Kenanga mengabdikan hidupnya pada sang suami dan anak sambungnya, tapi pada akhirnya dia dihianati juga. Suami yang dia kira mencintainya dengan tulus nyatanya hanya kebohongan. Di dalam hatinya ternyata masih tersimpan nama sang mantan yang kini telah kembali dari luar negeri.
Rahasia yang selama ini ditutupi sang suami dan keluarga pun terbongkar. Kenanga memilih mundur dan memulai kehidupan yang baru meskipun semua itu terasa sulit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
"Sudah waktunya sarapan. Ayo turun!" ajak Bima yang berusaha bersikap lembut pada sang istri.
"Kamu duluan saja, Mas. Aku makan nanti saja," sahut Kenanga tanpa menatap ke arah sang suami.
"Jangan begitu! Biasanya kita selalu sarapan bersama."
"Itu dulu, jangan samakan dengan sekarang. Mulai saat ini kebiasaan itu harus dikurangi agar nanti kamu dan Davina terbiasa makan tanpa kehadiranku."
"Kenanga, aku tidak ingin ribut denganmu lagi, jadi tolong ikutlah turun. Davina sudah menunggu di ruang makan. Nanti dia bisa terlambat sekolah."
"Kamu 'kan pandai memberi pengertian, Mas. Aku saat ini benar-benar sedang tidak ingin makan. Nanti saja kalau sudah lapar."
"Kenanga, jangan seperti anak kecil! Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menceraikan kamu. Sekarang, ayo sarapan bersama!" ucap Bima dengan nada tinggi dan itu membuat Kenanga terkesiap.
Namun, wanita itu berusaha untuk bersikap tenang. Mau tidak mau dia pun keluar kamar daripada membuat keributan yang tidak berkesudahan. Bima yang melihat Kenanga pergi begitu saja pun hanya bisa menghela napas kasar. Ternyata sulit juga meluluhkan hati sang istri yang sedang marah. Namun, Bima tidak akan menyerah. Dia masih membutuhkan Kenanga, jadi harus lebih bersabar lagi.
Saat keduanya sampai di meja makan, ternyata memang Davina yang sedang menunggu di sana. Ruang makan pun jadi terasa begitu hening, hanya terdengar suara sendok beradu dengan pring. Biasanya Kenanga akan banyak bertanya pada Davina dan Bima. Namun, kali ini wanita itu hanya diam. Davina pun tidak berani bertanya, hanya bisa melirik ke arah papanya saja.
"Kenanga, aku pagi ini ada meeting penting yang tidak bisa ditinggalkan, bisakah kamu mengantar Davina ke kampus? Mobilnya sedang diperbaiki di bengkel," tanya Bima yang sengaja ingin memancing reaksi istrinya, berharap Kenanga menolak dan berdebat dengannya. Namun, keinginannya sia-sia saja.
Kenanga hanya mengangguk sebagai jawaban. Dia sengaja mengiyakannya karena berniat ingin pergi ke rumah kedua orang tuanya yang berada di kota sebelah. Perjalanan ke sana memang membutuhkan waktu tiga jam, tapi tidak masalah bagi Kenanga. Dia hanya perlu berkunjung sebentar, nanti bisa kembali sore hari.
Kenanga butuh waktu untuk berbicara dengan kedua orang tuanya. Dia akan menjelaskan apa yang terjadi dalam rumah tangganya. Dirinya tidak ingin berbohong lagi. Mudah-mudahan saja kedua orang tuanya tidak marah, mengingat dulu dirinya yang memaksa agar bisa menikah dengan Bima.
"Bukannya tadi Papa sudah janji mau nganterin aku?" sela Davina.
"Maaf, Sayang, baru saja asisten Papa kirim pesan katanya ada meeting mendadak."
"Oh begitu," sahut Davina dengan perasaan kecewa. Padahal tadi niatnya mereka akan mampir dulu ke rumah Alicia, tapi kalau sudah seperti ini jadi batal rencananya.
Kenanga sendiri tidak mau ambil pusing dengan permintaan sang suami. Jika memang Davina menolak justru itu akan memudahkan dirinya yang langsung pergi ke rumah kedua orang tuanya.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Kenanga mengantarkan Davina ke kampus. Biasanya sepanjang perjalanan Kenanga akan memberi banyak wejangan pada gadis itu. Namun, kali ini dia hanya diam. Wanita itu yakin Davina juga pasti bisa menjaga sendiri, mengingat usianya yang semakin bertambah.
Begitu sampai di depan kampus, Kenanga menepikan mobil agar Davina bisa segera turun.
"Terima kasih ya, Ma, sudah mau nganterin aku."
"Iya, sama-sama."
Davina diam, menunggu Kenanga berbicara lagi. Namun, ternyata wanita itu hanya diam sambil memperhatikan sekeliling. Davina pun hanya bisa membuang napas panjang.
"Aku masuk dulu ya, Ma."
Kenanga mengangguk sambil tersenyum. Davina menyalami tangan mamanya dan segera keluar dari mobil. Kenanga pun langsung melajukan mobilnya tanpa menunggu Davina memasuki gerbang universitas.
Davina yang melihat sikap Kenanga merasa ada sesuatu yang hilang padahal mereka masih tinggal bersama, bahkan berada dalam satu mobil, tapi terasa begitu jauh bagaikan orang asing yang tidak saling mengenal. Sebelumnya keduanya begitu kompak dalam hal apa pun, bahkan terkadang jika membeli sesuatu barang pun dirinya menginginkan couple dengan sang mama.
Sekarang hubungan mereka menjauh karena rencana perceraian kedua orang tuanya. Satu sisi, Davina senang karena nantinya bisa bersama dengan ibu kandungnya, tapi ada sisi lainnya yang terasa hampa. Itu karena ada sesuatu yang biasanya selalu ada untuknya, tapi sekarang menjauh dan menghilang.
Davina menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau berpikir berlebihan. Dirinya juga sudah yakin dengan keputusannya untuk mendukung sang papa dan mama kandungnya bersatu. Davina tidak ingin pendiriannya goyah, dia pun berbalik dan memasuki gedung universitas.
Sementara itu, Kenanga mengendarai mobilnya seorang diri menuju luar kota, tempat di mana kedua orang tuanya tinggal. Memang cukup jauh, perjalanan membutuhkan waktu tiga jam yang sangat melelahkan. Namun, bagi Kenanga itu tidaklah berarti. Dirinya sudah sangat rindu dengan kedua orang tuanya.
Apalagi sekarang ada sesuatu yang ingin dia bicarakan. Semoga saja orang tuanya nanti tidak syok saat mendengarnya nanti. Setelah tiga jam lamanya, akhirnya Kenanga sampai juga di rumah kedua orang tuanya. Dia sengaja tidak beristirahat di jalan agar segera sampai.
"Non Kenanga! Ini benar Non Kenangan 'kan?" tanya seorang wanita yang bernama Annisa.
Dia adalah istri dari Toni yang merupakan orang kepercayaan Ilham. Anisa juga bekerja dengan keluarga itu sebagai pembantu. Namun, keluarga Ilham menganggapnya seperti keluarga sendiri jadi, tidak pernah memerintah atau menganggap Toni dan istrinya rendah.
"Bibi Anisa! Iya, ini aku Kenanga."
Kenanga menyalami wanita itu. Dia sudah menganggap Anisa seperti orang tuanya sendiri, begitupun sebaliknya. Itu karena dulu saat kecil selain kedua orang tuanya, Anisa juga termasuk orang yang paling dekat dengannya. Jadilah sampai sekarang Kenanga sangat menghormati kedua orang itu.
"Kenapa tidak bilang kalau mau ke sini, Non? Masya Allah ! Non kenangan semakin cantik saja."
"Bibi bisa saja. Bibi dari kebun?" tanya Kenanga saat melihat Anisa membawa satu keranjang sayuran.
Kedua orang tua kenangan memang memiliki kebun yang luas. Bermacam-macam ditanam dalam kebunnya. Dari mulai padi, sayur dan buah-buahan. Ilham juga mempunyai banyak pekerja di bidangnya masing-masing, jadi dia tidak turun langsung, hanya sesekali mengontrol.
"Iya, Non. Kebetulan stok sayur di kulkas sudah habis, makanya Bibi ngambil lagi di kebun."
"Wah! Terlihat segar sekali, pasti rasanya sangat enak dan nikmat. Aku jadi ingin segera makan."
"Nona bisa saja. Ayo, masuk! Pak Ilham dan Bu Salma pasti senang melihat kedatangan Non Kenanga."
"Papa sama Mama ada di dalam, Bik?"
"Ada. Tadi baru pulang dari kebun."
"Kalau begitu, ayo masuk!"
Kedua wanita itu pun berjalan beriringan memasuki rumah.
semoga iya dan berjodoh dan bisa punya baby sekarang banyak bngt usia puber ke dua pada tekdung
tapi jaman sekarang yg kepala 4 tuh lagi wow kaya umur 25 th ga kelihatan tuir
ayo kenangan do something temui tuh wanita yg di cintai suamimu