NovelToon NovelToon
Kejar Tenggat

Kejar Tenggat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Honey Brezee

Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19 - Cheese Cake dan Hujan

Gwen masih menahan senyum saat mobil Aga melaju meninggalkan gedung ArtVia. Hatinya terasa ringan seperti kapas. Dua kabar besar dalam satu hari — diterima kerja di ArtVia sebagai Junior Design Lead dan desain Villa Serenita yang disukai Pak Raymond — terasa seperti mimpi yang terlalu indah.

Langit sore yang tadinya cerah mendadak gelap. Awan hitam tebal bergulung cepat, dan tanpa aba-aba hujan deras turun, menimpa kaca mobil dengan keras.

“Wah, hujannya deras banget,” gumam Gwen sambil menatap ke luar jendela.

Aga tersenyum kecil, Ia mengurangi kecepatan, lalu tiba-tiba menepikan mobil di pinggir jalan yang sepi, tepat di depan deretan pohon besar.

“Kenapa berhenti?” tanya Gwen heran.

Aga mematikan mesin, lalu meraih ke jok belakang. pria itu mengambil sebuah kotak kertas putih elegan dengan pita biru muda.

“Di samping kantorku ada cheese cake enak,” Ucap Aga sambil meletakkan kotak itu di pangkuan Gwen. “Kupikir kamu pasti suka. Selamat ya, Baby.”

Gwen membelalak. Pipinya langsung memerah. “Kamu sudah siapin ini dari tadi?”

“Aku percaya kamu bakal berhasil,” jawab Aga lembut. “Jadi aku mampir beli sebelum nunggu kamu.”

Gwen membuka kotak itu pelan. Aroma vanilla dan cream cheese langsung menyeruak. Di atasnya tertulis dengan cokelat cair: 'Proud of you, Baby'.

Air mata Gwen hampir jatuh. “Ga… makasih. Ini terlalu manis.”

Aga mencondongkan tubuh, senyum nakal di wajahnya. “Kalau kamu bandingin, yang lebih manis aku atau cheese cake ini, Baby?”

Gwen menatap kotak itu, lalu menoleh ke Aga dengan alis terangkat. “Eh… jelas cheese cake ini lebih manis, dong,” jawabnya sambil tersenyum malu.

Aga mencondongkan tubuh sedikit ke arah Gwen, menepuk bahu kecilnya. “Hah? Aku kalah sama cream cheese? Nggak terima!”

Gwen tertawa, menepuk lengannya lagi. “Ah, jangan sok manis deh. Itu kan dessert, sedangkan kamu…”

“Sedangkan aku…?” Aga menyeringai, matanya menyorot nakal.

“Pait,” jawab Gwen cepat, membuat Aga terkejut sebentar sebelum mereka berdua tertawa di tengah hujan

“Mau main hujan? Aku bawa baju ganti yang bisa kamu pakai. Tadinya mau aku kasih pas di Bedugul, tapi…”

Gwen dengan cepat menutup mulut Aga dengan tangan. “Hari ini hari bahagia… aku nggak mau merusaknya dengan hal-hal lain.”

Aga tersenyum “Baiklah. Jadi, mau main hujan bareng aku?”

Gwen mengangkat alis. “Serius?”

“Serius,” jawab Aga sambil melepas sabuk pengaman. “Hari ini terlalu bahagia buat cuma duduk diam di mobil. Ayo!”

Aga keluar dari mobil lebih dulu, membuka pintu untuk Gwen, lalu mengunci mobil dengan cepat. Ia meraih kotak cheese cake yang ada di pangkuan Gwen sebelum turun sepenuhnya dari mobil. Hujan deras langsung menyambut mereka begitu Gwen melangkah keluar, membuatnya tertawa lepas meski sedikit menggeleng kepala.

Mereka berlari kecil di trotoar yang basah, air hujan membasahi rambut, baju, dan sepatu mereka dalam hitungan detik. Gwen tertawa keras, suaranya bercampur gemuruh hujan. Aga menyusul di belakang, tangannya meraih pinggang Gwen agar tidak tergelincir.

Di depan mereka ada sebuah halte bus kecil yang sepi. Gwen berlari lebih cepat ke sana, diikuti Aga yang masih membawa kotak cheese cake dengan satu tangan.

Mereka sampai di halte dengan napas tersengal dan tubuh basah kuyup. Gwen bersandar ke dinding halte sambil tertawa terbahak-bahak. Rambutnya menempel di pipi, make-up-nya sedikit luntur, tapi wajahnya berseri-seri. Sejak dulu, Gwen suka bermain hujan. Ben pernah memarahinya, bilang bahwa main hujan itu cuma untuk anak-anak kecil. Tapi pria di sampingnya tidak mengeluh sama sekali. Malah, ia tersenyum sambil menyusuri jalan basah bersamanya, membuat Gwen merasa bebas, seolah dunia di sekitarnya ikut menari bersama hujan.

Aga meletakkan kotak cheese cake di bangku yang kering, lalu menatap Gwen. Air hujan menetes dari ujung rambutnya.

“Wah, udah lama banget aku nggak main hujan." kata Aga sambil tertawa.

“Rasanya… bebas,” jawab Gwen sambil menyeka air di wajahnya. “Kayak semua beban dua tahun kemarin ikut tercuci sama hujan.”

Aga melangkah mendekat. Dengan lembut ia mengangkat tangan dan menyeka air hujan yang menetes di pipi Gwen menggunakan ibu jarinya. Gerakannya pelan, penuh kasih sayang.

“Kamu cantik banget pas lagi bahagia gini,” bisiknya.

Gwen mendongak menatapnya. Hujan deras masih mengguyur di luar halte, menciptakan tirai air yang membuat dunia terasa hanya milik mereka berdua. Suara hujan menjadi latar belakang sempurna.

Mereka duduk berdampingan di bangku halte. Aga membuka kotak cheese cake, memotong sepotong kecil, dan menyuapkannya ke mulut Gwen. Rasa creamy, manis, dan sedikit asam lemon langsung meleleh di lidahnya.

“Enak banget…” gumam Gwen.

Mereka bergantian menyantap cheese cake itu sambil duduk bersisian. Hujan semakin deras, angin sesekali meniup tirai air ke dalam halte. Tapi tak ada yang peduli.

Gwen bersandar ke bahu Aga yang basah. “Hari ini rasanya kayak mimpi.”

Aga melingkarkan lengannya di bahu Gwen, menariknya lebih dekat. “Bukan mimpi. Ini nyata. Kamu sudah berjuang sendirian selama dua tahun, Baby."

Gwen menoleh ke Aga. “Kamu selalu muncul pas aku butuh. Kenapa?”

“Gwen… aku sayang kamu,” Aga menarik napas, menatap mata Gwen dalam-dalam. “Bukan cuma sayang. Aku cinta kamu. Aku nggak mau kamu merasa sepi atau jatuh sendirian lagi. Mulai sekarang, kita jalani semuanya bersama, ya?”

Hujan masih turun deras di luar. Mereka terus bercerita — tentang presentasi, tentang Villa Serenita, tentang rencana Gwen besok di ArtVia. Tawa kecil mereka sesekali pecah di antara suara gemuruh hujan.

Ketika cheese cake sudah habis, Gwen menatap Aga dengan mata penuh rasa syukur. “Ga… terima kasih ya. Buat semuanya hari ini.”

Aga menunduk, menyatukan kening mereka. “Sama-sama, Baby.”

Aga menunduk perlahan, menyatukan kening mereka. Napas mereka bercampur hangat di udara sejuk yang basah.

Tanpa sepatah kata, ia mendekat. Ciuman itu lembut, bibir Aga menempel di bibir Gwen dengan penuh kasih dan perhatian. Rasanya seperti dunia berhenti sejenak, memberi ruang bagi mereka untuk merasakan kehangatan dan janji yang tersimpan di hati masing-masing.

Gwen membalas ciuman itu dengan sama lembutnya. Tangannya naik ke dada Aga yang basah, merasakan detak jantung pria itu yang seirama dengan miliknya. Di tengah guyuran hujan deras di luar halte, ciuman mereka terasa hangat, manis, dan abadi.

Saat bibir mereka perlahan berpisah, Aga menyandarkan keningnya kembali ke kening Gwen. Ia tersenyum kecil, mata biru tuanya penuh kelembutan.

Hujan masih turun deras di luar, tapi di dalam halte kecil itu, dua hati yang pernah terpisah kini kembali menyatu dengan sempurna. Aga menggenggam tangan Gwen erat, jari mereka saling terkait.

1
mitha
Lanjut kak
lilyrose
syuukkurin 🤣
Honey Brezee: hihi 🤭
total 1 replies
lilyrose
to the point aman sih si hilman 😂😂😂
Honey Brezee: iy, hahaha 🤣
total 1 replies
Patrish
nyambung amat Bang
Honey Brezee: nyambung di next kak 🤣
total 2 replies
mitha
Ceritanya gak ngebosenin 😍
Anita
Ibu tiri 😭
Anita
Seruuuuuu 😍
Patrish
hati hayi anak muda jangan sampai kebablasan
Honey Brezee: tenang ada penjaga nya si pandji 🤣🤣
total 1 replies
Patrish
ini ibu kandung apa ibu tiri sih...
Patrish: 🤣🤣🤣🤣pokoknya dibuat sakit tapi jangan sampai menyusahkan anaknya🤣🤣🤣
total 4 replies
Patrish
setiap keputusan membawa resiko..(baik maupun buruk)..setiap pilihan menuntut keberanian
inilah inti perjalanan ke depan
Honey Brezee: makasih kak ❤
total 1 replies
Patrish
ini ceritanya mereka hidup di Bali...sedang ayah Gwen di jakarta....nadine tinggal di mana?
Honey Brezee: gwen di Bali kak, ayah gwen bolak balik ke jakarta karna ada kerjaan
total 1 replies
Patrish
aku gagal focus di sini..Pikirku Panji nganter Nadine ke luar kota...
Honey Brezee: nanti aku revisi 🙏
total 1 replies
Patrish
Panji....pinter ya
Patrish
mulai....ada bara menyala...
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru merilis cerita berjudul : "Pacar Melamar Mantan Menggoda" ✨️✨️
Silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Mila tidak pernah menyangka kalau 'penghancur' masa remajanya akan kembali lagi jadi bosnya di kantor. Ini bukan cuma soal benci, tapi soal luka yang dipaksa sembuh saat pelakunya ada di depan mata. Kudu baca kalau kalian suka drama yang deep dan dewasa 🤌
total 1 replies
lilyrose
keren banget..ga muter muter ceritanya
good job thor
lanjuttt
Honey Brezee: huhuhu..Thankyou 😭🙏❤
total 1 replies
lilyrose
baru nemu novel sebagus ini..keren banget
ga berasa baca marathon dari bab 1 - 15 tiba2 habis... 👍
Honey Brezee: makasih kak 🥺😭🙏❤
total 1 replies
Patrish
novel bagus gini...belum ada yang nemu....🤭🤭🤭🤭aku juga baru kemarin😀😀😀
Patrish: semoga segera banyak yang baca
total 2 replies
Patrish
sampai di sini...kalimatnya enak dinikmati....lanjuut aku...👍🏻👍🏻
Honey Brezee: terimakasih kak 🥺🙏❤
total 1 replies
Patrish
tapi kamu keren Gwen....seharusnya sejak kemarin kamu begitu...
Patrish
yoookkkk...lanjuuut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!