NovelToon NovelToon
Maduku Teman Kerjaku

Maduku Teman Kerjaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:24.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Bismillah ....

14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya

Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.

Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Malam itu rumah terasa sama seperti biasanya. Tenang di permukaan. Tapi tidak bagi Adinda.

Ia keluar dari gudang dengan langkah yang sudah jauh lebih stabil. Foto itu sudah ia simpan kembali ke dalam map, bukan karena ingin melupakan—tapi justru karena ia ingin menyimpannya sebagai bukti. Wajahnya datar saat melewati ruang tamu. Sintia masih di sana, duduk seperti biasa, seolah tidak ada apa-apa.

Adinda tidak berhenti, tidak juga menyapa, bahkan sekedar melihat pun enggan. Ia hanya berjalan melewati wanita itu… dan naik ke kamarnya.

Pintu tertutup pelan. Dan di balik pintu itu, semua yang ia tahan sejak tadi… runtuh.

Adinda bersandar di balik pintu, napasnya berat. Tangannya gemetar saat perlahan menutup wajahnya. Ingatan itu masih berputar di kepalanya—foto, suara Sintia, hujan, benturan, dan… kalimat itu.

“Jangan bilang dulu ya sama suamimu…”

“Kenapa…” bisiknya lirih.

Air matanya jatuh lagi, tapi kali ini ia tidak membiarkan dirinya larut terlalu lama. Tangannya mengepal pelan, seolah mencoba menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar tangis.

"Aku tidak boleh diam. Semua bukti akan aku kumpulkan satu persatu." ucapnya penuh tekad.

Ia berjalan cepat ke arah meja, mengambil ponselnya. Nama itu langsung ia cari.

Naya.

Telepon berdering beberapa detik sebelum akhirnya diangkat.

“Din?” suara di seberang terdengar waspada. “Kamu gak apa-apa?”

Adinda tidak langsung menjawab. Ia menarik napas dalam, mencoba menstabilkan suaranya.

“Nay…” panggilnya pelan.

“Iya, aku di sini.”

Beberapa detik hening.

“Aku… ingat.”

Kalimat itu membuat Naya langsung terdiam.

“Ingat apa?” tanyanya cepat.

Adinda menutup matanya sejenak. “Aku… pernah hamil.”

Suasana mendadak sunyi. Benar-benar sunyi di ujung sana. Naya tidak langsung menjawab, seolah memastikan ia tidak salah dengar. “Kamu serius?”

Adinda mengangguk, meski Naya tidak bisa melihatnya. “Aku nemu foto… di gudang. Itu aku. Perutku… jelas.”

Napasnya sedikit bergetar.

“Dan aku ingat sedikit… mertuaku bilang jangan kasih tahu suamiku.”

Kali ini Naya langsung berdiri dari duduknya. Suara gesekan kursi terdengar samar dari seberang.

“Din, ini bukan sekadar ingatan biasa,” ucapnya serius.

“Aku tahu,” jawab Adinda pelan.

“Ini sudah masuk ke kondisi medis.”

Adinda terdiam. “Nay… sebenarnya aku kenapa?” tanyanya lirih.

Pertanyaan itu sederhana. Tapi berat.

Naya menghela napas panjang. “Aku bukan dokter, Din. Tapi dari yang aku lihat… ini bukan lupa biasa.”

Adinda masih mencerna apa yang diucap oleh temannya itu. Lalu Naya mulai melanjutkan.

“Besok kita ke dokter, ya,” lanjut Naya tegas.

Adinda sempat ragu. Tangannya menggenggam ujung bajunya pelan. “Kalau… aku gak siap?”

“Kamu harus siap,” potong Naya lembut tapi pasti. “Karena ini bukan cuma soal ingatan. Ini soal hidup kamu yang diambil orang lain.”

Kalimat itu menancap, sampai ke dasar hati. Adinda menutup matanya lagi. Lalu perlahan—

“Iya… aku mau.”

☘️☘️☘️☘️☘️

Keesokan paginya.

Udara masih terasa segar saat mobil yang ditumpangi Adinda berhenti di depan sebuah klinik spesialis saraf dan psikologi. Bangunannya tidak terlalu besar, tapi terlihat rapi dan tenang.

Berbeda dengan rumah sakit kemarin. Lebih personal. Adinda turun perlahan. Langkahnya tidak seberat kemarin, tapi tetap terasa hati-hati.

Naya sudah menunggunya di depan.

“Siap?” tanya Naya pelan.

Adinda menatap bangunan itu sebentar. Lalu mengangguk.

“Iya.”

Ruang konsultasi terasa hangat. Tidak terlalu formal, tidak juga menekan. Dindingnya berwarna netral, dengan beberapa rak buku dan tanaman kecil di sudut ruangan.

Seorang dokter pria paruh baya duduk di hadapan mereka. Tatapannya tenang, tidak menghakimi.

Setelah mendengar penjelasan panjang dari Naya dan Adinda, dokter itu mengangguk pelan.

“Jadi… Anda tidak mengingat kejadian sekitar lima tahun lalu, khususnya saat kehamilan dan persalinan?” tanyanya.

Adinda mengangguk. “Iya, Dok. Seolah… bagian itu hilang.”

Dokter itu mencatat sesuatu.

“Dan ingatan lain? Sebelum dan sesudah itu masih ada?”

“Ada,” jawab Adinda. “Saya masih ingat suami saya kerja di luar negeri… setelah itu kosong… lalu saya ingat lagi kehidupan setelahnya.”

Dokter itu menatapnya beberapa detik lebih lama. Lalu berkata pelan—

“Ini bukan amnesia biasa.”

Naya langsung fokus. “Maksudnya, Dok?”

Dokter itu menyandarkan tubuhnya sedikit. “Dari yang Anda ceritakan, kemungkinan besar Anda mengalami dissociative amnesia,” jelasnya.

Adinda mengernyit pelan. “Itu apa, Dok?”

Dokter itu tersenyum tipis, berusaha menjelaskan dengan sederhana.

“Ini adalah kondisi di mana seseorang kehilangan ingatan pada bagian tertentu dalam hidupnya… biasanya terkait kejadian traumatis.”

Deg!

Adinda menelan ludah, matanya benar-benar kosong seolah tidak percaya. Tapi kembali lagi. Kenyataan justru menamparnya untuk sadar. Jika yang sedang ia alami bukanlah mimpi semata.

“Trauma?” ulangnya pelan.

Dokter mengangguk. “Bisa karena kecelakaan, tekanan mental, atau kejadian yang sangat berat secara emosional.”

Naya langsung menyambung, “Jadi ingatannya bukan hilang permanen?”

“Tidak,” jawab dokter. “Ingatan itu masih ada di otak. Hanya… terkunci.”

Adinda terdiam sejenak. “Terkunci…” bisiknya.

“Dan biasanya,” lanjut dokter, “akan muncul kembali secara bertahap. Bisa dipicu oleh tempat, benda, atau emosi tertentu.”

Seperti kemarin.

Rumah sakit.

Foto.

Gelang bayi.

Daster cokelat.

Adinda langsung menggenggam tangannya sendiri.

“Berarti… aku bisa ingat semuanya?” tanyanya pelan.

Dokter mengangguk. “Kemungkinan besar, iya. Tapi…”

Ia berhenti sejenak.

“…prosesnya tidak selalu nyaman.”

Naya mengernyit. “Maksudnya?”

“Karena saat ingatan itu kembali, emosi yang menyertainya juga ikut muncul,” jelas dokter. “Rasa sakit, takut, bahkan marah.”

Adinda terdiam. Perlahan ia mulai memahami, apa yang terjadi di dalam dirinya sendiri. Ini bukan sekadar “lupa”. Ini… sesuatu yang lebih dalam.

“Dok…” suaranya melemah. “Kalau ingatan itu… sengaja disembunyikan orang lain?”

Pertanyaan itu membuat dokter terdiam sesaat. Lalu ia menjawab hati-hati.

“Secara medis, amnesia ini terjadi dari dalam diri Anda sendiri. Tapi… bukan berarti tidak ada faktor luar yang memperkuat atau memanfaatkannya.”

Naya langsung menoleh ke Adinda. Dan Adinda… sudah mengerti, seseorang— tidak hanya tahu ia lupa. Tapi sengaja memanfaatkan itu.

Dokter melanjutkan dengan lebih lembut, “Yang penting sekarang, Anda tidak memaksakan diri. Biarkan ingatan itu muncul perlahan.”

Adinda mengangguk pelan, Namun di dalam dirinya—sesuatu sudah berubah. Ia tidak lagi hanya ingin ingat bahkan ingin tahu.

Dan lebih dari itu— ia ingin mengungkap. Karena sekarang bukan lagi sekadar hilang ingatan.

Tapi tentang? Siapa yang membuatnya kehilangan, dan setelah Konsultasi itu keduanya keluar dengan sedikit kelegaan di hati.

Mereka berjalan menuju pintu keluar, sedari tadi Naya melirik ke Adinda, tatapan wanita itu seolah sedang memendam sesuatu.

"Din kalau ada yang mau di sampaikan sampaikan saja," ucap Naya memotong langkah mereka.

Adinda menghentikan langkahnya. Dengan tatapan yang sulit untuk di jelaskan. Di dalam pikirannya terlintas ingin memaki seseorang itu dengan perkataan yang lebih kasar dari apapun.

Karena kejadian ini benar-benar sangat tidak adil untuk dirinya yang sudah menganggap seperti keluarga layaknya ibu kandung.

"Nay, boleh gak aku membenci seseorang, padahal keduanya sudah ku anggap keluarga sendiri."

Naya yang mendengar itu langsung memeluk tubuh Adinda. Memberinya semangat agar semakin tegar.

"Sabar ya, kamu boleh membenci... tapi ingat jangan sampai hatimu terus menerus dikotori dengan kebencianmu itu. Alangkah lebih baik jika kamu mencoba untuk ikhlas meskipun sulit."

"Dia sudah keterlaluan Din ...." ucap Adinda menggantung.

Namun di sela-sela ucapannya itu Adinda teringat akan sesuatu, yang membuat ibu tiri dan keluarganya melakukan itu.

Bersambung ....

1
Sugiharti Rusli
bisa dikatakan Valen sebagai penyelamat putri Adinda yah, tapi juga akan jadi batu sandungan kalo Adinda mau mengambil anaknya kembali,,,
Sugiharti Rusli
bahkan sampai membuat putrinya hampir kehilangan nyawa dan juga kehilangan anaknya,,,
Sugiharti Rusli
apa dulu pak Bima menyadari kalo yang dinikahi itu ternyata seseorang yang bisa berbuat apa saja demi harta yang akan dia wariskan yah,,,
Sugiharti Rusli
semua dipikirkan dengan matang bukan hanya melundungi Adinda dari permainan kotor istrinya yang juga ibu tiri Adinda
Sugiharti Rusli
berarti saat dulu Adinda sedang mengandung, ayahnya suda aware yah meski dia tidak tahu akan nasib cucunya juga kan,,,
gina altira
Tinggalin aja Arya, lagian waktu itu Arya pernah keceplosan klo Adinda hilang ingatan. Arya tak sepolis itu
Nar Sih
semagatt adinda 💪semoga mslh mi cpt selesai
Sugiharti Rusli
sepertinya Adinda harus segera mengambil keputusan besar mengenai statusnya sebagai istri si Arya deh, apa tetap mau bertahan saat dia mendengar tentang kondisi anak mereka yang bahkan tidak si Arya antusias buat mencarinya,,,
Nar Sih: bener tuh kak ,emang harus sgra ambil tindakan
total 1 replies
Sugiharti Rusli
apalagi sekarang dia mendengar ancaman adiknya sendiri agar bisa membebaskan ibunya dengan mencari pengacara, memang dia punya uang buat membiayai nya tuh pengacara,,,
Sugiharti Rusli
karena memang pada kenyataannya sang ibu memang terlibat dalam kejahatan tersebut,,,
Sugiharti Rusli
dan sekarang di saat posisinya menerima kenyataan bahwa anaknya dijual kepada sindikat perdagangan anak si Arya juga masih gamang
Sugiharti Rusli
bahkan di saat tahu kebenaran tentang kamu yang pernah hamil dan melahirkan saja si Arya masih belum mau percaya yah
Dew666
🔥🔥🔥
Mundri Astuti
bisa ga berasa apa" gitu si Arya
Nur Rsd
stu persatu mulai terkuak
Mundri Astuti
parahhh ini si...
Sugiharti Rusli
jadi penasaran, kira" paras Alesa apa ada kemiripan sama salah satu atau perpaduan dari kedua ortunya,,,
Sugiharti Rusli
entah apa nanti yang akan si Arya lakukan kalo tahu dia masih memiliki seorang putri yang dulu sempat Adinda lahirkan dan sekarang sudah besar
Sugiharti Rusli
apa anak dari Adinda masuk dalam perdagangan anak ilegal yah, tapi ternyata malah diselamatkan oleh Valen yang mungkin hatinya memang tergerak
Sugiharti Rusli
dan jangan bilang kecelakaan yang menimpa Adinda dulu adalah bagian dari salah satu skenario mereka, tapi ternyata Adinda berhasil diselematkan bahkan anaknya bisa lahir dengan selamat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!