BERTAHUN-TAHUN DIANGGAP MANDUL, TERNYATA ITU ADALAH JEBAKAN SUAMI DAN ORANG KETIGA. SETELAH MENGETAHUI KEBENARANNYA, AKU PUN MULAI MEMBALAS DENDAM!
Demi menikahi Lavanya, Aditya tega memberikan obat anti-ovulasi kepada Kemuning, agar tidak pernah bisa punya anak. Aditya juga memanipulasi hasil tes kesuburan Kemuning.
Namun, takdir berkata lain ketika kecelakaan menimpa Kemuning. Dari hasil pemeriksaan diketahui kalau ada zat berbahaya di dalam rahimnya.
Dengan bantuan Arkatama, Kemuning menyusun pembalasan kepada Aditya dan Lavanya. Membuat mereka merasakan pembalasan yang tak disangka-sangka.
Niat ingin menguasai harta milik Kemuning, yang Aditya dapatkan malah gigit jari.
Akankah rahim Kemuning bisa subur kembali?
Novel ini misi dari editor, jika ada kesamaan dengan author lain, berarti kita sedang sama-sama mengerjakan tugas misi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Suasana ballroom masih ramai oleh musik dan suara tawa para tamu undangan. Namun di tengah keramaian itu, Arkatama justru mulai gelisah. Tatapannya terus menyapu seluruh ruangan sejak beberapa menit terakhir. Kemuning tidak terlihat di mana pun.
Awalnya Arkatama berpikir wanita itu mungkin sedang ke toilet atau berbincang dengan kenalan lain. Namun semakin lama, rasa tidak nyaman di dadanya semakin besar.
“Kemuning ke mana, ya?” gumamnya pelan.
Salah seorang teman pengacara yang sejak tadi mengobrol dengannya langsung menoleh. “Cari siapa, Pak Arka?”
“Kemuning. Dari tadi enggak kelihatan.”
“Mungkin sedang mencari makanan? Biasanya wanita suka mencicipi desert di acara pesta. Apalagi desert di acara pernikahan banyak variasinya.”
Arkatama akhirnya pamit sebentar lalu berjalan menuju area desert. Namun, Kemuning tetap tidak ada. Lalu, dia mengelilingi ballroom. Hasilnya juga masih nihil. Tidak ada Kemuning.
Saat itulah seorang wanita paruh baya menghampirinya. “Pak Arka?”
Arkatama langsung menoleh cepat. “Oh, Mbak.”
“Tadi Mbak Kemuning merasa pusing dan badannya panas,” ujar wanita itu. “Terus dibantu pelayan hotel ke kamar buat istirahat katanya.”
“Kamar?” dahi Arkatama langsung berkerut.
“Iya. Katanya disediakan oleh keluarga pengantin buat tamu.”
Perasaan Arkatama mendadak tidak enak. Entah kenapa dadanya langsung terasa sesak.
“Kamarnya di lantai mana, Mbak?”
“Aduh, aku kurang tahu, Pak.”
Arkatama langsung bergerak cepat meninggalkan ballroom. Langkahnya makin tergesa. Pikirannya mulai kacau.
Kemuning sedang tidak enak badan. Dan ia membiarkan wanita itu pergi bersama orang asing.
“Kenapa aku enggak sadar dari tadi,” batin Arkatama kesal pada diri sendiri.
Saat sedang berjalan cepat menuju area resepsionis hotel, tanpa sengaja Arkatama bertemu dengan Pak Adji, ayah pengantin pria.
“Eh, Arkatama!” sapa pria itu ramah.
Ekspresi Arkatama yang tegang langsung membuat Pak Adji heran. “Kamu kenapa?”
“Pak, aku mau tanya. Kamar hotel untuk tamu undangan itu di lantai berapa?”
Pak Adji terlihat bingung. “Kamar tamu?”
“Iya, katanya ada kamar yang disediakan pihak keluarga Bapak.”
Pak Adji langsung mengernyit. “Lho, bapak cuma pesan beberapa kamar untuk kerabat jauh yang datang dari luar kota.”
Jantung Arkatama langsung berdetak keras. “Apa?”
“Kami enggak ada menyiapkan kamar khusus buat tamu umum.”
Seketika wajah Arkatama berubah pucat. Perasaan buruk langsung menghantam dadanya begitu kuat. Kemuning dibawa seseorang. Lalu, sekarang ia tidak tahu berada di mana.
“Pak Adji,” panggil Arkatama dengan suara mulai berubah tegang. “Aku rasa ada yang enggak beres.”
Pak Adji langsung ikut serius melihat ekspresi Arkatama. “Ada apa sebenarnya?”
Tanpa membuang waktu lagi, Arkatama segera menjelaskan singkat keadaan Kemuning.
Wajah Pak Adji langsung berubah panik. “Cepat ikut bapak!”
Mereka berdua langsung menuju ruang keamanan hotel. Arkatama bahkan sudah tidak bisa tenang lagi. Tangannya mengepal keras sejak tadi.
“Cepat putar rekaman CCTV sekitar ballroom!” perintah Pak Adji pada petugas keamanan.
Petugas hotel yang melihat kepanikan mereka langsung bergerak cepat. Rekaman diputar. Beberapa detik pertama hanya memperlihatkan tamu-tamu berlalu lalang.
Sampai akhirnya Arkatama melihat Kemuning. Wanita itu terlihat lemas saat dipapah seorang pelayan wanita menuju lift.
“Stop!” seru Arkatama.
Rekaman diperbesar. Meskipun pelayan itu memakai kacamata, Arkatama langsung merasa ada sesuatu yang aneh.
“Kemuning kelihatan enggak sadar.”
Lift di rekaman berhenti di lantai lima. Arkatama langsung berbalik cepat.
“Aku ke sana!”
“Pakai security saja!” seru Pak Adji.
Namun, Arkatama sudah keburu berlari menuju lift. Jantungnya berdetak begitu keras sampai napasnya terasa sesak. Pikirannya dipenuhi bayangan buruk. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Kemuning, ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.
Lift terasa bergerak terlalu lambat. Arkatama bahkan terus menekan tombol lantai lima dengan wajah tegang.
Di saat pintu lift akhirnya terbuka matanya langsung membelalak. Di ujung lorong hotel, Kemuning dan Lavanya sedang bergulat sambil saling jambak.
Kemuning terlihat sangat lemas. Sementara Lavanya tampak seperti orang kehilangan akal.
“Lepasin aku!” teriak Kemuning panik.
“Kamu harus hancur!” balas Lavanya histeris.
“Lavanya!” Bentakan Arkatama menggema keras di lorong hotel.
Kedua wanita itu langsung menoleh. Wajah Kemuning seketika berubah lega bercampur panik.
“Mas Arka!”
Kemuning langsung berlari sempoyongan menghampiri Arkatama lalu memeluknya erat. Tubuh wanita itu gemetar hebat.
“Dia mau jebak aku,” kata Kemuning suaranya bergetar. “Aku mau diserahin ke beberapa preman. Katanya aku harus melayani mereka.”
Ucapan itu membuat darah Arkatama langsung mendidih. Tatapannya berubah gelap menatap Lavanya.
“Kurang ajar kamu?” desis Arkatama penuh amarah.
Lavanya justru tertawa miring. “Kenapa? Takut wanitamu rusak?”
Belum selesai Lavanya bicara tangan Arkatama langsung menghantam tengkuk wanita itu keras hingga tubuh Lavanya ambruk tidak sadarkan diri.
Kemuning sampai terkejut melihat kemarahan Arkatama. Pria itu langsung menyeret tubuh Lavanya masuk ke dalam kamar lalu membaringkannya kasar di atas ranjang.
Brak!
Pintu kamar ditutup keras. Napas Arkatama memburu karena menahan emosi. Namun, beberapa detik kemudian, fokusnya langsung kembali pada Kemuning.
Wanita itu bersandar lemah di dinding sambil bernapas tidak teratur. Wajahnya merah, tubuhnya gemetar, dan tatapan matanya mulai tidak fokus.
“Mas Arka,” lirih Kemuning pelan.
Arkatama langsung mendekat panik. “Kemuning, kamu kenapa?”
Wanita itu menggenggam erat lengan bajunya. “Tubuh aku panas, Mas.” Suara Kemuning terdengar lemah dan bergetar.
Arkatama langsung sadar. Efek obat pe rangsang mulai bekerja.
Dan kondisi Kemuning terlihat semakin buruk. Wanita itu terus gelisah sambil memejamkan mata menahan sesuatu di dalam tubuhnya sendiri.
“Mas Arka,” bisiknya makin pelan. “Aku sudah enggak kuat!”
Arkatama malah mematung. Ia panik dan marah. Dia juga bingung harus berbuat apa. Karena wanita yang dicintainya sedang berada dalam kondisi yang tidak baik tepat di hadapannya.
kok bisa pisah...