NovelToon NovelToon
CINTA TAK KENAL USIA

CINTA TAK KENAL USIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Karena orang tua serta para keluarga selalu mendesak untuk menikah. Akhirnya Adelia Aurellia nekat menikahi seorang anak magang yang jarak usianya sepuluh tahun dibawahnya. Hal itu malah membuat orang tua Aurel menjadi murka. Pasalnya orang tua sang supir yang bernama Adam Ashraf adalah seorang pengkhianat bagi keluarganya Aurel.

Padahal itu hanya fitnah, yang ingin merenggangkan persahabatan antara Ayahnya Aurel dan juga Ayahnya Adam. Makanya Adam sengaja bekerja pada mereka, karena ingin memulihkan nama baik sang Ayah. Dan karena tujuan itu, ia pun langsung menerima tawaran dari Aurel, untuk menikahinya.

Akankah, Adam berhasil membersihkan nama baik sang Ayah? Dan Akankah mereka mendapatkan restu dari keluarga Aurel? Yuk ikuti karya Ramanda, jangan lupa berikan dukungannya juga ya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DURI DALAM DAGING.

"Kau pikir semen yang membeku itu bisa menahan beban ratusan ton jika isinya hanya pasir dan kerikil murah, Ansel?"

Adam melemparkan bundel laporan audit ke atas meja makan kayu jati. Suaranya tidak tinggi, namun getarannya membuat gelas kaca di depan Ansel berdenting pelan. Aurel yang baru saja hendak menyendok nasi, menghentikan gerakannya. Wajahnya memucat melihat tatapan suaminya yang setajam silet.

Ansel mencoba tertawa, meski jakunnya naik turun menelan ludah. "Jangan paranoid, Adam. Itu laporan dari pemasok lama Papa. Kau baru seminggu memimpin, jangan sok tahu soal spesifikasi beton."

"Spesifikasi tidak bisa berbohong melalui data laboratorium, Ansel." Adam menarik kursi, duduk tepat di hadapan adik iparnya. "Kekuatan tekan beton di proyek Jembatan Suramadu jilid dua ini turun tiga puluh persen dari standar yang aku tetapkan. Seseorang telah mengganti semen tipe lima dengan semen kualitas rendah dalam manifes pengiriman."

Aurel meletakkan sendoknya. "Adam, apa maksudmu? Itu proyek strategis nasional. Kalau ada apa-apa, izin usaha Baskoro Build bisa dicabut permanen."

"Bukan hanya izin usaha, Kak," potong Ansel sinis. "CEO-nya bisa masuk penjara karena tuduhan korupsi material dan membahayakan nyawa publik. Bukankah itu yang kau takutkan, Adam?"

Adam tersenyum tipis, jenis senyuman yang membuat Ansel merasa telanjang. "Aku tidak takut penjara, Ansel. Aku hanya kasihan pada orang yang cukup bodoh untuk bermain api di rumahnya sendiri. Karena saat rumah ini terbakar, dia juga akan terpanggang di dalamnya."

Setelah makan malam yang mencekam itu, Adam tidak langsung beristirahat. Ia masuk ke ruang kerja pribadinya, menyalakan laptop yang terhubung langsung dengan satelit pemantau area proyek. Di belakangnya, Aurel masuk membawa secangkir kopi hitam tanpa gula.

"Kau mencurigai Ansel secara terang-terangan di depan Mama tadi," ucap Aurel pelan. "Apa kau punya bukti?"

Adam menyesap kopinya, matanya tetap terpaku pada layar monitor. "Rian menemukan tanda tangan digital Ansel pada formulir perubahan pesanan material kemarin sore. Dia melakukannya saat aku sedang rapat di kementerian."

Aurel menutup mulutnya dengan tangan. "Kenapa dia setega itu? Dia menghancurkan warisan Papa demi dendam pribadinya padamu?"

"Bukan hanya dendam, Adel. Dia bekerja sama dengan seseorang. Seseorang yang tahu persis titik lemah logistik kita." Adam memutar layar laptopnya ke arah Aurel. "Lihat rekaman CCTV gudang ini. Pria yang menerima logistik itu bukan karyawan kita. Dia mantan anak buah Denis Subandi."

Aurel merasakan sekujur tubuhnya dingin. "Denis? Dia masih bisa bergerak dari balik penjara?"

"Tangan gurita seperti dia punya banyak kaki tangan di luar," jawab Adam. "Ansel hanya pintu masuknya. Mereka ingin aku hancur di proyek pertama ini agar pemegang saham mencopotku, lalu Ansel naik kembali sebagai boneka mereka."

Aurel berlutut di samping kursi Adam. "Lalu apa yang harus kita lakukan? Kita harus lapor polisi sekarang."

"Belum saatnya," Adam membelai kepala Aurel lembut. "Kalau sekarang kita lapor, Ansel akan masuk penjara dan Mama akan hancur. Aku ingin dia sendiri yang menyadari lubang yang dia gali. Aku sudah mengganti semua material sub-standar itu dengan biaya pribadi dari A-Games. Proyek tetap berjalan sesuai standar, tapi aku membiarkan Ansel mengira rencananya berhasil."

---

Pukul satu dini hari, Ansel menyelinap keluar rumah melalui pintu samping. Ia tidak menyadari bahwa Adam memperhatikannya dari balkon lantai dua. Ansel memacu mobilnya menuju sebuah gudang tua di kawasan industri Rungkut. Di sana, Jon sudah menunggu dengan wajah puas.

"Bagaimana, Tuan Muda? Adam sudah mulai panik?" tanya Jon sambil menyulut rokok.

Ansel menyeringai, meski hatinya merasa gusar. "Dia sudah tahu ada masalah pada beton, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Kontrak pengiriman sudah ditandatangani. Minggu depan saat pengecoran utama, jembatan itu akan menjadi monumen kegagalannya."

Jon menepuk bahu Ansel. "Bagus. Denis sangat senang mendengarnya. Ini ada sisa pembayaran untukmu. Nikmatilah di Singapura setelah semua ini selesai."

Ansel menerima amplop tebal itu. Namun, saat ia hendak berbalik, sebuah lampu sorot mobil menyala terang dari arah pintu masuk gudang. Ansel silau, ia melindungi matanya dengan tangan.

"Ansel, kau benar-benar tidak belajar dari kesalahan Papa," sebuah suara yang sangat dikenal terdengar dari balik cahaya lampu.

Adam turun dari mobil, diikuti oleh Rian dan dua orang petugas keamanan berpakaian preman. Wajah Adam di bawah lampu temaram terlihat seperti malaikat maut.

"Adam? Bagaimana kau bisa..." Ansel terbata, kakinya gemetar hingga amplop uang itu jatuh ke tanah.

"Aku yang mendirikan sistem pelacakan GPS di semua kendaraan operasional perusahaan, Ansel. Kau pikir aku sebodoh itu?" Adam berjalan mendekat, mengabaikan Jon yang mulai meraba pinggangnya mencari senjata.

Rian dengan sigap menahan Jon sebelum pria itu sempat bergerak. "Tetap di tempat, Jon. Polisi sudah mengepung area ini."

Adam berdiri tepat di depan Ansel. Ia mengambil amplop uang yang terjatuh tadi dan melemparkannya kembali ke dada Ansel.

"Tujuh tahun kau lebih tua dariku, tapi kau membiarkan dirimu dipimpin oleh nafsu rendahan," ucap Adam dingin. "Kau tahu apa yang terjadi jika beton itu benar-benar runtuh? Ratusan orang akan mati saat jembatan itu digunakan. Kau siap menanggung nyawa mereka?"

Ansel jatuh terduduk, air mata ketakutan mulai mengalir. "Aku... aku hanya ingin perusahaan itu kembali, Adam. Kau mengambil semuanya dariku!"

"Aku tidak mengambil apa pun! Aku menjaganya untukmu!" bentak Adam, suaranya menggelegar di dalam gudang kosong itu. "Aku bekerja dua puluh jam sehari agar FB Build tidak bangkrut karena hutang-hutang yang kau buat di Singapura! Tapi ini balasanmu?"

Ansel menangis tersedu-sedu, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Tolong jangan laporkan aku, Adam. Mama bisa mati kalau tahu aku bekerja sama dengan pembunuh Papa."

Adam diam sejenak. Ia menatap Rian, lalu menatap Ansel. "Malam ini, aku akan membayarmu agar kau pergi dari Indonesia. Pergilah ke manapun kau mau, tapi jangan pernah injakkan kakimu di rumah itu lagi sebelum kau benar-benar bertaubat. Aku akan bilang pada Mama kau melanjutkan studi di Eropa."

"Kenapa? Kenapa kau membantuku setelah semua ini?" tanya Ansel tidak percaya.

"Karena aku sudah berjanji pada Papa untuk menjaga keluarga ini," jawab Adam datar. "Dan karena istriku, kakakmu, masih mencintaimu meski kau adalah iblis baginya. Pergilah sekarang sebelum aku berubah pikiran."

Ansel lari menuju mobilnya tanpa menoleh lagi. Adam menatap kepergian mobil itu dengan helaan napas berat. Ia tahu, masalah dengan Denis belum selesai, tapi setidaknya satu duri dalam daging keluarganya sudah ia cabut.

"Bos, yakin dilepaskan begitu saja?" tanya Rian sangsi.

"Dia sudah kalah oleh rasa bersalahnya sendiri, Rian. Itu penjara yang lebih kejam dari sel manapun," pungkas Adam sembari masuk kembali ke mobilnya.

Di kejauhan, fajar mulai menyingsing di langit Surabaya. Adam tahu, saat ia pulang nanti, ia harus menghadapi mata Aurel yang penuh tanya. Dan kali ini, ia akan menceritakan semuanya, tanpa ada lagi rahasia yang tersisa. Tapi sebelumnya ia bermaksud nyelesaikan masalahnya di A Games. Karena perkejaan disana juga sudah menumpuk.

1
sry rahayu
🥹
sry rahayu
kasian Arumi
sry rahayu
😄
sry rahayu
syukurlah
sry rahayu
good luck adam
Wandi Fajar Ekoprasetyo
wah nih mulut belom pernah makan sambel setan level neraka ya..... enak sekali ngomong nya
sry rahayu
selalu nunggu up nya thor
Trie Vanny
Selalu hadir untuk mendukung karya kakakku ini👍👍👍🤭
Ramanda.: Terimakasih Adikku 😍😍. Aku selalu padamu muachh.😘😘
total 1 replies
sry rahayu
semangat 💪
Irni Yusnita
semua cerita yg kau buat selalu bagus dan menarik 👍 lanjut Thor 👍
Wandi Fajar Ekoprasetyo
Weh singkat sekali langsung terkuak kasus yg udh lama.......Hem..... kira² ada balas dendam apa lagi nih dr keluarga Denis
Wandi Fajar Ekoprasetyo
semangat kak othor.....d tunggu up nya
Wandi Fajar Ekoprasetyo
mulai goyah pertahan Aurel
Wandi Fajar Ekoprasetyo
wajah tenang penuh dendam
Ai Sri Kurniatu Kurnia
hadir
Lia siti marlia
hadir thoor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!