NovelToon NovelToon
AKU IBU TIRI MUDA

AKU IBU TIRI MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Danica

Bailla adalah gadis muda berusia 20 tahun seorang putri tunggal yang memiliki karakter yang manja dan terbiasa hidup dengan kemewahan ia terpaksa menjadi ibu tiri muda dan menikah dengan duda beranak 3 yang terpaut usia 20 tahun. Pernikahan itu terpaksa terjadi idikarenakan perusahan orang tuanya diambang kebangkrutan akibat tertipu investasi bodong. Bagaimana Bailla menghadapi kehidupan sebagai istri dan ibu muda untuk anak-anak yang usia hampir sama dengannya ?? banyak hal lucu dan sedih yang terjadi degan Bailla si ibu tiri muda ini. ,🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENAGIS DIPANGKUAN ZEZE ***

Jam 11 siang. Matahari hari ini lagi galak-galaknya. Panasnya nggak cuma nyengat kulit. Rasanya kayak nyengat kepala, nyengat isi dompet, nyengat masa depan.

Tapi di pojok kantin Fakultas Sastra, ada dua cewek yang pura-pura nggak peduli. Duduk mojok di bawah kipas angin tua yang suaranya udah kayak traktor mau ambrol.

Kipas itu muter, tapi anginnya nggak nyampe. Cuma bising. Bising yang setia.

Bailla ngaduk es kopi susunya udah 5 menit.

Nggak diminum. Es batu di gelas plastik tipis itu udah hancur jadi bubur.

Kalau ada yang ngerti kode, itu tandanya: Bailla lagi ngaduk pikiran yang nggak bisa diaduk lagi.

Zeze, sahabatnya sejak ospek, duduk di seberang. Kaki nyelonjor, sendal jepitnya udah putus satu. Dia nggak tanya langsung. Dia nunggu.

“Woy,” Zeze nyolek punggung tangan Bailla pelan “Lo mau bikin boba atau mau ngomong? Es-nya udah jadi bubur. Kalau kelamaan, jadi es teh manis.”

Bailla naruh sendok. Suara sendok ketemu plastik bunyinya nyaring. Dia narik napas. Satu. Dua.

“Ze,” katanya pelan. “Gue mau nikah.”

Zeze yang lagi nyedot es teh lewat sedotan bengkok langsung keselek.

“Ukkh—HAAH?!” Dia batuk-batuk, mata berair.

“Sama siapa?! Cowok Indomaret yang lo taksir itu? Yang namanya... siapa... Rio? Yang suka pakai kaos band Slank palsu itu?”

Bailla geleng. Pelan. Kayak kalau digeleng terlalu cepat, kepalanya copot.

“Sama Pak Arya.”

Kipas angin mendadak jadi satu-satunya suara. Brak brak brak.

Zeze melot.

“Pak Arya dosen Killer Metodologi Penelitian? Yang kalau nilai UTS lo di bawah 60 dia kirim email panjangnya 3 paragraf?”

“Bukan,” Bailla ketawa. Tapi ketawanya pait. Kayak kopi tanpa gula. “Pak Arya teman Papi. Duda. Anak tiga.”

Hening.

Zeze naruh gelasnya pelan. Nggak ada “anjir”. Nggak ada “demi apa”. Nggak ada jokes receh.

Karena muka Bailla sekarang kayak orang abis begadang ngubur kucing kesayangan. Kosong. Tapi basah.

“Cerita,” kata Zeze akhirnya. Satu kata. Tapi nadanya jelas: gue denger.

gue gak judge.

gue di sini.

Dan Bailla cerita. Dia cerita dari awal. Dari perusahaan papi yang pelan-pelan bangkrut kayak ban bocor halus. Dari awalnya cuma telat gaji karyawan, jadi telat bayar listrik, jadi telepon dari bank yang nadanya makin lama makin nggak sopan.

Dia cerita tentang malam waktu debt collector nendang pagar rumah. Tiga kali. Keras. Sampai Mami nangis di dapur sambil nutupin telinga adiknya yang umur 9 tahun.

Dia cerita tentang sertifikat rumah yang udah pindah tangan.

Tentang Papi yang pulang malam-malam, bau rokok murah, dan diam-diam jual cincin kawin Mami di pasar Senen.

Cincin emas 3 gram yang katanya mau dipake kalau Papi mati duluan.

Dia cerita tentang Mami yang duduk di pinggir ranjang, ngeliat Bailla tidur, terus berbisik,

“Pak Arya mau lunasin semua, Nak. Utang rumah. Utang kuliah. Utang warung.” Tapi Mami nggak berani natap mata anaknya waktu ngomong itu.

Dia cerita tentang syarat nikah. Nggak ada cinta. Nggak ada pacaran. Cuma tanda tangan, akad, dan janji:

“Gue tanggung keluarga lo. Lo jaga anak-anak gue.”

Dia cerita tentang pertemuan pertama di warung kopi depan kantor Pak Arya. Laki-laki 39 tahun, rambut udah ada ubannya, mata lelah tapi nggak jahat. Dia pesenin sop buntut buat Bailla.

Dia nggak banyak ngomong. Cuma bilang,

“Kalau lo nggak nyaman, lo bisa bilang. Gue nggak maksa.”

Dia cerita tentang martabak. Tentang tiga bocah yang rebutan panggil dia. “Kaak!” “Tante!” “Ibu?”

Yang paling kecil, Aya, umur 4 tahun, malah narik jilbab Bailla dan bilang, “Ibu cantik. Ibu jangan pergi ya.”

Zeze dengerin semua. Nggak motong. Nggak ngomong “kok lo mau”. Nggak ngomong “gila sih”.

Tangannya pindah. Genggam tangan Bailla di atas meja kantin yang lengket karena tumpahan kecap. Genggamannya hangat.

Kencang.

Zeze pinter. Dia tahu ini bukan sinetron jam 7 malam. Ini hidup.

Hidup yang nggak bisa di-skip 10 detik.

"Lo bisa bayangin, Ze?" Suara Bailla pecah. "Bailla yang usia 20 tahun ini. Yang kemarin masih heboh gara-gara dosen nggak ngasih nilai A. Yang cantik, manis, lucu dan menggemaskan menurut lo."

Bailla Dia senyum getir dan melanjutkan ceritnya. " Gue gak bisa bayangin harus ngamong anak. Harus jadi istri seorang duda. Harus masak, nyuci, melayani, iiiih... Mimpipun aku gak pernah, Ze. Mimpiku itu ke Jogja naik kereta ekonomi. Mimpiku itu nulis puisi dan diterbitin. Bukan ngitung berapa sendok susu buat Aisha biar nggak diare."

Isak Bailla pecah. Tapi dia tahan. Nggak mau jadi tontonan.

“Terus lo... gimana?” tanya Zeze setelah Bailla selesai. Suaranya kecil. Kayak takut suaranya sendiri bakal pecahin Bailla lebih hancur. “Lo suka sama dia?”

Bailla ngelus pinggiran gelas plastik. Gelasnya udah lembek.

“Gue gak tau rasanya suka sama duda 39 tahun, Ze. Gue taunya, gue suka lihat Papi tidur pules buat pertama kalinya setelah 4 bulan. Nggak gelisah. Nggak ngigau utang.

Gue suka... Mami masak lagi sambil nyanyi lagu dangdut lama.

Bukan sambil ngitung kalender jatuh tempo sambil gigit kuku.”

Zeze gigit bibir. Matanya udah kaca-kaca. Dia nggak mau nangis dulu. Bailla butuh dia kuat.

“Terus lo? Perasaan lo gimana, Bailla? Jangan jadi martir mulu.

Lo manusia. Lo punya hak buat takut. Buat marah. Buat nggak mau.”

Dan Bailla akhirnya pecah. Tapi nangisnya diem. Nggak ada suara. Cuma air mata yang jatuh ke meja kantin. Meja yang udah lengket, kotor, penuh coretan rumus ekonomi yang nggak jadi dipelajari.

“Gue takut, Ze,” bisik Bailla. “Usia Gue 21 tahun. Temen-temen kita mikirin skripsi sama KKN. Mikir mau daftar magang di Harian Kompas. Gue mikirin jadi mama sambung buat anak orang. Gue mikirin gimana cara nyuapin anak 4 tahun yang nggak mau makan sayur.”

Dia usap hidung. “Gue takut gue lupa caranya jadi Bailla. Yang nulis puisi tengah malam. Yang nangis nonton film Ghibli. Yang mau ke Jogja naik kereta ekonomi dan makan gudeg di alun-alun. Yang... yang masih pengen digandeng, bukan digandengin karena kasihan.”

Zeze nggak nahan lagi. Dia geser duduk. Meluk Bailla kenceng.

Nggak peduli mahasiswa lain liatin. Nggak peduli kantin jadi panggung.

“Denger ya, Bailla Zahira,” bisik Zeze di kuping sahabatnya.

Suara dia tegas.

“Lo nikah sama duda bukan berarti lo gagal. Lo nikah karena lo milih perang lo sendiri. Perang yang nggak semua orang kuat jalanin. Dan kalau Pak Arya itu bajingan, gue sumpah, gue yang pertama bakar rumahnya. Gue siram bensin. Gue lempar korek. Gue rekam buat lo.”

Bailla ketawa di tengah nangis. Suara serak. “Semennya mahal, Ze. Rumahnya gede. Lo nggak kuat.”

“Biarin. Utang-utang lo kan udah lunas,” Zeze nyengir, ngusap air mata Bailla pake tisu kantin yang tipis kayak tisu toilet. “Terus, Pak Arya-nya gimana? Baik?”

Bailla diem mikir. Keinget Pak Arya waktu pertama ketemu. Yang pesenin sop buntut tanpa nanya. Yang liat Bailla cuma nyomot sayurnya, langsung bilang, “Lo nggak suka daging?

Nanti gue pesenin tahu.”

Keinget dia yang diem-diem kasih bagian martabak paling gede ke Bailla. Yang bilang ke anak-anaknya, “Jangan hukum Kak Bailla. Kak Bailla bukan pengganti Mama. Kak Bailla temen kita.”

“Dia... gak nyebelin,” jawab Bailla akhirnya. Suara pelan.

“Dia gak janjiin cinta. Dia nggak bilang ‘gue cinta lo’. Tapi dia janjiin gue boleh lulus kuliah. Janjiin adik gue sekolah sampai lulus SMA. Janjiin Mami nggak usah mikirin jatuh tempo lagi.

Buat sekarang, itu lebih dari cukup.”

Zeze manggut-manggut. Tapi matanya nyipit. “Tapi dia cakep kan?? Tajir jugakan??” Tanya Zeze dengan wajah ingin tahu yang nggak bisa disembunyiin. Kayak wartawan infotainment.

Bailla ketawa kecil. “Jujur, orangnya cakep, Ze. Malahan cakep banget untuk pria seumuran beliau. Tajir sudah pasti. Rumahnya di Bintaro. Mobilnya CRV. Kalau gue jalan dengan Om Arya mungkin masih cocok dibilang Kaka adik. Atau simpanan. Atau... gadunnya.” Dia bilang itu sambil senyum kecil. Senyum yang nggak sampai mata.

“WOW..WOW..WOW.” Zeze geleng kepala. Tepuk tangan pelan.

“Congratulation Bailla! Ini Pix Sugar Daddy level dewa!”

Dia nunjuk Bailla pakai sedotan. “Lu denger ya. Lu gak usah repot-repot ngurusin anaknya gantiin popok, masak, nyuci. Cukup kasih perhatian, kasih sayang pada mereka. Dan... ngelonin Bapak mereka aja, Bai.” Omongan Zeze asal keluar.

Nggak dipikir. Tapi niatnya ngehibur.

“SOTOY LU YA ZI!” Bailla nonjok lengan Zeze pelan. “Membayangkan menikah saja belum genah ini udh ngomongin ngelonin Bapaknya. Dasar otak nakal sih lu!”

Zeze ketawa ngak. Dia angguk-angguk. Dia sodorin es kopi susu Bailla yang udah jadi aer bening. “Nih, minum. Biar gak dehidrasi karena drama hidup lo kayak FTV Indosiar jam 2 siang. Judulnya: ‘Istri Muda Sang Duda Kaya’.”

Mereka ketawa bareng. Keras. Sampai mahasiswa meja sebelah noleh. Lega. Beratnya dibagi dua. Ternyata 50 kg jadi 25 kg rasanya beda.

Pas mau balik ke kelas, Zeze nahan lengan Bailla. “Apa pun yang terjadi, undangan gue jangan kertas HVS ya. Minimal art carton. Glossy. Dan gue mau jadi bridesmaid yang bawa bunga.

Bukan bawa ember buat nangkep lo kalau pingsan di pelaminan.”

Bailla nyengir. Dia nonjok lengan Zeze pelan. “Siap, Bestie.

Lo juga siapin mental ya. Soalnya lo bakal punya tiga ponakan dadakan. Yang satu suka Marsha and The Bear. Yang satu jago debat sampe gue nggak bisa jawab. Yang satu pinter bikin gue mau nyerah tiap malam.”

Mereka jalan bareng ke kelas. Tangan gandengan. Kenceng. Kayak kalau dilepas, salah satu bakal jatuh.

Di luar, panas masih nyengat. Aspal Manggarai menguap. Mahasiswa berlarian cari kelas. Dosen killer lewat dengan wajah datar. Tapi di dalam dada Bailla, ada yang aneh. Nggak sepi lagi.

Karena ada Zeze. Yang mau denger, tanpa bilang “kasihan”. Tanpa bilang “kuat ya”. Tanpa bilang “sabar”.

Cuma bilang: “Gue di sini. Titik.”

Bailla ngelirik sahabatnya. Zeze lagi nyanyi-nyanyi nggak jelas,

niru TikTok yang lagi viral.

Bailla berhenti sebentar. “Ah Zeze,” katanya pelan. “Kamu adalah pahlawan bertopeng bagi gue.”

Zeze berhenti nyanyi. Dia nunjuk dirinya sendiri. “Gue?

Pahlawan? Gue cuma punya uang 5 ribu di dompet.

Itu juga buat beli cireng.”

Bailla ketawa. “Ya udah. Pahlawan cireng.”

Mereka masuk kelas. AC-nya mati. Tapi Bailla nggak peduli.

Untuk pertama kali dalam 4 bulan, dia ngerasa..nggak sendirian. Di luar, dunia masih berisik. Utang masih ada. Masa depan masih nggak jelas.

Tapi di dalam, ada satu orang yang bilang, “Gue di sini.”

Dan itu cukup. Untuk hari ini.

1
Yuliyana
ada bima n dito, siapa ya ?
Miss Danica: Maaf kak di Bab ini ada perubahan nama tokoh dan ada yang lupa edit ... Makasih atas koreksiannya. Selamat membaca kak 😍🙏
total 1 replies
Miss Danica
Hay gaeess sahabat NT mohon suportnya karya pertama ku ini ya. mohon bimbingannya juga semoga sehat sehat semuanya sukses untuk kita semua.😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!