Nasib sial beruntun menimpa Kiara Masita, seorang siswi kelas 3 SMA yang energik. Setelah ditinggal pulang oleh sahabatnya, Kiara harus berjalan kaki di malam hari dengan ponsel yang mati total. Puncak kesialannya terjadi saat sebuah mobil mewah yang dikendarai oleh Abraham Wijaya (Bara) melindas ponsel kesayangannya hingga hancur berkeping-keping.
Pertemuan yang diawali dengan keributan di pinggir jalan ini memaksa Bara, seorang duda muda berusia 27 tahun sekaligus pengusaha sukses, untuk mengganti ponsel Kiara saat itu juga.
Dalam perjalanan pulang, suasana yang awalnya penuh perdebatan berubah menjadi negosiasi serius. Bara secara mengejutkan menawarkan sebuah kontrak pernikahan selama satu tahun kepada Kiara. Sebagai imbalannya, Bara menjanjikan fasilitas yang sulit ditolak rumah mewah untuk kedua orang tua Kiara, serta kehidupan yang terjamin dan serba mewah bagi Kiara sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman-teman Kiara datang
"Om istirahat saja dulu, aku mau ganti baju." ujar Kiara saat mereka tiba di rumah.
Kiara melangkah menuju kamarnya, sementara Bara bergegas masuk ke kamar pribadinya. Pria itu langsung bersiap sesempurna mungkin.Berganti pakaian, merapikan rambut, hingga menyemprotkan parfum maskulin yang menjadi andalannya. Ia berdiri di depan cermin, memastikan penampilannya tak bercela.
Siang ini, ia bertekad mewujudkan keinginan istrinya untuk belajar berciuman. Sebelumnya, ia sudah meminta Bi Surti merapikan ulang kamar tidurnya. Mengganti sprei dengan warna yang lebih hangat, memasang gorden baru untuk menciptakan suasana romantis, hingga membersihkan setiap sudut ruangan.
Bara juga menyalakan lilin aromaterapi dan menutup gorden rapat-rapat agar suasana terasa semakin intim.
"Kiara, mau ke mana?" cegah Bara saat melihat istrinya hendak berbalik keluar tak lama setelah memasuki kamarnya.
"Aku kira salah kamar. Kamar Om jadi terasa berbeda." sahut Kiara. Gadis itu hanya mengenakan daster Hello Mickey lengan pendek, mengamati penampilan suaminya yang sama sekali tidak terlihat seperti orang sakit.
"Ini bau apa, Om? Seperti di tempat pijat?" tanya Kiara lugu, teringat aroma tempat spa langganan ibunya.
"Ini aroma terapi, Kiara. Biar pikiran kita lebih rileks." Bara menggenggam tangan istrinya, menuntunnya untuk duduk di tepi ranjang.
"Om sudah tidak demam? Kenapa bau parfumnya seperti orang mau pergi kondangan?" Kiara mengendus aroma tubuh suaminya yang sangat wangi.
"Sudah agak mendingan. Tapi kamu tetap mau temani aku, kan?"
Kiara mengangguk. Ia meraih handuk kompres yang telah disediakan Bi Surti di atas nakas. "Om tiduran saja, biar aku kompres dulu."
Kiara meletakkan handuk putih di dahi Bara. Bara tersenyum, memainkan ujung rambut Kiara sambil menatap wajah cantik istrinya itu lekat-lekat.
"Kiara... yang tadi itu, kamu serius?" Bara langsung menanyakan hal yang mengusiknya sedari tadi.
"Yang mana?" tanya Kiara sibuk membasahi handuk dengan air hangat. Saking gugupnya, ia lupa memeras handuk itu hingga airnya membasahi kepala Bara.
"Yang kamu katakan di telepon tadi." Tanpa menghiraukan air yang membanjiri dahinya, Bara mencoba menggali ingatan istrinya.
"Bagian yang mana? Aku lupa tadi bicara apa saja..."
Bara meraih ponselnya dan menunjukkan pesan singkat yang dikirimkan Kiara.
"Ooh... itu..." Kiara menunduk malu, menggigit bibir bawahnya. Melihat itu, Bara merasa jantungnya berdegup kencang.
"Om mau mengajarkan tidak? Kalau tidak mau sih tidak apa-apa, nanti aku….."
"Mau! Tentu saja mau!" sahut Bara antusias. Ia segera membenahi posisinya, bersandar pada kepala ranjang.
"Tapi tadi kan aku bilang belajarnya malam saja. Ini masih siang, berarti masih sekitar empat jam lagi."
"Tidak harus malam, Kiara. Siang pun boleh. Jendela sudah tertutup, suasana kamar ini juga sudah sangat mendukung. Kita bisa mulai sekarang." Bak seorang ahli, Bara sudah bersiap mengeluarkan seluruh kemampuannya.
"Baiklah kalau begitu." Kiara menghela napas panjang, berusaha menenangkan debaran di dadanya. Rasa gugup melanda karena ini adalah pengalaman dewasa pertamanya.
"Kita tidak perlu izin pada Mama dan Papa dulu, kan?" tanyanya polos, membuat Bara tertawa kecil.
"Tidak perlu. Bahkan untuk hal yang lebih dari ini pun, kita tidak perlu izin siapa pun."
Kiara terdiam sejenak, lalu perlahan berhenti menggigiti bibirnya.
"Kamu siap?" bisik Bara lembut. Kiara hanya mengangguk singkat.
"Buka sedikit bibirmu, lalu pejamkan mata."
Instruksi itu mengingatkan Kiara pada Sean. 'Tunggu, bukankah Sean dulu juga melakukan hal yang sama? Apa itu artinya Sean juga ingin menciumku?' Pikiran itu sempat membuatnya merasa ngeri sesaat.
Namun, Kiara tetap mematuhi instruksi suaminya. Ia kembali merasakan debaran jantung yang hebat saat Bara mulai mendekatkan wajah. Udara di antara mereka terasa semakin menipis...
Tok... Tok... Tok!
Pintu kamar diketuk keras. Bara membuang napas kasar dengan ekspresi kecewa.
"Ada apa, Bi Surti?" seru Bara dengan nada kesal. Rencana romantisnya buyar seketika.
"Ini, ada teman-temannya Non Kiara, namanya Rima sama Melati. Katanya mau bertemu."
Secepat kilat, Kiara meninggalkan kamar suaminya begitu mendengar nama kedua sahabatnya disebut. Tak lama kemudian, terdengar suara kehebohan khas remaja dari ruang tamu, membuat Bara hanya bisa meratapi nasibnya di atas ranjang.
"Gila! Rumah Om Bara keren sekali... aku suka!" seru Melati sambil berlarian mengelilingi ruang tamu yang mewah, menyentuh apa saja yang ia temui.
"Enak sekali jadi kamu, Kiara. Aku iri sekali." tambah Rima. Dan iri yang dimaksud Rima adalah iri dalam arti yang sebenarnya.
"Om Bara di mana, Kiara? Aku rindu..." Melati menunjukkan senyum genitnya, membuat Kiara rasanya ingin menenggelamkan temannya itu ke dalam sumur tua di Bogor.
"Om sedang sakit. Jangan berisik, ya." ujar Kiara sebelum beranjak ke dapur untuk meminta Bi Surti menyiapkan camilan.
"Maaf ya, Kiara, kami datang tiba-tiba. Habisnya tadi kamu menghilang begitu saja di sekolah. Jadi kami susul ke sini." kata Rima sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Sementara itu, Melati sibuk mengukur televisi layar besar di dinding dengan jengkal tangannya.
"Istri Om Bara di mana ya, Kiara? Tidak mungkin kan laki-laki sekaya dan sekeren Om Bara masih single?" tanya Rima sesinis mungkin, berusaha menutupi rasa ingin tahunya yang berlebihan.
"Kan aku sudah pernah bilang kalau Om Bara itu duda..." jawab Kiara dengan nada ketus.
"Aaaaaaa! Benar juga! Beruntungnya aku!" Melati menjerit girang, merasa punya kesempatan untuk mendekati Bara. "Aku akan jadi tantemu, Kiara... kemari, kemari sama Tante Melati." Melati mencubit gemas pipi Kiara, yang dibalas dengan tatapan tajam oleh gadis itu.
"Oh, jadi nama istrinya dulu itu Erika? Cantik sekali, sumpah... Kenapa mereka cerai, ya?" Rima melangkah menuju meja di sudut ruangan dan memandangi foto pernikahan Bara dengan Erika yang masih terpajang di sana.
Kiara terpaku. Ia bahkan tidak menyadari bahwa kenangan tentang Erika masih tersimpan rapi di rumah ini.
"Mana? Coba lihat... ah, iya... cantiknya tidak ada obat. Aku bisa menyainginya tidak ya?" Melati mendadak minder melihat sosok wanita yang bersanding mesra dengan Bara di foto itu.
"Sudah, tidak usah mencampuri urusan orang lain!" Kiara menelungkupkan foto itu dengan kasar. Hatinya tiba-tiba terasa panas melihat foto pernikahan pertama suaminya.
"Dulu kamu pernah bilang kalau Om Bara baru jadi duda sekitar enam atau tujuh bulan, kan? Siapa tahu mereka ada kesempatan untuk rujuk lagi.” ujar Rima, terus memprovokasi hati Kiara.
Kesabaran Kiara habis. Rasanya ia ingin menyumpal mulut Rima dengan ekor kucing peliharaannya sekarang juga. Ia sangat tidak suka jika masa lalu Bara dengan Erika dibahas, apalagi jika menyangkut kemungkinan mereka kembali bersama.
"Gampang kalau mau meluluhkan hati laki-laki. Tinggal minta maaf, lalu kiss... langsung rujuk deh.” imbuh Rima sambil tertawa dalam hati, menikmati wajah kesal Kiara.
**
Setelah teman-temannya pulang ke rumah masing-masing, Kiara menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Kata-kata Rima terus terngiang di kepalanya, membuatnya malas melakukan apa pun, bahkan untuk sekadar mandi.
'Kiss? Jadi kalau tante Erika datang lalu mencium Om Bara, mereka akan rujuk? Kenapa menyebalkan sekali?'batinnya. Kiara mulai membayangkan Bara dan Erika berciuman mesra, seperti yang pernah ia lihat dilakukan oleh Sean dan Rara di sekolah.
"Aku tidak boleh kalah. Aku kan istrinya Om Bara. Aku harus mencium Om Bara sekarang, supaya tidak didahului oleh Erika!"
Kiara segera merapikan penampilannya. Ia mengenakan gaun mini yang dibelikan ibunya dua tahun lalu saat mereka berwisata ke kebun buah. Gaun itu sudah terasa agak sesak, namun justru menonjolkan lekuk tubuhnya yang mulai dewasa. Ia menguncir rambut panjangnya dan menyemprotkan parfum ke bajunya agar aromanya terasa segar.
Gadis itu baru saja hendak mengetuk pintu kamar suaminya, tepat saat Bara membuka pintu dari dalam.
"Kiara?"
Bara terperangah melihat penampilan 'berbeda' dari istri kecilnya itu.
gak bisa ketebak cegil satu ini😄
mau nyamperin ga.....tapi jangan buat ulah ya.....cukup jadi spy aja......😁