Rumah tangga Kartika dan Deva sudah 10 tahun dan berjalan baik, walau sering mendapatkan banyak rongrongan dari keluarga Deva, entah itu orang tuanya atau adik-adiknya yang suka bergantung kepadanya.
“Kartika, mulai sekarang kebutuhan rumah tangga kita bagi dua. Karena ibu ingin membeli rumah baru untuk Gavin, setoran tiap bulannya tiga juta setengah,” kata Deva di tengah-tengah kumpulan keluarganya.
Mendengar itu Kartika menahan amarah dan kesal. Gaji Deva sebanyak 25 juta sebagian besar digunakan untuk keluarganya.
“Makanya kamu harus bekerja, jangan cuma mengandalkan uang anakku saja!” ucap Bu Hania, mertuanya.
Karena rasa cinta Kartika yang begitu besar kepada Deva, dia sampai meninggalkan rumah dan harta kekayaannya. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga agar bisa mengurus suami, anak, dan rumah.
“Oke! Kalau begitu, maka mulai sekarang aku pun akan minta bayaran untuk semua hal yang aku kerjakan di rumah,” balas Kartika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Ruang dapur yang biasa terasa hangat dan penuh tawa, kini terasa tegang. Kartika berdiri berhadapan dengan Deva, dengan menahan amarah dan sedih.
Kartika berdiri di dekat wastafel sambil melipat kedua tangan di dada. Rambutnya masih sedikit basah sehabis mandi, tetapi wajahnya tampak jauh dari segar. Ada lingkar samar di bawah matanya, tanda kurang tidur yang sudah terlalu sering terjadi.
Sementara Deva berdiri di seberangnya dengan rahang mengeras. Kemeja kantornya sudah rapi. Jam mahal melingkar di pergelangan tangannya. Wangi parfum maskulin memenuhi dapur kecil itu.
Namun, semua kesan rapi itu runtuh saat matanya bertemu dengan tatapan Kartika. Tatapan yang biasanya lembut, kini penuh luka.
“Seharusnya Mas paham kenapa aku marah,” ucap Kartika pelan, tetapi penuh tekanan.
Deva diam.
“Aku rela capek. Rela enggak tidur nyenyak. Rela enggak punya waktu buat memanjakan diri sendiri. Demi apa? Demi keluarga ini.” Suara Kartika mulai bergetar. “Tapi, keluarga Mas memperlakukanku seperti pengangguran yang numpang hidup.”
Kalimat itu menghantam tepat di dada Deva. Pria itu menelan ludah. Entah kenapa, pagi ini untuk pertama kalinya dia benar-benar memperhatikan wajah istrinya. Wajah yang selama ini selalu menyambutnya dengan senyum, kini terlihat lelah. Bukan lelah karena sehari dua hari mengurus rumah, melainkan lelah yang menumpuk bertahun-tahun tanpa pernah diberi ruang untuk mengeluh.
Deva menarik napas pelan, mencoba menahan emosinya sendiri. “Tapi ... nyatanya memang cuma aku yang kerja cari uang.”
Kartika tertawa kecil. Tawa getir yang menunjukan luka di hatinya.
“Dan kamu harusnya bisa mengelola uang yang aku kasih dengan baik,” lanjut Deva lagi. Nada suaranya lebih rendah. Ia malas bertengkar pagi-pagi. Kepalanya sudah pening membayangkan pekerjaan kantor yang menumpuk.
Kartika memejam mata sesaat. Seolah sedang menahan sesuatu agar tidak meledak. Lalu, ia berjalan menuju meja makan, mengambil amplop cokelat tipis yang tadi malam diberikan Deva.
Amplop itu diketuk pelan ke dada suaminya. “Coba Mas yang kelola.”
Deva mengernyit.
Kartika menatap lurus mata suaminya. “Uang empat juta setengah, aku yakin baru dua minggu juga sudah habis,” ucap Kartika dengan datar. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya terasa seperti tamparan.
Deva mengembuskan napas panjang dengan kasar. Tangannya bertolak pinggang, wajahnya terlihat mulai lelah menghadapi bantahan Kartika yang sejak tadi tidak mau mengalah.
“Makanya aku ingin kamu juga kerja bantu aku cari uang untuk kebutuhan keluarga kita.”
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Deva. Seolah tidak ada yang salah.
Namun bagi Kartika, ucapan itu seperti sesuatu yang menghantam tepat di tengah dada. Wanita itu membeku. Jari-jarinya yang tadi sibuk membereskan botol susu Kaivan perlahan berhenti bergerak. Dadanya terasa sesak tiba-tiba, seperti ada sesuatu yang menekan kuat dari dalam. Matanya menatap Deva tidak percaya.
Kerja? Bukankah dulu justru Deva yang paling keras melarangnya bekerja?
Ingatan Kartika langsung melompat jauh ke beberapa tahun lalu. Saat mereka baru menikah. Saat semuanya masih terasa hangat dan penuh cinta.
Deva datang dengan senyum lembut dan tatapan penuh sayang. Pria itu menggenggam kedua tangannya erat sambil berkata pelan,
“Aku mau istriku tinggal di rumah.”
“Aku enggak mau anak-anak kita diasuh orang lain. Aku pengin mereka tumbuh dengan kasih sayang ibunya sendiri.”
Kalimat sederhana itu dulu terdengar begitu indah di telinga Kartika. Ia merasa dicintai, merasa dibutuhkan, dan merasa dihargai sebagai seorang istri dan calon ibu.
Dan karena rasa cinta itu, Kartika rela melepaskan semuanya. Ia tinggalkan semuanya tanpa banyak berpikir. Karena waktu itu Kartika percaya, pengorbanannya akan dihargai.
Namun sekarang, malah ada ucapan, “Biar enggak dikatakan istri yang cuma habisin uang suami,” tambah Deva lagi.
Ucapan itu membuat sesuatu dalam diri Kartika seperti runtuh perlahan. Kalimat itu terdengar begitu menusuk dan merendahkan dirinya. Seolah semua yang selama ini ia lakukan di rumah tidak ada nilainya sama sekali.
Kartika menatap suaminya lama. Matanya mulai memerah, tetapi bukan karena ingin menangis. Ada rasa kecewa yang terlalu besar sampai air mata pun seperti tertahan.
Lalu perlahan bibirnya tersenyum kecil. Namun, senyum itu hambar. Tidak ada kehangatan di sana.
“Kalau begitu, apa bedanya aku punya suami dan tidak?” Suara Kartika lirih, tetapi terdengar tajam di telinga Deva.
Deva langsung diam. Kalimat itu membuat dadanya seperti ditusuk sesuatu.
Kartika melangkah mendekat. Jarak mereka kini hanya beberapa langkah.
“Kalau aku tetap harus cari uang sendiri buat memenuhi kebutuhan rumah tangga, sementara suamiku lebih sibuk menafkahi keluarga lain dibanding anak dan istrinya sendiri,” lanjut Kartika dengan suara bergetar menahan emosi. Ia tertawa kecil. Tawa pahit yang justru terdengar menyakitkan.
“Lalu untuk apa aku punya suami?”
Deva terpaku di tempatnya. Ia tahu dan sangat paham apa maksud ucapan Kartika barusan. Wanita itu sedang mengatakan satu hal yang selama ini tidak pernah berani diucapkannya secara langsung.
Kartika bisa hidup tanpa dirinya. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak menikah, Deva merasa takut. Rasa takut itu muncul tiba-tiba, menyelinap pelan ke dalam dadanya. Dia takut kehilangan istrinya. Takut kalau suatu hari Kartika benar-benar lelah dan memilih pergi.
Selama ini Deva terlalu yakin istrinya akan selalu bertahan. Selalu mengalah dan menurut, bahkan selalu diam.
Namun, pagi ini berbeda. Kartika berdiri di hadapannya bukan sebagai istri penurut seperti biasanya. Melainkan seorang wanita yang sudah terlalu lama menahan kecewa.
Jantung Deva berdetak lebih cepat. Ada banyak hal yang sebenarnya ingin ia katakan. Namun, gengsi dan egonya menahan semuanya di tenggorokan. Pada akhirnya pria itu hanya meraih tas kerjanya dengan kasar.
“Aku berangkat kerja.” Nada suaranya terdengar dingin. Bukan karena tidak terluka. Justru karena terlalu bingung menghadapi perasaannya sendiri.
Kartika tidak menjawab. Wanita itu hanya berdiri diam sambil memalingkan wajah.
Deva melangkah menuju pintu dengan langkah berat. Biasanya Kartika akan mengantarkannya sampai depan rumah, membawakan bekal atau sekadar mengingatkan hati-hati di jalan. Tidak lupa pelukan dan ciuman sebagai bentuk penyemangat. Namun, hari ini semua itu tidak ada.
Pintu rumah tertutup keras. Suara itu menggema memenuhi rumah. Lalu, semuanya kembali hening.
Kartika memejamkan mata perlahan. Tangannya naik memijat pelipis yang terasa berdenyut sejak tadi. Baru beberapa menit bertengkar, tetapi tubuhnya terasa sangat lelah.
Lebih lelah daripada saat mencuci setumpuk pakaian. Lebih lelah daripada saat begadang menjaga anak sakit semalaman. Karena ternyata melawan suami yang selama ini selalu ia hormati jauh lebih menguras hati daripada pekerjaan rumah apa pun.
anak² belum mengerti tentang masalah orang tua