NovelToon NovelToon
Cinta Terakhir Untuk Anjani

Cinta Terakhir Untuk Anjani

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:485
Nilai: 5
Nama Author: Naydiendee

Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.

Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.

Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Menjelang Keberangkatan

Hari-hari menjelang keberangkatan terasa begitu berharga bagi Alden.

Setiap detik yang berputar di jam dinding kamarnya tidak lagi berlalu sebagai rutinitas yang membosankan, melainkan sebagai pengingat bahwa tujuan yang selama ini ia tunggu semakin dekat.

Di tengah tubuhnya yang masih berjuang melawan penyakit, ada semangat baru yang membuatnya bertahan.

Ia melakukan segala yang mampu ia lakukan agar saat tiba di Banjarbaru nanti, dirinya terlihat dalam kondisi terbaik yang bisa ia tunjukkan.

Ia ingin Anjani melihat Alden yang masih sama seperti yang pernah dikenalnya dulu.

Bukan seseorang yang tampak kalah oleh penyakit.

Bukan pula seseorang yang datang untuk mencari belas kasihan.

Karena bagi Alden, perjalanan ini bukan tentang penderitaan yang sedang ia alami.

Perjalanan ini adalah tentang permintaan maaf yang tertunda terlalu lama.

Tentang kejujuran yang tidak pernah sempat ia sampaikan.

Dan tentang satu pertemuan yang ingin ia jalani dengan cara yang baik.

Setelah menyelesaikan satu siklus kemoterapi, rambut-rambut halus mulai tumbuh kembali di kepalanya.

Meski masih tipis dan pendek, Alden merawatnya dengan telaten setiap hari.

Setiap pagi setelah mandi, ia akan berdiri cukup lama di depan cermin.

Tangannya menyisir perlahan rambut-rambut pendek itu, merapikannya sebisa mungkin.

Kadang ia memiringkan kepala ke kanan dan ke kiri, memperhatikan bagian-bagian yang masih terlihat jarang.

Tidak sempurna.

Namun setidaknya sudah jauh lebih baik dibanding beberapa minggu lalu ketika rambutnya rontok hampir setiap kali disentuh.

Ia juga mulai lebih disiplin menjaga dirinya.

Mengikuti anjuran dokter, memperbanyak minum air putih, mengonsumsi makanan bergizi, serta berjemur setiap pagi ketika kondisi tubuhnya memungkinkan.

Meski sering merasa lelah setelah beberapa menit berdiri, ia tetap berusaha melakukannya.

Kadang Ranti harus mengingatkannya untuk tidak memaksakan diri.

"Kalau sudah capek, istirahat dulu, Mas," tegur Ranti suatu pagi ketika melihat Alden masih bertahan berdiri di halaman belakang yang langsung terkena sinar matahari pagi.

Alden hanya tersenyum kecil.

"Sebentar lagi."

"Kamu bilang begitu dari lima menit yang lalu."

Alden tertawa pelan.

Tawa yang sederhana, tetapi cukup membuat Ranti merasa lega karena sejak Alden pulang ke Indonesia, ia belum pernah melihat ekspresi seterang itu di wajah Alden.

Perubahan itu memang tidak besar.

Tubuhnya masih jauh dari sehat.

Berat badannya belum kembali seperti semula dan tenaganya masih terbatas.

Namun setidaknya wajahnya terlihat sedikit lebih segar dibanding beberapa minggu sebelumnya.

Warna pucat yang dulu mendominasi wajahnya perlahan berkurang.

Meski lingkaran gelap di bawah matanya belum sepenuhnya hilang, sorot matanya kini tampak lebih hidup.

Ada tujuan yang membuatnya terus melangkah.

Setiap kali berdiri di depan cermin, ia selalu berusaha menegakkan bahu dan menatap dirinya sendiri dengan tenang.

"Kamu harus terlihat baik, Alden."

Bisikan itu hampir selalu terucap setiap pagi.

"Kamu harus tetap jadi dirimu sendiri."

Kadang setelah mengucapkan kalimat itu, ia hanya terdiam beberapa saat.

Menatap pantulan dirinya tanpa berkedip.

"Setidaknya jangan biarkan dia tahu kamu sedang sakit."

Setelah itu, Alden biasanya akan memalingkan pandangan dari cermin.

Ia tahu tubuh yang berdiri di hadapannya bukan lagi seperti dulu.

Penyakit itu telah mengambil banyak hal darinya.

Namun untuk perjalanan ini, ia memilih mengabaikan semuanya.

Ia hanya ingin sampai pada satu tujuan, berdiri di hadapan Anjani dan mengucapkan semua yang selama ini tertahan.

Sementara itu, di balik persiapan penampilannya, Pak Armanto dan Ranti sibuk mengurus hal-hal yang jauh lebih penting.

Mereka sadar bahwa meski Alden terlihat lebih bersemangat, kondisi fisiknya masih rapuh dan membutuhkan perhatian khusus.

Segala kebutuhan medis disiapkan dengan teliti. Obat-obatan, mulai dari pereda nyeri hingga penunjang fungsi organ, disusun rapi untuk dibawa selama perjalanan.

Atas saran Dokter Handoko yang menangani Alden, Pak Armanto juga mengajak Bu Susi, perawat pribadi Alden, untuk ikut ke Banjarbaru.

Keputusan itu diambil karena kondisi Alden belum benar-benar stabil. Perjalanan jauh, kelelahan, perubahan cuaca, hingga tekanan emosional saat pertemuan nanti dapat memicu kondisi darurat yang sulit diprediksi.

Karena itu, kehadiran Bu Susi menjadi sangat penting. Ia tidak hanya menemani, tetapi juga memastikan Alden bisa segera mendapat pertolongan jika sewaktu-waktu kondisinya menurun.

Di tengah harapan yang perlahan tumbuh di hati Alden, ada banyak persiapan yang berjalan diam-diam demi memastikan harapan itu bisa sampai pada tujuannya dengan selamat.

Satu permintaan Alden cukup jelas sejak awal bahwa ia tidak ingin Anjani mengetahui tentang penyakitnya.

Ia ingin pertemuan itu berjalan tanpa bayang-bayang belas kasihan, tanpa tatapan iba, tanpa perubahan cara Anjani memandang dirinya.

Bagi Alden, ia ingin tetap hadir sebagai Alden yang sama seperti terakhir kali Anjani mengenalnya. Bukan sebagai seseorang yang sedang berjuang melawan penyakit berat.

Pak Armanto dan Ranti memahami permintaan itu, meski bukan tanpa kekhawatiran.

Mereka tahu, menyembunyikan kondisi sebenarnya bukan hal yang sederhana. Namun mereka juga menghargai keputusan Alden, karena bagi putranya itu, pertemuan ini bukan sekadar reuni, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam dan personal.

Termasuk satu hal penting lainnya: keberadaan Bu Susi.

Atas kesepakatan bersama, peran Bu Susi dalam perjalanan itu akan disamarkan. Ia hanya akan dikenal sebagai kerabat jauh atau teman keluarga yang ikut menemani perjalanan.

Identitas itu disembunyikan bukan untuk menipu, melainkan untuk menjaga ketenangan situasi. Agar pertemuan Alden dan Anjani tidak berubah menjadi sesuatu yang tegang atau penuh perhatian berlebihan terhadap kondisi kesehatannya.

Namun di balik semua itu, Pak Armanto tetap menyimpan satu kekhawatiran yang tidak pernah ia ucapkan keras-keras.

Ia hanya berharap, keputusan Alden untuk terlihat "baik-baik saja" tidak menjadi beban baru bagi putranya sendiri di tengah perjalanan yang sudah cukup berat ini.

"Papa sudah siapkan semuanya, Alden," kata Pak Armanto suatu sore sambil memeriksa daftar perlengkapan di ruang kerjanya.

"Obat-obatan lengkap, serta Bu Susi sudah bersedia berangkat bersama kita. Jadi kamu tidak perlu khawatir soal kesehatanmu. Di mana pun kamu berada, pertolongan sudah ada di dekatmu."

Alden mengangguk pelan.

"Terima kasih, Pa," ucapnya lirih. "Tolong pastikan dia menjaga rahasia ini ya. Tidak ada yang boleh tahu... terutama Anjani."

Pak Armanto berhenti sejenak dari kegiatannya, lalu menoleh dengan tatapan tenang.

"Pasti," jawabnya tegas namun menenangkan.

"Papa sudah bicara langsung dengannya. Ada kesepakatan khusus. Tidak akan ada yang tahu tentang kondisi kamu, obat-obatanmu, atau pengobatan yang sedang kamu jalani."

Alden menatap ayahnya lebih lama, seolah memastikan bahwa janji itu benar-benar bisa dipegang.

"Benar-benar tidak akan ada yang tahu, Pa?"

"Benar," jawab Pak Armanto tanpa ragu.

Keheningan singkat jatuh di antara mereka.

Alden menghela napas panjang, lalu mengangguk kecil. Untuk pertama kalinya, ia merasa perjalanan ini benar-benar berada dalam kendali, setidaknya dari sisi yang bisa ia atur.

Dan itu cukup untuk membuatnya melangkah dengan sedikit lebih tenang.

Segala sesuatunya sudah tersusun rapi sesuai keinginan Alden.

Rencana perjalanan pun telah matang. Mereka akan terbang menuju Kalimantan Selatan, tepatnya menuju kota Banjarbaru

Di sana, Pak Armanto sudah menyewa satu unit homestay. Sebuah rumah yang nyaman, bersih, dan cukup luas untuk menampung mereka semua selama berada di Banjarbaru.

Lokasinya pun dipilih dengan pertimbangan matang. Cukup dekat dengan tempat tinggal Bu Rahayu, namun tetap berada di area yang tenang dan tidak terlalu mencolok. Jarak itu sengaja dijaga, agar keberadaan mereka tidak mudah menarik perhatian atau menimbulkan kecurigaan.

Bagi Pak Armanto, setiap detail kecil dalam perjalanan ini bukan lagi sekadar soal kenyamanan, tetapi juga soal kehati-hatian.

Sementara bagi Alden, tempat itu nantinya akan menjadi ruang sementara, tempat ia menunggu sebelum akhirnya benar-benar berdiri di hadapan Anjani.

Tentang tujuan utama keberangkatan ini, Alden sudah memantapkan hatinya sedalam-dalamnya.

Ia pergi ke sana semata-mata untuk satu hal, yakni menyelesaikan simpul yang selama ini mengikat masa lalunya.

Ia ingin bertemu Anjani. Meminta maaf dengan tulus atas segala kesalahan, kekhilafan, dan luka yang mungkin pernah ia tinggalkan di masa lalu.

Ia ingin menumpahkan semua beban penyesalan yang selama bertahun-tahun membuat dadanya terasa sesak.

Semua yang selama ini ia simpan sendiri.

Semua kata yang tidak pernah sempat diucapkan.

Dan semua luka yang lahir dari caranya sendiri dalam memahami masa lalu.

Yang paling ingin ia katakan adalah satu hal yang selama ini ia kubur paling dalam bahwa di balik sikap dingin dan kasarnya dulu, ada perasaan yang tidak pernah benar-benar hilang.

Bahwa Anjani bukan sekadar bagian dari masa lalu yang ia tinggalkan.

Melainkan seseorang yang diam-diam ia sayangi, lebih dari yang pernah ia akui.

Namun di sisi lain, Alden juga sadar akan batasannya.

Ia tahu waktunya tidak banyak. Penyakit yang perlahan menggerogoti tubuhnya tidak memberinya ruang untuk bermimpi terlalu jauh ke depan.

Karena itu, ia sudah memutuskan dalam diam: pertemuan itu akan menjadi akhir dari semuanya.

Ia tidak berniat meminta Anjani menunggunya.

Tidak ada janji.

Tidak ada rencana masa depan.

Tidak ada harapan yang ia titipkan pada wanita itu.

Ia tidak ingin menjadi beban dalam hidup Anjani.

Ia tidak ingin menjadi alasan luka baru, apalagi menjadi seseorang yang suatu hari harus ditangisi untuk kedua kalinya.

Cukup sudah masa lalu yang menyakitkan. Cukup sudah air mata yang pernah jatuh karena dirinya.

Setelah pertemuan itu selesai, setelah semua kata terucap, Alden hanya ingin memastikan satu hal bahwa ia pergi dengan hati yang lebih jujur daripada sebelumnya, tanpa meninggalkan luka baru di belakangnya.

"Setelah semuanya selesai, kita langsung pulang ke Jakarta, Pa," ujar Alden pelan namun mantap.

"Alden sudah ikhlas... melepas semua beban yang selama ini Alden simpan sendiri sampai bikin Alden hampir lupa rasanya tenang."

Tidak ada perpanjangan waktu.

Tidak ada kunjungan ulang.

Dan tidak ada pertemuan lanjutan.

Setelah ia selesai bicara dan pamit, ia langsung pergi.

Semuanya selesai di sana.

Alden hanya ingin Anjani kembali melanjutkan hidupnya dengan tenang dan bahagia, tanpa bayang-bayang dirinya yang perlahan sedang direnggut waktu dan penyakit.

Biarlah sembilan tahun yang telah berjalan tanpa kehadirannya tetap menjadi kehidupan Anjani seperti semestinya, utuh, stabil, dan tidak terganggu oleh masa lalu yang kembali muncul secara tiba-tiba.

Kalau selama ini Anjani sudah hidup dengan baik, maka biarlah itu terus berlanjut. Jika pada akhirnya gadis itu menemukan kebahagiaannya di tempat lain, termasuk jika ia menikah, Alden berusaha menerima itu dengan lapang dada.

Ia tidak ingin menjadi alasan yang mengganggu ketenangan hidup seseorang yang pernah begitu tulus peduli padanya.

Dan jika memang pada akhirnya Anjani tidak pernah memiliki perasaan yang sama seperti yang pernah diam-diam tumbuh dalam dirinya, Alden pun mencoba berdamai dengan kenyataan itu.

Karena pada akhirnya, yang paling ia inginkan bukanlah memiliki kembali masa lalu itu.

Melainkan kejujuran pada dirinya sendiri bahwa ia pernah mencintai dengan cara yang diam-diam, dan kini belajar untuk merelakan tanpa harus menghapus rasa itu sepenuhnya.

Ruangan itu hening sejenak.

Pak Armanto menatap putranya lama. Di balik sorot matanya, ada haru yang dalam, bercampur dengan rasa bangga yang sulit ia sembunyikan.

Ia melihat sesuatu yang tidak semua orang mampu lakukan di usia muda, keikhlasan yang lahir dari cinta yang benar-benar tulus.

Cinta yang tidak menuntut untuk dimiliki.

Cinta yang memilih untuk melepaskan.

"Baik, Alden," jawab Pak Armanto akhirnya dengan suara pelan namun mantap.

"Apa pun keputusanmu, Papa dukung."

Ia menghela napas singkat sebelum melanjutkan, "Kita datang, kita selesaikan, lalu kita pulang. Biar semuanya menjadi kenangan yang selesai... yang membuat hatimu tenang, dan hidupnya juga tidak terusik."

Alden mengangguk pelan.

Untuk pertama kalinya, keputusan itu terasa benar-benar final. Bukan karena ia menyerah, tetapi karena ia memilih untuk selesai dengan cara yang paling tenang yang ia bisa.

Malam sebelum keberangkatan, Alden kembali berdiri di depan jendela kamarnya.

Lampu-lampu kota berpendar samar di kejauhan.

Untuk beberapa saat ia hanya berdiri diam sambil memandang ke luar, membiarkan pikirannya mengembara ke tempat yang akan ia tuju esok hari.

Banjarbaru.

Nama kota itu terasa begitu dekat sekarang.

Bukan lagi sekadar titik di peta atau alamat yang selama bertahun-tahun hanya hidup di dalam pencarian.

Besok ia benar-benar akan berada di sana.

Jantungnya berdegup lebih cepat saat membayangkan kemungkinan itu.

Tentang pertemuan yang telah ia tunggu selama sembilan tahun.

Tentang kata-kata yang sudah berulang kali ia susun di dalam kepala.

Tentang semua hal yang selama ini tidak pernah sempat ia sampaikan.

Perlahan ia memejamkan mata.

Lalu menarik napas panjang.

Apa pun yang menunggunya di sana, ia sudah memutuskan untuk menghadapinya.

Dengan jujur.

Dengan tenang.

Dan dengan seluruh keberanian yang masih tersisa.

Besok, perjalanan itu benar-benar dimulai.

Bersambung...

1
Wawan
wow...
naydiendee
makasih 😍
bantu follow dan baca ya🙏
Wawan
Menarik 💪✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!