IG & Tiktok : Tulisan_Nic
Naufal Adhitama (32), dokter anestesi yang hangat dan mudah bergaul, dikenal sebagai playboy karena sering dekat dengan banyak perempuan.
Meski begitu, ia percaya pernikahan harus berlandaskan cinta—bukan sekadar komitmen tanpa rasa.
Hingga ia bertemu Anin Ratri Maharani (27), perempuan dengan luka masa lalu dan trauma pada pria playboy akibat keluarga yang hancur.
Untuk pertama kalinya, Naufal ingin bertahan.
Namun saat cinta itu mulai tumbuh dan mereka ingin melangkah ke pernikahan, masa lalu dan rasa takut justru menjadi ujian terbesar.
Bisakah cinta mereka bertahan, atau justru hancur sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Tubuh Widya, terkulai lemas di pangkuan Anin. Erat ia memegangi tubuh Ibunya itu di jok belakang. Sedang Kenzo duduk di sebelah Naufal yang mengemudi.
Tubuh Anin membungkuk, kedua tangannya gemetar saat meraih tubuh Widya yang terkulai lemah di sampingnya. Wajah wanita itu pucat, bibirnya nyaris tak berwarna, sementara darah masih merembes dari punggungnya. Tangan Anin basah. Merah.
"Buk…" suara Anin pecah sebelum sempat mengucapkan kalimat selanjutnya.
Ia menarik tubuh itu ke dalam pelukannya, dengan begitu hati-hati, ia takut jika sentuhannya membuat semuanya hancur lebih jauh. Kepalanya menunduk, menempel di rambut Widya yang dingin. "Buk… kenapa jadi begini, Buk?"
Tangannya bergerak ke pipi ibunya, mengusap perlahan rambut Widya dengan jemari yang gemetar. Napasnya tersengal, dadanya naik turun tak beraturan.
Air matanya jatuh tanpa suara. Satu. Dua. Lalu tak terbendung.
"Maafkan Anin…" suaranya bergetar hebat, nyaris tak terdengar di antara isak yang tertahan. "Gue malah pergi dari rumah… sampai semua ini terjadi…"
Ia memeluk lebih erat, berusaha mengembalikan hangat yang perlahan menghilang.
"Maaf, Bu… maaf…"
Kata itu terus diulang, patah-patah, seperti doa yang terlambat dipanjatkan.
Naufal merasakan nyeri yang begitu dalam di dadanya. Mendengar suara yang terlalu memilukan dari kekasihnya itu. Sesak, dan sangat membuatnya menderita.
Sedang Kenzo, duduk terpaku. Membeku menatap jalan. Berkali-kali ia menelan ludah, tangannya selalu mengepal. Netranya basah, namun tidak sampai membasahi pipinya.
***
Sampai di rumah sakit pusat,
Naufal memanggil perawat, segera menyiapkan brankar.
Tanpa menunggu, dia orang perawat itu mendekat. Brankar sudah siap. Naufal mengangkat tubuh Widya–memindahkannya ke atas brankar. Cekatan dua orang perawat tersebut mendorong.
Suara roda brankar berdecit, bercampur dengan langkah-langkah penuh kecemasan. Baik Anin maupun Kenzo, tatapannya tak pernah kemana-mana. Fokus pada Ibunya.
Dokter Adrian–spesialis emergency, tergopoh-gopoh mendekati Naufal. "Naf, siapa?!" serunya, cemas.
"Calon mertua, luka di punggung. Aku curiga ada cidera syaraf. Darah masih merembes." Naufal menjawab, namun gerakannya tak berhenti. Terus mendorong brankar ke ruang IGD.
Adrian mengikuti, "Nurse Hana, siapkan trauma bay sekarang! Kita butuh akses IV besar, dua jalur—cepat!" suara Dokter Adrian tegas, memotong kepanikan yang tercipta.
Brankar didorong masuk ke ruang IGD. Lampu putih menyilaukan langsung menyorot tubuh Widya yang terbaring tak berdaya. Daster hijau muda yang ia kenakan sudah basah oleh darah, terutama di bagian punggung. Merembes di sweater yang tadi di pakaikan Anin.
Nurse Hana cekatan memasang monitor, "Tekanan darah turun, Dok!" ujarnya.
Angka di monitor itu berkedip lemah. Naufal langsung bergerak. Tangannya sigap, profesional, dengan sorot mata menyimpan sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar fokus seorang dokter. Lantas menoleh pada Anin dan Kenzo. "Sayang, tunggu di luar dulu ya...!" serunya.
Anin mengangguk dalam-dalam, lantas meraih tangan Kenzo –mengajaknya keluar.
"Kita buka bajunya, hati-hati," ucap Adrian.
Gunting medis bergerak cepat. Kain itu terbelah, menampakkan luka di punggung Widya—dan semua orang di ruangan itu terdiam.
Pecahan beling masih tertancap. Bukan satu. Beberapa serpihan kecil dan satu yang cukup besar, menancap dalam di sisi kanan punggung, tepat di dekat tulang belakang. Darah terus mengalir dari sela-selanya, tak mau berhenti.
"Naf …" bisik Adrian tertahan. "Ini bukan luka biasa, ini dalam."
Nurse Hana menelan ludah, tapi tangannya tetap bekerja. "Perdarahan aktif, Dok."
"Jangan cabut dulu!" sergah Naufal cepat, suaranya lebih tajam. "Kalau kita cabut sembarangan, perdarahannya bisa lebih parah."
Ia mendekat, matanya mengamati dengan cermat posisi pecahan kaca itu. "Benar dugaanku, kemungkinan kena jaringan saraf… atau lebih parah," lanjutnya pelan, nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri.
Widya mengerang lemah. Suara itu begitu rendah, hampir tak terdengar— semua orang bergerak lebih cepat.
"Bu, bisa dengar saya?" Adrian menunduk sedikit, mencoba mendapatkan respons. Tak ada jawaban. Hanya napas yang tersengal dan tubuh yang semakin dingin.
"Kesadaran menurun." Ujar Adrian, "Kita nggak punya banyak waktu." Lantas menoleh pada Nurse Hana, "Siapkan transfusi." tegasnya.
"Belum ada data, Dok!" Hana melapor.
"Ambil sampel sekarang!" Titah Adrian, "Crossmatch cepat!"
Hana menusukkan jarum besar ke lengan Widya.
Cairan infus mulai mengalir, tapi darah yang keluar seolah lebih cepat dari yang masuk. Monitor berbunyi lebih cepat.
Bip… bip… bip…
"Tensi makin drop, Dok!"
Adrian mengusap wajahnya sekilas, lalu menoleh pada Naufal, "Kita harus bawa ke ruang operasi. Ini bukan cuma luka luar—ini internal bleeding."
Naufal mengangguk. Rahangnya mengeras. "Hubungi, Albie!"
Nurse Hana menggeleng, "Dokter Albie, masih cuti Dok!"
Naufal memejamkan mata, "Astaga! aku lupa!"
Adrian menatapnya sekilas. Lalu beralih pada Nurse Hana "Dokter Dimas, hubungi dia sekarang!'
Nurse Hana mengangguk, "Baik Dok."
***
Di luar ruang IGD,
Anin berdiri terpaku. Tangannya masih berlumur darah yang mulai mengering. Nafasnya tak beraturan, matanya terus menatap pintu yang sejak tadi tertutup.
Sedangkan Kenzo, duduk di kursi tunggu. Tubuhnya condong dengan siku bertumpu pada kedua paha. Bahunya tegang, jemarinya saling meremas. Nafasnya tertahan, sesekali ia buang dengan kasar.
Anin menoleh pada adiknya itu, lantas ikut duduk di sebelahnya. Punggungnya tegak, dengan tangan melipat di dada.
"Kak" Suara Kenzo terdengar retak, "Bayu, gimana?"
Pertanyaan yang sejak tadi berputar-putar di kepala Kenzo. Tidak hanya mencemaskan keadaan ibunya, tapi juga kakak keduanya.
Anin menunduk, menatap lantai. "Nggak tahu gue..." lirih suara Anin. Seolah suara itu, adalah suara yang di paksakan untuk keluar dari pita suaranya.
"Kasian dia kak," Suara Kenzo bercampur dengan isak tertahannya, "Seharusnya dia nggak di penjara, dia nolongin Ibuk kak..."
Air mata Anin jatuh tanpa di suruh, "Ceritanya gimana?" suara Anin serak, "Kenapa bisa kejadian begini?"
"Gue pulang, pas Bapak mau nampar Ibuk." Kenzo tak bisa meredam isaknya, air di pelupuk matanya, membuat pandangannya mengabur. Segera ia seka, dengan dua tangannya bergantiaan. "Terus, gue lihat Bayu udah maju, ngayunkan parang ke leher Bapak." Kalimat terakhir di susul dengan isak yang lebih dalam.
Anin menutup mulutnya, lantas menutup wajah dan menunduk semakin luruh di kedua tangannya.
"Misalkan yang ada di sana gue, gue pasti bakal ngelakuin yang sama, sama Bayu...Dari dulu gue nggak pernah suka lihat Bapak, selalu kasar sama Ibuk." lanjut Kenzo. Intonasi bicaranya berubah. Ada amarah yang terpendam lewat kata-katanya.
Anin menelan ludah, ucapan Kenzo, seolah mengehentikan paru-parunya. Ia pun mendongak, ketika seorang Dokter mengenakan seragam biru, berjalan cepat menuju ruang penanganan Widya.
Namun tak lama, setelah Dokter tersebut masuk. Naufal keluar. Lansung menghampiri Anin. "Sayang …" suaranya rendah, tapi tegas. "Kondisi Ibuk kritis. Banyak darah yang hilang."
Wajah Anin seketika runtuh.
"Tapi kami akan lakukan yang terbaik," lanjutnya, menatap Anin lebih dalam. "Kamu harus kuat. Bantu Ibuk dengan do'a kamu ya..."
Anin mengangguk, pasrah. Air matanya kembali jatuh tanpa bisa ditahan.
Pintu IGD terbuka, dan dalam hitungan detik—Widya dibawa keluar menuju ruang OK, bersama harapan yang menggantung tipis di antara hidup… dan kehilangan.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍