❤️ CINTA DI LANGIT TAJ MAHAL 🕌✨
AARYAN, CEO muda yang dingin dan playboy, hidupnya berubah total saat bertemu MAHEERA, gadis suci yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Meski ditentang keras oleh Ny. Savitri, ibu Aaryan yang angkuh, cinta mereka tetap bersemi. Bahagia sempat terjalin indah, hingga takdir berkata lain. Maheera harus pergi meninggalkannya lebih dulu.
Bertahun-tahun Aaryan hidup dalam kesepian, menyimpan rindu yang tak pernah mati. Hingga akhirnya, ia pun menyusul kekasih hatinya.
Kisah cinta abadi yang membuktikan, kematian pun tak mampu memisahkan dua jiwa yang saling memiliki. 🥹🕊️🖤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: RINDU YANG TAK BISA DITAHAN
Kepala Aaryan terasa berat, pandangannya masih sedikit kabur akibat alkohol yang baru saja ia teguk. Namun, anehnya, rasa mabuk itu justru membuat perasaannya semakin kacau.
Bayangan wajah Maheera terus berputar di kepalanya. Mata jernih, senyum tulus, dan aura suci yang dimiliki gadis itu, seolah menjadi obat yang sangat ia butuhkan saat ini.
"Brengsek... kenapa harus dia?!" geram Aaryan sambil memukul setir mobilnya keras-keras.
Ia sedang duduk di dalam mobil sport merahnya yang terparkir di pinggir jalan sepi. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena marah, tapi karena sebuah rasa aneh yang ia sebut sebagai RINDU.
Rasa yang selama ini tidak pernah ia kenal. Aaryan Singhania tidak pernah merindukan wanita manapun. Wanita-wanita itu selalu yang mengejarnya, memohon perhatiannya. Tapi sekarang? Justru dia yang gila-gilaan ingin melihat seseorang.
Tanpa pikir panjang, Aaryan menyalakan mesin mobilnya. Kakinya menginjak gas, melaju membelah malam menuju pemukiman sederhana di pinggir kota tempat tinggal Maheera.
"Gue cuma mau lihat sebentar... cuma mau pastiin dia baik-baik saja," bisiknya membohongi diri sendiri. Padahal jelas-jelas dia tak tahan lama-lama berjauhan.
Setibanya di sana, Aaryan mematikan lampu mobil dan memarkirkan kendaraannya agak jauh dari rumah Maheera. Ia tidak ingin membuat gadis itu kaget atau dianggap mengganggu.
Dari balik kaca mobil yang agak gelap, matanya yang tajam menatap lurus ke sebuah jendela kamar kecil yang masih menyala.
Beberapa menit kemudian, pintu rumah terbuka.
Keluarah sosok yang sangat ia rindukan.
Maheera.
Gadis itu sedang menyapu halaman kecil di depan rumah, atau mungkin sedang menyiram tanaman. Ia mengenakan baju tidur yang sangat sederhana, rambutnya dikuncir kuda, dan wajahnya tanpa riasan sedikitpun.
Tapi bagi Aaryan, pemandangan itu jauh lebih indah daripada ribuan wanita cantik yang tadi malam ada di klub.
Maheera terlihat begitu tenang, damai, dan bersih. Berbanding terbalik dengan dunia Aaryan yang kotor, bising, dan penuh dosa.
"Cantik..." gumam Aaryan pelan, tersenyum sendiri tanpa sadar. Senyum tulus yang jarang sekali ia tunjukkan pada orang lain.
Tiba-tiba, seolah merasakan ada yang memperhatikan, Maheera menoleh ke arah mobil Aaryan.
Mata mereka bertemu.
Jantung Maheera seakan berhenti berdetak sesaat. Ia melihat jelas pria tampan itu duduk di dalam mobil mewahnya, menatap dirinya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Dengan langkah ragu, Maheera mendekat. Aaryan segera turun dari mobilnya, meski langkahnya masih sedikit sempoyongan karena pengaruh minuman keras.
"Tuan... Aaryan?" panggil Maheera pelan, matanya membelalak melihat kondisi pria itu. "Kenapa Tuan ada di sini? Malam-malam begini... dan Tuan mabuk?"
Aroma alkohol yang kuat langsung tercium oleh hidung Maheera. Gadis itu sedikit mundur, tidak terbiasa dengan bau itu.
Melihat Maheera agak menjauh, Aaryan merasa panik. Ia maju selangkah, mendekat hingga jarak mereka hanya beberapa senti.
"Jauh-jauh kenapa? Aku mau lihat kamu..." ucap Aaryan dengan suara berat dan sedikit cadel karena mabuk, tapi tatapannya sangat dalam dan memohon. "Aku nggak bisa tidur kalau nggak lihat wajahmu, Maheera. Kepalaku pening, tapi kalau lihat kamu, rasanya jadi enak."
"Tuan gila ya... Tuan itu orang penting, CEO besar. Kenapa harus datang ke tempat kumuh begini dalam keadaan mabuk? Kalau ada orang lihat gimana? Nanti nama baik Tuan hancur," ucap Maheera cemas, tangannya secara tidak sadar memegangi lengan kekar pria itu untuk menopangnya agar tidak jatuh.
Sentuhan tangan kecil itu membuat tubuh Aaryan terasa hangat. Ia menunduk menatap wajah polos di hadapannya.
"Aku nggak peduli omongan orang. Aku cuma peduli kamu," kata Aaryan tulus. "Di klub sana banyak wanita cantik, banyak uang, banyak minum... tapi semuanya palsu. Cuma kamu yang asli. Cuma kamu yang bersih."
Maheera tertegun. Kata-kata itu keluar dari mulut pria playboy dan arogan? Ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Tuan cuma lagi mabuk saja makanya ngomong begitu..." elak Maheera berusaha tenang, meski pipinya sudah memerah.
"Enggak! Aku sadar!" potong Aaryan cepat. Ia memegang kedua bahu gadis itu perlahan. "Mulai sekarang, jangan biarkan aku minum-minum lagi ya? Jadilah alasanku buat berubah. Jadilah alasanku buat pulang ke rumah yang benar."
Malam itu, di bawah cahaya lampu jalan yang remang, di depan rumah sederhana itu, Aaryan Singhania—raja dunia malam dan penguasa bisnis—tampak begitu rapuh dan tunduk di hadapan seorang gadis desa.
Ia sadar, Maheera adalah satu-satunya cahaya yang bisa menyelamatkan jiwanya yang gelap.
"Tidurlah Tuan... sudah larut malam," bisik Maheera lembut, hatinya meleleh melihat ketulusan di mata pria itu.
"Aku nggak mau pergi sebelum kamu janji bakal temui aku besok," tuntut Aaryan seperti anak kecil.
"Iya... janji," jawab Maheera pelan.
Barulah Aaryan tersenyum lebar, senang seperti anak kecil dapat permen. Ia masuk kembali ke mobilnya, tapi sebelum pergi, ia sempat berbisik lewat jendela kaca.
"Mimpi indah, Bidadariku..."
Mobil itu pun melaju pergi, meninggalkan Maheera yang berdiri mematung di tengah jalan, dengan jantung yang berdegup kencang tak karuan.
Cinta mereka mulai tumbuh dengan cara yang begitu unik. Si dingin yang jadi lembut, si playboy yang jadi setia, dan si suci yang mulai mengubah dunia.