Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.
Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.
Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.
Rachael Velencia.
Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.
Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21 - Penyadap?
Rachael masih berdiri agak kaku di dekat balkon.
Angin malam terus bergerak pelan di antara mereka, tapi suasananya sekarang terasa jauh lebih panas dibanding sebelumnya.
Terutama karena Axel masih menatap Leon dengan tatapan penuh arti yang sangat menyebalkan.
“Refleksnya keren juga,” komentar Axel santai.
Leon menatap datar. “Kalau kamu jatuh juga bakal kutarik.”
“Wah. Tapi aku nggak pernah lihat kamu secepat itu.”
“Karena kamu nggak pernah hampir jatuh.”
Axel baru mau membalas lagi saat Rachael tiba-tiba memotong cepat.
“Itu cuma kecelakaan kecil.”
Semua mata langsung beralih ke arahnya.
Rachael langsung melanjutkan sebelum suasana makin aneh. “Aku cuma kehilangan keseimbangan sedikit. Bukan hal besar.”
Axel mengangkat alis kecil. “Kami juga nggak bilang itu hal besar.”
“Tapi wajah kalian kayak lagi nonton drama.”
Evelyn tertawa kecil pelan di samping sana.
Rachael langsung mengusap tengkuknya sendiri, lalu berkata cepat seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri juga. “Lagipula kami cuma teman.”
Leon terdiam mendengarnya.
Rachael masih lanjut bicara tanpa sadar. “Nggak ada yang aneh. Nggak ada apa-apa juga. Jadi jangan mulai bikin suasana aneh.”
Axel melirik Leon perlahan.
Sayangnya, Leon tidak langsung membantah. Tatapannya justru jatuh ke Rachael beberapa detik lebih lama.
Rachael yang masih sibuk bicara sendiri tidak menyadari itu.
“Aku cuma mau berteman normal aja,” lanjutnya lebih pelan sekarang. “Yang santai. Nggak ribet.”
Kalimat itu membuat Leon akhirnya mengalihkan pandangan ke taman bawah. Ekspresinya tetap tenang seperti biasa.
Namun entah kenapa, Axel bisa melihat perubahan kecil di matanya.
Karena Leon tahu satu hal. Perasaannya sendiri sudah mulai bergerak terlalu jauh untuk disebut “cuma teman.”
Itu cukup mengganggu.
Ia bukan tipe orang yang mudah tertarik pada seseorang. Apalagi sampai mulai memikirkan orang itu terus-menerus.
Tapi akhir-akhir ini, Leon mulai terbiasa mencari keberadaan Rachael lebih dulu. Mulai menunggu suaranya saat suasana terlalu sepi, mulai memperhatikan perubahan ekspresi kecilnya tanpa sadar.
Dan sekarang, saat mendengar Rachael berkata hanya ingin berteman... Ada rasa aneh kecil yang muncul di dadanya. Bukan sakit, tapi jelas bukan perasaan nyaman juga.
Sementara itu, Rachael akhirnya sadar suasana tiba-tiba terlalu hening.
Ia berkedip bingung. “...Kenapa jadi diam semua?”
Axel langsung batuk kecil menahan senyum. “Enggak. Cuma merasa kalian lucu aja.”
“Apanya yang lucu?”
“Kalian kayak beda channel.”
Rachael menyipitkan mata bingung.
Leon justru berjalan pelan melewati mereka. “Udah selesai lihat mansion?”
Rachael langsung refleks mengikuti langkah Leon dengan cepat. “Eh bentar, aku belum lihat bawah.”
“Kamu mau tur satu mansion sekalian?” ucap Axel.
“Boleh?”
Leon melirik datar. “Nggak.”
Rachael langsung protes kecil dari belakang.
Axel memperhatikan mereka menjauh perlahan di lorong mansion. Lalu ia menoleh ke Evelyn sambil berbisik pelan, “Itu jelas banget.”
Evelyn tersenyum tipis sambil melihat punggung Leon. “Yang satu sudah sadar.”
Axel mengangkat alis. “Yang satu lagi?”
Evelyn tertawa kecil. “Masih sibuk meyakinkan dirinya sendiri kalau semuanya cuma pertemanan.”
...----------------...
Rachael berjalan beberapa langkah di belakang Leon sekarang. Tidak sedekat tadi di balkon.
Ekspresinya kembali sedikit berubah tanpa sadar. Bibirnya mengerucut kecil tipis seperti sedang menahan sesuatu.
Cemberut.
Dan itu cukup jelas terlihat kalau diperhatikan, tapi Rachael sendiri tidak sadar.
Ia hanya merasa dadanya tiba-tiba sedikit aneh setelah percakapan tadi. Terutama setelah tanpa sadar mengatakan mereka cuma teman.
Padahal itu memang benar. Karena hubungan yang terlalu dekat dengan orang lain selalu berakhir rumit untuknya.
Jadi lebih aman kalau tetap seperti ini saja. Teman biasa dan tidak lebih.
Rachael akhirnya memperlambat langkah sedikit, kembali memberi jarak seperti kebiasaannya saat mulai merasa terlalu nyaman.
Leon yang berjalan di depan sempat melirik sekilas ke belakang. Ia menyadari jarak itu, namun tidak mengatakan apa-apa.
Lorong mansion kembali sunyi.
Hanya suara langkah kaki mereka yang menggema pelan di lantai marmer hitam mengilap.
Sampai akhirnya— Tatapan Rachael bergerak naik secara refleks. Dan matanya langsung berhenti di salah satu sudut atas lorong.
Langkahnya melambat sepersekian detik.
Benda kecil hitam menempel rapi di dekat ukiran sudut langit-langit.
Kecil sekali. Hampir tidak terlihat kalau tidak benar-benar memperhatikan.
Bukan CCTV. Posisinya terlalu tersembunyi. Dan bentuknya...
Rachael mengenalinya, itu adalah penyadap kecil.
Matanya menyipit tipis samar. Otaknya langsung bekerja cepat sekarang.
Kenapa ada benda seperti itu di mansion keluarga de Arther?
Sudah berapa lama terpasang?
Siapa yang memasangnya?
Namun hanya beberapa detik kemudian, Rachael membuang pandangannya pelan seolah tidak melihat apa-apa.
Ia memilih diam dan tidak memberi tahu siapa pun.
Karena insting lamanya langsung muncul lagi. Jangan ikut campur. Semakin sedikit terlibat, semakin aman. Lagipula itu bukan urusannya.
Rachael kembali berjalan seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa. Namun kini pikirannya yang sebelumnya ramai karena terlalu senang mulai berubah arah perlahan.
Menjadi lebih waspada.
Leon yang menyadari perubahan ekspresinya akhirnya bertanya singkat tanpa menoleh penuh. “Kenapa diam lagi?”
Rachael langsung berkedip lalu mengangkat bahu kecil. “Capek sosial.”
“Hm.” Leon tidak curiga.
Sementara Rachael diam-diam melirik sekali lagi ke arah sudut lorong tadi sebelum akhirnya memalingkan wajah.
Entah kenapa, Perasaan tidak enak kecil mulai muncul pelan di dalam kepalanya.
Leon akhirnya menghentikan langkahnya tepat sebelum tangga besar lantai atas.
Rachael yang tadi sibuk dengan pikirannya sendiri ikut berhenti.
Beberapa detik suasana kembali hening.
Lalu Leon berbicara singkat, “Tur mansion nanti aja.”
Rachael berkedip. “Hah?”
“Kita balik ke ruang makan.”
“Kenapa?”
“Ayahku bakal mulai interogasi kalau ngilang terlalu lama.”
Rachael langsung membayangkan wajah dingin kepala keluarga de Arther tadi dan spontan mengangguk cepat. “Oke. Mari selamatkan diri.”
Leon melirik datar sekilas sebelum berbalik arah.
Mereka kembali berjalan menyusuri lorong panjang yang sama.
Dan saat melewati sudut tempat benda kecil itu terpasang, langkah Rachael sempat melambat sangat sedikit.
Tatapannya nyaris naik lagi secara refleks.
Namun kali ini ia menahan diri.
Jangan lihat terlalu jelas.
Jangan bikin orang sadar kalau dia tahu.
Ia tetap berjalan santai sambil memasukkan kedua tangan ke saku hoodie-nya.
Leon yang berjalan di sampingnya sempat melirik. “Capek sosialmu belum sembuh?”
Rachael menghela napas dramatis kecil. “Aku butuh restart otak.”
“Kamu dari tadi juga nggak banyak ngomong.”
“Itu tanda sistem ku error.”
“Hm.”
Rachael menoleh curiga. “Kamu kayaknya mulai ngerti cara menghadapi aku.”
“Sayangnya iya.”
“Wah. Bahaya.”
Meski percakapannya ringan, Leon tetap bisa melihat perubahan kecil di ekspresi Rachael.
Tatapannya lebih waspada sekarang, seperti sedang memikirkan sesuatu sendirian.
Namun sebelum ia sempat bertanya—Mereka akhirnya sampai kembali ke ruang makan besar mansion.
Suasana di sana masih cukup ramai, meski beberapa tamu kini mulai berpindah ke area lounge samping sambil berbicara bisnis.
Lampu kristal besar di atas meja makan memantulkan cahaya hangat ke seluruh ruangan.
Axel yang duduk santai di kursinya langsung menoleh begitu melihat mereka masuk.
“Nah, pasangan beda channel kembali juga.”
Rachael langsung menunjuk Axel tanpa ragu. “Aku dukung penuh kalau suatu hari nanti Leon melempar mu ke kolam.”
Axel tertawa puas. “Galak banget.”
Evelyn menatap Rachael sebentar lalu tersenyum kecil samar.
Leon menarik kursi dengan tenang lalu duduk seperti biasa.
Sementara Rachael baru mau ikut duduk dan matanya tanpa sengaja menangkap sosok pria paruh baya tadi di sisi ruangan.
Pria itu sedang berbicara dengan salah satu staf mansion sambil membawa tablet tipis di tangannya.
Ekspresinya tetap tenang dan profesional.
Namun entah kenapa, Rachael merasa ada sesuatu yang mengganggu dari caranya sesekali memperhatikan sekitar ruangan. Seolah memastikan sesuatu tetap berjalan sesuai rencana.
Rachael langsung memalingkan wajah lagi sebelum terlalu lama menatap. Jangan ikut campur. Kalimat itu terus berulang di kepalanya.
Karena pengalaman mengajarinya satu hal sederhana.
Semakin dalam rasa penasaran muncul… semakin besar masalah yang biasanya menunggu di belakangnya.
Dan sayangnya, rasa penasaran Rachael sekarang mulai tumbuh terlalu cepat.
...****************...
Bersambung...
iklan buat kamu
Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe