Alya Gabrielsen terpaksa menikah dengan pria asing demi menyelamatkan status keluarganya. ayahnya, Tyo, bangkrut dan terlilit hutang yang membuatnya hampir masuk penjara. Dengan paksaan sang ibu, Alya mau tak mau rela menikah di usia muda dengan pria yang sama sekali tak ia kenali. Bagaimana kisah Alya? saksikan hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaSafitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDK. 10
Tok!
Tok!
Tok!
Suara ketukan pintu terdengar memecah keheningan malam. Alya yang tengah duduk di depan meja rias segera menoleh, lalu berseru pelan meminta si pengetuk untuk masuk.
Cekrek!
Pintu terbuka perlahan.
“Oh, Papa… kirain tadi Bi Surti,” ucap Alya sambil menoleh ke arah Tyo yang kini melangkah masuk ke dalam kamarnya.
“Ada apa, Pa? Tumben malam-malam ke sini,” lanjutnya heran.
Tyo duduk di tepi ranjang. Sorot matanya terus tertuju pada putri semata wayangnya yang masih sibuk menyisir rambut sebelum tidur. Ada keraguan yang sempat mengganjal di dadanya, tetapi pertanyaan itu terlalu berat untuk terus ia pendam sendiri.
“Papa cuma ingin bertanya… kenapa kamu tiba-tiba setuju dengan lamaran ini?” tanyanya pelan, namun penuh rasa penasaran.
Tangan Alya sempat terhenti di ujung rambutnya. Gadis itu terdiam beberapa saat sebelum kembali melanjutkan gerakannya.
“Alya cuma ingin selalu bersama Papa,” jawabnya lirih.
Jawaban sederhana itu justru membuat dada Tyo terasa sesak. Pria itu menunduk, tak mampu lagi menahan air mata yang mulai jatuh satu per satu.
“Tapi kamu tahu, kan, apa yang harus kamu korbankan, Alya?” suara Tyo terdengar berat.
“Menikah itu bukan permainan. Pernikahan adalah janji seumur hidup untuk saling mencintai, menghormati, dan mendukung satu sama lain… bahkan di saat paling sulit sekalipun.”
Ia menarik napas panjang sebelum kembali melanjutkan.
“Sebelum memutuskan menikah, seseorang harus benar-benar siap berbagi hidup, menerima kekurangan pasangannya, dan terus berusaha menjaga hubungan itu tetap kuat.”
Tyo menatap putrinya dalam-dalam.
“Dan pengorbanan yang Papa maksud—”
Kalimatnya terputus ketika Alya tiba-tiba memeluknya erat. Bahu gadis itu bergetar hebat, air matanya jatuh tanpa mampu dibendung lagi.
“Cukup, Pa!” tangisnya pecah. “Alya ngerti apa yang Papa khawatirkan.”
Ia mengangkat wajahnya, menatap sang ayah dengan mata yang memerah.
“Keputusan ini Alya yang pilih sendiri. Alya yang menginginkannya. Jadi apa pun yang terjadi nanti, Alya juga yang akan menanggung semuanya.”
Suaranya bergetar, tetapi tetap berusaha tegar.
“Alya nggak masalah kalau harus putus sekolah… kalau Alya harus kehilangan cita-cita Alya. Selama Papa tetap ada di sisi Alya, itu sudah cukup. Alya nggak butuh apa pun lagi selain Papa.”
Tyo memejamkan mata. Hatinya terasa semakin hancur mendengar ketulusan putrinya.
“Maafkan Papa, Alya…” suaranya serak. “Karena kesalahan Papa, kamu yang harus menanggung akibatnya.”
Alya segera menggeleng kuat-kuat.
“Ini bukan kesalahan Papa,” balasnya cepat. “Nggak ada yang salah di sini. Mungkin… ini memang sudah jadi takdir Alya, Pa.”
**
“Jadi kamu batal dilamar?” tanya David kepada Ella.
Meski berusaha terlihat santai, keterkejutan tetap tampak jelas di wajah pria itu.
Ella mengangguk pelan. Namun jauh di dalam hatinya, ada rasa kesal yang sulit ia sembunyikan.
Seharusnya dialah yang menjadi Nyonya Wijaya. Bukan Alya. Bukan adiknya sendiri.
Awalnya, Ella sempat memprotes keputusan itu kepada Helena. Namun jawaban sang ibu perlahan membuat pikirannya berubah.
Helena mengatakan bahwa tak masalah bila Ella gagal menjadi bagian keluarga Wijaya. Sebab, dengan menjadikan Alya sebagai menantu keluarga kaya itu, mereka tetap bisa mengambil keuntungan.
Adiknya yang polos dapat dijadikan alat untuk menguras harta keluarga Wijaya tanpa perlu mengotori tangan sendiri. Bahkan, mereka bisa memakai nama besar Wijaya demi kepentingan pribadi mereka.
“Ternyata yang mau dilamar itu Alya… bukan aku,” ujar Ella sambil meletakkan cangkir minumannya di meja.
David terdiam beberapa saat. Tatapannya menelusuri wajah Ella dengan pikiran yang berjalan liar.
‘Kalau dia nggak jadi Nyonya Wijaya, terus gimana caranya aku bisa nikmatin harta keluarga itu? Tapi sudahlah… yang penting Ella masih bisa aku manfaatkan,’ batinnya sambil menyeringai tipis.
Baginya, uang adalah segalanya. Dan ia akan melakukan apa saja agar hidupnya tetap nyaman.
“Sudahlah, nggak masalah,” ucap David kemudian dengan nada manis yang dibuat-buat. “Aku malah lebih merindukan baby. Masa kamu nggak kangen sama aku?”
Rayuan itu sukses membuat Ella kembali luluh.
‘Nggak dapat Max juga nggak masalah. David juga cukup memuaskan,’ pikir Ella liar.
Keduanya lalu berjalan menuju lantai atas dan masuk ke kamar tempat mereka biasa menghabiskan malam bersama. Hampir setiap malam mereka mengunjungi klub hanya demi mencari kesenangan sesaat.
Meninggalkan pasangan itu, di tempat lain suasana justru terasa berbeda.
Seorang wanita paruh baya duduk anggun di ruang tamu apartemennya. Di hadapannya tersaji secangkir teh hijau hangat yang masih mengepulkan asap tipis.
Ia memainkan ponselnya untuk mengusir kesepian yang terasa menyesakkan.
Tring!
Tring!
Wanita itu segera mengangkat panggilan masuk tersebut.
“Halo? Ya, Mas?”
Wajahnya langsung berubah cerah.
“Ah, aku sudah menunggumu di apartemen. Cepatlah kemari… aku merindukanmu.”
Panggilan pun berakhir.
Wanita itu segera melangkah menuju walk-in closet. Ia memilih pakaian yang lebih terbuka, lalu mengenakan lingerie merah menyala. Lipstik senada menghiasi bibirnya, sementara aroma parfum mawar memenuhi ruangan.
Tiba-tiba sepasang tangan kekar melingkar di pinggangnya dari belakang.
Wanita itu tersenyum lebar.
“Kau tidak terkejut?” tanya suara berat seorang pria.
“Untuk apa terkejut?” balas wanita itu sambil menoleh manja. “Tidak ada yang bisa masuk ke apartemen ini selain dirimu, Sayang.”
Ia mengecup singkat bibir pria tersebut.
Pria itu tersenyum puas sebelum mengangkat tubuh wanita itu ke atas ranjang.
“Kau memang paling ahli membuatku lupa pada dunia,” gumamnya lirih sambil membelai wajah sang wanita.
“Karena aku mencintaimu. Apa pun akan kulakukan asal kau tetap bersamaku, Mas,” jawab wanita itu manja.
Pria tersebut tersenyum tipis. Ia mengecup singkat hidung wanita di hadapannya.
“Kalau begitu… kenapa kau justru menikah dengannya?” tanyanya tiba-tiba.
Wanita itu duduk perlahan, lalu memeluk lengan pria tersebut erat-erat.
“Apa aku masih perlu menjelaskannya?” katanya pelan. “Kalau bukan karena perjodohan dari orang tuaku, mana mungkin aku mau menikah dengannya.”
Pria itu tertawa kecil.
“Kau benar, Sayang. Kalau kau tidak menikah dengannya, mungkin aku juga tidak akan bisa menghancurkannya. Berkat kerja sama kita, sekarang semuanya berjalan sesuai rencana.”
Namun sesaat kemudian wajahnya berubah serius.
“Tapi… bagaimana dengan keluarga Wijaya? Kau yakin mereka tidak akan ikut campur?”
Wanita itu tersenyum penuh keyakinan.
“Aku rasa tidak. Selama kita tidak menyentuh mereka, semuanya akan aman.”
“Lalu bagaimana dengannya?”
Wanita itu mendengus pelan.
“Biarkan saja dia. Aku sudah tidak peduli lagi pada pria tua itu. Kalau bukan karena alasan tertentu, mungkin sejak dulu aku sudah bercerai dan memilih menikah denganmu.”
Pria itu terkekeh pelan.
“Sabarlah. Tinggal satu langkah lagi… lalu semuanya akan benar-benar berakhir.”
“Kau benar, Mas,” jawab wanita itu sambil kembali bermanja. “Tapi aku sudah berdandan seperti ini, kenapa kau belum juga memperhatikanku?”
Pria itu tertawa rendah sebelum kembali menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.
Malam terus berjalan, sementara dosa demi dosa seolah tak lagi mereka hiraukan. Yang mereka pedulikan hanyalah kesenangan sesaat yang memabukkan.
Tanpa mereka sadari, dari kejauhan seseorang tengah memperhatikan semuanya dengan tatapan penuh jijik.
Seluruh percakapan mereka terekam jelas.
“Apa yang akan kau lakukan dengan rekaman itu nanti?” tanya seseorang.
Pria itu tersenyum tipis penuh misteri.
“Apa saja,” jawabnya tenang. “Rekaman ini belum berguna sekarang… tapi nanti.”