Siti Alesia, anak jawara silat yang tewas konyol, terbangun di tubuh Permaisuri Alessia—wanita lemah yang dijadikan "mesin pembuat anak" dan ditindas hingga mati oleh selir licik.
Tapi mereka salah sasaran. Alesia bukan wanita yang bisa menangis! Dengan mulut pedas dan jurus Golok Seliwa, ia mengobrak-abrik aturan kolot istana. Selir yang meracuninya? Dibanting sampai encok! Ibu Suri yang galak? Dibuat kicep lewat diplomasi sambal terasi!
Raja Magnus yang sedingin es dan sekaku kanebo kering pun dibuat meleyot. Sang penguasa kini sadar; istrinya bukan lagi pajangan, melainkan macan betina yang siap membelah siapa pun yang berani menyentuh harga dirinya.
"Bang Magnus, jangan kaku-kaku amat! Mending latihan silat sama gue, biar otot lu kaga karatan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Nasi Goreng Jawara Dan Sisi Manis Sang Raja Dingin
Aroma bawang merah dan mentega yang mulai meleleh di atas wajan besi memenuhi dapur pribadi Paviliun Mawar. Berbeda dengan dapur utama kerajaan yang megah dan kaku, dapur kecil ini terasa jauh lebih hangat. Di sinilah Alesia biasanya "menyelundupkan" makanan instan atau membuat camilan sendiri jika merindukan kampung halamannya.
Namun, pemandangan malam ini benar-benar tidak biasa. Jika ada pelayan istana yang berani mengintip, mereka pasti akan langsung pingsan berjamaah.
Sang penguasa tertinggi Orizon, Raja Magnus, sedang berdiri di depan tungku dengan jubah tidurnya yang digulung hingga ke siku. Di tangan kanannya yang biasanya menggenggam pedang pembantai musuh, kini ia memegang sebuah sutil kayu dengan canggung.
"Woi, Bang! Kaga usah estetik begitu ngaduk bawangnya! Keburu gosong ntar!" teriak Alesia yang duduk manis di atas meja dapur kayu, kakinya berayun-ayun santai. Kedua tangannya yang masih dibalut perban putih bersih semestinya membuatnya tidak berdaya, tapi mulutnya tetap bekerja dengan kecepatan penuh.
Magnus mengernyitkan dahi, menatap potongan bawang di dalam wajan dengan tatapan seserius saat menganalisis peta perang di perbatasan. "Aku sudah mengaduknya perlahan, Alessia. Mengapa aroma bumbu ini begitu tajam hingga membuat mataku perih?"
"Ya namanya juga bawang merah, Bang! Kalau mau kaga perih, lu pakain kacamata renang gih sana," tawa Alesia renyah, menikmati pemandangan langka di depannya. "Sekarang masukin cabai rawitnya yang udah gue ulek tadi. Semuanya ya!"
Magnus mengambil mangkuk porselen kecil berisi ulekan cabai merah, lalu memasukkannya ke dalam wajan. CESS! Bunyi tumisan beradu dengan minyak panas langsung menaikkan aroma pedas yang sangat menggoda. Magnus terbatuk kecil, namun ia menolak untuk menyerah.
"Lalu apa lagi?" tanya Magnus, menoleh ke arah istrinya dengan mata yang sedikit berair karena uap pedas.
"Masukin nasinya, terus aduk cepet. Jangan sampai ada yang menggumpal. Inget, bumbunya harus rata ke seluruh pori-pori nasi!" instruksi Alesia layaknya pelatih silat yang sedang mendikte muridnya.
Magnus mulai mengaduk nasi dingin itu dengan gerakan kaku. Melihat suaminya yang tampak sangat kepayahan, Alesia akhirnya merasa tidak tega. Ia melompat turun dari meja dapur, berjalan mendekat hingga tubuhnya berdiri tepat di samping Magnus.
"Sini, biar gue ajarin teknik rahasia membalik nasi goreng warisan Abah," ucap Alesia.
Alesia menempelkan dadanya ke lengan kiri Magnus, lalu tangan kanannya yang terbalut perban memegang punggung tangan Magnus yang sedang menggenggam sutil. Posisi mereka seketika menjadi sangat intim. Magnus bisa merasakan napas hangat Alesia di lehernya, serta aroma minyak kayu putih bercampur wangi tubuh Alesia yang begitu memabukkan.
"Gini caranya, Bang... ditarik dari bawah ke atas, terus diputar. Jangan cuma ditekan-tekan," bisik Alesia lembut, fokus menggerakkan tangan Magnus.
Magnus tidak lagi memperhatikan nasi di dalam wajan. Matanya sepenuhnya beralih menatap profil samping wajah Alesia dari jarak yang hanya beberapa sentimeter. Bulu mata Alesia yang lentik, hidung bangirnya yang kecil, dan bibir merahnya yang terus berkomat-kamit memberikan instruksi.
"Kau... tidak sedang mengerjaiku kan, Permaisuriku?" suara Magnus mendadak berubah menjadi sangat rendah dan berat, bergetar di dekat telinga Alesia.
Alesia tersentak, baru menyadari betapa dekatnya posisi mereka saat ini. Jantungnya langsung melakukan lompatan ekstrem, berdetak kencang di balik dadanya. Ia mendongak, mendapati mata biru Magnus yang menatapnya dengan intensitas yang sanggup melelehkan bongkahan es terbesar sekalipun.
"Eh... kaga lah, Bang. Gue beneran ngajarin masak," jawab Alesia gugup, mencoba menarik tangannya kembali. Namun, Magnus justru mempererat genggaman tangannya pada jemari Alesia yang terbalut perban, menahan wanita itu agar tetap berada di pelukannya.
"Biarkan seperti ini dulu," bisik Magnus. Ia mematikan api tungku dengan tangan kirinya, lalu memutar tubuh Alesia sepenuhnya hingga punggung wanita itu bersandar pada tepi meja dapur. Magnus mengurung tubuh mungil Alesia di antara kedua lengannya.
Alesia menelan ludah, matanya bergerak liar mencari pelarian dari tatapan Magnus yang terlalu mematikan. "Bang... itu nasinya udah mateng. Ntar keburu dingin kaga enak..."
"Nasi itu bisa dipanaskan lagi, Alessia. Tapi momen bersamamu seperti ini sangat sulit kudapatkan," ucap Magnus jujur, sebelah tangannya naik untuk menyentuh helai rambut Alesia yang terjatuh di pipinya. "Sejak kau bangun, kau selalu berlari dariku. Kau selalu memasang dinding tinggi seolah-olah aku adalah musuhmu."
Mendengar ucapan Magnus, Alesia menghela napas perlahan. Ketegangan di tubuhnya sedikit mengendur. Ia menatap mata Magnus dengan tatapan yang lebih serius, kehilangan gaya nyablaknya untuk sementara waktu.
"Bang... jujur ya. Di tempat asal gue, pernikahan itu bukan cuma soal status atau politik. Pernikahan itu soal dua orang yang saling percaya, saling ngejaga, dan saling berbagi hidup," kata Alesia dengan suara yang melembut. "Gue tahu Alessia yang dulu menderita banget di sini. Dia kesepian, dia ketakutan, dan dia ngerasa lu kaga pernah peduli sama dia. Makanya, gue kaga bisa langsung percaya gitu aja sama lu. Gue butuh waktu buat mastiin kalau lu beneran tulus sama gue, bukan cuma karena lu ngerasa bersalah atau butuh penerus takhta."
Magnus mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir Alesia dengan saksama. Kata-kata itu terasa begitu asing bagi seorang raja, namun terasa sangat nyata di telinganya.
"Aku mengerti," jawab Magnus, jemarinya perlahan mengelus pergelangan tangan Alesia yang terluka. "Aku tidak akan memaksamu. Aku akan membuktikan padamu bahwa aku bisa menjadi pria yang layak mendapatkan kepercayaanmu. Aku akan menghancurkan dinding yang kau buat itu, satu demi satu."
Alesia tersenyum tipis, merasakan kehangatan yang menjalar dari sentuhan Magnus. "Oke, gue pegang omongan lu ya, Bang. Tapi sekarang... perut gue beneran udah konser nih. Lu kaga tega liat bini lu yang habis bertarung nyawa kemarin kelaparan?"
Magnus tertawa renyah, ketegangan di antara mereka seketika mencair. "Baiklah. Mari kita nikmati 'Nasi Goreng Cinta' buatan kita."
"Dih, pake nama 'Cinta' segala, najis bener gombalan lu, Bang!" tawa Alesia pecah saat Magnus membantunya membawa piring berisi nasi goreng hangat itu ke meja makan kecil di sudut dapur.
Karena tangan Alesia masih diperban, Magnus dengan sangat telaten menarik kursi untuk istrinya, lalu mengambil sendok perak. Ia meniup sesendok nasi goreng yang masih mengepulkan uap panas itu sebelum menyodorkannya ke depan mulut Alesia.
"Ayo, buka mulutmu," ucap Magnus lembut.
"Beneran mau disuapin nih, Bang?" tanya Alesia ragu, wajahnya kembali merona merah.
"Tentu. Bukankah ini bagian dari proses 'pendekatan' kita?" goda Magnus dengan sebelah alis terangkat.
Alesia akhirnya pasrah dan menerima suapan itu. Begitu rasa pedas, gurih, dan aroma harum nasi goreng itu menyebar di lidahnya, mata Alesia langsung berbinar senang. "Buset, Bang! Enak bener! Lu ternyata punya bakat jadi tukang nasi goreng gerobakan!"
"Apakah itu pujian?" tanya Magnus sambil tersenyum geli, kembali mengambil suapan kedua untuk Alesia.
"Iya dong! Pujian tertinggi dari anak Depok buat Rajanya!" seru Alesia riang di sela kunyahannya.
Di bawah temaram cahaya lilin dapur yang hangat, malam itu dilewati keduanya dengan tawa kecil dan obrolan ringan yang mengalir lambat namun pasti. Dinding es yang selama ini memisahkan mereka perlahan-lahan mulai retak, menyisakan sebuah awal baru yang jauh lebih hangat di dalam istana yang kaku itu.
gx da lembut2ny ,, tp mantap laa Alessia ,, aq suka gaya muuu 🤟🤟🤟🤟🤟
semangat trus ya kak nulis ny
hai kak ,,
aq mampir ksniii