Demi mendapatkan pembayaran SPP yang tertunggak dan kesempatan ikut ujian akhir, Ayu terpaksa mengikuti saran temannya mencari Sugar Daddy di sebuah kelab malam. Ia membutuhkan solusi instan—seorang pria kaya yang bersedia membayar mahal untuk kepatuhannya.
Sialnya, bukan Sugar Daddy impian yang ia dapatkan, melainkan seorang pria dominan berwajah tampan yang, ironisnya, tak punya uang tunai sepeser pun di dompetnya. Pria itu adalah Lingga Mahardika, CEO konglomerat yang penuh rahasia.
Lingga, meskipun kaya raya, ternyata adalah "Sugar Daddy Kere" yang sebenarnya—ia hanya bisa membayar Ayu dengan jaminan masa depan, martabat, dan pernikahan siri. Transaksi mereka sederhana: Ayu mendapatkan perlindungan dan status, sementara Lingga mendapatkan kepatuhan spiritual dan fisik untuk memadamkan hasratnya yang membara.
Akankah Cinta akan hadir diantara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Sugar Daddy KR
Kembali ke Jakarta terasa lebih menyesakkan. Penthouse yang dulu merupakan penjara emas yang nyaman, kini terasa seperti medan ranjau. Lingga dan Ayu mempertahankan jarak mereka dengan ketegangan yang nyaris mematahkan tulang, sementara Ken mengawasi mereka seperti pengawas penjara.
Lingga berusaha keras untuk fokus pada pekerjaan, tetapi setiap kali Ayu mendekat untuk menyerahkan berkas, sensasi bibirnya kembali menghantui. Ia merasa terhina oleh dirinya sendiri. Seorang CEO yang seharusnya berpikir tentang miliaran, kini terobsesi dengan asistennya yang masih belia, yang ia bayar nol rupiah sebagai hukuman.
Hasrat Lingga, yang selama ini terpendam dan diatasi dengan alkohol atau kontrol diri yang ketat, kini bangkit, sepenuhnya berpusat pada Ayu. Ini adalah candu yang ia dapatkan dari satu pelanggaran protokol.
Aku tidak bisa seperti ini terus.
Lingga tahu Ken benar. Dia tidak bisa memecat Ayu, karena dia membutuhkan kecerdasan dan profesionalisme gadis itu. Tetapi dia juga tidak bisa membiarkan Ayu pergi, karena dia ketagihan pada kehadiran dan kehangatan tulus yang Ayu berikan. Keberadaan Ayu sebagai asisten biasa, adalah undangan yang konstan untuk melanggar batas lagi.
Sore itu, setelah Ayu menyelesaikan laporan biaya yang rumit, Lingga memanggilnya ke kantor pribadinya.
"Ayu. Masuk," perintah Lingga.
Ayu masuk, jantungnya berdebar kencang. Ia siap menghadapi teguran lain, atau bahkan usulan lain untuk 'keintiman berbayar'.
Lingga menggerakkan tangannya ke arah Ken yang berdiri kaku di pintu. "Ken, tinggalkan kami. Aku butuh privasi absolut."
Ken menatap Lingga dan Ayu bergantian. Ia melihat keputusasaan di mata Lingga, dan ketakutan di mata Ayu. Ken mengangguk tanpa kata, menutup pintu, tetapi tetap berjaga di luar.
Pengakuan yang Terbakar
Lingga tidak duduk di kursi kebesarannya. Ia berdiri di dekat jendela, memandang ke cakrawala kota yang keemasan. Ia tidak berbalik.
"Kau ingat janji yang kubuat di Bali, Ayu?" tanya Lingga, suaranya rendah dan penuh kesakitan.
"Ya, Tuan. Anda berjanji tidak akan melanggar protokol lagi," jawab Ayu, berdiri tegak.
"Aku berbohong," kata Lingga, mengakui dengan kejujuran brutal. "Aku ingin melanggarnya lagi. Saat ini. Aku ingin melakukannya lagi dan lagi."
Ayu terkesiap. Dia tidak menyangka Lingga akan seblak-blakan ini. Ia melihat bahu Lingga yang tegang, merasakan intensitas pria itu bahkan dari jarak yang aman.
"Aku memotong gajimu 100% sebagai hukuman, tapi itu tidak menghentikanku. Ken harus mengintervensi dengan kebohongan untuk menyelamatkan kita berdua dari kehancuran," lanjut Lingga, akhirnya berbalik.
Wajah Lingga tampak kusut, bukan karena pekerjaan, melainkan karena siksaan batin.
"Aleya adalah pacarku selama dua tahun. Kami tidak pernah ciuman. Aku tidak pernah menginginkannya sedekat ini. Tapi kau..." Lingga berhenti, seolah kata-kata itu sulit keluar.
"Rasa bibirmu, Ayu," bisik Lingga, matanya terpaku pada bibir Ayu. "Itu adalah candu yang paling mematikan yang pernah kutemukan. Aku tidak bisa mengendalikan diriku selama kau hanya berdiri di sini, sebagai 'asisten' yang bisa kucuri ciumannya kapan saja."
Lingga melangkah ke depan, mencengkeram tepi mejanya. "Kontrak kita sudah hancur. Kerahasiaan kita rapuh. Aku tidak bisa melepaskanmu, dan aku tidak bisa mengendalikan hasratku. Jadi, aku harus mengubah aturan permainan."
Lingga mengeluarkan dua dokumen dari laci dan mendorongnya ke hadapan Ayu.
"Aku akan memberimu kembali gajimu 100%. Tidak ada lagi potongan. Aku juga akan membiayai beasiswamu sepenuhnya sampai kau lulus S-2, di mana pun kau mau," kata Lingga.
Ayu menatap dokumen itu, matanya berkaca-kaca. "Tuan Lingga, saya tidak mengerti. Kenapa Anda begitu bermurah hati setelah saya melanggar batas?"
"Karena aku membeli dirimu, Ayu," Lingga berkata dengan suara tegas. "Tapi bukan sebagai sugar baby yang tidak punya martabat."
Lingga menunjuk dokumen pertama. "Dokumen ini adalah perjanjian keuangan. Kau akan mendapatkan uang ini sebagai kompensasi atas kerahasiaan dan semua kerugian emosional yang telah kuakibatkan. Dan ini..."
Lingga menunjuk dokumen kedua. Itu adalah akta nikah siri yang sudah setengah terisi.
"Nikahi aku, Ayu," perintah Lingga, suaranya dipenuhi otoritas dan hasrat yang tak terhindarkan. "Kita akan menikah secara siri. Kita akan terikat secara agama. Kau akan tetap tinggal di penthouse ini, kau akan tetap menjadi asistenku yang dibayar penuh, dan kau akan mendapatkan martabat sebagai seorang istri."
Lingga menatap Ayu, mencari celah di mata polosnya.
"Ini adalah satu-satunya cara bagiku untuk mengendalikan hasratku, Ayu. Ini adalah satu-satunya cara bagiku untuk menyentuhmu tanpa menghancurkan moralitasku atau martabatmu. Aku tidak mencintaimu, aku membutuhkanmu untuk menjaga hasratku dan pekerjaanku. Dan aku akan membiayai masa depanmu agar kau tidak pernah lagi harus memikirkan uang."
Ayu terkejut, tubuhnya gemetar. Ia tidak tahu harus bereaksi apa. Pernikahan? Dengan pria yang ia layani, yang ia takuti, dan yang bibirnya membuat ia ketagihan?
"Tuan Lingga... ini gila. Saya... saya masih sangat muda," bisik Ayu.
"Itu sebabnya kita hanya nikah siri," potong Lingga. "Ketika kau lulus, atau setelah enam bulan, jika kau ingin pergi, kita akhiri pernikahan ini secara damai, dan kau bebas dengan masa depan finansial yang aman. Pikirkan ini sebagai kontrak bisnis yang paling menguntungkan, Ayu. Jaminan masa depanmu, dengan harga diriku."
Ayu menatap Lingga, kebohongan dan kejujuran beradu di mata pria itu. Ia melihat hasrat yang membakar di sana, hasrat yang membuat pria berkuasa itu rapuh. Dan ia menyadari, dia, si lulusan SMA, adalah satu-satunya yang bisa mengendalikan CEO Lingga Mahardika.
Martabat atau kebebasan?
***
pasti bulu bulunya berdiri....
upssss 🤭🤭🤭
bulu yang mana ea bun
..????
Halah mas mas senyum aja gengsiiii
jadi lingga lagi tak bermoral donk bunda....?
nty mlm kamu cari kotoran sapi lalu timpuk ke wajah lingga.... di jamin deh kamu puas.... cobain dehhhh
mending langsung sat set antrin itu si baby kucing.... 😀😀😀
karna yang kau pandang lurus lurus sudah manis..
jadi pahit itu sudah tak terasa lagi saat memandang ayu
srius tanya dengan nada halus sehalus sutra.....