Yvone Faranes adalah seorang Mafia yang memiliki keahlian dalam bidang persenjataan, meracik obat-obatan dan racun, tewas akibat konspirasi dari beberapa orang. Bukannya ke alam baka, Yvone justru terbangun di tubuh gendut milik Rose Reinhart.
Rose Reinhart adalah istri dari Arsen Reinhart 32 tahun, yang meninggal dunia akibat overdosis obat-obatan yang dikonsumsinya. Semasa hidup, ia selalu dihina dan direndahkan oleh keluarga suaminya karena kondisi fisiknya yang gendut dan jelek.
Bahkan Arsen, suaminya sendiri enggan menyentuhnya lantaran tubuhnya itu. Tidak hanya itu, Rose kerap dihina karena tak kunjung memberikan keturunan bagi keluarga Reinhart.
Hingga kehadiran Renata, disebut-sebut akan menjadi pengganti Rose untuk memberikan apa yang keluarga Reinhart inginkan.
Kini, Rose berbeda. Dengan keahlian milik Yvone yang berada di tubuhnya, ia merubah penampilannya dan memberi pelajaran pada orang-orang yang menindasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElleaNeor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Meninggalkan Arsen
“Apa kau bilang? Tidur bersama?” Arsen membulatkan matanya. Apa yang baru saja ia dengar?
Tidur bersama? Dengan Renata?
Wanita itu mengangguk. Wajahnya penuh rasa takut. Namun, ada sebuah senyum kecil yang disembunyikan.
“Tidak, ini tidak mungkin!” ucap Arsen. Ia menggeleng tak percaya.
Arsen spontan meraih kedua lengan Renata lalu mencengkeramnya dengan sangat kuat.
“Bagaimana bisa tidur bersama? Ha?!” Suara Arsen menggema di ruangan.
Renata terpejam, tak berani menatap Arsen. Dari suaranya, jelas sekali pria itu sedang diliputi oleh amarah.
“Arsen, apa kau lupa? Kau yang mengajakku lebih dulu. Kau bilang dirimu kesepian.”
“Apa?” Arsen memegang kepalanya yang terasa berdenyut. Rasa sakit itu kembali menggerogotinya. Mengaduk-aduk ingatannya.
Melihat itu, Renata segera memegangi lengan Arsen.
“Arsen, kau tidak apa-apa?” tanya Renata lembut, namun Arsen justru menghempaskan tangan Renata.
“Lepaskan! Kau…apa yang kau lakukan padaku?” Ingatan Arsen berlomba-lomba bermunculan. Saat di kantor ia merasa sehat-sehat saja.
Tetapi, setelah meminum kopi buatan Renata, Arsen jadi sakit kepala, lalu perlahan rasa sakit itu mengikis kesadarannya.
“Kak Arsen minum dulu.” Saat melihat Arsen memegangi kepalanya, Alexa segera mengambil air minum.
Arsen meraih gelas itu, lalu meminumnya. Wajah Arsen sangat tak sedap dipandang. Akan tetapi, setelah meminum air putih itu, perlahan wajahnya mulai melunak.
Alexa melirik ke arah Renata sembari mengedipkan mata.
Renata melihat itu dan seketika menghela napas lega.
“Ini semua gara-gara Rose.” Brighita melangkah maju. “Dia pergi tanpa pamit, tapi setelah kembali, dia sama sekali tidak mengurusmu. Arsen, sebaiknya kau segera ceraikan dia,” ucap Brighita.
Tatapan Arsen tampak kosong. Alih-alih mendengar ucapan Brighita, Arsen justru menganggapnya sebagai angin lalu.
“Sebaiknya kalian pergi. Aku ingin istirahat,” kata Arsen yang seketika melupakan kemarahannya begitu saja.
Ketiga wanita yang berdiri itu saling pandang, sebelum akhirnya memutuskan untuk meninggalkan kamar Arsen.
“Kerja bagus, Alexa. Untungnya kau segera cepat tanggap,” ucap Renata setelah berada di luar kamar.
“Kak Renata tenang saja. Kami akan selalu mendukung Kak Renata sampai menikah dengan Kak Arsen,” ucap Alexa.
“Alexa benar, Kau harus menikah dengan Arsen bagaimanapun caranya,” timpal Brighita. “Oh ya, bagaimana kalau kita pergi berbelanja, kemarin Arsen baru saja memberiku uang, aku sudah lama tidak berbelanja,” tawar Brighita.
Dua wanita itu tersenyum mendengar ucapan Brighita, lalu dengan senang hati, mereka menerima ajakan wanita itu.
“Kalau begitu, ayo kita bersenang-senang.”
Yvone telah tiba di kediaman keluarga Rose. Ia disambut hangat oleh kepala pelayan. Lalu mempersilakan untuk masuk.
“Nona Muda, Anda datang,” sapa wanita paruh baya itu.
“Apa Mama di rumah?” tanya Yvone.
“Ya, Nona. Mari silakan masuk.”
Yvone mengangguk lantas melirik ke samping, memberi kode kepada Daniel untuk ikut bersamanya.
Keduanya pun melangkah masuk lebih dalam.
Seorang wanita yang masih terlihat cantik di usia memasuki kepala enam, baru saja menuruni anak tangga. Ia terkejut saat melihat kedatangan Yvone.
“Rose…kaukah itu?” Merlin Maddison, mempercepat langkahnya dan menghampiri Yvone. Keterkejutan terlihat jelas di wajahnya.
Saat kembali dari luar negeri, Yvone memang belum sama sekali mengunjungi orang tua Rose. Padahal ia sudah berjanji akan memberi kabar jika pulang. Melihat reaksi Merlin saat melihat dirinya, membuat Yvone merasa bersalah.
“Ma, bagaimana kabarmu?” tanya Yvone. Ini sama sekali bukan dirinya yang pandai berbasa-basi. Tetapi, terlalu lama mendalami peran, membuat Yvone menjadi mudah beradaptasi.
“Sayang, kau kapan pulang? Kenapa tidak mengabari kami?” Merlin menatap penampilan putrinya dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Putriku, kau kembali seperti dulu lagi, sangat cantik.”
Kali ini Yvone benar-benar bangga dengan diri Rose. Tidak sia-sia usahanya selama ini. Meski sempat kesal karena harus tinggal di tubuh yang gendut, tetapi, saat ini ia harus berterima kasih karena sesungguhnya Rose memiliki tubuh yang indah dan sangat cantik.
Bahkan lebih cantik dari Yvone Faranes yang asli.
“Maaf, tidak mengabari kalian. Semua serba mendadak.” Yvone terpaksa berbohong. Ia tidak ingin membuat kedua orang tua Rose kecewa karena merasa tidak diprioritaskan.
“Tidak apa-apa, Sayang. Papamu pasti senang melihatmu. Aku akan menelponnya dan menyuruhnya pulang,” ucap Merlin antusias.
“Tunggu, Ma.” Yvone menahan tangan Merlin yang hendak menjauh. “Memangnya Papa di mana?”
“Papamu sedang ada di kantor. Dia bilang sedang ada rapat penting.”
“Kalau begitu jangan, Ma. Tunggu saja sampai pulang karena aku akan sedikit lama di sini.”
“Ah begitu ya, baiklah, Sayang.” Tatapan Merlin lalu tertuju pada pria yang berdiri di belakang Yvone. “Oh, Tuan Daniel, pasti Nak Arsen menyuruhmu untuk menjaga putriku, ‘kan?” ucap Merlin.
Yvone seketika menatap Daniel, lalu bergumam, ‘Jadi namanya Daniel.’
“Apa kabar, Nyonya?” sapa Daniel.
Merlin mengulas senyum kecil, lalu menjawab, “Seperti yang kau lihat, aku sehat!”
Melihat interaksi antara Merlin dan Daniel, sepertinya mereka memang saling mengenal cukup lama. Begitu juga dengan Rose, bodohnya kemarin ia malah menanyakan nama pria itu. Jelas saja Daniel jadi curiga.
Kini ia juga merasa curiga, alasan Daniel ikut bersamanya, karena ingin mencari tahu siapa dirinya. Ini tidak boleh dibiarkan.
“Oh ya, Ma. Malam ini izinkan aku menginap di sini, ya?” ucap Yvone mengungkapkan tujuannya.
Kening Merlin mengkerut.
“Emm…tentu saja boleh, Sayang. Tapi kenapa tiba-tiba. Biasanya kau akan memberi kabar kalau ingin menginap di sini. Dan kau selalu menginap bersama Arsen. Kenapa? Apa kau bertengkar dengannya?” tanya Merlin.
Yvone menggigit bibir bawahnya, melirik ke arah Daniel sekilas. “Tidak, Ma. Arsen terlalu sibuk sehingga kami tidak sempat untuk bertengkar. Saat ini dia sedang pergi untuk melakukan perjalanan bisnis. Jadi karena aku merindukan kalian, aku akan menginap di sini.”
Seperti yang dikatakan oleh Sui, Rose tidak pernah mengungkapkan masalah apa pun pada orang tuanya. Dan kali ini Yvone akan melakukan hal yang sama.
Jika Yvone lihat, kedua orang tua Rose adalah orang yang baik. Dan ia tidak akan membuat mereka merasa kecewa.
“Begitu, baiklah. Kalau begitu aku akan suruh Bibi Lin untuk mengganti seprainya.”
“Terima kasih, Ma.”
Yvone menatap Daniel, “Kau bebas mau ke mana saja, untuk sementara aku akan berada di sini,” kata Yvone.
“Kalau begitu saya akan berkeliling di sekitar. Nyonya bisa mencari saya di pos penjaga.”
“Baiklah. Terima kasih, Daniel.”
Pria itu mengangguk lantas membawa langkahnya keluar dari rumah.
Selang beberapa menit suara deru mesin kendaraan terdengar. Disusul suara ketukan sepatu yang bergema di ruangan terdengar memasuki rumah.
“Rose, kau di sini?”
Suara Mattheo membuat Yvone dan Merlin menoleh.
“Papa, sudah pulang?” tanya Yvone.
“Aku pulang karena suatu hal,” kata Matheo.
“Ada apa?” Kini giliran Merlin bertanya.
“Karena Arsen membatalkan rapat sepihak. Entah apa yang terjadi, Rose kau tahu kenapa? Harusnya hari ini kami para investor mengadakan rapat penting,” kata Matheo.
Ucapan Matheo membuat Merlin seketika menatap putrinya.
“Benar begitu, Rose. Bukankah kau bilang tadi dia pergi perjalanan bisnis?”
Yvone memejamkan mata. Sepertinya kali ini ia memang salah bicara. Harusnya tadi ia jujur sejak awal. Sekarang ia harus kembali berbohong.
“Ya, Pa. Arsen sedang berada dalam perjalanan bisnis,” ucap Yvone.
“Dengan siapa? Jangan bilang asisten pribadinya itu?” tebak Matheo.
Yvone terdiam. Kali ini ia tidak bisa mencari jawaban lain selain iya.
“Sudah kuduga. Rose, kau harus berhati-hati. Aku melihat niat terselubung dari wanita itu. Keputusanmu untuk menjadi cantik sudah benar. Kau tidak boleh kalah dengan wanita. Jangan biarkan wanita itu merebut suamimu.”