NovelToon NovelToon
Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / TKP
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Chocolate Chase

Menceritakan tentang seorang mantan pembunuh berantai, yang di bebaskan untuk membantu polisi dalam memecahkan sebuah kasus, yang kemudian membuat dirinya secara resmi menjadi konsultan khusus kepolisian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocolate Chase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lencana, Jantung Yang Hilang, Dan Golok Di Tempat Sampah.

Mobil sedan hitam itu berhenti dengan mulus tepat di depan gedung kantor polisi markas pusat NYPD. Arthur Rutherford, Manuel Vin, dan Elena Kuznetsova turun dari mobil hampir bersamaan. Udara pagi hari itu masih terasa sangat dingin, namun suasana di antara mereka bertiga sudah mulai terasa lebih padat dan tegang setelah penemuan mayat tragis Jennifer Cartter di toko jagal pelabuhan.

Arthur menguap pelan sambil meregangkan kedua bahunya yang masih terasa agak pegal karena sesi olahraga pagi tadi. "Aku baru saja mulai menikmati kopi dingin di dalam mobil, tapi sepertinya hari ini tidak akan berjalan dengan tenang."

Elena melirik Arthur dengan tatapan tajam sambil mendekap tas laptop miliknya. "Kau selalu saja punya alasan untuk mengeluh. Padahal kau adalah orang yang paling bersemangat saat melakukan analisis di tempat kejadian perkara tadi."

Manuel berjalan di depan mereka berdua sambil menggelengkan kepala dengan lelah. "Kalian berdua, tolong simpan energi kalian untuk mengurus kasus ini. Aku sudah sangat capek mendengar kalian berantem sejak pagi pagi sekali."

Mereka bertiga baru saja melewati area lobi utama ketika seorang petugas administrasi berlari kecil menghampiri langkah Manuel.

"Detektif Vin, Kapten Lopez meminta Anda bertiga untuk segera datang ke ruangannya sekarang juga."

Manuel seketika mengerutkan keningnya dengan heran. "Ada masalah apa?"

"Beliau bilang ini urusan yang sangat penting, Anda diminta langsung naik ke lantai empat."

Arthur mengangkat satu alisnya dengan heran. "Pagi pagi begini sudah dipanggil oleh kapten, ini pasti bukan sebuah kabar baik."

Mereka bertiga akhirnya naik menggunakan lift dalam keheningan yang panjang. Elena berdiri tepat di samping Arthur, sesekali ia melirik pria asal Wales itu yang masih terlihat santai meskipun gumpalan lelah di wajahnya tidak bisa disembunyikan. Di sisi lain, Manuel kembali memijat pelipisnya perlahan, sebuah kebiasaan yang belakangan ini semakin sering ia lakukan saat merasa tertekan.

Pintu ruangan kerja Kapten Lopez akhirnya terbuka. Sang kapten yang sudah berusia kepala lima dengan rambut yang memutih seluruhnya itu tampak berdiri tegak di belakang meja kerjanya. Di atas permukaan meja kayu tersebut, sudah tersedia tiga buah kotak kecil berwarna hitam mengkilap.

"Masuk," kata Kapten Lopez dengan nada suara yang berat namun terdengar sangat tegas. "Tutup pintunya."

Setelah pintu dipastikan tertutup rapat, Kapten Lopez menatap mereka satu per satu dengan pandangan yang dalam.

"Hari ini aku tidak ingin bicara panjang lebar kepada kalian. Kasus pembunuhan Senator Grant sudah berhasil diselesaikan dengan sangat baik. Kerja keras tim kalian benar benar luar biasa. Oleh karena itu…"

Kapten Lopez mengambil ketiga kotak hitam tersebut lalu membukanya satu per satu secara perlahan.

"Manuel Vin, mulai hari ini juga kau resmi naik pangkat menjadi Detective Lieutenant."

Manuel sempat terkejut mendengarnya, namun ia langsung berdiri tegak dan mengangguk hormat saat Kapten Lopez menyematkan lencana baru yang berkilau di dadanya.

Kemudian Kapten Lopez menolehkan pandangannya ke arah Arthur dan Elena.

"Arthur Rutherford dan Elena Kuznetsova, meskipun latar belakang masa lalu kalian berdua sangat berbeda, kontribusi kalian dalam menyelesaikan dua kasus besar belakangan ini tidak bisa diabaikan begitu saja oleh institusi ini. Mulai hari ini, kalian berdua resmi diangkat menjadi anggota tim investigasi khusus NYPD sebagai konsultan tetap. Ini adalah lencana resmi kalian."

Arthur menerima lencana perak tersebut dengan ekspresi wajah yang sulit untuk dibaca. Elena juga menerima lencana miliknya, namun matanya sempat melirik ke arah Arthur selama beberapa detik.

"Terima kasih banyak, Kapten," kata Manuel mewakili suara mereka bertiga.

Kapten Lopez mengangguk pelan. "Jangan sampai membuatku menyesal telah mengambil keputusan ini. Khususnya untuk kau, Rutherford. Gunakan kemampuan otakmu itu untuk menegakkan kebaikan."

Arthur tersenyum tipis mendengar peringatan tersebut. "Saya akan mengusahakannya dengan baik, Kapten."

Proses pelantikan singkat itu selesai dalam waktu yang tidak lama. Setelah keluar dari ruangan kapten, Manuel langsung menepuk pundak Arthur dan Elena secara bergantian.

"Selamat untuk kalian berdua. Sekarang kalian sudah resmi menjadi bagian dari tim investigasi ini."

Elena melirik lencana di tangannya lalu menatap Arthur. "Jangan senang dulu, Wales. Lencana perak ini bukan berarti sebuah izin resmi bagimu untuk bertingkah seenaknya sendiri."

Arthur menyeringai lebar. "Tenang saja, Queen of Hack. Aku berjanji hanya akan menjadi pria yang menyebalkan separuhnya saja dari yang biasanya."

Manuel menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil melihat tingkah mereka. "Ayo jalan, kita masih memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan."

Mereka bertiga langsung bergegas menuju ke ruang otopsi yang terletak di lantai basement gedung yang sama. Dokter forensik senior, Dokter Ramirez, ternyata sudah menunggu kedatangan mereka dengan jas putihnya yang khas.

"Akhirnya datang juga kalian," kata dokter itu sambil memasang sarung tangan lateks ke kedua tangannya. "Proses otopsi terhadap jenazah Jennifer Cartter baru saja selesai dilakukan."

Arthur, Manuel, dan Elena kini berdiri mengitari meja otopsi besi. Tubuh Jennifer yang putih pucat tampak terbujur kaku di bawah pendaran lampu ruang yang sangat terang. Bagian dada gadis muda itu memang terlihat terbelah dengan sangat rapi dari atas hingga ke bawah.

Dokter Ramirez menunjuk ke arah rongga dada korban yang tampak kosong melongpong. "Ini adalah temuan yang paling mencolok dari tubuh korban. Jantungnya sudah hilang. Organ itu dipotong dan diambil dengan sangat bersih, seolah olah sengaja dikeluarkan dari tubuhnya. Tidak ada tanda tanda robekan yang kasar pada jaringan di sekitarnya. Pembunuh ini tahu persis teknik anatomi untuk mengeluarkan organ tanpa merusak bagian tubuh yang lain."

Arthur melangkah lebih dekat ke meja otopsi, sepasang mata hijaunya menyipit tajam meresapi temuan tersebut. "Jantungnya diambil, ini adalah sebuah simbolisme lagi. Bagian hati atau jantung sering kali melambangkan sebuah emosi, rasa cinta, atau esensi dari kehidupan itu sendiri. Pembunuh ini mungkin merasa bahwa korban adalah sosok yang tidak punya hati, atau sang pelaku ingin mengambil hati dari korban secara harfiah untuk kepuasan pribadinya."

Elena mengangguk setuju dengan analisis Arthur. "Waktu kematian korban diperkirakan terjadi sekitar pukul 02.00 dini hari. Tim kami menemukan adanya jejak kandungan obat penenang dosis kuat di dalam sampel darahnya. Korban dipastikan berada dalam kondisi tidak sadar saat bagian dadanya mulai dibelah."

Manuel mencatat semua poin penting itu ke dalam buku tugasnya. "Apakah ada tanda tanda terjadinya tindakan kekerasan seksual pada tubuh korban?"

"Sama sekali tidak ada," jawab Dokter Ramirez dengan pasti. "Hanya kondisi celana dalam korban yang ditemukan robek di beberapa bagian, namun sepertinya robekan itu terjadi karena gesekan rantai saat proses penggantungan tubuhnya. Ini bukan kasus pembunuhan seksual biasa pada umumnya. Tindakan ini lebih mengarah pada sebuah ritual atau penyampaian pesan tertentu."

Mereka bertiga akhirnya keluar dari ruang otopsi yang dingin itu dengan raut wajah yang semakin muram. Arthur memilih untuk tetap diam seribu bahasa sepanjang langkah kaki mereka menuju kembali ke arah parkiran mobil.

"Kita harus kembali ke toko daging pelabuhan itu sekarang juga," kata Arthur tiba tiba memecah keheningan. "Ada satu sudut yang belum sempat kita periksa secara mendetail tadi pagi."

Sore harinya, mereka bertiga sudah tiba kembali di toko Fresh Slaughter Supply. Area ruang penyimpanan daging dingin memang masih disegel dengan garis polisi, namun tim forensik lapangan sudah selesai melakukan tugas mereka. Arthur langsung berjalan dengan langkah pasti menuju ke sebuah pojok ruangan yang remang, tempat di mana sebuah tempat sampah besar berwarna abu abu diletakkan.

Arthur membuka tutup tempat sampah tersebut tanpa ada rasa ragu sedikit pun.

Tepat di dalam tumpukan sampah itu, tersembunyi di antara potongan sisa daging mentah dan lembaran plastik, tergeletak sebuah golok besar dengan bilah besi yang masih menyisakan noda noda darah yang sudah mengering.

Arthur segera meminta sepasang sarung tangan dari Elena lalu mengangkat golok besar itu dengan sangat hati hati agar tidak merusak bukti yang ada.

"Ini adalah senjata yang digunakan oleh pelaku," kata Arthur dengan nada suara pelan. "Ukuran bilah golok ini sangat cocok dengan karakteristik luka sayatan yang ada di dada Jennifer. Pembunuh sengaja membuangnya di tempat ini karena ia merasa terburu buru untuk segera pergi dari lokasi."

Manuel langsung bergerak cepat memanggil tim forensik tambahan untuk mengamankan barang bukti krusial tersebut. Sementara Elena mengambil beberapa foto dokumentasi dan mulai memeriksa keberadaan sidik jari awal yang tertinggal di gagang golok.

Di saat yang sama, Manuel memanggil pemilik toko daging tersebut, seorang pria berbadan gemuk berusia kepala lima bernama Tuan Harlan, beserta seorang karyawannya yang merupakan pemuda tinggi kurus asal Afrika Selatan bernama Thabo Nkosi yang baru berusia 24 tahun.

Proses interogasi awal dilakukan di dalam sebuah ruang kantor kecil yang berada di area depan toko.

Thabo Nkosi terlihat sangat gugup selama proses tanya jawab berlangsung. Kedua belah tangannya tampak bergetar hebat saat Manuel mulai mengajukan beberapa pertanyaan pembuka.

"Kau mengambil giliran kerja malam pada hari kemarin?" tanya Manuel dengan nada tegas.

"Benar, Pak, saya memang mengambil giliran kerja malam. Tapi saya sudah langsung pulang ke rumah pada pukul 01.00 malam. Saya sama sekali tidak melihat kejadian aneh apa pun di dalam toko ini."

Arthur yang sejak tadi berdiri tenang di sudut belakang ruangan tampak mengamati gerak gerik pemuda itu dengan sangat tajam. Thabo memiliki sebuah bekas luka goresan kecil di bagian lengan kanannya, dan cara berdirinya pun agak membungkuk, sebuah postur tubuh khas yang biasanya dimiliki oleh orang orang yang sering mengangkat beban berat dalam waktu yang lama.

Elena diam diam mengaktifkan alat perekam untuk mendokumentasikan seluruh isi percakapan di dalam ruangan tersebut.

Arthur tiba tiba melangkah maju dan bertanya dengan nada suara yang sangat lembut. "Thabo, kau sepertinya sangat suka memotong daging, bukan? Golok besar yang kami temukan di belakang itu adalah fasilitas milik toko ini, kan?"

Thabo mengangguk dengan gerakan yang sangat cepat. "Benar, Pak, tapi ada banyak sekali orang yang biasa menggunakan golok itu untuk bekerja. Saya bersumpah bahwa saya tidak melakukan pembunuhan terhadap siapa pun di tempat ini."

Manuel kemudian melanjutkan proses interogasi dengan memberikan pertanyaan pertanyaan yang jauh lebih menekan. Sementara itu, Arthur memilih untuk keluar sebentar menuju ke area lorong sepi dan langsung menelepon seseorang di markas pusat untuk memeriksa seluruh rekam jejak serta latar belakang kehidupan Thabo Nkosi.

Malam hari kini mulai turun menyelimuti pelabuhan Manhattan. Kasus kematian Jennifer Cartter terbukti menjadi semakin rumit dan penuh teka teki, namun tim investigasi Arthur sudah mulai berhasil menemukan secercah benang merah yang bernuansa sangat gelap.

Arthur berdiri tegak di luar area toko jagal, memandangi hamparan lautan pelabuhan yang hitam pekat. Angin malam yang dingin berembus kencang meniup kain jaket hoodie yang ia kenakan.

"Siapa pun sebenarnya dirimu," gumam Arthur dengan suara lirih. "Kami pasti akan segera menemukanmu dalam waktu dekat."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!