NovelToon NovelToon
My Love Never Left

My Love Never Left

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Zanesa

Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.

Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.

​Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.

​Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.

​Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.

​"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Malam pesta di mansion megah itu masih terus berlangsung dengan meriah.

Alunan musik klasik mengalun lembut membelah ruangan, berpadu dengan suara denting gelas kaca dan gelak tawa para tamu elite yang saling berbincang hangat. Namun, di tengah kemegahan itu, Aurora Quinn sama sekali tidak bisa menikmati atmosfer di sekelilingnya.

Sebab, sejak pertemuan pertamanya dengan Victoria Kingsley di aula utama tadi, ada sebuah perasaan aneh yang terus-menerus mengusik dan mengganggu ketenangan hatinya. Sebuah perasaan tidak nyaman yang seolah-olah terus berbisik tajam ke telinganya; bahwa dirinya tidak akan pernah diterima di tempat bermartabat ini.

---

"Aurora?"

Sebuah sentuhan lembut mendarat di punggung tangan Aurora, membuat gadis itu sedikit tersentak dari lamunan panjangnya. Ia menoleh dan mendapati Alexander sedang menatapnya penuh perhatian.

"Hm? Ada apa, Alex?" tanya Aurora mencoba mengulas senyum.

"Kamu melamun lagi," selidik Alexander dengan nada suara rendah.

Aurora menyunggingkan senyuman kecil yang terkesan dipaksakan. "Aku cuma sedikit kelelahan," jawab Aurora berkilah.

Alexander terdiam, menatap lekat sepasang mata cokelat milik Aurora selama beberapa detik. Tatapan mata abu-abu pria itu terasa begitu dalam, seolah-olah sanggup membaca setiap helai benang kusut yang ada di dalam isi kepala Aurora saat ini.

"Kamu sedang memikirkan ucapan ibuku yang tadi, kan?" tebak Alexander langsung tanpa meleset sedikit pun.

Aurora terbungkam, memilih untuk menundukkan wajahnya ke bawah. Melihat reaksi diam tersebut, Alexander langsung tahu bahwa tebakannya seratus persen benar.

Pria itu menghela napas panjang, lalu mengusap jemari tangan Aurora dengan lembut. "Jangan terlalu dipikirkan, Aurora. Ibuku memang selalu seperti itu kepada siapa pun," bujuk Alexander mencoba menenangkan.

Aurora tetap menunduk, meremas ujung gaunnya perlahan. "Sangat mudah bagi kamu untuk berkata seperti itu, Alex. Karena kamu adalah putranya, bagian dari dunia ini," gumam Aurora dengan nada suara yang berangsur lirih.

Alexander tidak langsung menjawab kalimat itu. Pria kasta atas itu terdiam seribu bahasa, karena ia tahu bahwa untuk kali ini... apa yang dikatakan oleh Aurora adalah sebuah kebenaran yang tidak bisa ia bantah.

---

Beberapa saat kemudian, atmosfer di antara mereka terganggu saat beberapa relasi bisnis penting dari keluarga Kingsley berjalan menghampiri dan memanggil nama Alexander. Pria itu tampak sangat enggan untuk beranjak dari posisinya saat ini.

"Kamu bisa menungguku di sini sebentar? Aku harus menyapa mereka," pamit Alexander dengan raut wajah yang menyiratkan rasa tidak tenang.

Aurora menganggukkan kepalanya cepat, mencoba meyakinkan kekasihnya. "Pergilah, Alex. Aku baik-baik saja di sini, kok," jawab Aurora tulus.

"Kamu benar-benar yakin tidak apa-apa kutinggal sendirian?" tanya Alexander memastikan sekali lagi.

Aurora mengulas senyuman manis. "Iya, aku yakin. Jangan khawatirkan aku," jawab Aurora meyakinkan.

Alexander akhirnya melangkah pergi memenuhi panggilan para relasi bisnisnya. Meskipun demikian, di sepanjang langkah kakinya menjauh, pria itu masih terlihat beberapa kali menolehkan kepalanya ke belakang hanya untuk memastikan keadaan Aurora. Tindakan protektif yang berlebihan itu tak pelak membuat Aurora merasa sedikit geli di tengah kegundahannya.

---

Demi mendapatkan pasokan udara segar, Aurora memutuskan untuk melangkah keluar menuju ke arah area balkon luar mansion yang tampak sepi. Udara malam kota New York yang berembus pelan seketika terasa jauh lebih nyaman menerpa kulitnya.

Dari tempatnya berdiri di pembatas balkon, Aurora bisa melihat hamparan pemandangan lampu-lampu kota yang berkilauan indah dari kejauhan. Sangat indah dan memukau. Namun sayang, ketenangan singkat yang baru saja ia dekap itu tidak mampu bertahan lama.

Suara ketukan dari tumit sepatu mahal yang beradu dengan lantai marmer terdengar menggema dari arah belakangnya, berjalan semakin mendekat. Aurora refleks membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang datang, dan seketika itu juga seluruh tubuhnya mendadak menegang kaku.

Sosok yang berdiri beberapa meter di hadapannya tidak lain adalah Victoria Kingsley.

---

Wanita paruh baya yang tetap terlihat luar biasa cantik itu berdiri anggun sembari memegang sebuah gelas berkaki berisi *wine* merah di tangan kanannya. Ekspresi di wajahnya tampak begitu tenang dan sulit untuk ditebak.

Aurora dengan segera membetulkan posisi berdirinya menjadi lebih tegap dan sopan. "Nyonya Kingsley," sapa Aurora memberi hormat.

Victoria berjalan perlahan mendekat, lalu mengambil posisi berdiri tepat di samping Aurora. Sepasang matanya menatap lurus ke arah hamparan pemandangan kota di depan mereka. Tidak ada satu pun di antara mereka yang membuka suara selama beberapa detik berikutnya, menciptakan keheningan yang canggung.

Hingga akhirnya, Victoria memutuskan untuk memecah kesunyian tersebut dengan nada suara yang teramat tenang. "Pemandangan dari sudut balkon ini sangat bagus, bukan?" tanya Victoria membuka percakapan.

Aurora menganggukkan kepalanya pelan. "Iya, Nyonya. Sangat bagus," jawab Aurora seadanya.

Victoria tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terasa hambar. "Alexander selalu menyukai tempat ini sejak dia masih kecil. Setiap kali dia merasa jenuh dengan semua tuntutan belajarnya, di sinilah dia akan berdiri," cerita Victoria dengan nada bernostalgia.

Aurora tidak tahu harus memberikan respons seperti apa untuk menanggapi cerita pribadi tersebut, jadi ia memilih untuk tetap diam dan mendengarkan dengan takzim.

---

"Aurora," panggil Victoria, memecah keheningan sekali lagi. Nada suaranya terdengar begitu tenang, namun entah mengapa sukses membuat ritme debar jantung Aurora mulai berjalan tidak nyaman.

"Iya, Nyonya?" sahut Aurora menolehkan kepalanya sopan.

Victoria akhirnya ikut memalingkan wajahnya, menatap langsung ke arah Aurora. Sorot mata wanita itu tampak begitu tajam, sedingin es yang siap menghujam pertahanan mental lawannya.

"Menurut perkiraanmu sendiri, apakah hubungan asmara yang seperti ini akan bisa bertahan lama?" tanya Victoria frontal, melemparkan pertanyaan yang menusuk.

Aurora seketika membeku di tempatnya berdiri. "Maaf, Nyonya... saya kurang mengerti apa maksud dari pertanyaan Anda," jawab Aurora mencoba membela diri.

Victoria tertawa kecil mendengar jawaban itu. Namun, suara tawanya sama sekali tidak terdengar hangat ataupun ramah di telinga Aurora.

"Kamu adalah gadis yang pintar, Aurora Quinn. Aku sangat yakin kamu tahu dan mengerti dengan jelas apa maksud dari pertanyaanku ini," sindir Victoria halus.

Aurora perlahan-lahan mengepalkan kedua belah tangannya di balik lipatan gaun malamnya, mencoba menahan gejolak emosi yang mulai membakar dadanya.

---

Victoria kembali melemparkan pandangannya ke depan, lalu melanjutkan kalimatnya dengan nada mendikte yang teramat dingin.

"Alexander adalah satu-satunya pewaris tunggal dari silsilah keluarga besar Kingsley. Seluruh garis masa depannya sudah dirancang dengan sangat sempurna sejak dia dilahirkan ke dunia ini," urai Victoria tanpa jeda.

Aurora memilih tetap diam, mendengarkan setiap patah kata yang mulai terasa menghimpit paru-parunya.

"Bagaimana perusahaannya berjalan, bagaimana struktur keluarganya nanti, hingga bagaimana reputasi nama besarnya di mata publik dunia. Semuanya sudah ada jalurnya sendiri," lanjut Victoria lagi.

Setiap kalimat yang meluncur dari bibir ibunda Alexander itu terasa semakin berat dan menghantam harga diri Aurora dengan telak. Aurora tahu pasti, bahwa pembicaraan di balkon sunyi ini tidak akan pernah berakhir dengan baik bagi dirinya.

---

Dan pada akhirnya, Victoria melontarkan untaian kalimat yang selama ini menjadi ketakutan terbesar yang paling dihindari oleh Aurora.

"Kamu sama sekali tidak cocok dan tidak selevel untuk berada di sampingnya, Aurora," cetus Victoria telak tanpa memedulikan perasaan lawan bicaranya.

Deg.

Aurora merasa pasokan udara di dalam dadanya seketika mendadak sesak, seolah-olah dihantam oleh seonggok batu besar yang tak kasat mata. Meskipun sejak awal ia sudah menduga bahwa kalimat penolakan ini akan keluar, tetap saja rasanya teramat sakit saat harus mendengarnya secara langsung dari mulut ibu kandung pria yang ia cintai.

---

"Saya..." Aurora mencoba membuka suaranya yang mendadak tercekat di tenggorokan untuk membela diri.

Namun, belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Victoria sudah lebih dulu memotong dengan gerakan tangan yang elegan.

"Ini sama sekali bukan soal apakah kamu adalah orang yang baik atau bukan, Aurora. Ini murni tentang kenyataan hidup yang harus kamu hadapi," tegas Victoria dengan nada dingin yang tidak terbantah.

Aurora terpaksa menundukkan kepalanya dalam-dalam, berusaha sekuat tenaga untuk menahan air mata dan emosinya agar tidak pecah di hadapan wanita berkuasa ini.

"Kalian berdua terlahir dan berasal dari dua belahan dunia yang terlampau berbeda jauh. Jadi, cepat atau lambat hubungan asmara ini dipastikan akan berakhir dengan penderitaan," pungkas Victoria memberikan vonis kejamnya. Malam yang dingin di balkon itu kini terasa jauh lebih menusuk hingga ke tulang bagi Aurora.

Untuk beberapa saat yang panjang, Aurora hanya bisa terdiam membisu di posisinya. Namun, alih-alih hancur dan menangis, ia perlahan-lahan justru mengangkat kembali kepalanya tegak. Ia menatap lurus ke dalam sepasang mata tajam milik Victoria Kingsley dengan keberanian penuh yang tersisa.

"Saya sangat mencintai Alexander, Nyonya," ucap Aurora dengan nada suara yang berangsur stabil dan tegas.

Victoria tampak sedikit tersentak kaget mendengarnya, tidak menyangka akan mendapatkan perlawanan mental dari gadis beasiswa di depannya.

Aurora melanjutkan kalimatnya tanpa ada keraguan lagi di wajah cantiknya. "Dan begitu juga sebaliknya, Alexander juga sangat mencintai saya. Untuk saat ini, bagi saya kenyataan itu sudah lebih dari cukup," tegas Aurora membalikkan keadaan.

Victoria menatap wajah Aurora dengan pandangan intens yang teramat lama. Setelah keheningan berlalu, wanita itu kemudian menyunggingkan sebuah senyuman tipis—sebuah senyuman yang sama sekali tidak mencapai sepasang matanya.

"Kalau begitu, mari kita lihat saja nanti, sejauh mana cinta kekanak-kanakan kalian itu bisa bertahan menghadapi dunia yang kejam ini," tantang Victoria dengan nada suara yang terlampau tenang namun sarat akan ancaman terselubung.

---

Tidak lama setelah melemparkan kalimat tantangan tersebut, Victoria akhirnya berbalik tubuh dan berjalan pergi meninggalkan area balkon, meninggalkan Aurora seorang diri di bawah temaram cahaya malam.

Meskipun sosok wanita itu sudah menghilang di balik pintu kaca, namun setiap bait kata-kata kejam yang diucapkannya tadi seolah masih tertinggal di udara, terus-menerus berputar dan terngiang di dalam kepala Aurora tanpa bisa dihentikan.

"Kamu sama sekali tidak cocok untuknya."

"Cepat atau lambat hubungan asmara ini dipastikan akan berakhir."

Dan untuk pertama kalinya sejak ia resmi menjalin hubungan kasih dengan Alexander... Aurora akhirnya mulai merasakan sebuah ketakutan yang sebenarnya. Sebuah ketakutan bahwa kata-kata kejam Victoria tersebut mungkin saja adalah sebuah kebenaran yang mutlak.

---

Sementara itu di dalam ballroom pesta, Alexander baru saja selesai menyelesaikan pembicaraan panjangnya dengan beberapa tamu agung keluarganya.

Saat ia kembali berjalan mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Aurora, ia langsung menyadari satu hal yang janggal begitu menemukan posisi sang kekasih yang baru saja masuk dari arah balkon.

Di sana, Aurora memang sedang berdiri menyunggingkan sebuah senyuman ke arahnya. Namun, binar di sepasang mata cokelat milik gadis itu terlihat sangat berbeda dari biasanya—seolah-olah ia baru saja sekuat tenaga menahan luapan emosi dan air mata yang mendesak keluar.

Dan Alexander Kingsley dipastikan sangat tidak menyukai pemandangan asing tersebut. Sama sekali tidak.

Sebab dari perubahan gestur itu, ia tahu pasti; seseorang di dalam ruangan pesta ini baru saja berani mengatakan sesuatu yang buruk untuk melukai hati gadis yang teramat dicintainya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!