Felix yang kecewa karena kekasihnya berselingkuh dengan orang lain, menghabiskan malam penuh gairah bersama seorang gadis penyanyi bar.
Syerly adalah seorang penyanyi bar yang cantik. Suara Syerly membuat Felix terpesona.
tetapi, semuanya berubah ketika Felix mengetahui kebenarannya.
Syerly ternyata sudah memiliki kekasih, dan kekasih Syerly adalah orang yang berselingkuh dengan pacarnya sendiri.
"Mengapa kau pura-pura tidak mengenaliku? Apa kau takut, pacarmu tahu?" Felix mendorong tubuh Syerly ke dinding.
Syerly hanya tertawa kecil, sambil menatap Felix.
"Kita hanya cinta satu malam. Mengapa kau menganggap serius? Atau... "
Syerly menarik kerah Felix dan wajah mereka sangat dekat.
"Kau mulai ketagihan denganku." Senyum kecil dari bibir Syerly membuat jantung Felix berdetak kencang.
"Ya." Felix tidak menyangkal. dia berbisik didekat telinga Syerly.
"Bahkan suara desahanmu masih aku ingat dengan jelas."
Hubungan mereka makin rumit dan berbahaya. Dan menja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti yulia Saroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Di dalam aula, Ivan dan Gio yang sudah datang sejak awal duduk menunggu kedatangan Felix. Seperti biasa, Ivan sibuk menggulir akun media sosialnya, memperhatikan unggahan teman-temannya.
"Lihat!" Ivan menyodorkan ponselnya didepan Gio.
"Thea mengumumkan putusnya hubungan dengan Felix dan langsung mengumumkan pacar barunya."
Setelah memastikan Gio melihat unggahan itu, Ivan kembali bicara dengan ragu-ragu.
"Mungkinkah Felix tahu tentang postingan Thea ini?"
"Felix tahu semua postingan di akun media sosial itu, kau pikir dari siapa lagi kalau bukan darimu? Apa kau benar-benar mengira dia sudah tahu?" Kata Gio dengan tenang.
"Enn..." Ivan bergumam.
"Aku pikir Felix belum tahu. Apa sebaiknya aku memberitahuanya?"
Ivan bertanya kepada Gio, tepat ketika Felix masuk dan mendengar percakapan mereka.
"Tidak perlu." Kata Felix datar, sambil duduk disebelah Gio.
Ivan dan Gio terkejut dengan kedatangan Felix yang tiba-tiba.
"Kau bilang, Felix belum mengetahuinya?" Bisik Ivan kepada Gio.
Tapi suaranya cukup keras untuk sampai di telinga Felix.
"Ada seseorang yang bertanya kepadaku sebelum aku datang kesini." Kata Felix tenang.
"Apa kau ingin pamer, karena kau sangat populer?" Ivan mendengus kesal.
"Bahkan beritamu tersebar dengan cepat didalam kampus."
Felix tidak menanggapinya, ia hanya tersenyum kecil. Seolah tidak terganggu.
Sementara itu, mahasiswa lain mulai memenuhi aula. Kursi-kursi perlahan terisi.
"Mengapa begitu banyak orang yang datang ke kelas?" Tanya Felix.
"Aku dengar fakultas Seni ikut bergabung hari ini." Jawab Gio.
Mendengar itu, Felix tanpa sadar menoleh ke arah pintu masuk. Tatapannya terkunci disana, seolah menunggu seseorang yang akrab muncul.
Satu per satu mahasiswa masuk, namun tak satu pun wajah yang ia cari terlihat.
"Berhenti menunggu!" Bisik Ivan.
"Banyak orang didalam fakultas Seni, Syerly tak akan berada disini secara kebetulan."
Felix menoleh menatap Ivan dengan kesal.
"Aku tidak menunggu Syerly." Katanya dingin.
"Aku hanya takut bertemu dengannya."
Ivan tertawa pelan melihat Felix yang gelagapan mencari alasan.
Tiba-tiba Ivan menunjuk kearah pintu.
"Lihat!" Kata Ivan.
"Itu Syerly."
Felix dengan cepat menoleh, tapi yang berdiri didepan pintu bukanlah Syerly tapi orang lain.
Tawa Ivan dan Gio pecah karena berhasil menggoda Felix.
"Bukankah tadi bilang kau tidak ingin melihatnya." Kata Ivan sambil nmenahan tawanya.
"Kau tidak akan menjilat ludahmu sendiri kan?"
"Sialan, Van!" Kata Felix, ia ingin memukul Ivan tapi terhalang oleh Gio yang duduk ditengah-tengah mereka.
Ivan tersenyum semakin lebar melihat kegagalan Felix melampiaskan kekesalannya.
Namun sebelum Ivan sempat melanjutkan godaannya, ia melihat seseorang memasuki aula.
Ia segera memberi isyarat pada Felix untuk menoleh ke belakang.
Felix menoleh.
Syerly masuk bersama Peter.
"Syer..." panggil Felix tanpa sadar.
Namun Syerly hanya meliriknya sekilas, dingin dan tanpa ekspresi, lalu kembali mengikuti langkah Peter.
Langkah mereka berdampingan. Tangan Peter menggenggam tangan Syerly dengan erat.
Felix terpaku, menatap tangan Peter, bahkan ketika lengan pria itu melingkari pinggang gadis tersebut.
Tatapan Felix seperti pedang, tajam dan dingin. Seolah-olah ingin memotong tangan Peter menjadi seribu bagian.
Melihat interaksi keduanya, membuat Felix merasa tidak nyaman. Seolah ada sesuatu yang membakar tubuhnya dari dalam.
Felix tidak bisa berhenti menatap Peter yang begitu dekat dengan Syerly.
Sampai ketika Syerly berbalik dan menatapnya dengan senyum kecil. Api besar yang berkobar perlahan-lahan mulai padam.
Langkah Syerly yang semakin mendekat kearahnya membuat senyum Felix semakin melebar.
Sampai akhirnya Syerly berhenti didepannya, Felix langsung menarik tangan gadis itu untuk duduk disampingnya, takut gadis itu akan berbalik pergi lagi.
"Rambutmu sedikit berantakan, aku akan membantumu merapikannya." Kata Felix dengan lembut.
"Aku lupa, kalau aku punya kelas lain." Keluh Syerly, memberi alasan mengapa rambutnya sampai berantakan.
"Aku harus ke gedung lain dan berlari kesini."
Felix mengangkat tangannya dan merapikan helai rambut Syerly yang jatuh ke depan wajahnya. Gerakannya lembut dan hati-hati.
Syerly diam dan membiarkan Felix menyentuh rambutnya. Ia menunduk sedikit, tersenyum kecil, sementara jarak di antara mereka terasa semakin dekat.
"Fel..." panggil Syerly pelan.
"Aku mengantuk."
Felix menghentikan gerakannya. Ia menatap Syerly dengan tatapan yang penuh kelembutan.
"Tidurlah." Katanya.
Syerly mulai bergerak. Ia merebahkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya diatas pangkuan Felix.
Felix menatapnya dengan senyum kecil.
"Kau seperti ini, apa kau tidak takut seseorang akan marah?" Tanya Felix.
Syerly membuka matanya, menatap Felix sebentar.
"Maksudmu pacarmu?" Katanya dingin.
Felix menggeleng kepalanya pelan.
"Aku tidak punya, kau tahu itu." Kata Felix tenang.
"Yang aku maksud punyamu."
"Aku tidak tertarik menjalin hubungan." Kata Syerly.
Felix tanpa sadar melirik kearah Peter.
"Lalu..." katanya pelan.
"Bagaimana dengan anak laki-laki disampingmu?"
"Makasudmu Peter?" Syerly tertawa kecil.
"Apa kau cemburu?"
"Bagaimana jika aku cemburu?" Felix menatapnya lurus.
"Apa kau ingin bertanggung jawab?"
"Bertanggung jawab untuk apa?" Tanyanya dengan malas.
"Perasaanmu?"
Felix mengangguk.
"Hati kecilku." Katanya.
Syerly mendengus pelan.
"Seolah-olah kau mempunyainya."
Wajah Felix berubah.
"Jangan sekejam itu!" Katanya sedih.
"Hati kecilku sudah terisi penuh dengan dirimu."
Syerly berpura-pura menjulurkan lidahnya seolah-olah ia jijik.
Syerly diam sebentar, lalu mulai berbicara dengan pelan.
"Aku dan Peter, kita hanya teman."
Suaranya lirih, tapi masih dapat didengar oleh Felix.
Syerly kembali memejamkan matanya mencoba untuk tidur.
Ia tidak menyadari ada seseorang yang telah tersenyum disepanjang kelas.
Gio dan Ivan melirik ke arah Syerly yang tertidur damai di atas pangkuan Felix.
Namun tatapan mereka langsung bertemu dengan sorot mata Felix yang dingin.
Keduanya spontan menoleh ke depan, tak berani melirik lagi.
Ivan menyenggol lengan Gio pelan.
"Apa ini yang dimaksud Felix takut bertemu Syerly." Bisik Ivan pelan.
Gio menahan senyum.
"Felix takut kehilangan kendali."
Lalu mereka berdua terkikik pelan.
"Lihat!" Kata Ivan lagi.
"Matanya tidak melihat kearah profesor, tapi malah fokus menatap orang yang sedang tidur."
Felix mengabaikan bisikan mereka. Dengan gerakan hati-hati, ia mengambil jaketnya lalu menyelimutkannya ke tubuh Syerly, memastikan gadis itu tetap nyaman.
Ia kembali menatap ke depan namun tangannya tetap diam di sana, seolah enggan membiarkan jarak tercipta di antara mereka.
Saat kelas berakhir, Felix dengan enggan membangunkan Syerly.
"Syer..." panggilnya lembut.
Syerly membuka mata. Tatapannya sempat bingung sebelum ia perlahan bangun.
Ia menunduk, menatap jaket yang menyelimuti tubuhnya, aromanya terasa begitu akrab.
Dengan gerakan pelan, Syerly melepaskan jaket itu dan mengembalikannya pada Felix.
"Terimakasih." Katanya pelan.
Felix mengangguk.
"Ya."
Felix memperhatikan Syerly merapikan barang-barangnya, lalu pergi tanpa menoleh lagi.
Setelah Syerly benar-benar menghilang dari pandangan, Ivan mengerutkan dahi.
"Sepertinya aku pernah melihatnya?" Katanya.
"Melihat apa?" Tanya Gio.
"Melihat kemeja yang dipakai Syerly." Jawab Ivan.
Felix menoleh dan tersenyum.
"Itu milikku." Katanya dengan bangga.
Ivan dan Gio terdiam.
"..."
"..."
"Masih perlu kita tanya tidak... apakaah Felix berhasil dengan Syerly?" Bisik Ivan kepada Gio.
Mereka berdua menatap senyum Felix yang belum hilang pada wajahnya.
"Tapi, ini sangat jelas." Lanjut Ivan.
Gio juga mengangguk.
"Ya... sangat jelas."
Mereka saling pandang, lalu berkata bersamaan.
"Felix sedang jatuh cinta."