NovelToon NovelToon
Misteri Hati Dibalik Pernikahan

Misteri Hati Dibalik Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:862
Nilai: 5
Nama Author: Eliana. s

Ketika kecurigaan mulai menggerogoti rumah tangganya, seorang wanita menyadari bahwa ancaman datang dari orang-orang terdekatnya. Suami yang dingin, anak yang mungkin bukan darah dagingnya, hingga asisten rumah tangga yang selalu mengintai semua tampak memainkan peran dalam permainan berbahaya yang mematikan. Terjebak dalam jebakan penuh tipu daya, satu-satunya jalan untuk bertahan hidup adalah melawan, meski harus mempertaruhkan segalanya hingga titik darah penghabisan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana. s, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 Makna Tersembunyi

Mereka sudah kembali.

Aku bergegas masuk ke ruang kerja, jantungku berdebar tak karuan. Tangan ini terkepal erat saat mataku terpaku pada layar laptop, menatap bar kemajuan pemindahan data yang merayap naik dengan lambat seolah sengaja mengulur waktu. Dari lantai bawah, suara pintu depan terbuka lalu tertutup terdengar begitu jelas, membuat napasku semakin tak teratur. Kepanikan merayap, menyesakkan dada hingga aku hampir tak mampu berpikir jernih.

Detik demi detik terasa begitu panjang.

Akhirnya, proses itu selesai. Tanpa membuang waktu, aku segera mencabut USB, menutup laptop dengan tergesa, lalu berlari keluar dari ruang kerja. Suara langkah kaki mereka yang menaiki tangga kini semakin dekat, setiap dentingnya menghantam sarafku. Tubuhku gemetar hebat, bukan karena dingin, melainkan karena ketegangan yang menyesakkan.

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Kakiku terasa lemas seperti kehilangan tenaga, namun tetap kupaksa melangkah menuju tangga, bersiap menyambut mereka seolah tidak terjadi apa-apa.

Belum sempat aku mendekat, Dean Junxian sudah muncul di hadapanku. Ia menggendong Sonika dengan hati-hati, sementara di belakangnya, Zhiyi Pingkan mengikuti sambil membawa selimut, langkahnya tenang seakan tak ada beban sedikit pun.

Dalam hati, aku tersenyum sinis. Sungguh pemandangan yang sempurna sebuah “keluarga kecil bahagia.” Ironisnya, anak yang mereka perlakukan bak milik mereka itu… adalah putraku.

“Bagaimana keadaannya? Sonika, sini sayang, Ibu gendong,” ucapku sambil mengulurkan tangan, berusaha terdengar selembut mungkin.

Namun, sebelum aku sempat menyentuhnya, tubuh kecil Sonika justru berkelit. Ia memalingkan diri dariku, lalu memeluk leher Dean Junxian erat-erat.

“Papa!” serunya manja.

Seketika, sesuatu terasa menghantam dadaku.

“Iya, sayang,” jawab Dean Junxian lembut, suaranya penuh kehangatan yang terasa begitu menusuk bagiku. Tanpa menoleh sedikit pun, ia melewatiku begitu saja dan berjalan masuk ke dalam rumah, seolah aku hanyalah bayangan yang tak berarti.

Di belakangnya, Zhiyi Pingkan sempat melirik ke arahku. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis senyum yang jelas bukan sekadar ramah, melainkan penuh ejekan dan tantangan diam-diam.

Aku mengepalkan tangan, menahan gejolak emosi yang hampir meluap. Tanpa berkata apa-apa, aku mengikuti mereka menuju kamar anak.

“Bagaimana kondisinya? Apa tidak perlu dirawat inap?” tanyaku, berusaha menjaga nada suaraku tetap stabil.

Aku mendekat, lalu mengulurkan tangan untuk menyentuh dahi Sonika. Kulitnya terasa sejuk tidak lagi panas seperti sebelumnya. Syukurlah… demamnya benar-benar sudah turun.

“Sudah tidak apa-apa,” jawab Dean Junxian singkat. Ia berpaling sedikit, lalu melanjutkan dengan nada datar, “Dokter menyarankan dirawat di rumah saja. Rumah sakit sedang penuh, dan virusnya sedang ganas. Anak kecil tidak baik terlalu lama di sana kalau tidak perlu.”

Setelah itu, tanpa menatapku lagi, ia memberi perintah singkat kepada Zhiyi Pingkan dengan nada dingin yang tegas, “Pergi...”

“Beri dia minum sedikit!”

Perintah itu meluncur cepat dari bibir Dean Junxian. Zhiyi Pingkan pun segera berbalik, melangkah keluar untuk mengambil air tanpa membantah sedikit pun.

Di atas ranjang, Sonika terbaring lemah. Wajah kecilnya pucat, napasnya pelan dan tidak teratur. Jemarinya yang mungil menggenggam erat jari Dean Junxian, seolah takut kehilangan satu-satunya sandaran yang ia percaya. Tubuhnya tampak lunglai, rapuh seperti tanaman yang layu disapu embun beku.

Tak lama kemudian, Zhiyi Pingkan kembali dengan segelas air hangat di tangannya.

Aku langsung melangkah mendekat dan mengulurkan tangan. “Biar aku saja.”

Namun, sebelum tanganku sempat menyentuh gelas itu, ia justru menghindar dengan sengaja. Tangannya bergerak menjauh, menjaga jarak dariku.

“Lebih baik aku saja,” ujarnya datar, namun tajam. “Kamu tidak pernah merawatnya. Dia tidak terbiasa denganmu.”

Kalimat itu seperti tamparan keras yang menghantam wajahku.

Darahku langsung berdesir naik. Apa maksudnya aku tidak pernah merawat anakku sendiri? Jika bukan karena rencana licik mereka tipu daya yang menjeratku hingga kehilangan segalanya mana mungkin aku sampai berada dalam posisi seperti ini?

“Tidak pernah merawatnya?” ulangku dengan suara meninggi, nyaris bergetar oleh amarah yang kutahan. “Apa maksudmu dengan itu?”

Zhiyi Pingkan tampak terkejut oleh nada bicaraku. Untuk sesaat, keberaniannya seperti meredup. Ia melirik ke arah Dean Junxian, seolah mencari perlindungan atau isyarat.

Melihat situasi mulai memanas, Dean Junxian segera berdiri dan menahanku. Tangannya mencengkeram lenganku, berusaha menarikku menjauh.

“Sudahlah, ayo keluar dulu,” katanya cepat, nadanya menenangkan namun terasa memaksa. “Biarkan Kak Zhiyi yang menidurkannya. Kata dokter, dia butuh banyak istirahat.”

Banyak istirahat…

Kata-kata itu menggema di kepalaku, berulang-ulang, seolah berubah menjadi bisikan yang menakutkan. Entah kenapa, pikiranku tiba-tiba terlempar pada sesuatu yang lain sesuatu yang tak terlihat, tak berwarna, tak berbau… namun mematikan.

Rasa dingin menjalar di punggungku.

Aku langsung menyentakkan tangannya hingga terlepas. “Tidak!” sergahku tegas. “Anakku sedang sakit, bagaimana mungkin aku bisa tenang? Aku harus di sini. Aku harus menemaninya!”

Dean Junxian tampak terperangah. Ia tidak menyangka reaksiku akan meledak sekeras ini. Tubuhnya membeku sesaat, matanya menatapku dengan ekspresi yang sulit dijelaskan antara terkejut, bingung, dan… sesuatu yang lebih gelap.

“Kenapa?” lanjutku, suaraku semakin tajam. “Apa aku tidak boleh merawat anakku sendiri? Aku ini ibunya! Dia sakit apa salah kalau aku mengkhawatirkannya?”

Aku menatap lurus ke dalam matanya, tak mau mundur sedikit pun. Amarah yang selama ini kupendam kini meluap tanpa bisa dibendung lagi.

Tatapan Dean Junxian berubah. Gelap. Dalam. Tak terbaca.

Sekejap, suasana kamar menjadi sunyi hening yang menekan, mencekam, seolah udara pun ikut membeku.

Mungkin Sonika merasakan ketegangan itu.

Tiba-tiba, tangisnya pecah. Ia menangis keras, tubuh kecilnya bergetar, tangannya meraih-riaih ke arah Dean Junxian.

“Papa… Papa…”

Suara tangis itu seperti menusuk hatiku.

Tanpa berpikir panjang, aku segera menghampirinya. Dengan gerakan cepat, aku menyingkirkan Zhiyi Pingkan yang berdiri di dekat ranjang, lalu duduk di tepinya. Tanganku gemetar saat mencoba menenangkan Sonika, mengusap rambutnya dengan lembut.

“Sudah, sayang… Ibu di sini…”

Di belakangku, Dean Junxian terdiam sejenak, lalu perlahan mengambil gelas air dari tangan Zhiyi Pingkan.

“Pergilah memasak,” katanya singkat, suaranya kembali dingin dan terkendali. “Biarkan Luna yang menemani dia tidur.”

Zhiyi Pingkan tetap membeku di tempatnya, wajahnya memancarkan ketidaknyamanan yang begitu jelas. Tubuhnya kaku, seolah enggan bergerak, sementara matanya sesekali melirik ke arahku dengan ragu.

Aku mencondongkan badan sedikit, menatap matanya dalam-dalam, lalu bertanya dengan nada tegas, “Kamu tidak dengar apa yang kukatakan?”

Dia menoleh sekilas ke Dean Junxian, mencari arahan, namun pria itu sama sekali tidak menatapnya. Akhirnya, dengan enggan dan suara yang hampir berbisik, dia hanya bergumam, “Baik…” sebelum berbalik dan meninggalkan ruangan dengan langkah yang berat dan ragu.

Sonika awalnya menolak. Tangan kecilnya masih meraih ke arah Zhiyi Pingkan, seakan menahan pengasuh itu agar tidak pergi. Tanpa pikir panjang, aku segera menggendongnya, memeluk tubuh mungilnya ke dadaku, sambil menenangkannya dengan suara lembut dan kata-kata bujukan. Mungkin karena ada Dean Junxian di dekatnya, atau karena kondisi tubuhnya yang lemah akibat sakit, tangisnya hanya bertahan sesaat sebelum akhirnya mereda, dan ia pun mulai tenang.

Aku menghela napas panjang, lega. Sengaja kubisikkan dengan nada sedikit bercanda namun tegas, “Sepertinya anak ini memang tidak boleh terlalu dimanja. Aku ibunya! Kalau terus begini, dia malah akan merasa lebih dekat dengan orang lain daripada denganku.”

Dean Junxian mengangkat pandangannya, menatapku sekilas dengan sorot mata dingin namun terselip nada mengejek. “Emosimu benar-benar makin tak terkendali,” katanya dengan nada sindiran khasnya. “Sampai-sampai cemburu pada hal sekecil ini! Siapa bilang dia tidak dekat denganmu? Bukankah kami hanya khawatir karena kondisi kesehatanmu yang sedang menurun, takut kamu tidak sanggup menjaga anak sendiri?”

Aku menatapnya langsung, pandangan tajam menusuk ke matanya. Dengan nada yang sama penuh sindiran namun sarat makna, aku menjawab, “Hanya karena kesehatanku sedang terganggu, apakah itu berarti posisiku harus digantikan oleh seorang pengasuh?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!