NovelToon NovelToon
Ksatria Untuk Alisa

Ksatria Untuk Alisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Cinta pada Pandangan Pertama / Persahabatan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Lampu jalan di depan rumah dinas Cakra berkedip, menyisakan bayangan panjang dan dingin di teras. Alisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung Sancaka Naratama. Sanca mengenakan kaus gelap, dan bahunya tampak tegang. Mereka baru saja berdebat hebat tentang penugasan luar pulau mendadak yang diterima Cakra.

“Ayah pergi lagi, Sanca. Apa kau pikir aku tidak mengerti apa arti seragam itu?” Suara Alisa tercekat, ia berusaha keras menahan isaknya.

Sanca berbalik, tatapan matanya yang biasanya hangat kini terasa lelah. “Aku mengerti, Lis. Seragam itu artinya pengabdian. Ada risiko, ada jarak. Tapi ada kehormatan juga, yang dulu diajarkan Ayahmu padaku.”

“Kehormatan?” Alisa melangkah maju, napasnya memburu. “Honorku adalah ditinggalkan! Ibuku hilang. Satria memilih pergi demi nama keluarga. Dan sekarang, Ayah juga pergi lagi ke tempat berbahaya. Aku lelah mencintai orang yang selalu siap menghilang!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Badai

Langit di atas pegunungan itu seolah tumpah. Siang yang seharusnya benderang berubah menjadi temaram kelabu dalam hitungan menit. Di depan gerbang SMA yang terletak beberapa kilometer dari markas, Alisa berdiri mematung. Angin kencang mulai meliuk-liuk, memainkan dahan pohon akasia di pinggir jalan dengan suara derit yang mengerikan. Ia melirik jam tangan elektroniknya—sudah lewat tiga puluh menit dari jadwal jemputan biasanya. Kopda Anwar, ajudan Ayahnya, belum juga menampakkan batang hidungnya. Sinyal ponsel di daerah ini, yang biasanya stabil berkat tower Satria, mendadak lumpuh total karena sambaran petir yang memutus jalur transmisi utama.

Alisa mendekap tasnya erat-erat ke dada. Hujan turun dengan intensitas yang tidak masuk akal, menciptakan tirai air yang membuat jarak pandang hanya tersisa dua meter. Di tengah kecemasan itu, ia tidak tahu bahwa di markas batalyon, situasi sedang kacau. Cakra berdiri di ruang monitor, menatap radar cuaca yang menunjukkan warna merah pekat di atas jalur sekolah Alisa. Ia mencoba menghubungi Anwar, namun radio panggil hanya mengeluarkan suara statis. "Anwar terjebak longsor kecil di jalur logistik bawah, Mayor!" lapor salah satu petugas jaga.

Jantung Cakra berdegup kencang—jenis degupan yang hanya ia rasakan saat berada di bawah baku tembak musuh. Tanpa berpikir panjang, ia menoleh ke arah Satria yang kebetulan sedang berada di ruang komunikasi untuk memperbaiki gangguan sinyal. Cakra menatap pemuda itu dengan tatapan yang sangat intens, campuran antara keputusasaan dan perintah absolut.

"Satria, ambil motor trail dinas. Jemput Alisa sekarang. Jalur utama tertutup pohon tumbang di titik dua, kamu harus lewat jalur setapak hutan. Amankan dia, Satria. Itu perintah!" suara Cakra serak, penuh beban.

Satria tidak membuang waktu. "Siap, laksanakan, Mayor!" Tanpa jas hujan yang memadai, ia memacu motor trailnya menembus badai. Di benaknya hanya ada satu nama: Alisa.

Pertemuan di Tengah Badai

Alisa hampir saja memutuskan untuk berjalan kaki saat sebuah cahaya lampu depan motor menembus pekatnya hujan. Deru mesin trail yang tangguh itu sangat ia kenali. Saat pengendara itu membuka kaca helmnya, Alisa merasakan napasnya kembali normal.

"Kak Satria!" teriak Alisa di antara gemuruh petir.

"Naik, Alisa! Pakai ini!" Satria melemparkan jaket taktis anti-air cadangannya. Suaranya lantang, berusaha mengalahkan suara angin. Alisa segera naik, memegang pundak Satria dengan gemetar. Motor itu pun melesat, membelah genangan air yang mulai setinggi betis.

Perjalanan itu adalah mimpi buruk. Jalanan hutan yang mereka lalui sangat licin, penuh dengan lumpur dan bebatuan yang bergeser. Satria mengerahkan seluruh kemampuannya mengendalikan kemudi. Alisa memejamkan mata, memeluk punggung Satria erat-erat. Ia bisa merasakan otot punggung pemuda itu yang tegang, fokus sepenuhnya pada keselamatan mereka.

Tiba-tiba, sebuah suara dentuman keras—KRAK!—terdengar dari arah kanan atas.

"Awas!" Satria berteriak sekencang mungkin.

Sebuah pohon pinus raksasa yang sudah tua tumbang tepat di depan mereka. Dalam hitungan milidetik, Satria menginjak rem belakang dan membanting setir ke kiri. Ban motor itu selip, berdecit di atas lumpur, dan mereka tergelincir jatuh tepat saat dahan pohon itu menghantam tanah hanya beberapa sentimeter dari ban depan mereka.

Dunia seolah berhenti berputar bagi Alisa. Ia terjatuh ke atas tumpukan daun basah, sementara Satria dengan sigap menggunakan tubuhnya sendiri untuk menahan motor agar tidak menindih kaki Alisa. Satria segera bangkit meski bahunya menghantam batu cukup keras.

"Alisa! Kamu tidak apa-apa?!" Satria meraih wajah Alisa dengan tangan yang berlumuran lumpur, matanya memancarkan kecemasan yang luar biasa.

"Aku... aku tidak apa-apa, Kak," bisik Alisa, suaranya bergetar hebat. Ia melihat luka lecet di pelipis Satria yang mulai mengeluarkan darah, tersapu oleh air hujan. "Kakak berdarah..."

"Lupakan soal itu. Kita harus segera sampai sebelum pohon lain tumbang," Satria menarik Alisa berdiri, memastikan gadis itu bisa berjalan. Meski motornya sedikit rusak pada bagian lampu, Satria berhasil menyalakannya kembali. Mereka melanjutkan perjalanan dengan kecepatan yang lebih rendah, melewati sisa-sisa reruntuhan pohon dengan hati-hati.

Di teras rumah dinas, Cakra mondar-mandir seperti harimau yang terluka. Ia sudah mengenakan jaket tempurnya, bersiap untuk berangkat sendiri jika dalam lima menit Satria tidak muncul. Keheningan pangkalan yang hanya diisi suara hujan terasa begitu mencekam.

Saat deru motor Satria akhirnya terdengar masuk ke halaman, Cakra langsung berlari turun ke tanah. Ia melihat Alisa turun dari motor dalam keadaan basah kuyup, gemetar, dan kotor. Satria menyusul di belakangnya, tampak jauh lebih berantakan dengan darah yang mulai mengering di pelipisnya.

Melihat putrinya dalam kondisi seperti itu, rasa khawatir Cakra seketika meledak menjadi amarah yang buta—sebuah mekanisme pertahanan diri dari rasa takut yang teramat sangat.

"Kamu tahu jam berapa ini, Satria?!" bentak Cakra, suaranya menggelegar mengalahkan suara hujan yang mulai mereda. "Aku memerintahkanmu untuk menjemputnya, bukan membawanya dalam bahaya! Lihat kondisinya! Kenapa kalian bisa terlambat hampir satu jam?!"

Cakra melangkah maju, tangannya mengepal. Matanya menatap Satria dengan kemarahan yang bisa membuat prajurit mana pun lari ketakutan. Satria berdiri tegak, ia tidak membela diri. Ia menerima amarah sang Komandan sebagai tanggung jawabnya.

"Lapor, Mayor. Kami mengalami kendala di jalan hutan. Ada pohon tumbang yang..."

"Cukup! Aku tidak butuh alasan teknismu! Jika terjadi sesuatu pada Alisa, kamu yang akan aku hajar!" Cakra menarik tangan Alisa untuk masuk ke dalam rumah.

Namun, Alisa melepaskan pegangan tangan Ayahnya dengan sentakan yang tidak terduga. Ia melangkah maju, berdiri tepat di depan Satria, menghadap langsung ke arah Ayahnya yang sedang murka.

"Ayah, berhenti!" suara Alisa tajam dan bergetar karena emosi. "Jangan marahi Kak Satria!"

Cakra tertegun. Ini adalah pertama kalinya Alisa berani menentangnya dengan suara sekeras itu.

"Dia melindungiku, Yah! Pohon itu hampir menimpa kami, dan Kak Satria membanting motornya agar aku tidak terluka. Dia menyelamatkan nyawaku!" Alisa menunjuk ke arah pelipis Satria yang terluka. "Lihat dia! Dia terluka karena melindungiku, sementara Ayah hanya tahu cara marah-marah!"

Tanpa mempedulikan protokol atau rasa malu, Alisa berbalik dan memeluk Satria dengan erat di depan mata Ayahnya. Satria tampak sangat canggung dan ragu untuk membalas, namun ia membiarkan Alisa mencari perlindungan di balik bahunya.

Cakra terdiam seribu bahasa. Amarah yang tadi membakar dirinya seketika padam, digantikan oleh rasa malu yang dingin. Ia melihat bagaimana Satria tetap berdiri tegap, mengabaikan lukanya sendiri, dan hanya fokus memastikan Alisa tetap tenang. Cakra baru menyadari bahwa selama ini ia melihat Satria sebagai 'pesaing' di hati Alisa, padahal Satria adalah orang yang bersedia menjadi perisai bagi putrinya saat ia sendiri tidak bisa berada di sana.

Alisa melepaskan pelukannya, lalu berlari ke arah Cakra dan memeluk Ayahnya dengan tangis yang akhirnya pecah. "Aku takut sekali tadi, Yah... pohon itu besar sekali..."

Cakra mendekap putrinya erat-erat, mencium puncak kepalanya yang basah. "Maafkan Ayah, Lis. Maafkan Ayah..."

Mata Cakra beralih ke arah Satria yang masih berdiri di bawah hujan. Tatapannya tidak lagi mengandung api amarah, melainkan sebuah pengakuan yang sunyi. Ia melihat seorang ksatria sejati pada diri pemuda itu—seseorang yang tidak butuh pujian atau pembelaan, hanya butuh kepastian bahwa tugasnya melindungi orang yang dicintai telah selesai.

"Satria," panggil Cakra, suaranya kini tenang dan berat.

Satria memberikan hormat militer. "Siap, Mayor."

"Bawa motor itu ke bengkel pangkalan. Setelah itu, segera ke balai pengobatan. Obati pelipismu," Cakra terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih manusiawi. "Terima kasih... terima kasih sudah membawa Alisa pulang dengan selamat."

Satria tersenyum tipis, sebuah senyum yang tulus. "Siap, Mayor. Itu adalah kehormatan bagi saya."

Malam itu, di bawah atap rumah dinas yang mulai hangat oleh uap teh, Cakra menyadari satu hal yang fundamental. Putrinya telah tumbuh dewasa, dan ksatria yang akan menjaganya mungkin bukan lagi dirinya sendirian. Di luar sana, di barak perwira, Satria mungkin sedang mengobati lukanya, tapi di dalam rumah ini, Cakra baru saja mulai mengobati ego ayahnya yang keras. Alisa, dengan keberaniannya membela Satria, telah menunjukkan bahwa ia mampu memilih siapa yang layak mendapatkan kepercayaannya. Badai sore itu mungkin merusak pangkalan, tapi ia justru memperkuat fondasi kepercayaan di antara tiga orang ksatria yang berbeda generasi tersebut.

1
panjul man09
disetiap kesulitan ada kemudahan ,disetiap kesedihan akan ada kebahagiaan , setelah hujan muncullah pelangi , author 👍👍👍👍👍
panjul man09
ujian hati dimulai
panjul man09
ceritanya sangat menyentuh hati ,kalimat yg digunakan jauh lebih berbobot daripada cerita novel yg lain ,authornya sangat pandai memainkan perasaan
panjul man09
👍😍👍😍👍😍
panjul man09
👍👍👍👍👍
panjul man09
cuman 2 pemerannya ? tdk ada pemeran ketiga ?
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
mereka memelukan sosok ibu
panjul man09
sebaiknya cakra menikah lagi
david 123
terharu Thor...ttp semangat ya ..cerita ini bisa sbg movitasi bagi anak yg berjuang mencari jadi dirix melalui bakat dan minat.
david 123
aduh baca sambil berderai air mata..alurx..keren..sangat menyentuh...hati...luar biasa Thor ..ceritamu ini...ttp semangat dg ide -ide cermelangx....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!