Atlas hancur dalam semalam: dipecat karena jebakan kotor, dikhianati kekasihnya Clara yang berselingkuh dengan Stevan—anak bosnya, lalu diserang hingga tak sadarkan diri.
Tapi takdir berkata lain.
Kalung peninggalan nenek buyutnya, Black Star Diopside, yang selama 20 tahun ia kenakan, tiba-tiba terbangkit. Kalung itu memberinya kekuatan luar biasa: menyembuhkan penyakit, mendeteksi ajal, dan kekuatan fisik dahsyat.
Dari pegawai rendahan yang diinjak-injak, Atlas bangkit sebagai pewaris kekuatan rahasia. Ia bertemu dengan Tuan Benjamin, miliarder tua misterius yang membutuhkan pertolongan medisnya. Namun di balik kebaikan Benjamin, tersembunyi agenda besar.
Dengan adiknya Alicia yang terancam bahaya, Atlas harus melawan Stevan, Clara, hingga geng bayaran Dragon Blood. Akankah kekuatan kalungnya cukup untuk melindungi semua yang ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 - Ditertawakan Didepan Semua Karyawan
Atlas berjalan dengan lesu saat pintu lift terbuka di lantai tiga. Dia menghela napas panjang, pasrah dengan keputusan yang diberikan oleh direktur.
"Perhatian!"
Atlas yang sedang membereskan meja kerjanya menoleh ke arah sumber suara dan melihat Stevan serta Bianca berdiri di dekat pintu lift.
"Semuanya, hentikan pekerjaan kalian sejenak. Mari kita beri waktu untuk teman kita, Atlas, yang telah dipecat dari perusahaan ini karena mencuri."
Mendengar pengumuman itu, seluruh karyawan di lantai tiga langsung heboh. Atlas menjadi pusat perhatian. Semua tatapan penuh hinaan tertuju padanya.
Amarah yang menumpuk akhirnya mendorong Atlas untuk mendekati Stevan. Langkahnya cepat, dan sambil menunjuk Stevan, Atlas berteriak, "Diam kau, pengecut!"
Atlas menatap tajam Stevan dan Bianca secara bergantian, wajahnya memerah saat melanjutkan, "Kau tidak lebih dari sampah, Stevan. Permainan kotormu tidak akan membuatku takut. Aku akan kembali untuk membuatmu menyesal."
"Hahaha! Apa kau tidak malu mengatakan hal seperti itu di depan semua orang?" Stevan tertawa dengan percaya diri.
"Itu konyol! Tidak mungkin Stevan mau menjebak orang seperti Atlas!"
"Atlas benar-benar mencari masalah dengan orang yang salah! Apa yang dia pikirkan?"
"Dia pecundang yang memalukan!"
Bisikan para karyawan semakin memanaskan suasana siang itu. Atlas melihat sekeliling ke arah mereka, dan di saat lengah itu, Stevan memanfaatkannya dan mendorongnya hingga jatuh.
"Ugh!"
"Biar aku peringatkan, Atlas! Aku yang memegang kendali di sini. Jangan pernah berani bersikap tidak sopan padaku."
Stevan mendorong Atlas hingga terjatuh lalu menginjak tangannya. Wajah Atlas menunjukkan rasa sakit saat dia mencoba mengangkat sepatu itu.
Beberapa karyawan mulai mengeluarkan ponsel mereka dan merekam kejadian itu.
Kaki Stevan yang lain kini menekan leher Atlas. Mata Atlas membelalak saat dia membuka mulutnya, berjuang untuk bernapas. Namun Stevan tidak segera menghentikan kekejamannya. Sebaliknya, Stevan dan Bianca tertawa histeris, melihat wajah Atlas semakin memerah.
Atlas mencoba bernapas, terengah-engah seperti ikan kehabisan air, tiba-tiba merasakan kesegaran. Penglihatannya yang kabur menjadi jelas, dan Atlas perlahan mendorong kaki Stevan dari lehernya hingga berhasil.
Atlas memutar tubuhnya ke kiri dan menghantam kaki Stevan yang masih menginjaknya.
"ARGH!"
Senyum Stevan berubah menjadi jeritan. Dia segera mengangkat kakinya, dan Atlas dengan cepat bangkit.
"Stevan!" Bianca berteriak, dan keduanya tampak sibuk menggosok sepatu yang terkena pukulan Atlas. "Apa yang kau lakukan, Atlas!"
"Aku melawan sampah yang memaksakan diri padaku," jawab Atlas dengan tenang.
Stevan menatap Atlas dengan tajam, menggeram, lalu berdiri. Atlas mengangkat kepalanya dan melipat tangan, seolah siap menantang Stevan.
"Baiklah, Atlas. Kau ingin bermain denganku. Aku dulu pernah juara umum judo dan petinju muda. Kau seharusnya memilih lawan yang lebih baik."
Atlas melangkah mundur bersamaan dengan Stevan yang bersiap melayangkan pukulan. Namun Atlas tetap dalam posisi yang sama, tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.
Stevan mengepalkan tinjunya, dan semua orang terlihat serius, menantikan pertarungan yang akan terjadi.
"Kau akan mati, Atlas! Sampai jumpa di neraka!"
Stevan bersiap menghantam wajah Atlas dengan pukulannya. Namun, tiba-tiba dia jatuh ke depan, membuat wajahnya menghantam sepatu Atlas.
"ARGH!" teriakan Stevan terdengar. Bahkan, yang lebih parah, celananya robek memanjang. Bianca dengan cepat berjongkok dan menutupinya dengan tangannya. Semua karyawan tertawa kecil.
Sementara itu, Atlas tersenyum lebar dan bergumam, "Siapa yang akan mati, Stevan? Sebaiknya jaga ucapanmu sebelum bicara.”
Tawa kecil para karyawan masih terdengar. Hal konyol yang terjadi pada Stevan bukanlah sekadar kebetulan.
Di balik tangan yang terlipat, Atlas telah menjentikkan jarinya. Kekuatan yang ia peroleh dari kalung itu membuatnya sadar bahwa ia bisa dengan cepat menghentikan tindakan Stevan.
"Ugh!"
Stevan bangkit dari posisinya dan menunjuk ke arah semua karyawan yang tertawa. "Hapus semua rekaman yang kalian buat, atau kalian akan berakhir seperti Atlas!"
Semua ponsel di tangan para karyawan tiba-tiba terjatuh, dan ekspresi mereka berubah panik karena ancaman Stevan.
"Aku akan menuntutmu!" Stevan menunjuk Atlas dengan tangan gemetar, dipenuhi amarah.
"Atas dasar apa kau ingin menuntutku? Karena kau jatuh dan mencium kakiku?" Atlas berkata, "Akui saja, Bianca hanya menginginkan uangmu, aku yakin dia bahkan tidak akan melirikmu jika kau miskin sepertiku."
Kata-kata Atlas memicu emosi Bianca. Dia mendekati mantan pacarnya dan menampar wajahnya.
"Jaga ucapanmu, Atlas! Aku sudah lama tidak bahagia saat bersamamu! Kau menjijikkan!"
Stevan hanya tersenyum di sampingnya. "Aku punya uang. Apa yang kau punya? Kau hanya sampah tak berharga. Seperti babi kotor yang berkubang di lumpur."
Atlas tidak membalas dengan kata-kata, dia tetap tenang dan sedikit tersenyum sambil mengangguk.
Bianca menyipitkan matanya ke arah Atlas dan memeluk Stevan, dengan tasnya menutupi bagian celana Stevan. Namun, kejadian aneh lainnya terjadi saat Stevan tersandung kakinya sendiri di depan pintu lift.
Saat dia jatuh, pintu lift terbuka, semakin mempermalukannya di hadapan siapa pun yang melihat.
Tawa tak bisa dibendung, dan semua karyawan di ruangan itu tertawa terbahak-bahak.
"DIAM! SIALAN KALIAN SEMUA!"
Stevan dengan marah mendorong para karyawan di depannya dan masuk ke dalam lift. Atlas melambaikan tangannya tepat sesaat sebelum pintu lift tertutup.
~ ~ ~
Suara klakson mobil memenuhi udara siang itu. Atlas berjalan dengan keringat membasahi tubuhnya. Dia memegang kotak di tangannya dan duduk di bangku di bawah pohon.
"Jadi, kekuatan ini nyata." Atlas menatap tangannya dan tampak puas, memiliki kekuatan yang tidak bisa dijelaskan oleh logika adalah sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Saat Atlas sedang berpikir, dia mendengar seseorang berteriak meminta tolong. Terjadi keributan yang menjadi sumber suara yang didengar Atlas.
Rasa penasaran mendorong Atlas, dan dia mendekati salah satu orang di sana lalu bertanya, "Apa yang terjadi?"
"Pria itu sepertinya terkena serangan jantung. Dia tiba-tiba jatuh sambil memegangi dadanya!"
Didorong oleh kemampuannya, Atlas bergerak secara naluriah dan masuk ke dalam kerumunan. Seorang pria tua dengan wajah pucat terbaring lemah di jalan. Dengan tenang, Atlas meminta orang-orang di sekitarnya memberi sedikit ruang agar lebih mudah ditangani.
"Cepat, panggil ambulans!" teriak orang-orang di sekitar.
Namun, Atlas dengan lembut menyentuh tubuh pria itu, merasakan dinginnya tangannya, dan melihat bibirnya mulai membiru. Pembuluh darah di lehernya tampak lemah.
"Hei, apa yang kau lakukan?! Kau tidak akan bisa menyelamatkannya hanya dengan menyentuh lehernya seperti itu! Menjauhlah!"
Salah satu pria yang berdiri di dekat Atlas mencoba mendekat dan menariknya menjauh dari pria tua itu, tetapi Atlas mengabaikannya dan menepis tangan pria tersebut.
"Jangan ceroboh! Ini bukan main-main!" kata pria itu.
Ungkapan "Don't judge a book by its cover" menekankan pentingnya tidak menilai seseorang hanya dari penampilan luar.
Penampilan fisik tidak mencerminkan kualitas, karakter, atau kemampuan seseorang yang sebenarnya.
Menilai berdasarkan penampilan dapat menyebabkan prasangka, kesalahan interpretasi, dan ketidakadilan.
Berikut poin penting mengapa kita tidak boleh menilai dari penampilan:
Kualitas Tersembunyi: Kebaikan atau karakter sejati seseorang sering kali tidak terlihat dari luar.
Menghindari Prasangka: Menilai orang lain dengan cepat dapat menghasilkan asumsi yang salah dan tidak adil.
Pentingnya Mengenal Lebih Dalam: Diperlukan waktu untuk memahami sifat dan hati seseorang, bukan sekadar melihat pakaian atau gaya mereka.
Keadilan dalam Berinteraksi: Semua orang layak dihormati tanpa memandang status sosial atau penampilan.
Prinsip ini mengajak kita untuk lebih terbuka, tidak mudah berprasangka, dan menghargai orang lain berdasarkan tindakan serta karakternya...🤔🤭🤗