Aline terpaksa menyamar sebagai pengasuh polos demi menyelidiki kematian misterius kakaknya di kediaman seorang leader mafia kejam sekaligus CEO, bernama Adrian. Di sana, ia harus mengurus anak kembar Adrian yang sangat genius namun manipulatif. Masalah rumit muncul ketika anak-anak tersebut justru sengaja menjebak Aline dan Adrian agar menikah, sementara Adrian mulai mencurigai identitas asli Aline yang ternyata memegang kunci rahasia masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Teror Kimia di Ruang Bermain
Bab 13: Teror Kimia di Ruang Bermain
Kekacauan di ruang belajar kemarin menyisakan keheningan baru yang aneh di sayap timur Mansion Dirgantara. Aline tahu betul bahwa Kenzo tidak sepenuhnya mempercayai sandiwara "tersandung karpet" miliknya. Namun, sebelum ia sempat memetakan ulang strategi pertahanannya terhadap sang peretas cilik, faksi kedua dari monster kembar itu sudah bersiap meluncurkan serangan balasan yang jauh lebih mematikan.
Siang itu, giliran Keira yang mengambil alih panggung pengujian.
"Kak Aline! Ayo cepat ke ruang bermain! Keira sedang membuat ramuan peri ajaib lho!" Suara melengking bocah perempuan itu menggema dari ujung koridor lantai dua, memecah keheningan mansion.
Aline yang baru saja selesai mencuci apron kremnya di ruang belakang bergegas mengeringkan tangannya. Ia sengaja memasang langkah terburu-buru yang canggung, membuat sandal rumahnya berbunyi plok-plok keras di atas lantai marmer. Begitu ia mendorong pintu ganda ruang bermain anak-anak yang luas dan dipenuhi karpet tebal berbulu lembut itu, indra penciuman Aline yang sangat sensitif langsung menangkap sesuatu yang tidak beres.
Udara di dalam ruangan terasa sedikit berat. Ada aroma tajam yang samar—bau menyengat yang sangat ia kenal selama masa pelatihannya di unit intelijen taktis.
Di tengah ruangan, di atas meja plastik bundar berwarna merah muda, Keira duduk dengan gaun tutu baletnya, dikelilingi oleh belasan boneka beruang yang didudukkan berjejer seolah sedang menghadiri upacara minum teh. Namun, di depan Keira tidak ada teko teh mainan. Di sana bertumpu sebuah wadah kaca transparan berukuran besar yang biasanya digunakan untuk akuarium ikan cupang.
Di dalam wadah tersebut, tampak cairan keruh yang bergolak pelan, mengeluarkan gelembung-gelembung mikro yang aneh.
"Nona Muda Keira sedang main apa toh? Kok baunya agak aneh begini?" Aline melangkah mendekat, matanya berkedip polos di balik lensa kacamata tebalnya, sementara otaknya langsung bekerja secepat komputer siber untuk menganalisis situasi.
Di samping wadah kaca tersebut, terletak dua botol plastik kosong milik pelayan kebersihan mansion yang sengaja disembunyikan di bawah tumpukan kain lap. Aline melirik sekilas ke arah label botol-botol itu meski posisinya terbalik: Cairan Pembersih Lantai Berbasis Amonia Pekat dan Cairan Pemutih Pakaian Berbasis Natrium Hipoklorit.
Jantung Aline berdesir tajam. Anak ini gila!
Mencampurkan amonia dengan pemutih pakaian adalah kombinasi fatal yang diajarkan dalam buku teks sabotase militer tingkat dasar. Reaksi kimia dari kedua bahan rumahan tersebut akan menghasilkan gas kloramin dan gas klorin beracun. Dalam dosis rendah di dalam ruangan tertutup tanpa ventilasi, gas ini akan memicu iritasi mata parah, batuk berdarah, dan sesak napas akut yang bisa merusak jaringan paru-paru anak-anak dalam hitungan menit.
Keira tidak berniat membunuh dirinya sendiri atau kakaknya, karena Kenzo saat ini duduk di sudut ruangan sembari mengenakan masker respirator mini berwarna hitam yang sangat modis—berpura-pura sedang bermain peran sebagai tentara masa depan. Keira ingin menguji refleks penyelamatan darurat Aline. Jika Aline adalah pelayan desa biasa, ia hanya akan mengira bau ini adalah bau karbol biasa dan membiarkannya sampai mereka berdua pingsan. Namun, jika Aline adalah seorang agen terlatih, ia akan langsung mengenali bahaya kimia ini dan melakukan prosedur evakuasi medis profesional.
"Ini ramuan peri pelangi, Kak!" Keira tersenyum sangat manis, memegang sebuah pengaduk plastik panjang dan bersiap menuangkan sisa cairan pemutih dari botol kedua ke dalam wadah. "Kalau Keira tuang semua, nanti keluar asap hantu yang bisa terbang tinggi!"
"Jangan dituang dulu, Nona Muda!" Aline berteriak dengan nada suara yang sengaja dibuat cempreng dan penuh kepanikan histeris yang konyol. Ia melompat ke depan, berpura-pura ingin merebut botol plastik tersebut, namun gerakannya sengaja dibuat terlalu bersemangat hingga tubuhnya menabrak pinggiran meja plastik dengan keras.
Brakkk!
Meja plastik itu bergeser, membuat wadah kaca transparan berisi campuran kimia berbahaya itu terguling. Cairannya tumpah ruah di atas karpet bulu, memicu reaksi penguapan yang jauh lebih cepat karena areanya meluas. Asap putih tipis yang sangat menyengat langsung membumbung ke udara, menyebarkan bau klorin yang menusuk hidung secara instan.
Keira langsung terbatuk kecil, tidak menyangka bahwa wadahnya akan tumpah secepat itu.
Aline tidak boleh langsung membuka pintu koridor untuk keluar, karena di luar sana ada tiga penjaga keamanan internal yang sedang berjaga. Jika ia menuntun anak-anak keluar lewat pintu dengan tenang, itu akan terlihat terlalu taktis dan tenang. Aline membutuhkan sebuah kepanikan massal yang murni terlihat seperti ketakutan seorang gadis udik yang percaya takhayul, namun secara mekanis menyelamatkan nyawa mereka semua.
"Aduh! Tolonggg! Asap hantunya beneran keluar! Hantunya marah!" jerit Aline dengan suara melengking tinggi, berpura-pura sangat ketakutan setengah mati.
Ia memutar tubuhnya ke arah jendela besar ruang bermain yang terkunci rapat dari dalam oleh sistem keamanan digital rumah. Alih-alih mencari tombol pembuka jendela yang tersembunyi di balik dinding, Aline meraih sebuah vas bunga porselen raksasa setinggi satu meter yang berisi rangkaian bunga lili di sudut ruangan.
Dengan kekuatan otot punggung dan lengan yang telah terlatih selama bertahun-tahun—namun disamarkan dengan gestur tubuh yang tampak goyah dan keberuntungan yang dipaksakan—Aline mengayunkan vas porselen berat itu ke depan dengan liar.
Pranggg!!!
Kaca jendela tebal setebal dua sentimeter itu pecah berantakan dihantam vas porselen, menyisakan lubang besar yang langsung mengalirkan angin siang yang kencang dari halaman luar mansion. Udara segar masuk memotong sirkulasi gas beracun secara instan, menerbangkan asap klorin berbahaya tersebut keluar jendela sebelum sempat memenuhi paru-paru mereka.
Tanpa membuang sedetik pun, Aline langsung merunduk. Dengan satu gerakan kilat yang dibungkus dalam kepanikan konyol, ia menyergap tubuh Kenzo di bawah ketiak kanannya dan tubuh Keira di ketiak kirinya, menggendong kedua bocah lima tahun itu sekaligus seperti karung beras.
"Lariii! Hantunya mau menggigit kita!" teriak Aline sembari menendang pintu ganda ruang bermain hingga terbuka lebar, lalu berlari keluar koridor dengan gaya setengah pincang dan napas terengah-engah yang sangat dramatis.
Para penjaga keamanan di koridor langsung tersentak kaget dan menodongkan senjata mereka, mengira ada serangan musuh. Namun, yang mereka lihat hanyalah Aline yang sedang menangis kencang dengan kacamata miring, menggendong si kembar dengan kekuatan super yang dipicu oleh rasa takut yang luar biasa.
Satu jam kemudian, atmosfer di dalam ruang tengah mansion berubah menjadi sangat mencekam. Pecahan kaca di ruang bermain sedang dibersihkan oleh tim pelayan, sementara bau bahan kimia telah dinetralisir sepenuhnya dengan sistem filtrasi udara darurat.
Adrian Dirgantara berdiri di tengah ruangan dengan aura yang bisa membekukan darah siapapun yang melihatnya. Jas hitamnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga ke siku. Sepasang mata elang hitam kelamnya menatap tajam ke arah Aline yang sedang duduk bersimpuh di atas lantai marmer, terus-menerus mengusap air matanya yang mengalir melewati kacamata bulat tebalnya yang sekarang salah satu gagangnya diganjal dengan selotip bening.
Di sofa samping, Kenzo dan Keira duduk dengan kepala menunduk, berpura-pura merasa bersalah setelah mendapat omelan keras dari Pak Yusuf mengenai bahaya bermain bahan pembersih.
"Kau memecahkan jendela kaca antipeluru lantai dua dengan sebuah vas bunga, Nona Sanyoto?" Suara bariton Adrian terdengar sangat rendah, bergetar penuh dengan tekanan intimidasi yang masif.
"M-Maaf, Tuan Besar... hiks... Saya beneran takut sekali tadi," isak Aline, bahunya naik turun dengan sangat natural karena efek pura-pura syok. "Tadi Nona Muda Keira bilang ada asap hantu... terus baunya seperti bau kuburan angker di desa saya dulu... Saya takut Tuan Muda dan Nona Muda diculik hantu, jadi saya refleks lempar vasnya supaya hantunya keluar lewat jendela... Hiks... Tolong jangan potong gaji saya, Tuan Besar..."
Adrian menatap lekat-lekat ke arah gadis di hadapannya. Secara logika, tindakan Aline sangat konyol, bodoh, dan penuh takhayul udik yang tidak masuk akal. Namun, dari sudut pandang keamanan taktis, tindakan memecahkan jendela tersebut adalah satu-satunya cara tercepat untuk mencegah gas klorin beracun dosis tinggi mengendap di dalam ruangan kedap udara tersebut sebelum sistem ventilasi otomatis mansion merespons. Tindakan itu telah menyelamatkan paru-paru anak-anaknya dari kerusakan permanen.
Tatapan mata Adrian perlahan turun, bergeser dari wajah menangis Aline menuju ke arah lengan kanan kemeja pelayan Aline yang robek panjang akibat tergesek serpihan kaca tajam saat ia menggendong si kembar keluar tadi.
Di balik kain yang robek itu, terpampang kulit lengan atas Aline yang putih bersih. Namun, di sana terdapat sebuah bekas luka horizontal sepanjang lima sentimeter—sebuah bekas luka lama yang jaringannya agak menebal, bentuknya sangat khas dan tidak bisa salah lagi bagi mata seorang mafia berpengalaman seperti Adrian.
Itu bukan bekas luka akibat jatuh dari pohon, bukan juga bekas luka goresan pisau dapur.
Itu adalah bekas luka goresan akibat pecahan peluru panas (bullet graze) yang telah mengering selama beberapa tahun—sebuah tanda lahir spiritual yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang pernah berada di dalam zona pertempuran senjata api taktis.
Mata elang Adrian menyipit tajam, memancarkan kilat kecurigaan yang mendadak membakar isi kepalanya. Insting predatornya yang tertidur selama beberapa tahun terakhir mendadak tersengat bangun dengan sangat keras. Pria itu melangkah satu tapak lebih dekat, bayangan tubuh tegapnya mengurung tubuh Aline sepenuhnya di bawah lantai marmer yang dingin.