NovelToon NovelToon
Aku Menyelamatkan Seorang Mafia

Aku Menyelamatkan Seorang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Keysa Bom

Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.

Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.

Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.

Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.

Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?

Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 21 Bayangan yang Mulai Bergerak

Malam masih menyelimuti ruangan rapat bawah tanah di kota pelabuhan itu. Keheningan terasa mencekam. Di atas meja, foto Kael tergeletak begitu saja. Tidak ada satu pun orang yang berani menyentuhnya, seolah kertas foto itu bisa meledak kapan saja.

"Pastikan informasi ini tidak bocor," ucap pria tua yang memimpin pertemuan, memecah kesunyian sembari menatap lautan gelap di luar jendela.

Ia membalikkan badan perlahan, menatap tajam orang-orang di depannya. "Jika musuh mengetahui Kael masih hidup sebelum kita menemukannya..."

Kalimatnya menggantung. Ia sengaja tidak melanjutkannya.

"Kami mengerti, Tuan," sahut salah satu pria berjas di ujung meja, mengangguk patuh dengan wajah tegang. "Perburuan akan segera dimulai."

"Bagus. Karena begitu dunia bawah tahu dia masih hidup, Kael akan menjadi target semua faksi," bisik pria tua itu, matanya berkilat penuh ambisi.

Ratusan kilometer dari sana, Desa Sekar justru baru saja menyambut pagi yang damai. Suara tawa anak-anak riuh memenuhi jalanan tanah yang masih basah oleh embun.

Di depan kelas, Kael sedang sibuk menata papan tulis kayu.

"Pa... Guru!" panggil Rani. Ia berlari kecil menghampirinya sambil memeluk secarik kertas di dada.

"Eh, Rani. Ada apa?" Kael menoleh, lalu berlutut menyamakan tingginya.

"I-ini...," ucap Rani pelan, menyodorkan kertas itu dengan pipi memerah karena malu.

Kael menerima kertas itu. Matanya perlahan membaca tulisan agak miring di sana.

“Selamat pagi keluarga.”

Kael terdiam beberapa detik. Dadanya mendadak terasa hangat perasaan asing yang sudah lama tidak ia rasakan.

"Ini... Rani yang tulis sendiri?" tanya Kael lembut, menatap Rani.

"T-tulis... sendiri. K-kael," jawab Rani terbata-bata sambil menunjuk tulisan itu, lalu tersenyum sangat lebar sampai matanya menyipit.

"Terima kasih, ya. Selamat pagi juga, Rani," ucap Kael hangat sambil mengusap lembut puncak kepala gadis kecil itu.

✨✨✨✨✨

Siang harinya, udara berubah cukup terik. Kael memutuskan menyudahi pelajaran lebih cepat dan beralih memperbaiki rak buku kecil di pojok kelas yang mulai reyot.

TOK! TOK! TOK!

"Kalau dipukul terlalu keras, nanti kayunya malah pecah, lho," tegur sebuah suara dari arah pintu.

Kael menghentikan palunya, lalu menoleh ke belakang. "Kau sedang mengajar anak-anak atau sedang mengawasiku, Dokter?"

Hana tertawa kecil, melangkah masuk sambil mendekap kotak obat dan beberapa buku medis.

"Dua-duanya, sepertinya."

"Duduklah, udaranya sedang panas sekali di luar," ujar Kael, kembali mengetuk paku dengan lebih hati-hati.

"Tidak apa-apa, aku cuma sebentar," sahut Hana. Ia bersandar di meja guru, memperhatikan gerak-gerik Kael.

Suasana di antara mereka kini terasa jauh lebih santai. Tidak ada lagi kecanggungan seperti beberapa bulan lalu.

Namun, pandangan Hana perlahan turun, tertuju pada kalung yang menggantung di leher Kael. Kalung yang sama, yang tidak pernah pria itu lepaskan sekejap pun.

"Kael..." panggil Hana lirih.

"Ya?" Kael menatap Hana, jemarinya secara tidak sadar langsung memegang kalung tersebut.

Hana melihat kilat kesedihan yang sangat dalam di mata Kael setiap kali kalung itu tersentuh. Ia menelan kembali pertanyaannya.

"Ah, tidak. Maksudku... raknya sudah terlihat jauh lebih rapi. Kerja bagus."

"Terima kasih," balas Kael, tersenyum tipis menyadari Hana sengaja mengalihkan pembicaraan.

Menjelang sore, di beranda rumah Bu Ratih.

"I-ibu... lihat!" seru Rani riang. Ia menarik-narik ujung baju Bu Ratih yang sedang melipat pakaian.

"Wah, gambar apa ini, Sayang?" Bu Ratih mendekat, memakai kacamata tuanya.

Di atas kertas itu, ada gambar empat orang di depan sebuah rumah Bu Ratih, Rani, Hana, dan Kael. Di bagian atasnya tertulis

'Keluargaku.'

"Ibu... Rani... Ka-Kael... Kak Hana," ucap Rani satu per satu sambil menunjuk gambar orang di kertas itu dengan jarinya yang mungil. 'Keluarga!'

Bu Ratih terpaku. Air matanya mendadak menggenang di pelupuk mata melihat perkembangan Rani yang mulai bisa mengeja kata itu. Tanpa sepatah kata pun, ia langsung menarik Rani ke dalam pelukannya.

"Ibu? Tang?" tanya Rani bingung. Lidahnya masih kaku untuk mengucap kata 'menangis'. Tangan mungilnya menepuk-nepuk punggung Bu Ratih.

"Ibu tidak apa-apa, Nak. Ibu hanya sangat bahagia," bisik Bu Ratih, mengeratkan pelukannya. Sore itu, rumah kecil mereka terasa benar-benar utuh.

Malam harinya, ketenangan itu mendadak terasa berbeda bagi Kael. Ia duduk sendirian di tepi pantai, menatap hamparan laut yang gelap di bawah taburan bintang.

Sret....

Kael menoleh cepat ke belakang. Nihil. Hanya angin malam yang meniup dedaunan.

"Perasaan ini lagi..." gumam Kael pada diri sendiri. Ia memegangi dadanya yang berdegup agak kencang.

Ini bukan rasa takut. Ini adalah insting bertarung kewaspadaan murni yang dulu selalu menyelamatkan nyawanya di medan perang. Sudah beberapa hari ini perasaan terkutuk itu tidak mau pergi.

"Apakah aku hanya terlalu merindukan masa lalu? Atau..." Kael menggantung kalimatnya, menatap lurus ke cakrawala laut yang hitam. "Apakah mereka sudah mulai mencium keberadaanku di sini?"

Di saat yang sama, jauh di tengah lautan lepas. Sebuah kapal motor berukuran sedang sedang membelah ombak malam, bergerak mantap menuju arah timur.

Di dalam salah satu kabin yang remang-remang, seorang pria berpakaian hitam legam sedang memandangi selembar foto di tangan. Foto wajah Kael.

"Jejakmu terlalu bersih, tapi kau tidak bisa bersembunyi selamanya," ucap pria itu dengan suara berat yang dingin.

Ia melipat foto tersebut, lalu memasukkannya ke dalam saku jaketnya dengan senyum misterius yang mengembang di bibirnya.

"Jika benar itu kau... bersiaplah. Aku akan segera menemukanmu, Ketua."

✨✨✨✨

Kembali ke dermaga kecil Desa Sekar, angin malam berembus lebih kencang dari biasanya. Langkah kaki yang tenang namun berat terdengar mendekati tempat Kael duduk.

"Belum tidur, Pak Guru?"  Tegur kepala desa, sambil membawa sebuah senter bambu tua.

"Ah, Pak Kades," Kael menoleh sedikit, memberi ruang di atas batang kayu besar tempatnya duduk. "Belum bisa tidur, Pak. Udara malam ini rasanya... berbeda."

Kepala Desa duduk perlahan di sebelah Kael, mendesah panjang sambil memandang laut. "Laut selalu tahu kapan badai akan datang, Kael. Tapi orang tua sepertiku kadang cuma bisa menebak dari arah angin."

"Arah angin?" Kael mengernyitkan alis, menatap pria tua itu dengan saksama.

"Sejak sore tadi, beberapa nelayan bilang ada kapal asing yang mematikan lampunya di perbatasan air dalam," kata Kepala Desa, mengetuk-ngetuk senternya yang agak redup. "Bukan kapal ikan. Ukurannya lebih besar."

Jantung Kael berdegup sekali lebih keras. Instingnya yang sejak tadi berteriak waspada kini mendapatkan kepastian fisik.

"Apa mereka berlabuh di sekitar sini, Pak?" tanya Kael, nadanya diatur sedatar mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan.

"Tidak tahu. Kapal itu cuma melintas lambat lalu hilang di balik tebing batu hitam," jawab Kepala Desa, lalu menepuk pundak Kael dengan ramah.

"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Mungkin cuma kapal dagang yang tersesat. Ayo pulang, besok anak-anak menunggumu di kelas."

"Baik, Pak. Sebentar lagi saya menyusul," balas Kael, memaksakan sebuah senyuman tipis.

Begitu siluet Kepala Desa menjauh dan menghilang di antara pepohonan kelapa, senyum Kael langsung lenyap. Matanya menajam, sedingin es.

Ia meraba pinggang belakangnya tempat yang biasanya dihuni oleh sebilah pisau taktis militer. Kosong. Di sana kini hanya ada sebuah kain lap sekolah yang tertinggal di sakunya.

"Tebing batu hitam..." bisik Kael, suaranya parau tertelan gemuruh ombak.

Ia berdiri, membersihkan pasir yang menempel di celananya dengan satu sentakan cepat. Tatapannya tidak lagi tertuju pada keindahan bintang, melainkan pada titik tergelap di ujung semenanjung desa.

"Jika kalian datang untuk merenggut ketenangan tempat ini..." Kael mengepalkan tinjunya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Akan kupastikan tidak ada satu pun dari kalian yang bisa kembali naik ke atas kapal."

Kapal itu terus melaju menembus ombak, membawa ancaman yang perlahan tapi pasti, mulai bergerak mendekati ketenangan Desa Sekar.

Bersambung....

1
falea sezi
Rani g punya ortu kah
Keysa_Bom: ada kak 😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!