Dulu Salma Tanudjaja hidup dalam kebodohan bernama kepercayaan. Kini, ia kembali dengan ingatan utuh dan tekad mutlak. Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi adalah kisah kesempatan kedua, kecerdasan yang bangkit, dan balas dendam tanpa cela. Kali ini, Salma tak akan jatuh di lubang yang sama, ia yang akan menggali lubang itu untuk orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lumayan Buat Beli Beras
"Udah berani maki-maki gue, kok sekarang gemeteran pas gue tantang balik?"
Salma menatap dingin ke arah Sarah yang wajahnya kini pucat pasi. Tanpa memutus kontak mata, Salma menempelkan ponsel ke telinga. Suaranya terdengar jernih di keheningan kelas X-7.
"Ke sini sekarang."
Sarah mundur selangkah, bibirnya gemetar. "Sal... lo mau ngapain?"
"Ck, tadi katanya nggak takut? Santai aja, gue bukan setan yang bakal makan orang," cibir Salma.
"Salma Tanudjaja! Gue cuma minta kontak dua cowok itu, perlu banget lo memperbesar masalah kayak gini?" Sarah mencoba membela diri dengan suara tinggi, berharap teman sekelas membantunya. Namun nihil, semua orang mendadak sibuk sendiri.
Salma mendengus kasar. "Gue bingung sama isi kepala lo. Gue sadar gue bukan uang merah yang disukai semua orang, tapi emangnya gue sehina itu sampai kalian segitu bencinya?"
Dia melipat tangan di dada, matanya menyapu seisi kelas. "Kalian itu cuma kumpulan pengecut yang bisanya ikut-ikutan. Dulu gue diem karena males ngeladenin sampah. Tapi inget, mulai sekarang, siapa pun yang cari gara-gara sama gue, jangan harap gue bakal ngalah lagi. Lo jual, gue borong!"
Naya bertepuk tangan heboh dari bangkunya. "Mantap! Emang harusnya lo ngamuk dari dulu, Sal. Biar orang-orang ini nggak lupa gimana cara nulis nama besar 'Tanudjaja'. Mereka pikir mereka siapa, jalan miring kayak kepiting?"
Di tengah ketegangan itu, dua sosok tinggi tegap muncul di ambang pintu. Aura mereka begitu mengintimidasi hingga membuat suhu ruangan terasa turun beberapa derajat.
"Denger-denger, ada yang lagi nge-bully Nona Muda kita?" Yoga Baskara bersandar di pintu, senyumnya miring dan berbahaya.
Semua mata tertuju pada Yoga dan Surya. Wajah Sarah langsung memerah padam, tersipu melihat cowok ganteng yang tadi ia bicarakan muncul di depan mata.
"Pas banget kalian dateng. Tuh, ada yang maksa minta kontak kalian, terus ngatain gue cewek murahan," adu Salma santai.
Wajah Surya langsung berubah gelap. "Siapa yang berani ngatain lo?"
Yoga terkekeh sinis. "Nyali gede juga. Maju sini, gue mau liat tampang orang yang berani cari mati sama Nona Besar Tanudjaja."
Sarah, dengan tingkat kepercayaan diri yang tidak masuk akal, melangkah maju. Dia berpikir Yoga membelanya. "Itu aku, Kak. Habisnya Salma munafik banget. Kakak nggak usah dengerin dia lagi."
Sarah bahkan mencoba menggandeng lengan Yoga dengan manja. "Kenalin, aku Sarah. Makasih ya udah objektif. Boleh minta ID Line?"
Respons Yoga di luar dugaan. Dia menepis tangan Sarah seolah baru saja disentuh kuman, lalu mundur selangkah dengan ekspresi jijik. "Jangan sentuh gue. Gue paling anti sama cewek bodoh."
Senyum Sarah membeku.
"Kapan gue bilang gue belain lo? Lo tahu nggak konsekuensinya ngatain Salma Tanudjaja di depan muka gue?" Suara Yoga rendah namun menusuk. "Sampah kayak lo berani nginjek kepala keluarga Tanudjaja? Mending lo urus surat pindah sekolah sekarang sebelum gue yang urus. Kalau gue yang turun tangan, nasib lo nggak bakal cuma sekadar drop out."
Sarah jatuh terduduk. Kakinya lemas. Rasa takut akhirnya meruntuhkan gengsinya. Dia merangkak memeluk kaki Salma. "Salma, aku salah! Tolong maafin aku! Aku janji jadi babu lo, asal jangan keluarin aku!"
Salma melepaskan tangan Sarah dari kakinya perlahan. Tatapannya datar.
"Sekarang baru nyesel? Sayangnya, gue bukan Salma yang dulu lagi. Hidup itu nggak jual obat penyesalan. Apa kata Kak Yoga, itu keputusan final."
Insiden itu membuat Yoga dan Surya memutuskan untuk berjaga tepat di depan pintu kelas. Salma protes, tapi Yoga bersikeras. Akibatnya, satu sekolah gempar. Belum pernah ada murid Citra Bangsa yang membawa pengawal pribadi masuk sampai depan kelas.
Guru-guru mengajar dengan gemetar, takut salah ngomong. Sementara Farel Barata, sang Ketua OSIS, merasa otoritasnya diinjak-injak.
"Bawa tim keamanan, usir dua orang asing itu dari Citra Bangsa!" perintah Farel pada Kepala Keamanan Sekolah dengan wajah gelap.
Namun saat tim keamanan tiba, Salma dan rombongannya sudah tidak di kelas. Mereka sedang menggelar "piknik" dadakan di rumput pinggir lapangan karena kantin penuh.
"Gila, coba ada bir dingin, mantep nih," celetuk Yoga sambil melahap makan siangnya.
Salma melirik tajam. "Ini sekolahan, Kak. Tolong jangan racuni tunas bangsa dengan gaya hidup menyimpang."
"Cih, tunas bangsa? Tunas iblis kali yang cocok buat lo," cibir Yoga.
Saat itulah Kepala Keamanan datang dengan napas ngos-ngosan dan wajah pucat. Dia takut pada Farel, tapi lebih takut lagi melihat dua pemuda tegap di sebelah Salma.
"Nona... Nona Salma..." Bapak itu menunduk sopan, keringat dingin membasahi seragamnya. "Se-sekolah punya aturan... orang luar dilarang lama-lama di dalam. Mohon kerja samanya..."
Salma langsung paham. Ini pasti ulah Farel. Dia tersenyum ramah, tahu bapak ini hanya bawahan yang terjepit. "Baik, Pak, saya paham. Nanti setelah makan siang, saya suruh mereka keluar. Bapak mau makan bareng dulu?"
"Ti-tidak usah, Nona! Terima kasih!" Bapak itu langsung kabur secepat kilat sebelum para tuan muda itu berubah pikiran.
Yoga membanting sendoknya. "Aturan macam apa ini? Berani ngusir gue? Sal, gue kasih tahu ya, lo yang nyuruh kita masuk, kalau lo nyuruh kita keluar gitu aja, gue nggak terima! Kalau lo kenapa-napa siapa yang tanggung jawab?"
"Keluarga Abhimana yang tanggung jawab."
Suara bariton yang berat terdengar dari balik pohon. Aksa Abhimana muncul dengan senyum tipis yang jarang ia perlihatkan.
"Aksa! Sini!" Mata Salma langsung berbinar. Dia menepuk rumput kosong di sebelahnya.
Aksa duduk tanpa ragu. Salma dengan antusias menyuapkan potongan ayam ke mulut Aksa. "Udah makan belum? Nih, cobain, enak banget."
Aksa menerima suapan itu, menikmati perlakuan spesial dari gadis itu. Yoga yang melihat pemandangan itu melongo tak percaya. Dia, Tuan Muda Baskara yang gantengnya paripurna, dimarahin terus sama Salma. Sedangkan cowok yang baru datang ini diperlakukan bak raja?
"Heh, lo siapa?" tanya Yoga sewot.
Salma melotot. "Kak Yoga! Diem!"
Yoga menggeram frustrasi. "Oke, oke, gue nggak nanya!" Hatinya dongkol setengah mati. Sialan, gue butuh pacar juga buat bales dendam!
Di kediaman Keluarga Tanudjaja, suasana hati Manda berbanding terbalik dengan Salma.
Dia mengurung diri di kamar. Pikirannya kacau memikirkan Ujian Akhir Semester. Manda tahu betul, Salma yang sekarang punya otak encer. Kalau Salma sampai mendapat nilai lebih tinggi darinya, posisi Manda sebagai "Putri Pintar" akan tergeser. Dia tidak sudi berada di bawah bayang-bayang Salma.
Manda berdiri di depan wastafel, menatap cermin. Tiba-tiba, ia berhalusinasi. Wajahnya di cermin berubah menjadi wajah Salma yang tersenyum mengejek.
"AAKH!"
PRANG!
Manda melempar gelas kumur hingga cermin itu pecah berantakan. Napasnya memburu, menatap pantulan dirinya yang kini retak-retak. Tatapannya berubah gelap.
Detik itu juga, sebuah ide licik muncul.
Soal ujian akhir semester pasti sudah dicetak dan disimpan di ruang kepala sekolah. Kalau... kalau ada orang yang melihat Salma mencuri soal ujian...
Bibir Manda menyunggingkan senyum mengerikan.
Salma, kalau satu sekolah tahu lo maling soal ujian, nilai lo mau 100 pun bakal dianggap sampah. Lo bakal jadi bahan tertawaan seumur hidup. Siapa cowok kaya yang mau nikah sama cewek kriminal?
Manda mengeluarkan ponselnya, memastikan tidak ada orang di sekitar, lalu menelepon seseorang dengan suara pelan namun penuh instruksi jahat.
"Halo? Aku butuh bantuanmu..."
Pulang sekolah, Salma dan Naya ikut Aksa pergi ke sebuah ruko besar yang baru saja dibeli. Jaraknya hanya sepuluh menit dari rumah mereka.
Aksa membawa mereka ke lantai tiga yang sudah disulap menjadi dojo latihan silat seluas 400 meter persegi. Fasilitasnya lengkap, AC dingin, dan lantainya mulus.
"Gila, luas banget!" Rara Rahmat, putri guru silat mereka, berteriak girang. "Akhirnya bebas dari nyamuk!"
Pak Rahmat berusaha tetap terlihat wibawa, meski matanya berbinar melihat tempat latihan yang layak ini. "Awas kalau kamu males latihan mentang-mentang tempatnya enak!"
"Siap Bos!" Rara hormat gaya militer, lalu menoleh ke Aksa. "Dik Aksa, ini tempat dapet dari mana?"
"Punya keluarga. Pak Rahmat bisa pakai tempat ini, sekalian buka kelas umum kalau mau," tawar Aksa.
Wajah Pak Rahmat sedikit murung. Dia masih trauma dengan reputasinya yang dihancurkan musuh di dunia persilatan. Siapa yang mau berguru padanya?
Aksa peka. "Guru tenang aja. Keamanan biar saya yang urus. Kalau ada yang ganggu Guru, hadapin saya dulu."
"Yah, Pak, kalau gitu aku boleh buka kelas musim liburan buat anak SD nggak?" Rara langsung menyambar, matanya berduit. "Lumayan buat beli beras, Pak!"
Salma mengangguk setuju. "Ide bagus! Orang tua zaman sekarang suka banget anaknya punya skill tambahan."
"Bener, Pak! Siapa tahu Kak Rara nanti viral terus jadi bintang film laga. Auto kaya raya!" Naya ikut memanas-manasi.
penampilan cupu ternyata suhu 😂
darin sinta,salsa,ini salma
semangat Thor ⚘️⚘️⚘️