Menjadi Dokter sukses di usia 31 tahun ternyata tidak cukup bagi Hazel untuk membeli satu hal yang paling ia inginkan yaitu kebebasan dari kekangan Ibunya, hingga ia dipaksa untuk pergi ke daerah perbatasan demi ambisi sang Ibu mencari menantu tentara.
Namun, takdir punya rencana lain. Di tempat itulah Hazel kembali dipertemukan dengan seorang pria yang sudah lama ia kenal, pria yang mampu menggoyahkan perasaan Hazel setelah 14 tahun lamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Siapakah pria itu? Bagaimana nasib Hazel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Harus Sadar
"Kapten Gavin! Ya ampun, Kapten enggak apa-apa, kan? Aku panik banget waktu dengar kabar kalau Kapten harus melakukan evakuasi medis darurat di tengah cuaca buruk malam-malam begini!" tanya wanita tersebut.
Suara wanita itu terdengar nyaring, memecah keheningan koridor rumah sakit yang semula tenang. Tangannya yang lentik dengan kuku yang dipoles cat merah marun tampak begitu erat mencengkeram lengan jaket militer Gavin, ia memandangi Gavin dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan penuh kekhawatiran.
Gavin sendiri tidak menepis tangan si wanita, ia hanya menegakkan tubuhnya dan mencoba bersikap sewajarnya.
"Aku enggak apa-apa, Tika. Kenapa kamu malah ke sini tengah malam begini? Ini sudah jam berapa?" tanya Gavin, suaranya terdengar jauh lebih lembut dan tidak sekaku saat ia berbicara dengan Hazel tadi.
"Gimana aku bisa tenang kalau tahu Kapten sedang bertaruh nyawa di atas langit dalam kondisi hujan seperti ini," sahut wanita bernama Tika itu dengan nada manja sekaligus khawatir.
Tika merapikan sedikit kerah jaket Gavin yang agak berantakan akibat terkena angin helikopter tadi, "Kapten Gavin selalu saja begini, melupakan keselamatan diri sendiri demi tugas," ucap Tika.
Hazel yang sejak tadi memperhatikan interaksi keduanya pun hanya terdiam, nada bicara Tika yang begitu akrab dan penuh perhatian kepada Gavin seolah menjadi hantaman keras yang menghantam dadanya. Rasa hangat yang baru saja menjalar di hatinya setelah genggaman tangan di dalam helikopter tadi, kini menguap tanpa bekas dan digantikan oleh rasa sesak yang luar biasa.
Hazel menatap tangannya sendiri yang masih memegang botol air mineral hangat pemberian Gavin, 'Bodoh! Untuk apa kamu berharap lebih, Hazel? Empat belas tahun sudah berlalu, tentu saja Gavin sudah melupakanmu... dan tentu saja sudah ada wanita lain yang mengisi posisi yang dulu pernah menjadi milikmu,' batin Hazel.
Melihat bagaimana Tika begitu leluasa berbicara pada Gavin, Hazel merasa dirinya benar-benar seperti orang asing yang menyedihkan. Kehadirannya di sini tak lebih dari sekadar Dokter yang kebetulan bertugas di bawah komando pria itu, rasa sakit hati pun mulai menjalar di dadanya, membuat matanya kembali terasa panas.
Hazel langsung bangkit berdiri dari kursi dan memaksakan senyuman di wajahnya yang pucat, meskipun hatinya sedang hancur berkeping-keping. Ia tidak sanggup lagi berada di sana, menyaksikan kemesraan yang secara tidak langsung mempertegas bahwa dirinya sudah benar-benar terhapus dari masa depan Gavin.
"Dokter Hazel mau ke mana?" tanya Gavin.
"Karena Pak Joko sudah ditangani tim medis Rumah Sakit, jadi saya permisi ke ruang tunggu di lantai bawah saja sambil menunggu untuk kembali," jawab Hazel sambil sedikit menganggukkan kepalanya sopan kepada Gavin dan Tika.
Tanpa menunggu jawaban dari Gavin, Hazel langsung membalikkan badannya dan melangkah pergi. Ia berjalan secepat yang ia bisa di sepanjang koridor rumah sakit yang panjang dan sepi itu, bunyi langkah sepatunya yang lambat terdengar begitu menyedihkan di telinganya sendiri.
Begitu ia berhasil berbelok di sudut lorong yang tidak lagi terlihat oleh Gavin dan Tika, pertahanan Hazel runtuh sepenuhnya. Air mata yang sejak tadi ia tahan mati-matian akhirnya luruh membanjiri pipinya, ia menyandarkan tubuhnya ke dinding koridor yang dingin dan memegangi dadanya yang terasa sangat nyeri.
Melihat Gavin bersama wanita lain ternyata jauh lebih menyakitkan daripada fakta bahwa mereka dipisahkan oleh jarak selama empat belas tahun. Kini Hazel sadar, luka masa lalu mungkin bisa dimaafkan, tetapi waktu dan ruang yang telah hilang tidak akan pernah bisa diputar kembali. Gavin bukan lagi miliknya dan ia harus menerima kenyataan pahit itu dengan lapang dada.
"Kamu harus sadar, sekarang Gavin sudah punya wanita lain. Semua ini karena salah kamu Hazel, kamu yang meninggalkan Gavin, jadi kamu harus menerima semua ini. Perempuan tadi cantik... dan sepertinya dia berasal dari keluarga yang baik, selamat Gavin dan semoga hubungan kalian langgeng," gumam Hazel lalu ia kembali melangkahkan kakinya ke ruang tunggu di lantai bawah.
Di sisi lain, setelah punggung Hazel benar-benar menghilang di balik koridor, perubahan drastis langsung terlihat pada raut wajah Gavin. Kelembutan yang samar di matanya tadi seketika lenyap, digantikan oleh sorot mata dingin yang tegas.
Gavin melangkah mundur dan melepaskan cengkeraman tangan Tika dari lengan jaket, "Tika, tolong jangan seperti ini lagi. Setiap kali saya kesini kamu selalu saja seperti tadi, sudah saya bilang bersikap sewajarnya," tegur Gavin.
Tika mengerucutkan bibirnya, tampak sedikit terkejut dan kecewa dengan reaksi dingin Gavin. "Aku kan cuma khawatir, Kapten. Papa tadi langsung ngasih tahu aku begitu dengar ada kabar dari Kapten Gavin," ucap Tika.
Tika memang bukan orang asing bagi Gavin, wanita itu adalah anak dari Dokter Dion, salah satu teman Ayahnya Gavin. Sejak Gavin dipindahtugaskan ke perbatasan utara, Dokter Dion yang kebetulan menjabat sebagai salah satu Dokter spesialis senior di Rumah Sakit ini dan sering kali mengundang Gavin untuk mampir ke rumah mereka, dari sanalah Tika mulai mengenal Gavin dan terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada Gavin dan Gavin pun sudah menolaknya secara terang-terangan.
Dokter Dion pun tahu tentang perasaan Tika pada Gavin, bahkan Dokter Dion juga sudah tahu tentang penolakan Gavin. Dokter Dion tidak memaksa Gavin untuk menerima Tika, ia menyerahkan semuanya pada Gavin.
Gavin mengembuskan napas pendek dan mencoba meredam rasa tidak nyamannya, "Saya hargai kekhawatiran kamu, Tika. Dan tolong sampaikan terima kasih saya kepada Dokter Dion karena tim medis di sini sangat sigap, tapi tolong lain kali jangan temui saya lagi. Saya sangat merasa tidak nyaman dan terganggu karena kamu, saya harap kamu mengerti," ucap Gavin.
"Kapten Gavin... aku tahu Kapten nggak suka sama aku, tapi tolong jangan jauhin aku," ucap Tika.
"Sudah berulang kali saya bilang kalau saya tidak akan menjauhi kamu, asalkan kamu tahu batasannya. Kamu hanya anak dari teman Ayah saya, jadi jangan berharap lebih. Bagi saya. kamu hanya orang asing," ucap Gavin.
Setelah itu, Gavin meninggalkan Tika yang masih mematung dengan wajah memerah menahan malu sekaligus kecewa. Gavin tidak peduli lagi apakah perkataannya barusan melukai perasaan anak rekan ayahnya itu atau tidak, pikirannya saat ini benar-benar tidak tenang dan kacau balau karena satu nama yaitu Hazel.
Gavin mempercepat langkahnya menuju lift, menekan tombol ke lantai bawah dengan tidak sabar, bayangan wajah pucat Hazel saat berpamitan tadi terus membayangi benaknya.
"Sial," umpat Gavin lirih, meremas pembatas besi di dalam lift.
Begitu pintu lift berdenting terbuka di lantai dasar, Gavin langsung mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruang tunggu utama. Ruangan itu tampak lengang karena jam sudah hampir menunjukkan pukul dua dini hari, hanya ada beberapa keluarga pasien yang tertidur di kursi panjang dengan selimut seadanya.
Gavin berjalan menyusuri barisan kursi, matanya dengan jeli mencari sosok wanita dengan jaket kargo yang sedikit kotor karena lumpur perbatasan. Di sudut paling belakang dekat jendela besar yang menghadap ke taman rumah sakit, ia akhirnya menemukan yang dicari. Hazel sedang duduk meringkuk, kedua lututnya ditarik ke atas dada dan kepalanya ditenggelamkan di sana.
.
.
.
Bersambung.....
SeMangattt Up Lagii Buat Besok Kak
Makasiiii Kak Cerita Sorenya
SeMangattt Up Sorenya Kakkkk
Makasiii Ceritanya Siang Iniiii
SeMangattt Up Lagiii Buat Siang Kak