NovelToon NovelToon
SUKSES BERKAT DUKUNGAN ANAK ANAK

SUKSES BERKAT DUKUNGAN ANAK ANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Duda
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Ketika dunia seolah runtuh di sekelilingnya, hanya cinta anak-anak yang bisa membangunnya kembali.

Rian baru saja di-PHK ketika rumah tangganya yang sudah berjalan 7 tahun hancur berkeping-keping. Dituduh selingkuh oleh istri, Novi, dan dipermalukan oleh keluarga besarnya, ia tidak punya pilihan selain kembali ke kampung halaman dengan membawa dua anaknya – Hadian dan Alea. Kedua anak itu dengan tegas memilih mengikuti ayahnya, bahkan menolak untuk bertemu dengan ibunda kandung mereka yang kini sudah hidup dengan orang lain.

Di rumah panggung peninggalan orangtuanya, Rian memulai dari nol. Dengan tangan yang terlatih bekerja keras dan dukungan tak lekang dari kedua anaknya, ia mengolah lahan pertanian, membuka peternakan, hingga akhirnya mendirikan perusahaan dan restoran yang sukses.

Setiap langkah kemajuan yang diraihnya tak pernah lepas dari kehadiran Hadian dan Alea. Ketika pertemuan tak terduga dengan Novi dan keluarga barunya terjadi berkali-kali, anak-anak itu tetap berdir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. PERJALANAN PULANG KAMPUNG

Hari itu paginya sangat dingin, kabut tebal menyelimuti kota Cirebon hingga menjelang jam delapan pagi baru mulai menghilang. Rian dan anak-anak berdiri di halte bus dengan beberapa karung dan kotak kardus yang berisi barang-barang mereka yang terbatas. Udara di halte terasa ramai dengan suara-suara penumpang lain yang juga sedang menunggu bus untuk berbagai tujuan, namun bagi mereka tiga, perjalanan yang akan ditempuh bukan hanya tentang pergi ke suatu tempat – melainkan tentang mencari tempat yang benar-benar bisa mereka sebut sebagai rumah.

Setelah terpaksa meninggalkan rumah lama mereka dan tidak menemukan tempat tinggal yang layak di kota, Rian memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di desa kecil di Jawa Tengah. Kampung itu adalah tempat dia tumbuh besar, tempat di mana ayahnya dulu bertani sebelum meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Meskipun dia tahu bahwa kondisi kampung tidak jauh lebih baik dari kota, dia merasa bahwa di sana mereka akan mendapatkan dukungan dari keluarga besar yang masih tinggal di sana, dan setidaknya mereka tidak akan harus khawatir tentang sewa rumah atau diusir oleh orang lain.

“Papa, kapan kita sampai ya?” tanya Alea dengan suara yang penuh dengan semangat meskipun wajahnya menunjukkan rasa kantuk akibat bangun pagi sekali. Anak perempuan yang berusia lima tahun itu mengenakan baju hangat yang sudah sedikit aus dan memegang erat boneka Kiki-nya yang sudah sangat lusuh. Dia melihat sekeliling halte dengan mata yang penuh rasa ingin tahu, terkadang tertawa melihat anak-anak lain yang sedang bermain di sekitar halte.

Rian menepuk kepala putrinya dengan lembut dan memberikan senyum hangat. “Kita akan sampai sore nanti, sayang,” jawabnya dengan suara yang lembut. “Perjalanannya agak panjang, tapi kita akan melewati banyak tempat menarik di jalan. Kamu bisa melihat pemandangan yang indah dari jendela bus.”

Hadian berdiri di samping ayahnya dengan wajah yang lebih tenang namun juga penuh dengan harapan. Anak laki-laki itu sudah membawa salah satu karung kecil yang berisi buku-bukunya dan beberapa barang penting lainnya. Dia melihat ke arah jalan raya yang ramai dengan kendaraan berlalu lalang, kemudian melihat ke arah ayahnya dengan ekspresi yang menunjukkan bahwa dia siap untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi di perjalanan ini.

Setelah beberapa menit menunggu, bus besar yang akan membawa mereka ke kampung halaman akhirnya datang berhenti di depan halte. Suara mesin bus yang berat dan suara pintu yang terbuka dengan keras membuat Alea sedikit terkejut, namun dia segera tersenyum ketika melihat sopir bus yang memberikan senyum ramah kepada mereka.

Rian segera membantu anak-anak naik ke dalam bus, sambil juga meminta bantuan dari beberapa penumpang lain untuk mengangkat karung dan kotak barang mereka ke dalam bagasi bus. Setelah semua barang aman ditempatkan, mereka menemukan tempat duduk di bagian belakang bus yang agak lebih sepi dari bagian depan. Alea langsung berlama-lama melihat ke luar jendela, tertawa riang ketika melihat pepohonan dan rumah-rumah yang berlalu cepat di depan matanya.

“Kakak Hadian, lihat dong!” teriaknya dengan suara yang ceria, menarik lengan kakaknya. “Ada sapi yang sedang makan rumput di pinggir jalan! Warnanya putih dan besar banget!”

Hadian tersenyum dan melihat ke arah yang ditunjuk oleh adik perempuannya, kemudian menjelaskan dengan sabar tentang bagaimana sapi digunakan oleh petani untuk membajak sawah di kampung. Rian duduk di sebelahnya, melihat anak-anaknya yang tetap bisa memberikan semangat meskipun mereka sedang menghadapi kesulitan besar dalam hidupnya. Hatinya merasa hangat dan sedikit terharu melihat itu – meskipun mereka tidak punya banyak hal dalam hidup, anak-anak masih bisa menemukan kebahagiaan dalam hal-hal kecil yang seringkali diabaikan oleh orang dewasa.

Setelah beberapa jam perjalanan, bus berhenti di sebuah tempat makan kecil di pinggir jalan raya untuk jeda makan siang. Rian hanya punya uang terbatas, jadi dia membeli tiga mangkuk bubur ayam yang hangat dan beberapa es teh manis untuk anak-anak. Meskipun makanan sangat sederhana, anak-anak makan dengan sangat lahap dan penuh rasa syukur.

“Enak banget ya, Papa,” ujar Hadian dengan senyum lebar setelah menyelesaikan makanannya. “Bubur ayamnya lebih enak dari yang pernah kita beli di kota.”

Alea mengangguk dengan penuh kesetujuan, bibirnya masih sedikit bersih dari noda saus cabai yang dia suka makan. “Iya Papa,” tambahnya dengan suara yang lembut. “Kalau sudah sampai kampung, kita bisa makan bubur ayam setiap hari ya?”

Rian tertawa lembut mendengar kata-kata putrinya. Dia mengingat bagaimana di kampung halamannya, bubur ayam adalah makanan yang mudah ditemukan dan tidak terlalu mahal. “Kalau kamu mau, ya Nak,” jawabnya dengan senyum. “Kita bisa membuatnya sendiri juga lho, menggunakan bahan-bahan dari kebun sendiri.”

Setelah jeda makan siang selesai, mereka kembali naik bus dan melanjutkan perjalanan. Cuaca mulai menjadi lebih panas, namun angin yang masuk melalui jendela bus memberikan kesegaran yang cukup bagi mereka. Alea akhirnya tertidur di pangkuan ayahnya, boneka Kiki-nya masih erat terpeluk di dalam pelukannya. Hadian menggunakan waktu perjalanan untuk membaca buku cerita yang dia bawa, sesekali berhenti untuk menjelajahi pemandangan di luar jendela atau bertanya kepada ayahnya tentang hal-hal yang dia lihat.

“Papa, apa itu gunung ya?” tanya Hadian ketika bus mulai memasuki wilayah yang memiliki pemandangan perbukitan yang indah. “Warnanya hijau dan besar banget.”

Rian melihat ke arah yang ditunjuk oleh putranya dan tersenyum. “Itu adalah Gunung Slamet, Nak,” jawabnya dengan suara yang penuh dengan bangga. “Ketika Papa masih kecil seperti kamu, Papa sering pergi bermain ke kaki gunung itu bersama teman-teman sebaya. Ada banyak sungai yang jernih dan pepohonan yang rindang di sana.”

Hadian mendengarkan dengan penuh perhatian, matanya bersinar dengan rasa ingin tahu yang besar. Dia mulai bertanya tentang berbagai hal tentang kampung halaman ayahnya – bagaimana rumahnya dulu, apa saja yang ada di sana, siapa saja yang tinggal di sana. Rian menjawab setiap pertanyaan dengan sabar, merasa senang bahwa putranya menunjukkan minat yang besar pada tempat di mana dia tumbuh besar.

Seiring berjalannya waktu, matahari mulai bergeser ke arah barat dan memberikan warna jingga yang indah pada langit. Pemandangan di luar jendela mulai berubah dari pemukiman padat menjadi hamparan sawah yang luas dan perkebunan kelapa yang menjulang tinggi. Udara mulai terasa lebih segar dan bebas dari polusi kota, membawa aroma tanah lembab dan bunga-bunga liar yang tumbuh di pinggir jalan.

“Aku sudah bisa merasakan baunya, Papa,” ujar Hadian dengan senyum lebar, menghirup udara dengan dalam. “Baunya seperti tanah dan rumput segar.”

Rian mengangguk dengan senyum. Dia juga merasakannya – aroma khas kampung yang selalu membuat hatinya merasa tenang dan damai. Setelah bertahun-tahun tinggal di kota dan menghadapi segala kesulitan yang ada di sana, rasanya seperti dia akhirnya akan kembali ke tempat yang benar-benar bisa dia sebut sebagai rumah.

Ketika matahari mulai terbenam dan langit menjadi semakin gelap, bus akhirnya memasuki desa kecil yang menjadi kampung halaman Rian. Pemandangan jalanan yang lebih kecil, rumah-rumah kayu yang berdiri rapi, dan sosok-sosok orang yang mengenalnya mulai muncul di sekeliling. Alea yang sudah terbangun dari tidurnya melihat sekeliling dengan mata yang penuh rasa kagum, tertawa riang ketika melihat anak-anak lain yang sedang bermain bola di lapangan desa.

“Papa, kampungnya cantik banget ya!” teriaknya dengan suara yang ceria, menarik lengan ayahnya dengan penuh semangat. “Aku suka banget sama sini!”

Rian merasa mataharinya berkaca-kaca mendengar kata-kata putrinya. Setelah semua kesusahan yang mereka alami, setelah semua yang mereka lewati bersama-sama, akhirnya mereka tiba di tempat yang bisa menjadi awal dari kehidupan baru yang lebih baik. Dia melihat ke arah Hadian yang juga sedang melihat sekeliling dengan ekspresi wajah yang penuh dengan harapan, dan tahu bahwa putranya juga merasakan hal yang sama.

Bus berhenti di depan sebuah warung kecil yang menjadi titik akhir perjalanan mereka. Rian segera membayar tiket perjalanan dan membantu anak-anak turun dari bus, kemudian mengambil barang-barang mereka dari bagasi. Saat mereka berdiri di depan warung kecil itu, melihat jalanan desa yang sudah mulai diterangi oleh lampu-lampu kecil yang memberikan cahaya hangat, Rian merasakan rasa lega yang luar biasa menghampiri dirinya.

“Kita sudah sampai di kampung kita sekarang, Nak,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan emosi, membungkus anak-anaknya dengan pelukan yang erat. “Ini adalah rumah kita sekarang, dan kita akan mulai hidup baru di sini – hidup yang lebih baik dan penuh dengan harapan.”

Hadian dan Alea mengangguk dengan penuh keyakinan, menyandarkan wajah mereka pada dada ayahnya yang memberikan rasa aman dan perlindungan yang mereka butuhkan. Meskipun perjalanan panjang telah membuat mereka merasa lelah, semangat dan harapan untuk masa depan yang lebih baik tetap membara dalam hati mereka. Mereka tahu bahwa jalan yang akan ditempuh di kampung halaman ini tidak akan mudah, namun dengan cinta dan dukungan satu sama lain, serta dengan bantuan keluarga besar yang tinggal di sana, mereka yakin bahwa mereka akan bisa membangun kehidupan yang layak dan bahagia bersama-sama.

1
Dewiendahsetiowati
ada typo Thor Budi yang harusnya kakak jadi ayah
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!