Menceritakan kisah cinta seorang Guru Gen Z tampan bernama Dimas Aditya dengan janda muda cantik dan kaya raya bernama Wulan Anggraeni. Kedua nya di pertemukan oleh keadaan hingga akhirnya tumbuh gelombang cinta di hati mereka. Seiring berjalannya waktu, Dimas berhasil mencuri hati Wulan sekaligus menyembuhkan rasa traumanya atas kegagalannya di pernikahan pertama. Namun di satu sisi, sang mantan (Nayla) masih mengharapkan menikah dengan Dimas. Rasa sayangnya yang begitu dalam, membuat cinta segitiga di antara mereka tak terelakkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kukuh Basunanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dimas Menjadi Guru Privat Azka
Entah mengapa jatung Wulan berdebar-debar saat bertemu dengan Dimas begitu pun sebaliknya Dimas jadi salah tingkah berjumpa dengan janda satu anak itu.
"Ya udah, mamah tinggal dulu yah Azka, selamat belajar sama mister Dimas" ujar Wulan kepada Azka.
Wulan kembali ke kamarnya kemudian ia berdiri di depan cermin sembari tersenyum menata jilbabnya agar terlihat rapi. Sementara itu di ruang tamu, Dimas fokus mengajari Azka Bahasa Inggris.
"What is your problem in English ?" tanya mister Dimas kepada Azka.
"Ada banyak mister, pertama penguasaan vocabulary Azka masih minim, pronunciation nya masih jelek dan Azka gak pede kalau ngomong pake bahasa inggris"
"Sebenarnya Azka ngarti kalau ada orang yang ngajak ngomong pake bahasa inggris tapi Azka bingung ngejawabnya" terang Azka.
"Belajar bahasa itu masalah kebiasaan, kalau Azka terbiasa belajar bahasa inggris dan mempraktekannya nanti lama-lama bisa sendiri kok" ujar mister Dimas.
Dimas pelan-pelan mengajari Azka. Saat Azka terlihat jenuh, Dimas memecahkan suasana dengan ice breaking. Dari arah dapur bu Tini datang menjamu mister Dimas dengan secangkir kopi susu dan aneka cemilan.
"Silakan pak, di minum dulu !" seru bu Tini kepada Dimas.
"Wah kok repot-repot bu" respon Dimas.
"Gak ngrepotin kok, yang namanya tamu ya di jamu" ucap bu Tini.
"Guru privat nya Azka masih muda, ganteng lagi, saya panggilnya pak atau mas yah ?" tanya bu Tini kepada Dimas.
"Bebas bu, boleh panggil apa aja, yang penting jangan panggil sayang yah" canda Dimas kepada Bu Tini.
"Ih mas ganteng ternyata suka becanda" ucap bu Tini.
"Ya udah mas ganteng, saya kedapur lagi yah, selamat belajar Azka !" ucapnya lagi.
Kembali ke dapur, bu Tini bertemu dengan Wulan yang sedang membuat teh hangat untuk dirinya.
"Mba Wulan, biar saya aja yang bikin kan teh nya ?" kata Bu Tini.
"Gak usah bu Tini, aku juga bisa bikin sendiri kok" jawab Wulan.
"Mba Wulan itu tadi guru privatnya Azka yah ? ganteng ya mba ?" tanya bu Tini.
"Iya namanya mister Dimas, sebenarnya sebelumnya aku sama dia sudah pernah ketemu" jawab Wulan.
"Ketemu dimana mba ?"
"Kepo amat sih bu Tini he..he.."
Jadi waktu itu aku mau menghadiri resepsi pernikahan teman SMA, karna dia jalannya buru-buru gak fokus akhirnya nabrak aku" respon Wulan.
"Terus mba Wulan terjatuh, terus di bangunin mas Dimas sambil tatap-tatapan kaya di film gitu ?" canda bu Tini.
"Bu Tini apaan sih, ya gak lah" respon Wulan sambil tertawa kecil.
"Nah, Azka kan butuh banget nih datangin guru privat ke rumah, pas aku cari di group Facebook, gak di sengaja ternyata dia guru privatnya" lanjut kata Wulan.
"Wah berarti mba Wulan sama mas Dimas kayanya berjodoh nih ?" canda bu Tini lagi.
"Mulai lagi deh, bu Tini" ucap Wulan sembari tersenyum.
"Pas banget kok pokoknya, mba Wulan cantik dan mas Dimas ganteng" ucap bu Tini yang terus meledek majikannya.
"Udah ah, aku mau ke kamar lagi" ujar Wulan sambil senyum-senyum.
Durasi 90 menit telah terlalu. Azka telah selesai les privat bersama mister Dimas. Ia memanggil mamahnya di dalam kamarnya.
"Mah, Azka udah selesai les privat nya, itu mister Dimas mau pamit pulang" ujar Azka.
"Oh iya sayang" sahut mamah Wulan.
Wulan berjalan kembali menuju ruang tamu lalu bertemu dengan mister Dimas.
"Gimana mister, pertemuan pertama mengajar Azka ?" tanya Wulan.
"Alhamdulillah, Azka cepat menangkap kok mah, pinter dia cuma kadang kurang fokus aja" Jawab Dimas.
"Iya Azka memang kadang kurang fokus, yang sabar ya mister ngajarin Azka ! " seru Wulan.
"Insya Allah mah, sebenarnya masih hal wajar sih mah, ya namanya anak-anak ya gitu, sudah lumrah" sahut Dimas.
"Oh ya terkait biaya nya bagaimana mister ? saya bayar tiap pertemuan atau bulanan ?", tanya Wulan kepada Dimas.
"Bulanan aja gak papa kok mah"
"Kalau bulanan, saya bayarnya berapa ?" tanya Wulan kembali.
"Terserah mamah Azka aja, saya gak narif kok mah, sebenarnya saya ngajar les privat di jakarta cuma buat killing time aja mah" respon Dimas.
"Oh ya mister Dimas udah lama ngajar di BFS ?" tanya Wulan lagi.
"Baru beberapa hari kok mah, Alhamdulillah saya di percaya ngajar di situ" respon Dimas kembali.
Kalau begitu saya pamit dulu yah mamah Azka" ucap Dimas dengan senyum khas nya.
"Assalamualaikum"
"Walaikum sallam" jawab Wulan.
Jam menunjukan pukul 20.30 WIB. Berganti Wulan ke kamar anaknya, Azka.
"Gimana sayang tadi di ajar mister Dimas ?" tanya mamah Wulan.
"Mister Dimas ngajarnya enak kok mah, seru, gak mbosenin" jawab Azka.
"Alhamdulillah, berarti mamah gak salah dong pilih guru privat buat kamu sayang" ujar mamah Wulan.
"Oh ya kamu udah sholat isya belum ?" tanya mamah Wulan kepada Azka.
"Udah, barusan mah sebelum mamah kesini", sahut Azka.
"Alhamdulillah, kalau begitu, kamu istirahat dulu yah, tidurnya nya gak boleh malam-malam !" seru mamah Wulan.
"Iya mah" sahut Azka.
***
Di suatu malam sesudah mengajar les privat, Wulan menyuruh Dimas menginap di rumahnya. Wulan menyediakan kamar kosong di lantai dua untuk Dimas. Lokasi kamarnya hanya beberapa langkah saja dari kamar Wulan. Entah mengapa, malam itu hati Dimas merasa berdebar-debar. Rasanya ingin memeluk erat mamahnya Azka kemudian mengatakan I love you.
Tak lama berselang, Wulan mengirim chat whatsApp ke Dimas.
"Mister Dimas, aku kesepian, aku sudah lama hidup menjanda, mister Dimas mau kan tidur sama aku malam ini ? Pliss deh malam ini aja mister !" isi chat WhatsApp Wulan.
Hati Dimas seolah terguncang dengan permintaan mamah Azka tersebut. Rasa ingin dan rasa takut di hatinya saling tarik menarik hingga akhirnya Dimas melangkahkan kakinya menuju kamar Wulan.
Dimas memberanikan diri mengetuk pintu kamar Wulan.
"Tok .. tok ..tok " suara ketukan pintu.
"Silakan masuk aja mister, gak di kunci kok pintunya !" seru Wulan dari dalam kamarnya.
Saat Dimas membuka pintu kamar Wulan. Ia begitu tercengang melihat Wulan hanya menggunakan busana lingerie. Mata Dimas tak berkedip memandang mulusnya tubuh Wulan dari balutan lingerie yang transparan.
"Mister Dimas, sini sayang, bobok yuk sama mba !" pinta Wulan dengan suara manjanya.
Jantung Dimas semakin berdetak kencang, perang iman dan nafsu bergejolak di dalam hatinya. Pelan-pelan Dimas melangkah ke arah Wulan.
Berada persis di depan Wulan, tangan Dimas mulai menggenggam telapak tangan Wulan lalu menciumnya. Wulan membalasnya dengan ciuman di pipi Dimas. Bibirnya terus berjalan dan mendarat di pangkal bibir Dimas. Keduanya saling melumat bibir satu sama lain. Wulan berbisik lirih di telinga Dimas.
"Mister, kamu sayang sama mba ? " tanya Wulan dengan penuh manja.
Dimas mengganggukan kepalanya.
Kembali bibirnya melumat bibir tipis Wulan. Senandung kecukupan terdengar lirih. Tangan Dimas mulai reflek menyentuh dua gunung Wulan lalu meremasnya pelan-pelan. Dimas semakin liar dan nakal, tangannya merobek lingerie merah yang di pakai Wulan lalu melemparkannya ke lantai.
Wulan menjadi telanjang bulat. Mata Dimas melebar melihat keindahan tubuh Wulan yang sangat mulus dan kuning langsat. Wulan tersenyum tersipu malu sembari menutup dua gunung dan kebun rindangnya dengan tangannya .
"Aku malu mister" ucap Wulan.
Dimas menyingkirkan kedua tangan Wulan dan menatap jelas seluruh bagian tubuh Wulan yang selama ini tertutup jilbab dan gamis panjang.
Tangan Dimas mulai mendorong pelan tubuh Wulan hingga ia dalam posisi terlentang. Tangannya menyasar ke kebun rindang Wulan. Perlahan ia memasukan dua jarinya ke dalam goa milik Wulan. Suara desahan dan gerangan Wulan membuat pisang Dimas semakin membesar.
Dimas segera membuka pakaiannya. Wulan begitu terpukau melihat jelas tubuh atletis guru privat anaknya itu. Perutnya sixpack seperti roti sobek membuat mata Wulan tak berkedip memandangnya.
Wulan meraih pisang besar milik Dimas dengan tangannya lalu mengocoknya. Berlahan Wulan memasukan pisang Dimas ke dalam goa miliknya.
Dimas menusuk pelan hingga menaikan tempo yang semakin cepat. Mata Wulan merem melek dan mulutnya menganga di iringi suara desahan penuh kenikmatan. Dimas menaikan tempo tusukan pisangnya di goa Wulan sembari meremas payudara Wulan hingga larva hangat mulai menyembur di dinding goa.
"Aaaaah ..." suara puncak klimaks Dimas.
Tiba-tiba saja Dimas terbangun dari tidurnya.
"Sialan, ternyata aku mimpi", gumamnya dalam hati.
Dimas menoleh ke bawah, celana dalamnya menjadi basah dan lengket.