NovelToon NovelToon
Sisi Misterius Salsa

Sisi Misterius Salsa

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Menikahlah dengan cucu keluarga Wijaya, setelah kakek meninggal. "
"Menikah!, sekarang? "ucap Salsa terkejut.
Salsa tidak percaya dengan ucapan kakeknya yang terbaring lemah di rumah sakit, tiba-tiba saja dia harus menikah dengan cucu temannya yang seorang polisi bernama Rian.
karena itu wasiat kakeknya yang sudah membesarkan dirinya setelah kedua orang tuanya meninggal, dirinya pun pergi ke kota membawa alamat, surat wasiat yang akan diberikan oleh keluarga Wijaya dan cincin pertunangan mereka.
Tapi Salsa menutupi identitas aslinya yang bisa melihat arwah, karena Rian orang yang sensitif jika menyangkut masalah seperti itu.
Tapi kemampuan special Salsa itu bisa membantu Rian memecahkan beberapa kasus yang sulit untuk di pecahkan.
bagaimana cerita pernikahan mereka yang banyak sekali perbedaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 14.Ikut di rumah Rian.

Salsa terbelalak kaget. Mulutnya sedikit terbuka, tidak menyangka Rian akan membentak sekeras itu. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara takut dan bingung.

Kenapa dia marah? Apa karena dia terpaksa? Apa karena takut sama Ayahnya? batin Salsa bertanya-tanya. Ia menyimpulkan bahwa Rian hanya berani berkata begitu karena ada ayahnya di sini. Kalau tidak, mungkin pria itu sudah mengusirnya sejak tadi.

Tuan Wijaya tersenyum puas melihat reaksi putranya. "Dengar itu, Salsa? Rian tidak menolak. Dia cuma pendiam dan gengsian saja."

Nyonya Wijaya pun ikut tersenyum lega, lalu mengusap kepala Salsa lembut. "Sudah jangan sedih lagi ya, Nak. Kalau begitu, malam ini kalian pulang ke rumah Rian saja. Rumah ini kadang sepi, dan Rian kan butuh teman. Di sana kalian bisa lebih leluasa dan bisa lebih cepat akrab."

"Dan besok pagi!" Tuan Wijaya memukul pelan meja dengan tegas. "Kalian berdua ke Kantor Catatan Sipil! Urus surat pernikahan sekarang juga! Tidak ada alasan menunda lagi! Itu perintah Ayah!"

Salsa makin panik. Hah? Besok? Secepat itu?!

Ia menoleh ke arah Rian, berharap pria itu akan menolak atau protes. Tapi Rian hanya menghela napas panjang, wajahnya datar dan sedikit gelap.

"Baik, Yah. Besok kita urus," jawab Rian singkat dan padat, seolah sedang melapor tugas bukan membicarakan masa depan hidupnya sendiri.

"Syukurlah!" Rani bertepuk tangan senang. "Akhirnya Salsa jadi kakak iparku!"

Semua orang di ruangan itu tersenyum bahagia, kecuali dua orang yang menjadi pusat perhatian. Rian tersenyum tipis namun terpaksa, dan Salsa hanya bisa memaksakan senyum kecut sambil menunduk. Hati kecilnya berkata bahwa ini semua terasa sangat salah dan dipaksakan.

Perjalanan menuju rumah pribadi Rian terasa hening dan canggung. Salsa duduk di kursi penumpang, memeluk tas ranselnya erat-erat. Rian mengemudi dengan fokus, wajahnya dingin dan tidak bersuara.

Akhirnya mereka tiba di sebuah rumah mewah namun terasa lebih hangat dan modern, terletak di perumahan yang tenang. Tidak sebesar dan semegah rumah orang tuanya, tapi tetap terlihat sangat elitis dan tertata rapi.

"Turunlah," ucap Rian datar sambil mematikan mesin.

Mereka masuk ke dalam. Rumah itu bersih, rapi, dan minimalis. Terlihat sangat maskulin dan terawat.

"Rumahmu bagus ya, Kak," celetuk Salsa canggung memecah keheningan.

Rian tidak menjawab, ia meletakkan kunci mobilnya di atas meja, lalu berbalik menghadap Salsa dengan wajah yang kembali serius dan tegas. Suasananya langsung berubah dingin.

"Dengar baik-baik, Salsa," mulai Rian dengan suara rendah namun tegas. "Aku setuju menikah denganmu semata-mata karena menghormati wasiat Kakek Tio dan permintaan orang tuaku. Bukan karena itu keinginanku. Aku harap kau mengerti posisiku."

Salsa menunduk sedih. "Iya... Salsa ngerti kok, Kak."

"Dan soal hubungan kita," lanjut Rian lagi. "Aku minta kita merahasiakan status pernikahan kita dari orang lain, setidaknya untuk sementara waktu. Aku tidak ingin banyak orang tahu. Kau bisa bilang pada siapa saja kalau kau adalah adik sepupuku yang numpang tinggal di sini sebentar. Mengerti?"

Salsa mengangguk cepat. "Iya Kak, Salsa janji. Salsa akan bilang kalau Kakak itu kakak sepupu Salsa. Nggak akan ada yang tahu kok."

Rian menghela napas lega. "Bagus. Sekarang soal hidupmu di sini. Kau mau makan apa, mau pakai apa, semuanya bilang padaku. Aku akan tanggung semuanya."

Tiba-tiba Salsa mengangkat wajahnya, matanya berbinar berani. "Ka... Kak Rian..."

"Apa?"

"Salsa... Salsa mau sekolah lagi," ucap Salsa pelan tapi mantap. "Dulu Salsa berhenti sekolah karena harus merawat Kakek dan kerja. Tapi sekarang Salsa sudah kelas 3 SMA. Salsa pengen lulus dan punya ijazah. Boleh nggak, Kak?"

Rian terdiam menatap gadis itu. Ia melihat tekad di mata Salsa. Perlahan rahang tegasnya mengendur sedikit.

"Boleh. Besok setelah urus surat, aku akan carikan sekolah terbaik untukmu. Semua kebutuhan sekolahmu, seragam, buku, uang saku, semuanya akan aku siapkan. Karena mulai detik ini, kau adalah tanggung jawabku," jawab Rian tegas.

"Makasih banyak, Kak! Salsa janji bakal rajin belajar dan nggak bakal nyusahin Kakak!" seru Salsa bersemangat, wajahnya kembali ceria.

Rian hanya mengangguk singkat, lalu hendak pergi ke kamarnya untuk istirahat dan membersihkan diri. Namun langkahnya terhenti saat melihat tatapan Salsa yang aneh.

Gadis itu tidak menatapnya, melainkan menatap lurus ke arah pintu kaca yang menghubungkan ruang tengah dengan halaman belakang. Matanya membelalak, seolah melihat sesuatu yang sangat menarik perhatiannya.

Rian mengikuti arah pandangan mata Salsa. Di luar sana gelap, hanya ada lampu taman yang menyala redup. Tidak ada siapa-siapa.

Tapi Rian tahu. Dia tahu tatapan itu. Tatapan yang sama saat Salsa bicara sendiri seolah ada orang lain di sana.

Jantung Rian yang biasanya berani menghadapi penjahat bersenjata api, tiba-tiba berdegup kencang karena takut. Dia memang pemberani melawan manusia, tapi urusan hantu atau makhluk halus... dia penakut tingkat dewa.

Dengan wajah pucat dan suara bergetar sedikit, Rian memberanikan diri bertanya sambil memalingkan wajah agar tidak ikut melihat.

"S... Salsa..." panggilnya pelan.

"Iya, Kak?"

"Kau... kau lihat apa di luar sana?" tanya Rian hati-hati, keringat dingin mulai mengucur di pelipisnya. "Jangan bilang ada... ada yang hantu jahat ya..."

Salsa justru tersenyum lebar, senyum yang sangat manis dan polos. Ia menunjuk ke arah taman.

"Nggak kok, Kak! Nggak menakutkan sama sekali! Di sana ada seekor kucing! Kucingnya lucu banget, bulunya putih bersih, matanya warna biru. Wah, pasti kucing ras mahal ya?"

Rian mengerutkan kening bingung. "Kucing? Tapi aku tidak pelihara kucing..."

"Tapi dia ada di situ terus Kak, dia manggil-manggil terus lho! 'Meong... meong...' terus ngeliat ke arah sini," jelas Salsa antusias. "Boleh nggak Salsa keluar sebentar? Salsa mau main sama dia. Kasihan dia sendirian di luar."

Tanpa menunggu jawaban panjang lebar, Salsa sudah berlari kecil membuka pintu kaca dan keluar ke halaman.

Rian yang masih di dalam terpaku. Ia melirik ke luar dengan was-was.

Kucing? Kucing hantu maksudnya?! batin Rian panik. Ya ampun... tenang Rian... dia bilang lucu, berarti nggak bahaya... mungkin arwah kucing peliharaan tetangga atau apa...

Meski takut setengah mati, rasa penasaran dan juga rasa lega karena bukan hantu penampakan menyeramkan membuat Rian perlahan mendekat ke jendela, mengintip Salsa yang kini berjongkok di halaman sambil tertawa-tawa sendirian di bawah sinar bulan.

Rian mengamati dari kejauhan tingkah Salsa, lalu Salsa mendadak berdiri menatap jalan keluar dari rumahnya.

"Salsa, mau kemana malam begini? " Tanya Rian yang khawatir.

"Ini... Kak, kucing itu sepertinya menyuruhku mengikutinya sekarang sedang menungguku untuk ikut dengan nya. "

"Tidak... Sudah malam. Sebaiknya kamu masuk! " Larang tegas Rian.

"Tapi kak, nanti kucing itu akan terus mengeong dan membuatku tidak bisa tidur. "

Rian lalu terdiam, dan Salsa menunggu izin dari Rian. Bagaimanapun juga Salsa tidak mau tersesat, karena ini lingkungan barunya.

"Baik, aku ikut!. Tapi tunggu sebentar, aku kunci rumah dulu. "

Salsa pun menganggukan kepalanya pelan, dan berdiri menunggu Rian. Lalu mereka berdua keluar bersama, dan mereka berdua mengikuti kucing itu di tengah malamnya kota.

1
💝F&N💝
lanjut.
up nya tiap hari doooooooo😅🙏
💝F&N💝
ini kapan up lagi
paijo londo
thor mampir kyaknya seru nih🤭🤭
💝F&N💝
up lagi
💝F&N💝
good👍👍👍👍👍 aku suka alurnya.
bagus banget
bisa dinikmati
lanjut 👍👍👍👍👍
Sahabat Oleng
aku mampir thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!