Li Zhen terbangun di ranjang jerami yang gatal, menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. Dia menyadari dirinya terlempar ke Benua Awan Surgawi, masuk ke tubuh pemuda lemah dengan nama yang sama.
Alih-alih berlatih ilmu kanuragan seperti kultivator lain, Li Zhen hanya menguap lebar sambil menatap langit-langit yang bocor. Dia memilih menggunakan lidahnya yang setajam pisau untuk bertahan hidup di dunia persilatan yang kejam ini.
Dia tidak pernah sekalipun memukul lawan, namun musuhnya sering menangis tersedu-sedu sambil memeluk lutut. Ini adalah kisah berputar-putar tentang seorang pemuda yang mengacaukan dunia kultivasi hanya dengan ocehan tanpa henti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Setelah gangguan itu pergi, Li Zhen kembali menikmati rendaman air panasnya hingga ujung jari-jarinya mulai keriput. Dia menggosok tubuhnya hingga bersih dari sisa-sisa lumpur dan debu gunung, merasa dirinya kembali menjadi manusia yang beradab.
Namun, sebuah kesadaran yang sangat mengganggu tiba-tiba menghantam pikiran pemuda kurus tersebut. Dia baru menyadari bahwa dia tidak membawa handuk fana dari sistem, dan jubah lamanya yang compang-camping sudah tergeletak kotor di atas tanah.
"Sistem bodoh, mengapa kau menjual sabun mahal tanpa menawarkan handuk pengering sebagai paket bundel?" gerutu Li Zhen di dalam hatinya. Layar biru neon itu tidak merespons protesnya, hanya berkedip pelan menampilkan saldo Poin Sampah yang masih tidak tersentuh.
Dia bisa saja membeli pakaian fana dari sistem, namun otak liciknya selalu mencari cara untuk menindas para kultivator di sekitarnya. Memakai pakaian fana biasa di dunia ini tidak akan memberikan dampak psikologis yang cukup memuaskan bagi ego arogannya.
Li Zhen berdiri perlahan dari dalam bak mandi batu meteorit itu, membiarkan air panas menetes dari tubuhnya yang putih pucat. Dia menyilangkan tangannya di dada, menatap barisan punggung para tetua elit yang masih berdiri mematung membelakanginya di halaman.
"Kepala Sekte Zhao, berbaliklah sekarang juga dan menghadap kemari," perintah Li Zhen dengan nada mutlak yang memecah keheningan. Zhao Wuji tersentak hebat, jantungnya seakan melompat keluar dari rongga dadanya saat namanya kembali dipanggil oleh sang algojo mental.
Pria paruh baya itu memutar tubuhnya dengan sangat kaku, matanya diarahkan lurus ke tanah karena dia tidak berani menatap tubuh telanjang pemuda tersebut. "A-apakah ada yang bisa junior ini bantu untuk menyempurnakan ritual penyucian diri Anda, Senior Agung?" tanyanya dengan suara serak.
"Aku sudah selesai mandi, dan pakaian lamaku sudah terlalu kotor bahkan untuk dijadikan kain pel lantai giok ini," ucap Li Zhen dengan nada menuntut. "Serahkan satu set pakaian terbaik yang kau miliki di dalam cincin spasialmu itu sekarang juga kepadaku."
Zhao Wuji menelan ludah dengan susah payah, keringat dingin kembali membasahi dahinya yang lebar. Pakaian yang dia miliki di dalam cincin spasialnya hanyalah jubah cadangan Kepala Sekte, sebuah pakaian kebesaran yang ditenun dari Sutra Laba-laba Surgawi.
Pakaian suci itu memiliki ukiran array pertahanan tingkat kaisar dan dijahit menggunakan benang emas murni. Memberikan jubah lambang kekuasaan tertinggi sekte kepada orang luar adalah sebuah pelanggaran berat yang bisa membuatnya dilengserkan oleh para leluhur.
"M-mengapa kau diam saja? Apakah kau ingin aku membongkar rahasia korset bajamu itu kepada murid-murid di asrama bawah besok pagi?" ancam Li Zhen dengan senyuman iblis yang kejam. Mata Zhao Wuji langsung membelalak panik, sisa-sisa keraguannya hancur berkeping-keping di bawah ancaman aib sosial tersebut.
Tanpa berpikir panjang lagi, pria perkasa itu langsung merogoh cincin spasialnya dengan tangan yang bergetar hebat. Dia mengeluarkan sebuah jubah sutra berwarna putih bersih yang dihiasi oleh sulaman naga emas menyala di bagian dada dan punggungnya.
Jubah kebesaran itu memancarkan aura spiritual yang sangat menenangkan, memendarkan cahaya keemasan tipis di bawah sinar bulan ganda. Zhao Wuji melangkah maju dengan kepala tertunduk, menyodorkan pakaian suci itu menggunakan kedua tangannya layaknya seorang pelayan rendahan.
Li Zhen mengambil jubah itu dengan kasar, sama sekali tidak mempedulikan nilai historis atau kekuatan sihir pelindung yang tertanam di dalamnya. Dia membolak-balik kain sutra mahal itu dengan raut wajah yang dipenuhi oleh rasa jijik dan ketidakpuasan yang sangat mendalam.
"Desain jubah ini benar-benar mencerminkan selera kampungan dari seorang pria tua yang krisis identitas," kritik Li Zhen tanpa kenal ampun. Kata-kata itu meluncur mulus menghancurkan martabat sang Kepala Sekte yang hanya bisa menggigit bibirnya menahan tangis.
Dia menunjuk ke arah sulaman naga emas raksasa yang berada di bagian dada jubah tersebut dengan ujung jarinya yang masih basah. "Naga emas raksasa di tengah dada? Apakah kau sengaja ingin menjadi target panahan berjalan bagi musuh-musuhmu di medan perang?" ejeknya tajam.
Zhao Wuji terbatuk pelan, dadanya sesak menahan rasa malu yang kembali membakar kewarasannya. "S-Senior Agung, naga emas itu adalah lambang pelindung surgawi yang akan menahan serangan pedang tingkat apa pun," belanya dengan suara nyaris berbisik.
"Pelindung surgawi apanya? Ini murni karena kau ingin pamer kekayaan dan menutupi perut buncitmu dengan sulaman tebal," balas Li Zhen telak. Rahasia memalukan itu kembali disinggung, membuat Zhao Wuji langsung berlutut di tanah sambil menutupi wajahnya yang memerah padam.
[Ding! Target Kepala Sekte Zhao Wuji mengalami kerusakan ego berkelanjutan. Mendapatkan +6.000 Poin Sampah.]
Suara sistem kembali bernyanyi merdu di telinga Li Zhen, menyemangati pemuda itu untuk terus melanjutkan penindasan mentalnya. Dia mengibaskan jubah suci itu ke udara, lalu memakainya dengan gerakan yang sangat sembarangan dan tidak rapi.
Karena ukuran tubuh Kepala Sekte jauh lebih besar dan berotot darinya, jubah putih itu terlihat sangat kedodoran di tubuh kurus Li Zhen. Lengan jubahnya menjuntai hingga menutupi telapak tangannya, sementara ujung bawahnya menyapu lantai giok putih dengan sangat menyedihkan.
Li Zhen mendecakkan lidahnya, melipat lengan jubah itu hingga sebatas siku dengan gerakan yang sangat kasar. "Bahkan bahan sutranya terasa gatal di kulitku, kau pasti dibodohi oleh penjahit jalanan saat membeli jubah murahan ini," keluhnya tanpa henti.
Mendengar pakaian sakti warisan pendiri sekte dihina sebagai barang murahan jalanan, para tetua lain yang membelakangi mereka serempak menitikkan air mata. Mereka menangis dalam diam, meratapi jatuhnya martabat Sekte Teratai Angin ke titik terendah dalam sejarah ribuan tahun berdirinya.
Li Zhen berjalan kembali ke dalam paviliunnya, membiarkan jubah kebesaran itu terseret di atas lantai dengan postur tubuh yang sangat arogan. "Aku akan tidur sekarang, dan aku tidak ingin mendengar suara napas kalian yang berisik itu sampai besok pagi," perintahnya dari ambang pintu.
Dia menatap Zhao Wuji yang masih berlutut meremas tanah, lalu memberikan senyuman miring yang penuh dengan ancaman gaib. "Jika ada satu nyamuk saja yang berani menggigitku malam ini, aku akan mencabut janggut kalian satu per satu besok pagi."
Ancaman tidak masuk akal itu langsung membuat para tetua sekte menelan ludah dengan susah payah, menyadari bahwa malam panjang mereka belum berakhir. Mereka harus mengerahkan energi spiritual mereka hanya untuk menjadi alat pengusir nyamuk bagi seorang pemuda fana yang sedang tidur nyenyak.
Pintu kayu jati itu akhirnya tertutup rapat, mengunci Li Zhen di dalam kemewahan istana barunya yang sejuk dan nyaman. Pemuda itu merebahkan tubuhnya yang sudah wangi mawar ke atas kasur bulu angsa, siap untuk melanjutkan tidur nyenyaknya yang sempat tertunda.
Sementara itu, di luar paviliun, puluhan kultivator terkuat di benua itu masih berdiri menahan hawa dingin malam yang menusuk tulang. Mereka mengedarkan pandangan dengan panik ke sekeliling hutan, bersiap untuk membantai serangga apa pun yang berani mendekati bangunan megah tersebut.
Kekuasaan Li Zhen kini telah benar-benar absolut, mengubah para dewa persilatan menjadi barisan penjaga malam yang sangat menyedihkan. Di bawah cahaya bulan kembar, tirani sang pembicara sampah baru saja menemukan babak barunya yang jauh lebih gila dan tidak masuk akal.
kita udh follow authornya..jd gampanglah nanti balek ksini lg kalo udah banyak cpt nya...
ninggal ktp aja doeloe...
💪