kenapa kaget aku bisa pulang,,,sayang sekali harapan kalian hancur ingin membuat aku membusuk di penjara.”
“kaka kami semua menghawatirkan kaka,” suara lembut Yulia terdengar penuh perhatian.
“hentikan kemunafikan kamu yulia, enek aku dengarnya,” jawab Nadia dengan suara datar tanpa ekspresi. Namun entah kenapa, setiap kalimat yang keluar dari mulutnya selalu mampu membuat kepala Rani dan Rini meledak oleh amarah.
“nadia kamu tidak ya,,kemarin malam yulia merengek pada mamah dan papah agar membebaskan kamu dari penjara,” suara Rini menggeram sambil menahan amarah yang terus memuncak.
Nadia menyunggingkan senyum sinis. “oh jadi kamu yang bilang kalau aku di tangkap polisi,,padahal aku tidak memberi nelpon keluarga ke polisi, aku juga enggak minta kalian datang, sepertinya memang kamu yang melaporkan aku ke polisi, rupanya kamu menyewa orang menguntit aku ya.”
“nadia,” suara Rani melengking tinggi. Setiap Nadia berbicara, darahnya selalu terasa mendidih. “yulia tidak mungkin menguntit kamu apalagi menyewa orang mengawasi kamu,,dia anak baik, dan lemah lembut dan dia sedang sibuk persiapan olimpiade, tidak seperti kamu anak keras kepala.”
“sudah sudah,” Rangga memotong pertengkaran yang semakin panas. “nadia sebaiknya segera berangkat.”
Nadia menoleh ke arah Rangga. “aku akan pergi lagian siapa juga yang mau tinggal lebih lama dengan ratu drama.”
Tanpa menunggu jawaban, Nadia melangkah santai keluar dari rumahnya sambil menggendong tas ransel besar. Isi tas itu bukan hanya buku pelajaran, tetapi juga berbagai peralatan mekanik yang selalu ia bawa ke mana-mana.
“lihatkan sama kamu, semakin hari semakin nakal saja,” gerutu Rani. Rahangnya masih mengeras karena marah.
“sudah,,sudah,” Rangga kembali memotong dengan nada lembut. “kalian makanlah.”
“Ting!”
Suara sendok beradu dengan piring keramik terdengar cukup keras di ruang makan yang mendadak menjadi sunyi.
“aku sudah enggak selera makan,” Rini bangkit dari kursinya dengan wajah masam. Nadia selalu saja berhasil membuat suasana hatinya rusak dalam hitungan menit.
“ini semua salahkau seharunya aku enggak bilang sama mamah dan papah,” kata Yulia dengan nada sendu sambil menundukkan kepala.
“sudah yulia jangan terus menyalahkan anak sialan itu,” ujar Rini sambil mengelus lembut rambut Yulia penuh kasih sayang.
Rini memegang pipi Yulia dengan lembut sebelum akhirnya keluar rumah menuju mobil mewah miliknya yang sudah menunggu di halaman.
“aku juga berangkat mah,” Yulia mencium tangan Rini dan Rangga dengan manis.
Sebuah mobil mewah lengkap dengan sopir pribadi sudah menunggu di depan rumah. Rini mengantar Yulia sampai ke pintu mobil, lalu melepaskannya dengan tatapan penuh kasih sayang dan kebanggaan.
Sementara itu, Nadia berjalan kaki menuju jalan raya. Motornya masih berada di kantor polisi, jadi kali ini ia harus menggunakan angkutan umum. Nadia memang sedang berhemat. Di rekeningnya sebenarnya masih ada uang hasil kerja keras dari pekerjaan paruh waktu sepulang sekolah dan beberapa kali mengikuti balapan liar. Namun uang itu sengaja disimpannya untuk persiapan pergi ke luar negeri suatu hari nanti.
Nadia berdiri di tepi jalan sambil menunggu kendaraan yang bisa ditumpanginya. Tak lama kemudian, sebuah truk melaju dari kejauhan. Nadia langsung berlari ke tengah jalan dan mengacungkan tangannya. Truk itu pun melambat lalu berhenti. Nadia membungkukkan badan meminta izin menumpang. Sesaat kemudian terdengar suara klakson sebagai tanda bahwa dirinya diperbolehkan ikut. Dengan gesit Nadia berlari ke bagian bak dan melompat naik tanpa kesulitan sedikit pun.
Semua kejadian itu dilihat langsung oleh Rini dari dalam mobilnya.
“dasar memalukan, bisa-bisanya keluarga wijaya punya anak seperti itu,” gumam Rini dengan rahang mengeras. Tidak ada sedikit pun rasa iba di dalam hatinya. Sama-sama berasal dari keluarga Wijaya, tetapi Yulia berangkat sekolah menggunakan mobil mewah dengan sopir pribadi, sedangkan Nadia memilih menumpang truk seperti anak jalanan. Baginya, pemandangan itu benar-benar mencoreng nama keluarga.
libas saja mereka si pecundang