"Orang lama menang karena sejarah, tapi orang baru menang karena masa depan."
Azeant Apolo-valerio kehilangan cintanya, namun menemukan kembali harga dirinya. Kata "Putus" dari Claudia Astor seharusnya menjadi akhir, namun bagi pewaris tunggal keluarga Valerio ini, itu hanyalah sebuah awal dari pembebasan.
Apolo adalah pria yang hidup dalam presisi rumus teknik, namun ia gagal menghitung variabel ego seorang wanita yang hanya haus akan validasi.
Segalanya berubah saat sebuah notifikasi dari aplikasi kencan masuk, membawa nama Veronica Brooklyn.
Gadis itu adalah anomali; dia tidak memuja ketampanan Apolo, malah menantangnya dengan kejujuran yang Brutal.
Veronica hadir bukan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Claudia, melainkan untuk menciptakan standar baru yang tak pernah Azeant Apolo-valerio bayangkan sebelumnya.
Apolo belajar bahwa terkadang, orang yang datang paling akhir adalah satu-satunya yang layak menjadi yang pertama.
🦋
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#23
Pagi itu, langit New York seolah ikut merayakan kegilaan yang sedang terjadi di Mansion Utama Valerio.
Tidak ada yang pernah menyangka bahwa dalam waktu kurang dari dua belas jam, sebuah kediaman yang biasanya tenang dan berwibawa akan berubah menjadi altar pernikahan paling megah sekaligus paling mendadak dalam sejarah kaum elit Amerika.
Ratusan pekerja dekorasi dikerahkan dengan biaya yang sanggup membangun sebuah gedung pencakar langit. Kelopak mawar putih didatangkan langsung dengan jet pribadi dari perkebunan terbaik, menutupi anak tangga marmer yang menuju ke halaman belakang yang luas. Sebuah altar kristal berdiri tegak di bawah pohon oak tua yang telah ada sejak generasi pertama Valerio menginjakkan kaki di tanah ini.
Namun, di dalam ruang kerja utama, suasana sama sekali tidak romantis.
BUGH!
Suara hantaman daging bertemu daging menggema di ruangan yang kedap suara itu.
Azeant Apolo-Valerio terhuyung ke belakang, punggungnya menabrak rak buku kayu mahoni. Darah segar merembes dari sudut bibirnya yang robek. Ia tidak membalas. Ia hanya berdiri tegak kembali, menyeka darah itu dengan punggung tangannya sambil menatap lurus ke arah pria yang berdiri di depannya.
Alvaro Bautista Valerio, sang kepala keluarga, berdiri dengan napas memburu. Tangannya yang terkepal masih gemetar karena amarah dan keterkejutan yang luar biasa.
"Tiga tahun, Azeant! Kau membiarkan darah dagingku, pewaris sah nama Valerio, tinggal di bawah atap orang lain dan dihina sebagai anak haram karena kebodohanmu melarikan diri ke Eropa?!" suara Alvaro menggelegar.
Azeant menatap ayahnya dengan tatapan dingin namun penuh rasa hormat. "Pukul aku sesukamu, Dad. Tapi pernikahan ini akan tetap terjadi dalam satu jam. Matthew adalah putraku. Dan Veronica adalah istriku—sekarang dan selamanya."
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik. Alvaro menatap putra nya, mencari keraguan, namun yang ia temukan hanyalah tekad baja yang bahkan lebih keras darinya. Tiba-tiba, helaan napas panjang keluar dari mulut sang ayah. Amarahnya tidak hilang, tapi berganti menjadi penerimaan yang aneh.
"Perbaiki wajahmu," ucap Alvaro ketus sambil merapikan jasnya sendiri. "Aku tidak ingin cucuku melihat ayahnya tampak seperti pecundang di hari pernikahannya. Jika kau berani menyakiti gadis itu lagi dan membuatnya membawa pergi cucuku, aku sendiri yang akan mencoret namamu dari silsilah keluarga."
Berita tentang adanya "Apolo Kecil" telah menggetarkan fondasi Mansion Valerio. Namun, reaksi yang paling luar biasa datang dari Florence, sang ibu.
Di luar, di bawah sinar matahari pagi yang cerah, Florence Valerio tidak bisa melepaskan pandangannya—dan pelukannya—dari sosok balita yang kini mengenakan tuksedo kecil khusus. Matthew tampak bingung, mata biru kelabunya yang besar menatap wanita cantik yang terus-menerus menciumi pipinya.
"Ya Tuhan, Alvaro... lihatlah dia," isak Florence dengan air mata kebahagiaan. "Dia benar-benar replika Apolo saat berusia dua tahun. Bagaimana mungkin aku baru mengetahuinya sekarang?"
Keluarga besar Valerio—paman, bibi, dan sepupu dari berbagai penjuru—hadir dengan wajah penuh tanda tanya yang segera berubah menjadi kekaguman saat melihat Matthew. Mereka melihat sebuah keajaiban genetik. Matthew adalah bukti hidup kekuatan darah Valerio yang tidak bisa disangkal.
Tepat pukul sebelas siang, musik klasik mengalun. Veronica melangkah keluar dari pintu besar mansion. Ia mengenakan gaun putih dari koleksi pribadi Florence yang paling berharga—gaun yang seharusnya disimpan untuk menantu masa depan. Meskipun wajahnya tirus, namun riasan tangan profesional dan aura kebahagiaan yang samar membuatnya terlihat seperti dewi yang turun dari khayangan.
Azeant berdiri di altar dengan sudut bibir yang sedikit membiru, namun matanya hanya tertuju pada satu titik. Saat Veronica sampai di depannya, Azeant meraih tangannya yang gemetar.
"Aku menjanjikan hidupmu akan aman mulai hari ini," bisik Azeant pelan saat pendeta mulai membacakan sumpah. "Tidak akan ada lagi Morana, tidak akan ada lagi rasa takut."
Janji dan sumpah pernikahan diucapkan dengan tegas. Saat Azeant mencium bibir Veronica di depan seluruh keluarga besarnya, tepuk tangan membahana. Matthew, yang berada di gendongan Florence, ikut bertepuk tangan kecil meski ia tidak mengerti apa yang terjadi.
Namun, kedamaian itu terusik sesaat sebelum pesta dansa dimulai. Andrew Garfield muncul di gerbang utama dengan wajah merah padam, dikawal oleh beberapa pengacara.
"Hentikan semua ini!" teriak Andrew saat ia berhasil menerobos ke depan area pesta. "Veronica masih istriku yang sah menurut hukum! Pernikahan ini ilegal! Aku menuntut pengembalian istriku dan kompensasi atas penghinaan ini!"
Azeant melepaskan rangkulannya pada pinggang Veronica. Ia melangkah maju, menghalangi pandangan Andrew pada istrinya. Wajahnya kembali ke mode predator yang dingin.
"Kau ingin bicara soal hukum, Andrew?" tanya Azeant tenang.
Dari samping, asisten pribadi Azeant muncul dan menyodorkan sebuah amplop cokelat tebal kepada Andrew.
"Itu bukan surat perceraian," ucap Azeant dengan nada meremehkan. "Andrew, kau menikahi Veronica dengan dokumen yang dipalsukan oleh ibumu mengenai status panti asuhannya. Dan yang lebih penting, kau tidak pernah melakukan konsumasi dalam pernikahan itu selama tiga tahun. Itu adalah surat pembatalan pernikahan. Di mata hukum negara bagian New York, kau dan Veronica dianggap tidak pernah menikah sama sekali."
Wajah Andrew pucat pasi saat melihat dokumen yang ditandatangani oleh hakim agung tersebut.
"Sekarang, pergilah sebelum aku memutuskan untuk menuntut ibumu atas pelecehan terhadap anak di bawah umur yang dialami putraku selama di rumahmu," lanjut Azeant dengan ancaman yang tidak main-main.
Andrew Garfield mundur teratur. Ia tahu, melawan seorang Valerio saat mereka sedang berada di puncak emosinya adalah bunuh diri finansial dan sosial.
Pesta dansa dilanjutkan dengan kemeriahan yang luar biasa. Lampu-lampu kristal digantung di pepohonan, musik jazz mengalun, dan sampanye mengalir tanpa henti. Namun, di tengah keriuhan itu, sebuah suara tangisan melengking memecah suasana.
Matthew tiba-tiba menangis kencang. Ia meronta di gendongan Florence, wajahnya ketakutan melihat begitu banyak orang asing yang mencoba menyentuhnya atau sekadar mengambil fotonya.
"Mommy! Mommy!" teriak Matthew sambil menggapai-gapai ke arah Veronica.
Veronica segera berlari mendekat, mengambil Matthew dari pelukan ibu mertuanya. "Maaf, Mom... dia tidak terbiasa dengan keramaian seperti ini. Dia merasa asing."
Matthew menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Veronica, isakannya masih terdengar sesenggukan. Azeant datang mendekat, ia melingkarkan tangannya di bahu Veronica, memeluk istri dan anaknya secara bersamaan di tengah lantai dansa.
"Dia tidak asing, Vea," bisik Azeant sambil mengusap punggung kecil Matthew. "Dia hanya sedang menyesuaikan diri dengan kerajaan yang akan dipimpinnya nanti."
Matthew perlahan tenang saat merasakan kehadiran Azeant di dekatnya. Balita itu mendongak, menatap Azeant, lalu menyentuh sudut bibir ayahnya yang terluka dengan jari kecilnya yang mungil.
"Daddy..." ucap Matthew pelan.
Dunia seolah berhenti bagi Azeant. Itu adalah pertama kalinya Matthew memanggilnya dengan sebutan itu. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Ia mencium puncak kepala Matthew dan kening Veronica secara bergantian.
Di bawah langit New York yang mulai berubah menjadi jingga, Azeant Apolo-Valerio menyadari bahwa tahta dan kekayaan tidak ada artinya dibandingkan dengan dua orang yang kini berada dalam dekapannya. Perang panjang mereka telah berakhir, dan mulai malam ini, tidak akan ada lagi rahasia yang sanggup memisahkan mereka.
jd teh celup ka dia disana.... 😂