Aline gadis cantik yang berusia 23 tahun, tidak pernah menyangka saat ia menghadiri pesta adik tirinya menjadi sebuah bencana yang membuatnya harus kehilangan keperawanannya.
Puncak dunia Aline hancur saat ayahnya yang seharusnya mendukung dan melindunginya, dengan teganya mengusirnya dari rumah setelah mengetahui bahwa dia sedang hamil dan lebih memilih percaya pada istri dan adik tirinya.
Tidak berselang lama Aline akhirnya bertemu dengan pria yang tidur dengannya, akankah hidup Aline bahagia setelah memilih ikut dengan pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 18 SEMAKIN DEKAT
Ke esokan paginya Aline tampak bangun sedikit lebih lesu dari hari biasanya. Bagaimana tidak, ia seharian berkeliling kota Bandung dan baru pulang larut malam.
Aline hendak turun dari tempat tidurnya. Tapi kakinya bener-benar terasa sakit saat ia mencoba menggerakkannya.
"Stsss... padahal kemarin nggak sesakit ini." ringisnya dengan mata yang terpejam mencoba menahan rasa sakit itu.
Ia memaksakan berjalan ke luar kamar. Seketika keningnya mengkerut dalam saat mendapati suasana rumah itu terasa sunyi dan sepi.
"Kemana Erlangga? Apa dia sudah berangkat ke Puskesmas... tapi pagi sekali." gumam Aline.
Saat Aline hendak melangkah ke kamar mandi. Namun, saat baru beberapa langkah, tiba-tiba kakinya tergelincir.
Untuk sesaat ia memejamkan mata, bersiap merasakan tubuhnya terhempas ke lantai. Tetapi rasa sakit itu tak pernah datang, sebaliknya, ia malah merasakan sebuah tangan kokoh menahan pinggangnya dengan sigap.
"Lagi-lagi kamu ceroboh, Aline!" Suara Erlangga terdengar lebih dingin dari biasanya.
DEGH!
Aline melihat kemarahan dari mata pria itu. Seolah waktu berhenti untuk beberapa saat, ia menunduk tidak berani menatap mata tajam pria itu.
"A-ku ingin ke kamar mandi..." Suara Aline terdengar sangat pelan lebih menyerupai seperti cicitan.
Erlangga langsung menggodong wanita itu dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
"Kalau sudah selesai panggil aku!"
Setelah mengatakan itu Erlangga pergi ke luar meninggalkan Aline.
Di dalam kamar mandi untuk beberapa menit Aline termenung saat melihat tatapan Erlangga yang tidak seperti biasanya. Namun, ia tidak ingin terlalu memikirkan hal itu yang lebih penting ia harus menyelesaikan urusannya yang sedari tadi sudah ia tahan.
Sepuluh menit kemudian Aline sudah selesai dengan urusannya. Ia tampak bimbang saat ingin memanggil pria itu.
"Apakah aku harus memanggilnya, tapi apa mungkin dia masih menunggu. Aku rasa nggak mungkin deh!"
Dengan langkah kaki yang pincang Aline mulai membuka pintu.
DEGH!
Seketika jantungnya nyaris terlepas dari tempatnya, saat melihat Erlangga ternyata menunggunya di depan pintu.
"Bukannya aku sudah bilang jika sudah selesai panggil aku. Ternyata kamu keras kepala juga, ya. Aline!"
Lagi-lagi suara dingin Erlangga kembali terdengar di indra pendengarannya.
Sebelum Aline sempat bereaksi. Tanpa aba-aba lagi pria itu menggendongnya, dengan refleks ia melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu.
Kini Erlangga membawa Aline menuju kamarnya lalu membaringkannya di atas kasur. Ia merendahkan tubuhnya guna melihat luka pada kaki wanita itu dan ternyata benar bengkaknya bertambah parah.
Dengan cepat Erlangga keluar dari kamar Aline dan langsung menuju kamarnya untuk mengambil tas medisnya yang berisi perlengkapan obat-obatan.
Setelah itu Erlangga kembali masuk ke kamar Aline. Ia melihat wanita itu sedang meringis kesakitan, dengan cepat ia membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa alat untuk mengobati kaki wanita itu.
Erlangga mulai memberikan antiseptik pada pergelangan kaki yang lecet, lalu membersihkannya menggunakan kasa dengan gerakkan lembut.
Aline mengigit bibir bawahnya berusaha menahan rasa sakit yang ia rasakan. Tidak terasa matanya meneteskan air mata. Ia merasa bersalah pada pria itu atas apa yang sudah terjadi padanya.
Erlangga mulai mengoleskan salep, setelah itu ia membelitkan perban elastis pada pergelangan kaki Aline agar mengurangi pembengkakan pada pergelangan kaki wanita itu.
Saat sudah selesai, Erlangga tertegun saat mendapati wanita itu sedang terisak. Apakah ia terlalu kasar. Pikirnya.
Dengan cepat Erlangga beralih dan duduk di samping Aline. Ia menyeka air mata yang ada di pipi wanita itu. "Kenapa, hmm? Apa aku terlalu kasar?" tanyanya lembut.
Tangis Aline semakin pecah saat mendengar nada suara lembut pria itu kembali seperti semula. "Hiks... Hiks... a-aku minta maaf." ucapnya di sela isak tangisnya.
"Aline lihat aku." perintah Erlangga dengan tatapan yang serius dan suara lembutnya. "Aku khawatir jika terjadi sesuatu dengan kamu... sekarang kamu tidak sendirian ada dia yang harus kamu jaga, kamu punya tanggung jawab untuk menjaganya."
Ia tahu wanita itu masih cukup muda untuk mengerti bahwa mengandung itu bukan hal yang perlu di sepelekan dan itu semua karenanya.
Aline mengangguk pelan. Ia merasa memiliki seseorang yang benar-benar perduli padanya. "A-ku... akan hati-hati dan lebih menjaganya." Suaranya lirih. Namun tersirat kesungguhan di dalamnya.
Erlangga menarik Aline ke dalam pelukkan nya. Ia mengelus punggung wanita itu dengan gerakan lembut mencoba menenangkannya, setelah tangisnya mereda ia merenggangkan pelukkan nya guna untuk menatap wanita itu.
"Sekarang kamu istirahat, aku akan siapkan sarapan dan obat agar kamu tidak demam nantinya."
"Memang kamu nggak ke Puskesmas?"
"Untuk pagi ini tidak ada tugas... tapi siang nanti aku harus memberikan pelatihan kepada dokter umum dan bidan di sana."
Ia menatap Aline dengan pandangan lembut, berbeda jika ia sedang menjalankan profesinya sebagai dokter. Hanya ada tatapan dingin dan wajah datar. Sisi lain dari dirinya hanya ia berikan untuk wanita itu.
"Pagi ini aku akan menjagamu dan jangan harap bisa turun dari tempat tidur hanya untuk melakukan hal yang tidak penting." peringatan Erlangga tegas.
Aline hanya mengangguk patuh seperti anak kucing yang sedang diperingati ibunya.
Setelah itu Erlangga melangkah keluar. Ia menyiapkan sarapan untuk wanita itu, seperti seorang koki andalan pria itu tidak ingin membuat wanita itu dan anaknya kekurangan vitamin.
Pria itu tengah sibuk membuat Omelet Sayur. Ia sedang memecahkan telur lalu memasaknya dengan matang di tambah sayur brokoli karena wanitanya sangat menyukai itu. Ia juga menambahkan sedikit keju pasteurisasi untuk tambahan kalsium.
Semuanya di lakukan dengan gerakan efisien. Lima belas menit kemudian. Erlangga langsung menatanya pada nampan dan tidak lupa susu untuk ibu hamil sudah ia siapkan.
Setelah selesai ia membawa makanan itu ke kamar Aline.
Saat Erlangga masuk. Seketika tatapan Aline terpaku saat melihat sang Dokter yang seharusnya memakai seragam kebesarannya atau seragam operasi. Kali ini pria itu mengenakan kaos putih yang memperlihatkan otot-otot perutnya dipadukan celemek yang menggantung di lehernya.
"Apakah dia masih orang yang sama." gumam Aline tidak percaya.
Erlangga melangkah mendekat ke arah Aline. Lalu menyimpan nampan itu di atas nakas.
"Sarapan dulu habis itu minum obat."
Dengan lembut Erlangga mulai menyuapi Aline, suapan demi suapan makanan itu masuk ke dalam mulut Aline. Ia seolah benar-benar terkesima atas semua perlakuan Erlangga terhadapnya.
Setelah selesai makan, Erlangga langsung menyerahkan satu butir obat agar Aline meminumnya.
Tanpa bantahan, tanpa perdebatan. Aline benar-benar patuh pada Erlangga, wanita itu langsung meminumnya.
Erlangga mengelus kepala Aline dengan lembut sambil tersenyum manis. "Calon Istriku memang sangat penurut."
Semoga si Iblis bernama Anita itu, binasa aja🤣