Intan Rasyid sudah terikat pertunangan, tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan, tetapi hubungan dari hasil perjodohan itu tak lantas dapat menggeser sebuah nama terukir dalam sanubari selama sepuluh tahun lamanya. Intan mencintai dalam diam pria telah berpunya.
Sampai sosok pria sangat jauh dari kriterianya tiba-tiba hadir, membawa warna baru bagi kehidupan monoton, berhasil menjungkirbalikkan dunianya.
Hal yang semula ia kira sempurna ternyata memiliki banyak kekurangan, membuatnya gamang antara dua pilihan – memutuskan pertunangan yang berarti melibatkan dua keluarga besar, atau mempertimbangkan kegigihan pria tak mengenal lelah mengejar cintanya.
Pada akhirnya, siapa yang akan dipilih oleh Intan, sang tunangan atau malah pria teramat menyebalkan, menurutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyembunyikan rasa : 06
‘Ternyata ….’ batin Intan tersenyum masam, ia menunduk. Setelah dirasa sudah dapat mengendalikan diri, Intan berdiri menyambut kedua sepupu perempuan yang datang bersama para suami mereka.
"Kak Siron, Intan rindu sangat.” Kedua tangannya terentang, senyumnya lebar meskipun netranya bergetar, beruntung tersamarkan cahaya lampu tidak begitu terang.
“Adek abang gaya betul bilang rindu, aslinya cuma gurau. Buktinya lah tiga bulan lamanya baru mau balek,” sahut suaminya Siron bernama Danang, pria yang dulu pernah menjadi sopir sekaligus pengawal para anak juragan kaya raya kampung Jamur Luobok, termasuk orang tuanya Intan Rasyid.
Intan pura-pura kesal, melirik sedikit lama sosok gagah berbahu bidang, wajah lokal lumayan rupawan. "Bang Danang dari dulu memang tak bisa lihat aku senang.”
Gelak tawa membahana, Siron menggelengkan kepala, lalu memeluk adik sepupunya. “Kau dan Abang, sedari kecil sampai sebesar sekarang selalu saja begaduh bila berdekatan.”
"Bang Danang duluan yang cari perkara, Kak.” Dibalik bahu sang kakak, Intan melirik galak, dibalas senyum gelengan kepala.
"Jangan percaya sayang, Intan lah si bahan bakarnya,” balas Danang tersenyum jenaka. Kemudian melangkah bersama sang ipar, bergabung dengan para pria sedang membakar ikan.
‘Sayang … kenapa masih terasa tak nyaman kala mendengarnya.’ Intan melepaskan pelukannya, berusaha sekuat tenaga menyembunyikan rasa mengganjal dalam dada. “Pipi kakak tembam sangat, apa gemukan?”
Wanita berkerudung hitam, meraih jemari Intan, membawanya ke permukaan perut. “Semenjak ada dia, aku maunya mengunyah saja, tak bisa berhenti mulut ini.”
Sejenak Intan terdiam, matanya mengedip cepat, lalu diusahakan tersenyum semanis mungkin, nada suara terdengar antusias, padahal hatinya bagaikan serpihan debu. “Alhamdulillah, sudah berapa minggu usianya, Kak?”
Netra wanita berwajah teduh, senyum menenangkan, menjawab dengan raut berseri-seri. “Alhamdulillah jalan enam minggu.”
Intan mengelus perut kakak sepupunya, lalu mengucapkan selamat dan memberikan sedikit wejangan sama persis seperti tugas hariannya kala memeriksa para ibu hamil di puskesmas desa Subussalam.
"Kalau sudah berbincang, aku pun terlupakan. Sudah macam Nyamuk, rupa tak tampak tapi suara terdengar berdengung tepat di daun telinga,” protes wanita berparas manis mengenakan hijab segitiga berwarna abu-abu.
“Lanira.” Intan berganti memeluk adik sepupunya, lebih muda tiga tahun, seumuran dengan Sabiya, adik kandungnya.
“Akupun rindu betul dengan kak, Intan. Kampung kita terasa sepi, sebab tak lagi lengkap penghuninya.” Ia usap-usap punggung kakak sepupunya.
“Kau terlalu mengada-ada, mana lah macam itu ceritanya. Tanpa aku, kalian masih bisa bahagia, menertawai siapa saja yang lewat didepan mata, iya kan?” goda Intan sembari melerai pelukan mereka.
Lanira, adik kandungnya Siron, terkikik geli. Tebakan Intan hampir seratus persen benar. “Kakak kapan kawinnya? Biar bisa tinggal lagi disini.”
Hem … hem.
"Abang tak seru, aku lagi nunggu jawaban malah diganggu,!” protes Lanira kepada Kamal yang berdiri dibelakang Intan.
“Kalau kalian sudah kumpul, sampai besok pagi pun tak ada habisnya bergosip. Sementara ikan dan Ayam bakar sudah matang, ayo kita nikmati selagi hangat.” Kamal menyelamatkan Intan dari pertanyaan itu-itu saja.
Intan berbalik, tersenyum tulus, sorot matanya mengucapkan terima kasih. Dibalas senyum lebar, memaklumi.
Acara makan-makan pun dimulai. Intan duduk berdampingan dengan adiknya Sabiya, lalu sepupunya, dan calon adik ipar, Rania Nugraha.
“Apa tak ada cabe rawit, sambalnya kurang pedas,” celetuk pelan Danang.
Jemari hendak mencuil daging ikan terhenti, dia bergegas menuju bagian meja panjang tempat meletakkan bumbu dapur dan alat makan. Berjarak dua meter dari para orang berkumpul.
"Sedang apa, Intan?” Siron mendekati sepupunya.
Intan tersentak, ia gugup kala menyadari kesalahannya. “Ini mau cari _”
“Pasti kau mau mengambil potongan mentimun untukku kan, sayang?” bisik Kamal Nugraha yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat tunangannya.
“Iya, tapi aku bingung dimana letaknya. Seingatku tadi ada di meja,” dustanya menyembunyikan kegugupan.
“Buah mentimun ada di tikar paling ujung, sudah dikupas tapi belum dipotong,” beritahu Siron, dia mengambil cabe rawit untuk suaminya.
“Iya, Kak.” Intan memejamkan mata setelah Siron pergi dari sana.
“Duduklah lagi dengan lainnya. Supaya tak ada yang curiga kecerobohan mu ini, Intan,” suaranya tetap tenang, penuh pemakluman, tapi sorot mata tak lagi sehangat biasanya.
Intan membuka mata, menghela napas pelan. “Nuha, terima kasih. Maaf.”
“Tak apa, pelan-pelan saja! Jangan tergesa-gesa. Bukannya melupakan, malah semakin melekat dalam ingatan.” Kamal berbalik badan dan kembali bergabung dengan sahabatnya, yakni para sepupu Intan Rasyid.
'Kalimat itu juga berlaku untukmu, kan?' dia sudah tidak berselera makan. Hatinya didera rasa bersalah, dan gugup luar biasa.
“Intan, makan yang banyak, Nak. Ayah tua tak suka melihat calon menantu mirip Belalang sembah, kurus sangat,” celetuk pria berambut seluruhnya putih, wajah dihiasi kerutan, tapi tidak mengurangi ketampanan telah menua. Byakta Nugraha.
Ayahnya Intan Rasyid pun menyahuti. “Dengar apa kata calon mertuamu, Nak. Kau bertambah kurus semenjak bertugas di pedalaman, apa disana terlalu banyak pekerjaan, atau kekurangan tenaga medis?”
Belum sempat Intan menjawab, sudah disela nada menggebu-gebu ayahnya Kamal. “Kasih tahu Ayah, Intan. Siapa pemilik perkebunan besar itu, biar ayah kirim kata-kata mutiara nanti. Enak saja memeras tenaga calon menantu kesayangan kami. Apa sudah siap dia kalau seandainya perkebunannya itu dibeli?”
Seruan membahana, bahkan dilengkapi dengan tepuk tangan. Sosok yang dipanggil ayah tua oleh Intan dan para sepupunya, memang terkenal sombong. Sering membuat lawan maupun orang tak disukainya terdiam, di pukul mundur oleh fakta tentang harta berlimpah.
“Intan disana baik-baik saja Ayah tua, rekan kerja pun saling tolong menolong, tak ada yang usil, semua tahu diri dan sadar akan tugasnya masing-masing,” jawabnya jujur, cuma menyembunyikan satu fakta tentang seseorang selalu menjadi penganggu nomor wahid.
“Baguslah. Ibu Nirma jadi tenang setelah mendengar kau diperlakukan baik oleh para orang baru dalam kehidupanmu, Nak,” ungkap ibunya Kamal Nugraha.
Sesudahnya, acara makan pun dilanjutkan, diiringi candaan dan bercengkrama hangat, saling bertukar kabar, dan menceritakan hal-hal lucu.
***
“Intan, boleh mamak minta waktumu?” Meutia Siddiq, ibunya Intan Rasyid mendekati putrinya yang baru saja selesai mencuci baskom tempat ikan mau di panggang tadi.
"Tentu boleh, Mak.” Intan menurunkan ujung hijab yang tadi diikat ke belakang leher, agar tidak basah ketika dia mencuci peralatan kotor.
“Mau sampai kapan kau terus bertindak bodoh macam tadi? Apa memang disengaja agar Siron tahu jika dirimu mencintai suaminya, Intan Rasyid …?”
.
.
Bersambung.
apa tidak terbalik?
secara Lanira putrinya Wahyuni, kakak dari ibunya Intan (Mutia)
serasa kurang mlu tiap baca 🤣🤣
legaaaaa meskipun belum tuntas kecewaku,,
setidaknya keluarga besar sudah otw ke hunian ayah tua