NovelToon NovelToon
Wanita Mantan Narapidana

Wanita Mantan Narapidana

Status: tamat
Genre:Single Mom / Janda / Selingkuh / Bad Boy / Chicklit / Tamat
Popularitas:30.8k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Lembayung Senja, namanya begitu indah, namun, tak seindah nasib hidupnya.

Pernikahannya bahagia, tapi rusak setelah seorang wanita hadir diantara dirinya dan sang suami.

Fitnah yang kejam menghampirinya, hingga ia harus berakhir di penjara dengan tuduhan membunuh suaminya sendiri pada malam pertengkaran terakhir mereka.

Kelahiran bayi yang seharusnya menjadi hadiah pernikahannya bersama Restu Singgih suaminya, justru harus di warnai tangis nestapa, karena Lembayung melahirkan bayinya di balik jeruji penjara. Dua puluh tahun berlalu, Lembayung mendekam di penjara atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.

Setelah bebas, Albiru justru berkata bahwa ia malu memiliki Ibu seorang mantan narapidana.

Akankah Lembayung menemukan kembali kabahagiannya setelah sekian lama menanggung derita tanpa berbuat dosa? Bagaimana Lembayung memperbaiki hubungan dengan Biru yang kini telah sukses? Pembalasan apa yang akan Lembayung lakukan pada orang-orang yang telah mengkhianatinya dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rezeki Yang Kian Bertambah

#15

Di desa tempat Karmila dan Ismail mengasuh dua putra mereka. 

“Mila! Karmila!” seru Bu Halimah pada putri keduanya dari depan teras rumahnya. 

Karmila yang masih menina bobokkan Biru, segera meletakkan bayi berusia hampir 4 bulan itu ke pembaringan. Syukurlah Biru sudah nyenyak, kini saatnya memandikan Firza yang tadi pagi di bawa Bu Halimah ke rumahnya. 

“Ma ma ma ma—” oceh Firza sambil memainkan labu siam rebus di tangannya. Anak itu sudah mulai belajar makan, dan suka sekali menggigit labu siam rebus karena teksturnya yang renyah serta cukup berair. 

Karmila turun dari teras rumah, kemudian mengambil Firza dari gendongan Bu Halimah. “Karena mengurus anak orang, jadi lupa kau dengan anak sendiri,” ucap Bu Halimah dengan sinis. 

Karmila hanya diam, karena telah terbiasa dengan ucapan bernada sindiran pedas dari Bu Halimah. “Terima kasih, sudah menjaga Firza, Mak.” 

Bu Halimah pun berbalik pergi, wanita itu enggan masuk, karena benci melihat keberadaan Biru di rumah Karmila, “Biru bukan anak orang lain, Mak. Biru anak Bang Restu, putra Mamak.”

Usai mengucapkan kalimatnya, Karmila juga berbalik masuk ke dalam rumahnya, tanpa menghiraukan Bu Halimah yang terdiam tanpa bersuara lagi. 

Sejak mendengar kabar bahwa Karmila dan Ismail mengasuh anak Ayu dan Restu, Bu Halimah cukup murka. 

Kemarahannya tak berdasar, karena melampiaskan pada cucunya sendiri. Padahal bila bersedia melongok lebih dalam, Ayu sama sekali tak bersalah, hanya nasib baik tak berpihak padanya malam itu, hingga ia yang dituduh menjadi pembunuh suaminya sendiri. 

Bila benci sudah mengakar, maka semua yang ada di depan mata akan tertutup oleh keangkuhannya sendiri. Begitulah Bu Halimah yang hingga kini enggan menatap cucu kandungnya sendiri. 

Di perjalanan pulang, Bu Halimah berpapasan dengan Ismail yang baru pulang dari sawah sambil mengendarai motornya dengan terburu-buru. “Mak, darimana?” 

“Dari rumah kau.” 

“Kenapa tak masuk? Kan bisa sarapan dulu, tadi pagi Mila masak rendang itik kesukaan Mamak.” Dengan baik hati, Ismail menawarkan makanan pada sang mertua. Sama sekali tak menyebut-nyebut nama Biru, karena berpotensi menimbulkan amarah Bu Halimah. 

“Tidak, terima kasih.” 

Ismail hanya diam, tapi paham. Tak perlu lagi berucap. “Oh, iya. Kenapa kau buru-buru pulang? Siapa yang mengawasi para pekerja sekarang?” selidik Bu Halimah, belum juga bisa mempercayai hasil kerja Ismail. 

“Sudah, Mak. Semua pekerjaan di sawah telah usai, sekarang aku mau ke pasar, ada yang mau ambil pesanan gula dan tepung.”

Bu Halimah pun melenggang pergi, Ismail kembali melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah. 

“Assalamualaikum,” ucap Ismail kala membuka pintu rumah. 

“Waalaikumsalam. Bang, sarapan dulu,” kata Mila mempersilahkan sang suami untuk bersantap. 

“Biru, mana?” 

“Sudah tidur, tadi agak rewel setelah selesai mandi, mungkin pagi tadi bangunnya kepagian,” ungkap Mila sambil membasuh tubuh putranya dengan air dan sabun mandi. 

Ismail melongok ke kamar, senyumnya merekah kala menatap wajah damai Biru yang pulas dalam mimpi indahnya. 

Dalam hatinya ia tak pernah menganggap Biru sebagai keponakan, tapi sungguh-sungguh menyayangi bayi itu sama besarnya dengan kasih sayangnya pada Firza. 

Ismail kembali ke dapur untuk mencuci tangan sebelum mulai sarapan. “Bang, tadi Bu Kades sms, katanya mau ambil pesanan gula dan tepung.” 

“Iya, Abang ingat, kok. Makanya Abang buru-buru pulang dari sawah.” 

“Alhamdulillah, ya, Bang. Padahal kalau gelar hajatan, Bu Kades selalu pesan kue dari kota. Sekarang kita jadi kecipratan rezeki.” 

“Iya, Alhamdulillah, rezekinya anak-anak. Ma.” 

Sejak kedatangan Biru di rumah mereka, Ismail dan Karmila merasa selalu ada rezeki dadakan yang tiba-tiba datang tanpa diduga. Kadang pembeli di toko datang dan pergi, tanpa henti hingga toko sembako itu tutup menjelang sore. Atau terkadang ada pesanan sembako dalam jumlah cukup besar. 

Seperti sekarang, Bu Kades hendak menggelar hajatan menikahkan putra sulungnya. Tapi Semua kue-kue dibuat sendiri secara gotong royong bersama para tetangga, jadilah Ismail pun kecipratan rezeki, karena ada pesanan gula dan tepung dalam jumlah cukup besar. 

Lalu padi-padi di sawah, hasilnya sangat melimpah, padahal milik para tetangga hasilnya rata-rata saja seperti panen-panen sebelumnya. Jadi Bu Halimah tetap dapat uang hasil panen, dan rezeki Ismail dari hasil mengurus sawah juga bertambah semakin banyak. Karena kualitas berasnya super, maka Ismail bisa menaikkan harga jual beras ke para tengkulak. 

Selain itu, perubahan pun terjadi pada Firza, putranya. Sejak kedatangan Biru, Firza jadi lebih tenang, tidak rewel lagi jika malam datang. Padahal ia harus berbagi ASI dengan Biru, seolah-olah mereka mereka berdua mengerti bahwa keduanya punya  takaran rezekinya masing-masing. 

Semua perubahan itu Ismail syukuri, sekaligus menjadi pemicu semangatnya untuk bekerja lebih keras lagi, demi menghidupi keluarga kecilnya. 

Beberapa saat kemudian, keluarga kecil itu pergi ke toko mereka yang ada di pasar induk, karena belum mampu membayar karyawan, maka Ismail mengelola toko sembako tersebut bersama istrinya sendiri. 

“Bulan depan, bila toko kita tetap ramai begini, Abang berencana mempekerjakan pegawai. Bagaimana menurutmu?” tanya Ismail ketika mereka dalam perjalanan menuju pasar. 

“Kenapa, Bang? Kok, sepertinya mendadak?” 

“Abang merasa bersalah pada kau dan anak-anak. Karena harus ikut berjibaku di toko.”

“Aku tak keberatan, Bang.”

“Tapi aku keberatan, karena kasihan juga anak-anak, di siang hari suasana toko sangat berdebu. Bagaimana jika debu mengganggu pernafasan mereka?” 

Karmila terdiam, tapi ia juga membenarkan. “Ya, sudah, terserah Abang saja, semoga dengan begitu, rezeki kita bertambah lagi, karena harus membagi rezeki pada orang yang bekerja membantu kita.” 

“Amin.” 

•••

Di lapas. 

Perawat dari klinik memapah Ayu yang sudah sadar dari pingsannya. Wajah wanita itu pucat dengan rambut kusut yang di cepol asal-asalan. Tatapan matanya kosong seperti robot yang menunggu perintah, perawat mendudukkan Ayu di lantai ruangan yang berfungsi sebagai area masjid untuk para napi wanita. 

Kali ini, di masjid akan di selenggarakan kajian rutin bulanan, yang menghadirkan pembicara dari luar lapas. 

“Saudari sekalian, sadarilah bahwa semua yang kini sedang kita jalani adalah ujian, dan ujian bukanlah sebuah akhir. Jadi jangan sampai kita kehilangan semangat, karena datangnya musibah merupakan panggilan dari Allah agar kita kembali dan mendekat padanya.” 

“Jika Allah menurunkan sebuah musibah, bukan berarti Allah benci, tapi karena Allah yang paling tahu letak kelemahan kita. Allah sayang kita, dan ingin melihat kita meminta, dan memohon dengan sungguh-sungguh.” 

“Yakinlah, pintu rahmat dan kasih sayang Allah itu sangat luas. Dan terbuka untuk siapa saja yang mau mendekat pada-Nya.

Setelah acara kajian usai, Ayu masih duduk bersimpuh di tempatnya, Bu Dahlia yang selama ini menjadi pembina rohani untuk para napi datang dan duduk di samping Ayu. 

Bu Dahlia menyodorkan piring, di atasnya ada potongan cake manis rasa coklat. “Makanlah, semuanya sedang menikmati cake karena hari ini ada donatur yang memberikan kue ini untuk para penghuni lapas.” 

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sekarang baru terasa ya😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
memudar
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Pantes aja desainnya hasil curian semua karena emang otaknya ga mampu😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Didikan yg salah 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 👍🏻
Eva Karmita
ayu kamu harus kuat 😭😭😭😭
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
bagusss
Rahmawati
oke, lanjutttt
Endang Sulistia
Alhamdulillah ya yu...
Bun cie
karya yg bagus👍 cerita ttg ketidakadilan perselingkuhan fitnah dan kasih sayang ibu anak yg dikemas dengan baik.
trims kak thor
Er Ri
tetap lanjut dooonkk😄
Aditya hp/ bunda Lia
disini kekuasaan dan uang mengalahkan segalanya
R⁵
astaghfirullah othor bikin jantungan.. tau2 end wae😓
Patrick Khan
q kira tamat beneran..😁😁ternyata ada lanjutan nyok pindah tempat
DozkyCrazy
kaggettt 😁😁
Esther Lestari
dilanjut di judul yang lain....mampir ah
Siti Siti Saadah
baru di balas anak nya aja udah makjleb. gimana kalau ayu dah beraksi😄
Reni
huaaaaaa meluncur kak
Miranda mengutamakan cinta buta mungkinkah bakal cinta mati sama biru kita tunggu disebelah
Sh
ayoooo.. loyo makan apa ? atau dikasih koyo cabe biar the end sekalian😅😅
Nar Sih
ayu pasti jdi wanita hebat dgn bantuan juga arahan dri madam giana ,org yg sama,,terluka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!