NovelToon NovelToon
Pergi Sakit Bertahan Sulit

Pergi Sakit Bertahan Sulit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Cinta adalah anugerah... tapi bagaimana jika cinta harus kamu berikan pada orang lain?

Aletta syavira levania dan Dilan Wijaya Kusuma saling mencintai sejak SMA – cinta yang tumbuh perlahan seperti bunga di musim hujan. Namun ketika sahabatnya Tamara Amelia Siregar mengaku jatuh cinta pada Dilan untuk pertama kalinya, Aletta membuat keputusan berat, melepaskan orang yang dicintainya demi menyenangkan sahabatnya.

"Dia butuh kesempatan, aku mohon Dilan, aku jaminan kamu akan lebih bahagia sama dia." Ucapnya dengan nada yang memelas sampai Dilan pun tak tega untuk menolaknya

Untuk memenuhi janjinya, Aletta mencari cinta baru melalui media sosial dan bertemu Jonathan Adista sanjaya. Sementara itu, Dilan dengan berat hati menjalin hubungan dengan Tamara. Di depan orang lain, semuanya terlihat sempurna – dua pasangan yang harmonis dan bahagia. Namun di balik senyum dan candaan, setiap tatapan Aletta dan Dilan menyimpan rasa rindu yang tak bisa disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Pagi itu, suasana di ruang tengah masih terasa agak tegang dan lelah. Wajah mereka semua tampak pucat dan mengantuk karena tidak tidur semalaman, namun rasa syukur karena sudah lewat malam yang mengerikan itu masih terasa di hati mereka. Mereka duduk melingkar sambil meminum teh hangat untuk menenangkan diri dan menghangatkan badan.

Tiba-tiba, Luna membuka pembicaraan dengan nada suara yang serius dan tegas. Ia menatap ke arah Silvia yang sejak awal memang ditunjuk sebagai ketua kelompok penghuni kosan.

"Silvia... Sebagai ketua di sini, gue punya satu usul penting yang menurut gue harus segera kita lakukan. Kejadian-kejadian aneh dan menakutkan ini udah berlangsung dua malam berturut-turut, dan makin lama makin parah. Kita nggak mungkin diam saja dan takut terus-menerus kayak gini. Menurut gue, sebaiknya loh segera melapor dan memberitahu Bapak Kosan tentang semua kejadian ini, dari awal sampai akhir," kata Luna dengan nada yakin.

Silvia mengangguk perlahan, mendengarkan dengan saksama. "Iya, Luna. Gue juga udah kepikiran hal itu dari tadi. Tapi apa saja yang harus kita ceritakan ke Bapak kosan? Jangan sampai dia salah paham ya," jawabnya ragu.

Luna menarik napas panjang, lalu melanjutkan, "Ceritakan semuanya dengan jujur. Ceritakan mulai dari kejadian Oca kesurupan, keran air nyala sendiri, suara orang mandi, sampai suara tangisan yang terdengar semalam. Tapi kita juga harus jujur soal apa yang kita lakukan kemarin sore. Ceritakan juga kalau kita mengadakan acara ngeliwet bareng teman-teman cowok sampai malam, dan karena keadaan darurat serta sudah terlalu larut, akhirnya mereka terpaksa menginap di teras depan. Kita akui kalau itu mungkin jadi penyebab atau pemicu suasana jadi nggak tenang, dan kita minta maaf juga karena sudah melanggar aturan tanpa sengaja. Tapi yang terpenting, kita minta bantuan Bapak untuk menyelesaikan masalah ini karena kita sudah sangat takut dan bingung."

Semua teman-teman yang lain mendengarkan dengan saksama dan setuju dengan pendapat Luna. Mereka sadar, menyembunyikan hal ini tidak akan menyelesaikan masalah, malah bisa memperburuk keadaan. Lebih baik jujur dan meminta bantuan daripada mereka terus menerus hidup dalam ketakutan.

"Benar kata Luna. Kita ceritakan semuanya apa adanya, minta maaf kalau ada kesalahan kita, dan minta kepada Bapak kosan bantu cari solusinya. Kita percaya Bapak kosan pasti mengerti dan mau membantu kita," tambah Aletta mendukung usul itu.

Silvia pun akhirnya mantap. "Baiklah. Gue segera hubungi Bapak Kosan dan sampaikan semuanya seperti yang kalian katakan. Terima kasih ya sudah mengingatkan dan mendukung gue."

Tidak lama setelah Silvia menelepon dan menceritakan semuanya, Bapak Kosan segera datang ke lokasi. Wajahnya tampak serius dan khawatir saat mendengarkan penjelasan panjang lebar dari Silvia dan teman-teman yang lain.

Dia mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk dan menghela napas panjang saat mendengar kejadian-kejadian yang menimpa mereka.

Mendengar pengakuan jujur mereka soal acara ngeliwet dan teman cowok yang menginap, Bapak Kosan tidak langsung marah atau memarahi mereka. Dia justru mengerti bahwa itu dilakukan karena keadaan darurat dan bukan kesengajaan.

Namun dia tetap mengingatkan dengan nada tegas, "Anak-anak... Saya mengerti maksud dan keadaan kalian, dan saya bersyukur kalian jujur bercerita. Tapi ingat, aturan itu dibuat demi kebaikan dan keamanan kalian juga. Rumah ini memang punya sejarah yang kurang baik, jadi energi di sini memang agak sensitif. Hal-hal yang tidak wajar bisa dengan mudah muncul kalau ketenteraman rumah ini terganggu. Mungkin kejadian kemarin memang memicu gangguan itu muncul lagi."

Kemudian Bapak Kosan tersenyum lembut dan berkata, "Tapi jangan khawatir. Saya sudah mengantisipasi hal ini. Tadi saat kalian menelepon, saya langsung menjemput Pak Ustadz yang terkenal alim dan pintar mengobati gangguan makhluk halus. Beliau ada di luar, saya ajak ke sini khusus untuk membersihkan dan mengusir gangguan apa pun yang ada di dalam rumah ini."

Mendengar itu, hati mereka semua terasa sangat lega dan senang. Tak lama kemudian, masuklah seorang Ustadz yang berwajah teduh, ramah, dan berwibawa.

Beliau langsung memimpin acara pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an, doa bersama, dan memercikkan air suci ke seluruh penjuru rumah, mulai dari ruang tamu, kamar-kamar, dapur, hingga kamar mandi dan halaman belakang.

Suasana menjadi sangat khusyuk dan damai, seolah-olah cahaya terang menyelimuti seluruh isi rumah. Mereka berharap, setelah acara ini berakhir, semua gangguan akan hilang dan mereka bisa tinggal dengan tenang kembali.

Siangnya, meskipun tubuh mereka masih terasa lelah dan mata masih berat karena kurang tidur, mereka tetap semangat berangkat ke panti jompo untuk melaksanakan tugas dan kegiatan seperti biasa.

Hari itu dijadwalkan ada kegiatan istimewa senam bersama untuk seluruh penghuni panti jompo, bertujuan agar kesehatan dan kebugaran tubuh para kakek dan nenek tetap terjaga dengan baik.

Di halaman luas panti jompo yang teduh dan sejuk, semua lansia sudah berkumpul dengan pakaian olahraga yang rapi dan nyaman.

Para siswa termasuk Aletta dan teman-temannya membantu menyiapkan tempat, mengatur barisan, dan membantu kakek-nenek yang berjalan agak lambat atau menggunakan tongkat dan kursi roda.

"Semangat ya, Kakek Nenek! Hari ini kita gerak-gerak badan biar darah lancar dan sehat terus!" seru instruktur senam dengan nada ceria.

Diiringi musik yang riang dan bersemangat, mereka pun mulai bergerak mengikuti gerakan senam yang ringan dan mudah. Aletta membantu Ibu Nining berdiri di sampingnya, membimbing dan mengajari gerakan demi gerakan dengan sabar dan senyum ramah.

Gery pun terlihat sibuk membantu memutar kursi roda Pak Bima agar beliau tetap bisa ikut bergerak sesuai kemampuannya.

Suasana menjadi sangat meriah, penuh tawa dan semangat. Para lansia tampak sangat senang dan gembira mengikuti kegiatan ini, wajah mereka berseri-seri dan terlihat segar kembali.

Setelah kegiatan senam selesai dan para lansia beristirahat kembali di kamar masing-masing, Aletta dan Cika duduk bersama di teras belakang panti sambil membawa gelas teh hangat untuk menenangkan diri. Kebetulan pasien asuhan Cika, seorang nenek tua bernama Nenek Sari, sedang duduk di sana sendirian menatap langit dengan pandangan yang kosong dan sedih.

Melihat itu, Aletta dan Cika mendekat dan duduk di samping Nenek Sari.

"Ada apa Nenek duduk sendirian di sini? Apakah lelah habis senam?" tanya Cika lembut sambil memegang tangan keriput Nenek Sari.

Nenek Sari menoleh perlahan, matanya berkaca-kaca, lalu menggeleng pelan. "Tidak, Nak... Nenek tidak lelah. Nenek cuma... cuma sedang teringat pada anak-anak Nenek di rumah," jawabnya dengan suara lirih dan bergetar.

Perlahan, dengan suara yang terbata-bata dan air mata yang mulai menetes di pipinya yang keriput, Nenek Sari menceritakan kisah hidupnya yang sangat menyedihkan.

Beliau bercerita betapa ia telah membesarkan anak-anaknya dengan susah payah, bekerja keras siang malam demi pendidikan dan masa depan mereka. Namun, setelah anak-anaknya berhasil dan sukses, mereka malah melupakan Nenek.

Mereka merasa terganggu dengan keberadaan Nenek di rumah, menganggap Nenek sebagai beban, dan akhirnya secara diam-diam menitipkan Nenek di panti jompo ini dengan alasan sibuk bekerja dan tidak ada yang mengurus.

Sejak saat itu, mereka hampir tidak pernah datang berkunjung, tidak pernah menelepon, seolah-olah Nenek sudah tidak ada lagi dalam hidup mereka.

"Padahal Nenek sangat merindukan mereka, Nak... Nenek cuma ingin tinggal bersama mereka, ingin melihat cucu-cucu Nenek tumbuh besar. Tapi mereka malah membuang Nenek ke sini... Apa salah Nenek, Nak?" isak Nenek Sari dengan sedih.

Mendengar cerita yang begitu menyayat hati itu, air mata Cika dan Aletta langsung jatuh menetes. Hati mereka terasa sangat perih dan sedih. Mereka memeluk Nenek Sari dengan erat, berusaha menenangkan dan menghapus air mata wanita tua yang sangat kesepian itu.

"Jangan sedih ya, Nek... Jangan menangis. Nenek tidak sendirian di sini. Ada kami, ada teman-teman Nenek yang lain, ada Ibu Eka. Kami semua sayang sama Nenek, kami menganggap Nenek seperti ibu dan nenek kami sendiri. Biarpun anak-anak Nenek tidak ingat, tapi kami akan selalu ada di sini menemani Nenek," kata Cika di sela isak tangisnya, hatinya hancur mendengar nasib menyedihkan nenek itu.

Aletta pun mengangguk setuju, matanya masih berkaca-kaca. "Benar kata Cika, Nek. Jangan bersedih hati. Di sini Nenek punya keluarga baru yang menyayangi Nenek dengan tulus. Kami janji akan selalu berbakti dan menyayangi Nenek dengan sepenuh hati."

Menjelang sore, setelah seharian bekerja keras, membantu, dan mengurus para lansia, tubuh mereka semua terasa sangat lelah dan letih sekali.

Kaki mereka terasa berat melangkah, dan yang mereka inginkan hanyalah segera sampai di kosan, mandi, dan beristirahat dengan nyenyak.

Namun, nasib berkata lain. Begitu mereka membuka pintu kosan dan masuk ke dalam, pemandangan yang mengerikan dan menjijikkan menyambut mereka.

Teror itu ternyata belum berakhir, bahkan justru menjadi jauh lebih parah meskipun sudah didatangi Ustadz dan dibersihkan!

Seluruh bagian belakang rumah, kamar mandi, dan bahkan ruang tengah bagian bawah tergenang air. Air mengalir deras dari keran kamar mandi yang terbuka lebar, begitu pula air dari kloset WC terus mengalir keluar tanpa henti.

Lantai rumah basah kuyup dan becek, airnya keruh dan bau, menggenang di mana-mana sampai ke sepatu mereka. Sampah dan kotoran ikut hanyut terbawa air, membuat suasana jadi sangat kotor, berantakan, dan menjijikkan.

"Ya Allah... Apa ini?! Padahal tadi pagi baru saja dibersihkan dan dirawat oleh Ustadz, kok malah jadi lebih parah begini?!" seru Widi dengan suara gemetar campur marah dan lelah.

"Kenapa hal ini terus terjadi sama kita? Kapan berhentinya ya?" keluh Oca sambil menangis lelah.

Meskipun hati mereka sedih, marah, dan takut, serta tubuh mereka terasa sangat capek setelah seharian bekerja, mereka tidak punya pilihan lain.

Mau tidak mau, suka tidak suka, mereka harus segera membersihkan kekacauan itu. Jika dibiarkan, airnya akan makin meluap dan merusak barang-barang mereka.

Dengan wajah lesu dan mata yang berair, mereka kembali bekerja sama. Mereka mematikan aliran air utama, menyapu air ke luar, mengepel lantai berkali-kali, dan membuang kotoran yang ada.

Di tengah kelelahan yang luar biasa itu, mereka saling menguatkan hati satu sama lain, berusaha bertahan dan tidak menyerah. Meski teror itu makin parah dan membuat mereka menderita, mereka berjanji akan tetap bertahan dan menghadapinya bersama-sama sampai kapan pun.

~be to continuous~

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!