Larasati, gadis desa sederhana, percaya bahwa pernikahannya dengan Reza Adiguna akan membawa kebahagiaan. Namun semua harapan itu hancur di hari ia melahirkan—anaknya direbut, dirinya diceraikan, dan ia dicampakkan tanpa sempat memeluk buah hatinya.
Sendiri dan hancur, Larasati berjuang bertahan hidup di tengah kota yang asing. Hingga takdir mempertemukannya dengan Hajoon Albra Brajamusti, pria yang dulu pernah dikenalnya tanpa sengaja.
Dengan keberanian yang tumbuh dari luka, Larasati menyamar sebagai ibu susu demi bisa dekat dengan anaknya kembali.
Di tengah perjuangannya, hadir perasaan yang tak pernah ia duga.
Apakah Larasati sanggup merebut kembali anaknya sekaligus menemukan arti cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kasihan 02
Oweeek oweeeek
Rumah besar nan megah malam itu tampak sedikit ricuh. Bayi yang baru masuk ke rumah terus menangis tanpa henti. Mereka sudah mencoba pelbagai banyak cara untuk membuat bayi itu terdiam tapi tidak bisa juga.
"Dia pasti lapar. Eva, coba kamu susuin. Kamu kan udah ngelakuin terapi laktasi. Dan air susumu juga keluar kan. Jadi coba susuin dia." Reza bicara pada istrinya. Istri yang sesungguhnya. Wanita itu bernama Evalina Prameswari, dan dia adalah Nyonya Adiguna yang sebenarnya.
Eva sedari tadi hanya berdiri, dia juga nampak kebingungan. Kursus merawat bayi ternyata sangat beda sekali dengan praktik di lapangan ketika bayi yang sebenarnya itu ada.
"Sus, coba bawa sini. Aku akan coba buat nyusuin dia,"ucap Eva, meminta suster yang merawat bayi itu memberikan bayinya.
Eva duduk di sofa yang dibeli khusus untuk menyusui dan meletakkan bantal di pangkuannya. Perawat yang dipanggil Eva memang dibawa Reza untuk merawat bayi tersebut dari rumah sakit. Dia menyerahkan bayi yang sedari tadi ada digendong nya ke pangkuan Eva.
Selanjutnya, Eva mengeluarkan payuudaranya dan mengarahkannya ke mulut si bayi. Tapi bayi itu hanya mencecap nya, ya sang bayi sama sekali tidak mau menyusu.
Oweeeek
Tangis bayi itu kembali pecah. Atau bahkan sebenarnya tak berhenti sejak tadi.
"Dia nggak mau, Mas. Gimana ini?" Eva menatap suaminya.
"Coba terus, Eva. Dia menangis karena sangat lapar. Aku yakin itu adalah hal yang pasti." Reza terus meminta Eva untuk melakukan itu. Namun sebisa mungkin Eva melakukannya, si bayi sungguh tidak ingin menyusu. Alhasil bayi tersebut menangis dengan sangat keras.
"Maaf Pak, Bu, kalau begini kasihan dedeknya. Kalau Ibu tidak bisa memberi asi, maka kita harus memberinya susu formula. Semua itu demi dedek bayi ini." Dari tadi perawat itu ingin sekali bicara namun dia takut. Akan tetapi melihat bayi yang terus menerus menangis, akhirnya si perawat pun memberanikan diri untuk bicara demikian.
"Haah kau benar, kita harus memberinya susu bagaimanapun caranya. Kamu pergilah untuk membelinya,"ucap Reza
"Baik Pak."
Si perawat yang bernama Ani itu langsung menjalankan tugasnya. Dia sangat kasian melihat bayi itu yang nangis tanpa henti. Nuraninya jelas tidak tega.
"Orang gila mana yang memisahkan anak daru ibunya. Benar-benar nggak waras mereka, nggak punya hati."
Sepanjang jalan, Ani hanya menggerutu dan memaki. Dia tahu tentang apa yang terjadi pada orang-orang dikediaman itu. Dia juga tahu tentang wanita yanh diceraikan suaminya tepat setelah melahirkan.
Dia merasa iba pada ibu dan anak yang dipisahkan tersebut. Akan tetapi sebagai orang luar, Ani tidak bisa ikut campur. Yang dia bisa lakukan hanya melihat dan memberi masukan seperti tadi.
Dengan segera Ani kembali setelah mendapatkan susu. Tak lupa Ani membeli botol dan juga nipple. Dia juga langsung menuju ke dapur setelah sampai di rumah dan menyiapkan susu untuk diberikan kepada bayi itu.
Drap drap drap
Suara tangis bayi yang masih sangat keras membuat Ani berlari dari dapur menuju ke kamar.
Hosh hosh hosh
Dia terengah-engah sembari memberikan botol berisi susu tersebut.
"Ini Bu, silakan. Tapi Bu Eva, saya harap Ibu terus berusaha untuk menyusui dedek bayi agar mau menyusu. Tapi kalau tidak kunjung bisa, mungkin Ibu harus mencari ibu susu. Meski susu formula itu bagus, tapi tetap saja lebih bagus ASI. Maaf kalau saya terkesan menggurui. Ini untuk tumbuh kembang adik bayi juga."
Ani berkata demikian bukannya karena mendiskriminasi ibu-ibu yang tidak bisa menyusui bayi mereka. Dia berkata demikian karena dia tahu bahwa Eva bukanlah ibu si bayi. Dan Ani yakin, Eva berusaha menyusui bayi itu agar bisa menjadi ibu nya.
"Lancang sekali kamu! Berani-beraninya kamu ngomong kayak gitu hah!" pekik Eva. Terlihat sekali bahwa wanita itu tersinggung dengan ucapan Ani.
"Maaf kalau Bu Eva tidak berkenan dengan apa yang saya ucapkan. Akan tetapi faktanya memang demikian. Daya tahan tubuh anak itu pasti jauh lebih baik kalau mendapatkan ASI. Akan tetapi semua kembali pada Pak Reza dan Bu Eva sebagai orang tuanya."
Ani bicara sembari menundukkan kepalanya. Dia sangat geram sebenarnya dengan pasangan suami istri di depannya itu. Tapi lagi dan lagi dia hanya bisa menahannya. Ani berkata demikian juga karena dia tahu betul, bahwa ada ibu yang lebih berhak untuk memberikan ASI, dan anak yang juga memiliki hak untuk mendapatkan ASI.
Sebenarnya Ani adalah salah satu orang yang mengenal Laras di rumah bersalin itu. Ani menjadi salah satu saksi dimana hubungan Laras dan Reza sangat harmonis. Reza sangat lembut dan manis dalam memperlakukan Laras, hingga semua orang tampak iri melihatnya.
Namun siapa sangka, ternyata Laras tak ubahnya mesin pencetak anak. Reza rupanya telah memiliki istri dan setelah Laras melahirkan, wanita malang itu langsung diceraikan.
Sungguh jahatnya Reza memperlakukan Laras sedemikian. Dan juga Eva, tega sekali menjadikan sesama wanita menderita.
Meski Ani tak tahu kisah asli dari Laras, Reza dan Eva, dia tetap menilai bahwa Laras lah yang paling tersakiti di sini.
"Apa Ibu akan tidur dengan dedek bayi, jika iya saya akan kembali ke kamar saya. Nanti panggil saja saya kapan saja jika Anda membutuhkan." Ani melangkahkan kakinya mundur dan bersiap keluar. Namun langkahnya terhenti ketika Eva menahannya.
"Tunggu, kamu tidurlah di sini. Aku masih belum bisa ngerawat dia. Kamu aja yang di sini. Lagi pula dia minum susu dari botol, jadi lebih baik dia sama mu. Ah iya Mas, dia harus segera mendapatkan nama. Kita nggak bisa kan manggil dia dengan panggilan dedek bayi terus terusan."
Ani menghela nafasnya, tapi dia melakukannya dengan pelan agar tidak diketahui oleh Eva dan Reza.
Sedangkan Reza dan Eva, mereka melenggang pergi dari kamar bayi itu. Entah apa yang mereka bicarakan, Ani tak lagi peduli.
"Duuh kasihan sekali kamu Nak. Hak mendapatkan ASI dari ibu mu pun di rampas. Pasti ibu kamu saat ini sangat sedih karena mereka mengambil mu dari nya. Semoga kelak jika sudah dewasa, kamu mengerti dan mencintai ibu kandungmu. Karena dia lah yang berpayah-payah mengandung mu dan melahirkan mu. Ibu dan anak yang malang."
Ani mengusap lembut wajah si bayi. Bayi yang tak berdosa dimana usianya bahkan baru sehari, harua menanggung kesusahan akibat dari keegoisan orang dewasa.
Cekleek
"Mas, apa mungkin kita nyari donor ASI aja kali ya. Apa yang dikatakan perawat sok tahu itu ada benarnya juga. Putra kita harus kuat buat jadi penerus keluarga Adiguna. Ah iya nama, siapa namanya."
Rupanya Eva memikirkan ucapan dari Ani. Dia ternyata memiliki kekhawatiran terhadap apa yang dikatakan oleh Ani tadi tentang pertumbuhan bayi itu.
"Aku lebih setuju kita nyari Ibu Susu ketimbang nyari ASI ke donor ASI. Tapi tunggu dulu, kamu usaha dulu buat bisa menyusui dia. Kalau nama aku sudah punya. Anak kita, putra kita itu akan aku namai Elio Kaysan Adiguna."
"Elio, Baby El. Ya itu bagus."
TBC
Makasih ya manteman buat supportnya. InsyaAllah ini nggak dihapus lagi kok. Semoga temen-temen juga konsisten ya bacanya. Makasih banyak.