Blurb
"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"
Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.
Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."
Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.
Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.
Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.
Semuanya terlambat Alina sadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: MALAIKAT TANPA SAYAP---TIDAK BUTUH IBU BARU
Sinopsis
Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.
Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."
Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.
Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.
Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.
Semuanya terlambat Alina sadari.
Saat Alina menemukan buku diary lusuh di bawah kasur Dimas. Kertasnya menguning, tulisannya bergetar:
_"Ibu tidak bisa memberi rumah megah untukmu, Nak. Ibu hanya punya doa yang tidak pernah putus, untuk menjaga kamu sampai Ibu tidak kuat lagi..."_
Di ruang kecil itu, Alina akhirnya runtuh.
Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, Alina memeluk perempuan yang dulu ia usir.
"Maaf Bu... Alina baru mengerti sekarang."
...BAB 1...
...MALAIKAT TANPA SAYAP---TIDAK BUTUH IBU BARU...
Namaku Alina Mahendra. Usia 16 tahun. Anak tunggal Aditya Mahendra.
Jika orang mengetik nama Papa di mesin pencari, yang muncul adalah "CEO Mahendra Group", "Masuk Forbes 30 Under 30 Asia", "Pemilik 3 pulau pribadi".
Jika mereka mengetik namaku, yang muncul adalah "Alina Mahendra menghadiri Paris Fashion Week", "Puteri Mahendra mengganti mobil tiap 6 bulan", "Alina Mahendra merayakan ulang tahun di kapal pesiar".
Aku sudah terbiasa dengan semua itu. Aku tumbuh di rumah berlantai tujuh dengan kolam renang di atap dan lift kaca. Sejak Mama meninggal karena kanker empat tahun lalu, tidak ada satu pun keinginanku yang ditolak. Ingin menangis tengah malam? Bibi akan menyiapkan susu hangat. Ingin membolos sekolah? Papa hanya akan berpesan agar aku tidak kelelahan. Ingin membeli tas seharga ratusan juta? Kartu hitam Papa selalu ada di dompetku.
Aku kira hidupku sudah sempurna. Sampai hari itu. Lima tahun lalu ....
"Lin, turunlah. Papa ingin memperkenalkan seseorang padamu," suara Papa terdengar dari interkom kamar.
Aku merapikan lip goss warna nude yang harganya setara gaji satu bulan karyawan. Turun menapaki tangga marmer dengan sandal rumah berbahan wol. Wajahku datar, tanpa ekspresi.
Pasti sekretaris baru. Atau rekan bisnis Papa. Hal membosankan seperti biasa.
Namun saat kakiku menginjak lantai ruang tamu, langkahku terhenti.
Ruangan yang biasanya hanya diisi aku, Papa, dan dua orang bodyguard, kini terasa sesak. Ada dua orang asing berdiri di sana.
Seorang perempuan. Usianya sekitar tiga puluh dua tahun. Ia mengenakan gamis berwarna coklat muda yang warnanya sudah pudar di bagian siku. Kerudung segi empatnya polos, tanpa merek. Yang paling mencuri perhatianku adalah tangannya. Terlihat kasar. Kapalan. Jelas bukan tangan perempuan yang hidupnya mudah. Di tangannya tergenggam tas kresek biru dari minimarket.
Di sampingnya berdiri seorang anak laki-laki 2-3 tahunan di bawahku. Tubuhnya kurus, kepalanya menunduk dalam. Kaos oblongnya kebesaran, celananya kependekan hingga mata kakinya terlihat.
Papa berdiri di antara mereka. Senyum di wajahnya... berbeda. Senyum yang sudah lama tidak aku lihat sejak Mama pergi. Senyum yang hangat. Senyum yang dulu hanya untuk Mama.
"Nak, perkenalkan. Ini Ibu Kirana. Dan ini Dimas, putranya," suara Papa sedikit bergetar. "Mulai hari ini, mereka akan tinggal bersama kita di sini."
Dunia di kepalaku berhenti berputar selama beberapa detik.
Ibu Kirana? Dimas? Tinggal di sini? Di rumah ini?
Perempuan itu melangkah maju satu langkah. Senyumnya lembut. Terlalu lembut untuk ukuran standarku.
"Assalamualaikum, Nak Alina. Panggil Ibu saja, ya..."
Aku tidak menjawab. Mataku menelusuri dirinya dari atas hingga bawah. Gamisnya mungkin tidak sampai lima puluh ribu rupiah. Kerudungnya sudah luntur di bagian ujung. Kuku jarinya pendek, di sela-sela kukunya masih ada sisa kapur putih.
Seorang guru. Pasti. Aku bisa mencium bau kapur dan keringat dari tubuhnya. Bau orang yang setiap hari berdesakan di angkutan umum.
Papa berdeham kecil. "Bu Kirana ini, adalah calon istri Papa, Lin. Calon Ibu barumu..."
"Beliau ini berprofesi sebagai guru SD di pelosok desa ..." lanjut Aditya.
Dadaku terasa sesak.
Calon istri? Calon Ibu? Perempuan ini?
Pikiranku berlari cepat. Empat tahun Papa hidup sendiri. Empat tahun aku menjadi satu-satunya puteri di rumah ini. Empat tahun aku menjaga agar nama Mahendra tetap bersih tanpa ada yang mengganggu. Dan sekarang, tiba-tiba ada perempuan asing ingin menggantikan posisi Mama?
"Maaf Pah," suaraku keluar pelan. Tapi dingin. Dingin hingga membuatku sendiri merinding.
Semua orang menoleh padaku. Ibu Kirana langsung menundukkan kepala. Dimas semakin bersembunyi di belakang Ibunya.
Aku menegakkan dagu. Menatap mata Papa, lalu beralih menatap Ibu Kirana. Sudah bisa kubaca, dia memang seorang guru. Tepatnya guru honorer.
"Alina ... tidak butuh Ibu baru." ketusku tegas.
Keheningan menyelimuti ruangan. Sunyi sampai suara jam dinding antik peninggalan kakek terdengar jelas. Bahkan Bibi yang sedang lewat di dapur pun menghentikan langkahnya.
Wajah Papa seketika kehilangan warna. "Alina, jaga ucapanmu."
"Apa aku salah, Pah?" Aku tersenyum tipis. Senyum tanpa kehangatan. "Papa ingin menikahi seorang guru yang belum mapan? Lihatlah cara penampilannya Pah?! Pantaskah dia jadi Ibu barunya Alina?!"
"ALINAA!" Bentakan Papa terdengar untuk pertama kalinya sejak Mama meninggal.
Ibu Kirana segera menarik tangan Dimas. "Sudah, Nak. Kita permisi dulu saja."
"Tunggu, Kirana," Papa mencoba menahan. Tapi matanya beralih padaku. Ada kekecewaan di sana. Kekecewaan yang dalam dan berat.
Kecewa? Seharusnya aku yang kecewa, Pah.
Ibu Kirana mengangkat wajahnya perlahan. Senyumnya masih tersungging di bibir. Senyum yang membuat dadaku semakin sesak.
"Tidak apa-apa, Mas Aditya. Saya mengerti. Kehilangan seorang ibu itu tidak mudah bagi anak," suaranya terdengar lembut, hampir seperti bisikan. "Nak Alina, Ibu tidak bermaksud merebut Papamu darimu. Ibu hanya ingin berkenalan baik denganmu."
Tidak bermaksud merebut? Itu mustahil.
Seorang guru yang masih honorer tiba-tiba ingin menikah dengan seorang konglomerat. Jika bukan karena harta, lalu karena apa? Karena ingin menyandang gelar "Nyonya Mahendra"?
Aku melangkah mendekat. Sengaja menginjak ujung gamisnya hingga kain itu sedikit tertarik.
"Ibu," bisikku. Cukup keras agar Papa dapat mendengarnya. "Rumah ini memiliki dua puluh kamar tidur. Tapi tidak ada satu pun yang diperuntukkan untuk Ibu. Ibu mengerti maksud Alina, bukan?"
Ibu Kirana tidak mundur. Ia hanya menggenggam tangan Dimas lebih erat.
"Ya, Nak. Ibu mengerti," jawabnya pelan. Lalu ia menunduk lagi. "Permisi, Mas Aditya. Permisi, Nak Alina."
Mereka berbalik dan berjalan menuju pintu belakang. Tidak melalui pintu utama. Seperti orang yang tidak ingin menarik perhatian.
Papa masih berdiri mematung, menatap punggung mereka hingga menghilang.
Aku berbalik tanpa sepatah kata, lalu naik ke kamar. Pintu kamar kubanting hingga menimbulkan suara keras yang menggema.
Begitu berada di dalam kamar, aku segera meraih ponsel. Membuka Instagram dan mengunggah foto bagian belakang gamis Ibu Kirana yang baru saja keluar dari pintu belakang. Aku tambahkan stiker tulisan di atasnya:
*"Mulai hari ini, rumah ini tidak aman lagi. #MahendraHarusKuat"*
Tanganku gemetar saat menekan tombol posting. Bukan karena takut. Karena marah.
Empat tahun Mama meninggalkanku. Empat tahun aku belajar hidup tanpa sosok ibu. Empat tahun aku menjaga agar nama Mahendra tidak ternoda.
Dan sekarang, seorang perempuan miskin, datang membawa anaknya, ingin duduk di kursi yang seharusnya milik Mama?
Tidak. Selama aku masih Alina Mahendra, hal itu tidak akan terjadi.
Aku tidak butuh seorang ibu baru. Aku tidak butuh kasih sayang dari orang asing.
Aku hanya butuh Mama. Tapi Mama sudah tidak ada lagi.
Bersambung ...
Suami istri tidur terpisah, istri sakit tidak tau, istri begadang tidak tau, lalu buat apa menikaaaahhhh..???? 🙄🙄🙄