NovelToon NovelToon
Sembilan Phoenix Agung : Jalan Kultivasi Terlarang

Sembilan Phoenix Agung : Jalan Kultivasi Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Lin Chen, seorang pemuda yang dianggap sampah karena memiliki Meridian Spiritual rusak, secara tidak sengaja menyentuh Phoenix bayi yang sedang bereinkarnasi. Pertemuan itu justru memberinya warisan terlarang tertinggi — "Sembilan Ikatan Phoenix Abadi".

Teknik kultivasi ini mengharuskan ia menikahi dan melakukan kultivasi ganda dengan Sembilan Phoenix Agung. Semakin banyak Phoenix yang ia taklukkan, semakin kuat ia. Namun, teknik ini dianggap melanggar tatanan langit, sehingga seluruh dunia kultivasi ingin membunuhnya.

"Dunia bilang aku terlarang? Baiklah… aku akan menikahi semua Phoenix dan membakar langit ini hingga hangus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 : Suara dari Dalam Warisan

Memiliki kekuatan baru dan mampu mengendalikannya adalah dua hal yang berbeda.

Hal itu disadari Lin Chen pada hari pertama ia mulai melatih kekuatan Phoenix secara serius.

Api Phoenix yang sebelumnya muncul dengan mudah ternyata tidak selalu mau mengikuti kehendaknya. Bukan karena kekuatan itu menolaknya, melainkan karena Lin Chen sendiri belum memahami cara menggunakannya dengan benar.

Percobaan pertamanya cukup sederhana.

Ia ingin menciptakan bola api sebesar kepalan tangan dan mempertahankannya tetap stabil.

Hasilnya jauh dari harapan.

Api yang muncul tiba-tiba meledak dan membakar semak-semak di sampingnya. Dua ekor tupai yang sedang mencari makan langsung berlari ketakutan meninggalkan area tersebut.

Lin Chen hanya bisa menghela napas.

Percobaan kedua berjalan sedikit lebih baik.

Kali ini ia mencoba mempertahankan nyala api selama mungkin.

Api berhasil bertahan selama sekitar dua puluh detik sebelum aliran energinya terganggu dan nyala itu padam begitu saja.

Percobaan ketiga menunjukkan kemajuan yang lebih jelas.

Lin Chen mulai mengikuti pola peredaran energi yang tercatat dalam warisan Phoenix. Ia menggerakkan tangannya sesuai jalur energi yang dijelaskan dalam teknik tersebut.

Untuk pertama kalinya, api bergerak mengikuti arah yang ia inginkan.

Nyala merah keemasan itu membentuk lintasan di udara sesuai gerakan tangannya.

Sayangnya, penggunaan energi yang dibutuhkan terlalu besar.

Hanya dalam waktu singkat, cadangan energinya hampir habis.

Lin Chen segera menyadari masalah utamanya.

Saat ini ia baru berada di Tingkat Kedua Kebangkitan Roh.

Meski kualitas energinya jauh melampaui kultivator biasa berkat warisan Phoenix, jumlah energi yang dimilikinya masih sangat terbatas.

Keadaannya seperti seseorang yang memperoleh pedang pusaka legendaris, tetapi belum memiliki kekuatan yang cukup untuk menggunakannya secara maksimal.

Namun Lin Chen tidak merasa kecewa.

Sebaliknya, ia mulai mempelajari kekuatan itu dengan sabar.

Setiap kegagalan dicatat.

Setiap kesalahan dianalisis.

Kemudian ia mencoba lagi.

Sikap seperti itu sudah menjadi bagian dari dirinya.

Tujuh belas tahun hidup sebagai orang yang dianggap tidak berbakat telah mengajarkannya satu hal penting.

Kemajuan kecil yang terus berlangsung jauh lebih berharga daripada keberhasilan besar yang hanya terjadi sekali.

Karena itu, ia mulai menyusun pola latihan sendiri.

Pagi hari digunakan untuk bermeditasi dan menyerap energi alam.

Dengan meridian barunya, kecepatan penyerapannya meningkat jauh dibanding sebelumnya.

Siang hari digunakan untuk melatih kendali atas Api Phoenix.

Bukan untuk memperbesar kekuatannya, melainkan untuk meningkatkan ketepatan dan kestabilannya.

Sore hari diisi dengan latihan fisik.

Meskipun kini memiliki energi spiritual, Lin Chen tidak pernah mengabaikan kekuatan tubuhnya.

Kebiasaan itu telah ia bangun sejak bertahun-tahun lalu.

Sedangkan malam hari digunakan untuk mempelajari warisan Phoenix.

Semakin ia mendalami teknik tersebut, semakin banyak lapisan pengetahuan yang perlahan terbuka.

Hari demi hari berlalu.

Kemajuannya mungkin tidak cepat.

Tetapi nyata.

Pada hari ketiga latihan, Lin Chen sudah mampu mempertahankan nyala api kecil selama satu menit penuh tanpa kehilangan kendali.

Pada hari kelima, ia berhasil memadatkan api menjadi garis tipis dan menggunakannya untuk mengukir permukaan batu dengan cukup presisi.

Kemajuan itu membuatnya semakin memahami sifat Api Phoenix.

Kekuatan tersebut bukan sekadar api biasa.

Ia hidup.

Ia memiliki kehendak.

Dan semakin tenang penggunanya, semakin mudah api itu dikendalikan.

Kemudian tibalah hari ketujuh.

Hari yang memberinya kejutan tak terduga.

Saat itu Lin Chen sedang bermeditasi di dekat tempat berlindungnya.

Pikirannya tenang dan seluruh perhatiannya terpusat pada aliran energi di dalam tubuh.

Tiba-tiba, instingnya menangkap bahaya.

Namun semuanya terjadi terlalu cepat.

Dari balik semak-semak di sisi kirinya, seekor Serigala Batu menerjang dengan kecepatan tinggi.

Ukurannya jauh lebih besar dibanding yang pernah ia temui sebelumnya.

Duri-duri di punggungnya lebih panjang dan tajam.

Aura yang dipancarkannya juga jauh lebih kuat.

Jika serangan itu mengenai sasaran, Lin Chen kemungkinan akan terluka parah.

Namun sesuatu yang tidak terduga terjadi.

Sebelum pikirannya sempat bereaksi, tubuhnya bergerak lebih dulu.

Energi Phoenix di dalam dirinya meledak secara naluriah.

Gelombang panas menyebar ke segala arah dari tubuhnya.

Tidak berbentuk.

Tidak memiliki teknik tertentu.

Hanya ledakan aura murni yang keluar secara spontan.

Serigala Batu yang sedang menerjang tiba-tiba berhenti empat langkah di depan Lin Chen.

Tubuhnya langsung menegang.

Bulu-bulunya berdiri.

Matanya yang kuning melebar penuh ketakutan.

Untuk sesaat, makhluk buas itu tampak seperti sedang menghadapi sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada dirinya.

Kemudian tanpa ragu sedikit pun, ia berbalik dan melarikan diri secepat mungkin.

Dalam hitungan detik, sosoknya sudah menghilang di balik pepohonan.

Keheningan kembali menyelimuti hutan.

Lin Chen membuka matanya.

Detak jantungnya masih sedikit lebih cepat dari biasanya.

Ia tidak bergerak.

Hanya duduk diam sambil mengingat kembali apa yang baru saja terjadi.

Beberapa saat kemudian, sebuah pemahaman muncul di benaknya.

Apa yang terjadi tadi bukanlah teknik yang tercatat dalam warisan Phoenix.

Itu adalah reaksi alami dari garis keturunan Phoenix yang kini berada dalam tubuhnya.

Aura yang dilepaskannya secara tidak sadar membawa tekanan dari makhluk yang berada jauh di puncak rantai kehidupan.

Bagi binatang buas biasa, tekanan semacam itu terasa seperti ancaman mutlak.

Naluri mereka memaksa untuk melarikan diri.

Lin Chen tersenyum tipis.

Penemuan itu sangat menarik.

Mungkin lebih berguna daripada yang terlihat pada pandangan pertama.

Ia menyimpan pemikiran tersebut dalam benaknya.

Kemudian kembali memejamkan mata dan melanjutkan meditasinya.

Tidak lama setelah itu, tiba tiba energi alam mengalir perlahan melalui meridian barunya, sementara Api Phoenix di dalam tubuhnya berdenyut tenang mengikuti irama napasnya.

Segalanya berjalan normal.

Hingga sebuah suara tiba-tiba muncul di dalam kesadarannya.

Suara itu muncul langsung dari kedalaman jiwanya, dari tempat yang sama di mana ia pernah bertemu dengan sosok Phoenix yang mewariskan kekuatannya.

Namun kali ini, suara yang terdengar bukan milik sosok api tersebut.

Suara ini berbeda.

Lebih muda.

Lebih tajam.

Dan terasa jauh lebih hidup.

"Jadi kau yang mewarisi teknik itu?"

Mata Lin Chen hampir terbuka karena terkejut.

Untungnya, ia berhasil mempertahankan kondisi meditasinya.

"Siapa kau?"

"Tidak buruk. Setidaknya kau langsung menanyakan hal yang penting."

Ada nada dingin dalam suara itu.

Namun di baliknya tersembunyi rasa penasaran yang tidak berhasil disembunyikan sepenuhnya.

"Kalau kau bertanya siapa aku, sejujurnya aku juga belum punya jawaban yang jelas."

Lin Chen mengernyit.

"Maksudmu?"

Suara itu terdiam sesaat.

Seolah sedang mencari cara menjelaskan sesuatu yang bahkan dirinya sendiri belum sepenuhnya pahami.

"Beberapa hari terakhir ada sesuatu yang terbangun di dalam diriku."

"Sebuah ingatan."

"Atau mungkin naluri."

"Aku tidak yakin."

"Rasanya seperti mimpi yang selama ini kabur, lalu tiba-tiba sebagian darinya menjadi jelas."

Jantung Lin Chen berdetak sedikit lebih cepat.

Ia segera memahami kemungkinan yang paling masuk akal.

Phoenix.

Salah satu dari delapan Phoenix yang masih tersegel.

Warisan yang diterimanya telah mulai bekerja.

Salah satu jiwa Phoenix yang bereinkarnasi tampaknya sudah mulai merasakan panggilan tersebut.

"Di mana kau berada?" tanya Lin Chen.

Suara itu terdengar ragu untuk pertama kalinya.

"Aku tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu."

"Hah?"

"Aku bahkan tidak tahu bagaimana kita bisa berbicara seperti ini."

Nada suaranya terdengar sedikit kesal.

"Menurut logika, hubungan semacam ini tidak seharusnya terjadi."

"Tetapi tetap terjadi."

Lin Chen mengangguk pelan. "Mungkin karena warisan Phoenix."

"Mungkin."

Suara itu tidak membantah.

Keheningan sejenak menyelimuti ruang kesadaran mereka.

Kemudian suara tersebut kembali berbicara.

"Siapa namamu?"

"Lin Chen."

"Hm."

Suara itu mengulang nama tersebut perlahan.

Seolah sedang menimbang atau mengingat sesuatu.

"Lalu apa yang kau lakukan dengan teknik itu?"

Lin Chen berpikir sejenak sebelum menjawab.

"Tidak banyak."

"Aku hanya menerima warisan yang diberikan kepadaku."

"Teknik itu memilihku. Aku tidak memilihnya."

Keheningan kali ini lebih lama.

"Aneh." Nada suara itu berubah sedikit.

Masih dingin. Namun tidak setajam sebelumnya.

"Apa tingkat kultivasimu sekarang?"

Lin Chen menghela napas. "Tingkat Kedua Kebangkitan Roh."

Beberapa saat tidak ada jawaban.

Kemudian terdengar suara seperti tawa kecil yang ditahan.

Atau mungkin suara seseorang yang tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya.

"Tingkat Kedua Kebangkitan Roh?"

"Ada masalah?"

"Tidak. Hanya saja aku tidak menyangka seseorang dengan tingkat kultivasi serendah itu mampu menerima warisan sebesar ini."

Lin Chen tersenyum tipis. "Sejujurnya, aku juga tidak menyangkanya."

Untuk pertama kalinya, suasana percakapan terasa sedikit lebih ringan.

Meski hanya sedikit.

Suara itu kembali terdiam.

Lalu berkata, "Aku tidak bisa bertahan lama."

"Koneksi ini tidak stabil."

"Aku bahkan belum memahami bagaimana cara kerjanya."

Lin Chen mendengarkan dengan tenang.

 "Tetapi ada satu hal yang harus kau pahami." Nada suara itu kembali serius. "Aku tidak mudah mempercayai orang lain."

"Aku tidak percaya pada seseorang hanya karena takdir mengatakan kami memiliki hubungan."

"Kau dan aku bahkan belum pernah bertemu."

Lin Chen tidak membantah. Karena ia memahami perasaan tersebut.

"Aku juga tidak akan mengikuti seseorang yang belum membuktikan dirinya."

Suara itu terdengar tegas.

"Seseorang yang bahkan belum mampu melindungi dirinya sendiri tidak pantas memimpin siapa pun."

Lin Chen tersenyum tipis.

"Aku tidak pernah memintamu untuk percaya padaku."

Keheningan terjadi, lalu suara itu bertanya,

"Tidak?"

"Aku hanya memintamu untuk tidak memutus hubungan ini sebelum kita memiliki kesempatan berbicara lagi."

Hening kembali.

Kali ini lebih lama.

Seolah pemilik suara itu tidak menduga jawaban tersebut.

Akhirnya ia berbicara lagi.

"Kau tidak terdengar seperti seseorang yang sedang mencari perhatian."

"Karena aku tidak sedang mencari perhatian." Lin Chen menjawab dengan tenang. "Aku hanya menjelaskan keadaan yang sebenarnya."

Untuk beberapa saat, tidak ada suara.

Namun Lin Chen dapat merasakan perubahan kecil dalam hubungan mereka.

Seolah tembok es yang mengelilingi lawan bicaranya retak sedikit.

Kemudian suara itu mengembuskan napas pelan.

"Jadilah lebih kuat, Lin Chen."

Nada suaranya terdengar lebih lembut dibanding sebelumnya. Meski masih berusaha menyembunyikannya.

"Aku tidak tertarik ditemukan oleh seseorang yang tidak mampu menjaga dirinya sendiri."

"Kau ingin bertemu denganku?"

"Buktikan dulu bahwa kau layak."

Lin Chen mengangguk. "Baik."

"Hanya itu?"

"Hanya itu."

Suara itu terdiam sesaat.

Lalu terdengar sesuatu yang menyerupai tawa kecil.

Sangat samar.

Dan untuk pertama kalinya, tidak terasa dingin.

"Mungkin kita akan bertemu lagi."

"Itu juga jika kau berhasil bertahan hidup."

Koneksi itu tiba-tiba menghilang.

Keheningan kembali memenuhi kesadaran Lin Chen.

Perlahan ia membuka matanya.

Langit malam membentang luas di atas Pegunungan Cang Lei.

Bintang-bintang bersinar terang di antara celah dedaunan.

Lin Chen menatapnya beberapa saat sebelum tersenyum tipis.

Salah satu Phoenix telah mulai terbangun.

Dan bahkan sebelum mereka bertemu, ia sudah menerima tantangan pertamanya.

Anehnya, hal itu justru membuat semangatnya semakin kuat.

Karena tantangan selalu lebih baik daripada kehampaan.

Dan untuk pertama kalinya sejak menerima warisan Phoenix, tujuan di hadapannya terasa sedikit lebih nyata.

1
Green Boy
ayo lanjut lagi thor🙏🙏
Daryus Effendi
bosan bacanya terlalu lambat alzrnya.bertele tele
Hadi Hadi
up up 👍
Hadi Hadi
up up 😍😍
Anonymous
lanjut thor seru ceritanya🙏
Si Suka Baca
Vote meluncur
Ihwan12
mantap lanjut lagi thor💪💪👍👍
Xiao Lin—Gold Author
satu mawar 🌹
Xiao Lin—Gold Author
niceeeee👍👍👍
Xiao Lin—Gold Author
Mantap👍👍👍
Xiao Lin—Gold Author
Suyin mungkin udah ketagihan sama pedang ajaib Wei Hao🤔/Sly//Doge/
Celestial Quill: /Facepalm/
total 1 replies
Xiao Lin—Gold Author
Mantap👍
Shu Qing
Luar biasa
Fatih Al
awal yang bagus👍👍
Green Boy
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!