Di bawah gemerlap penthouse mewah Chicago, Suzanne Klatten terjebak dalam neraka pernikahan tanpa cinta.
Enam bulan menyandang status istri sah Willem Daendels, dia hanya menerima penolakan, dihina, dan dikhianati demi wanita simpanan.
Namun, sebuah pelarian di koridor privat mengubah segalanya.
Dalam rapuhnya batin yang hancur, Suzanne menyerahkan kesuciannya kepada Aiden Luther Stone—bocah SMA berusia 18 tahun yang kehilangan kendali akibat pengaruh obat perangsang.
Saat fajar menyingsing, kepolosan runtuh dan takdir baru terajut.
Aiden yang didera rasa bersalah bersumpah akan bertanggung jawab dan menikahinya, tanpa tahu wanita misterius itu seorang istri Tetangga Apartemennya.
Di balik balutan hoodie kebesaran dan cincin pernikahan yang disembunyikan, Suzanne melangkah kembali ke neraka rumah tangganya dengan rahasia paling berdosa.
Sebuah romansa terlarang yang penuh manipulasi, dan ego yang siap membakar batas moralitas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#21
Di salah satu kompleks apartemen mewah yang terletak di kawasan elite Chicago—sebuah hunian vertikal dengan kaca-kaca setinggi langit-langit yang menyuguhkan pemandangan langsung ke arah kemegahan kota—suasana pagi itu terasa begitu tenang dan memanjakan.
Wangi esensial aromaterapi lavender dan melati menguar lembut di udara, berpadu dengan alunan musik klasik bertempo lambat yang mengalun dari sistem audio otomatis.
Di atas sebuah tempat tidur pijat khusus yang dilapisi kain beludru putih, seorang perempuan muda sedang menelungkup dengan nyaman.
Dua orang terapis profesional berbaju seragam rapi sedang melakukan pijatan lembut pada punggung mulusnya menggunakan minyak zaitun hangat.
Langkah kaki yang terburu-buru namun berirama terdengar mendekat dari arah ruang tamu.
Pintu kamar privat itu terbuka sedikit, memunculkan sosok pria paruh baya bertubuh kurus dengan pakaian kasual namun trendi.
Dia adalah Jeremy, asisten pribadi sekaligus manajer yang mengatur seluruh karier sang artis muda yang kini tengah berada di puncak popularitas.
Di tangannya, sebuah tablet digital menyala terang, menampilkan grafik pencarian internet dan ribuan notifikasi media sosial yang terus melonjak naik dalam hitungan detik.
"Rencana kita berhasil, Ale," bisik Jeremy dengan nada suara yang dipenuhi kegembiraan yang tertahan.
Ia memberi isyarat dengan lambaian tangan agar kedua terapis itu menghentikan pekerjaan mereka sejenak dan keluar dari ruangan.
Setelah pintu tertutup rapat, Jeremy melangkah mendekati tempat tidur pijat.
"Namamu sudah terseret sepenuhnya di dalam skandal itu sejak pagi tadi. Seluruh forum diskusi gosip kelas atas dan media nasional Chicago sedang membicarakanmu. Orang suruhan kita bekerja dengan sangat baik saat mengikuti Aiden Luther Stone kemarin sore. Sudut pengambilan gambar dan informasi yang kita bocorkan ke agensi independen benar-benar dieksekusi tanpa cela."
Mendengar laporan tersebut, wanita yang sedang menelungkup itu perlahan membalikkan tubuhnya.
Ia duduk di tepi tempat tidur, membiarkan jubah mandi sutra hitamnya tersampir longgar di bahu indahnya.
Wanita itu adalah Aleonie Bethman—atau yang lebih akrab dipanggil Ale oleh jutaan penggemarnya di media sosial.
Sebuah senyuman senang yang teramat lebar dan licik seketika terukir di bibir merahnya yang dipulas lip gloss.
Sepasang mata indahnya berkilat penuh kepuasan saat merebut tablet digital dari tangan Jeremy.
"Sempurna," desis Aleonie, jemarinya yang lentik dengan kuku ber-manikur mewah menggulirkan layar yang penuh dengan artikel tentang dirinya dan Aiden.
"Dengan begini, posisiku di dunia hiburan akan semakin kokoh. Tidak ada publisitas yang buruk, Jeremy. Apalagi jika namaku disandingkan dengan nama seorang Stone. Kemungkinan nilai kontrak iklan dan popularitasku kembali naik ke tingkat tertinggi minggu ini sudah pasti di tangan."
Bagi Aleonie, memanfaatkan nama besar Aiden Luther Stone adalah pencapaian terbesar dalam hidupnya.
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di sekolah high school elite yang sama dengan Aiden, wanita ini sudah teramat terobsesi dengan remaja pria tersebut.
Di matanya, Aiden adalah definisi dari kesempurnaan mutlak yang nyata di dunia ini.
Wajah tampan yang di atas rata-rata dengan pahatan rahang yang tegas, bentuk tubuh atletis yang kokoh, otak yang teramat cerdas, hingga statusnya sebagai pewaris tunggal dari gurita bisnis finansial terbesar di Amerika, Luther Corporation.
Kesempurnaan yang dimiliki Aiden benar-benar menjadi pesona mematikan yang tidak dapat ditolak oleh Aleonie.
Dia terbiasa dikejar oleh ratusan pria kaya dan produser terkenal, namun hanya di hadapan Aiden, pesona kemolekan tubuhnya dan status keartisannya seolah tidak memiliki arti apa-apa.
Aiden selalu menatapnya dengan pandangan dingin yang kosong, melewatinya di koridor sekolah seolah-olah Aleonie hanyalah embusan angin yang lalu.
Penolakan halus yang terus-menerus ia terima justru membuat obsesi di dalam dada Aleonie tumbuh menjadi sebuah kegilaan yang berbahaya.
Jika dia tidak bisa memiliki hati Aiden, maka dia harus memiliki statusnya di mata publik.
Namun, saat matanya beralih pada lampiran foto yang menampilkan siluet wanita asli yang bersama Aiden kemarin di pantai, senyuman di wajah Aleonie mendadak memudar, digantikan oleh gurat kekecewaan dan kejengkelan yang amat sangat pada Aiden.
"Tapi tetap saja... melihat laporan tentang gadis yang sebenarnya bersamanya kemarin, aku cukup kecewa dengan selera Aiden," ketus Aleonie, melemparkan tablet itu kembali ke atas kasur dengan dengusan menghina.
Ia melipat kedua lengannya di dada, mengingat bagaimana detail pakaian wanita misterius di dalam foto tersebut.
"Dilihat dari pakaiannya yang hanya berupa blus polos murahan dan rok biasa, wanita itu sama sekali tidak ada apa-apa nya jika dibandingkan dengan pakaian glamour dan barang-barang bermerek yang kukenakan setiap hari. Bagaimana bisa seorang Aiden Luther Stone menurunkan standarnya demi wanita kelas rendah seperti itu?"
Aleonie menjentikkan jarinya dengan sinis, mencoba menghibur egonya yang sempat terluka karena Aiden memilih wanita lain.
"Tapi ya sudahlah. Aku bisa memastikan wanita itu hanya jalang pemuas nafsu Aiden untuk sementara waktu. Lagipula, lihat saja buktinya di berita itu. Aiden bahkan mencekokinya dengan obat kontrasepsi darurat dosis tinggi segera setelah mereka selesai melakukannya. Pria Stone itu jelas-jelas hanya menggunakannya sebagai tempat pembuangan hasrat dan tidak ingin wanita miskin itu menempel padanya dengan cara hamil."
Mendengar analisis sinis dari artisnya, Jeremy hanya mengangguk setuju demi menjaga suasana hati Aleonie.
Namun, bagi Aleonie sendiri, topik tentang Aiden yang meniduri wanita lain di dalam apartemennya justru membuka kembali sebuah luka lama yang teramat memalukan di dalam ingatan masa lalunya.
Sebuah rahasia kelam yang selama ini ia kubur rapat-rapat dengan uang taruhan yang fantastis.
Di dalam keheningan kamarnya, ingatan Aleonie berputar kembali pada malam kejadian beberapa hari lalu.
Malam di mana lingkaran pertemanan elite para pewaris kaya di sekolah mereka mengadakan sebuah taruhan gila bernilai ratusan ribu dolar untuk meruntuhkan ketidak dayaan Aiden yang terkenal tidak pernah menyentuh wanita mana pun.
Malam itu, Aleonie telah melakukan tindakan yang sangat nekat dan berani.
Menggunakan koneksi internal dan menyuap salah satu pria pemegang taruhan, Aleonie mengatur agar dirinyalah yang menjadi wanita yang harus ditiduri oleh Aiden.
Sesuai skenario yang ia beli, malam itu harusnya menjadi malam pertamanya bersama sang pangeran Stone.
Aleonie mengingat dengan sangat jelas bagaimana dirinya malam itu sudah bersiap di dalam unit hotel mewah yang harusnya ditempati oleh Aiden setelah acara pesta berakhir.
Ia telah mengenakan pakaian dalam sutra paling seksi dan mahal, menyemprotkan parfum perangsang yang langka, dan menunggu di atas ranjang dengan jantung yang berdegup kencang dipenuhi fantasi liar tentang bagaimana Aiden akan mengklaim tubuhnya.
Namun, kenyataan menghantamnya dengan sangat kejam.
Malam itu, pria yang ia tunggu-tunggu sama sekali tidak muncul di sana.
Aiden seolah mencium adanya jebakan busuk dan memilih untuk mengabaikan lokasi taruhan tersebut sepenuhnya.
Aleonie terpaksa menunggu di dalam kamar asing itu sendirian sepanjang malam suntuk hingga pagi hari menjelang, duduk dengan pakaian minim seperti seorang jalang murah yang tidak berharga yang dicampakkan begitu saja sebelum sempat disentuh.
Rasa malu dan penghinaan batin itu masih terasa membakar dada Aleonie hingga detik ini.
Dia sudah mengeluarkan uang yang begitu banyak, menyuap sana-sini demi mendapatkan kesempatan emas untuk masuk ke dalam ranjang seorang Aiden Luther Stone, namun ternyata tidak ada hasil sedikit pun.
Sialnya, fajar ini ia justru harus melihat berita bahwa seorang wanita asing dengan pakaian biasa-biasa saja justru berhasil mendapatkan apa yang ia impikan selama ini—tidur di bawah kungkungan tubuh kekar Aiden.
Aleonie mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Amarah dan rasa cemburu yang gila bergejolak di dalam dadanya.
"Aku tidak peduli siapa wanita yang bersamamu kemarin, Aiden," desis Aleonie dengan tatapan mata yang dipenuhi racun kelicikan.
"Jika kau tidak mengizinkanku masuk ke dalam hidupmu dengan cara yang baik, maka skandal buatan ini yang akan mengikat namamu denganku di hadapan seluruh dunia. Publik sudah mengira akulah wanita di dalam foto itu, dan aku akan memastikan asumsi itu menjadi kebenaran yang tidak bisa kau sangkal!"
🌷
Happy reading 🦋
😌
sukaaak thor sama tokoh pria yg begini👍