Sebuah trauma kelam di usia dua belas tahun mengubah hidup Lova sepenuhnya. Sejak kejadian mengerikan itu, ia menderita fobia akut yang membuatnya ketakutan setengah mati, bahkan hanya untuk sekadar berdekatan atau disentuh oleh seorang pria. Baginya, semua pria adalah ancaman.
Sampai akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Arnold, seorang psikiater genius dengan reputasi mentereng. Berbeda dengan pria lain, pembawaan Arnold yang sedikit gemulai justru memberikan rasa aman yang tak pernah Lova rasakan sebelumnya. Arnold menjadi satu-satunya pria di dunia ini yang bisa menyentuh kulit Lova tanpa memicu kepanikannya.
Demi menyembuhkan trauma Lova secara total dan sah di mata hukum, Arnold mendesak sebuah keputusan nekat: *Pernikahan Medis*.
Sebuah pernikahan yang menutupi alasan sebenarnya, menikahi wanita penuh trauma bahkan tak dicintai.
Bagaimana kedok psikiater pecinta lagu India ini? Apakah ia berhasil menyembuhkan Lova? Atau ia sendiri terjebak dalam rencana yang ditutup rapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Kepulangan Sang Tuan Muda
Arnold mencoba terus bersembunyi di balik kerapuhan jiwa, berjalan dengan tegap saat menyusuri koridor hingga menapaki satu demi satu anak tangga menuju lantai dua.
Genggaman tangannya pada jemari Lova tidak mengendur sama sekali. Bagi pasien itu justru menyalurkan kekuatan yang membuat gadis itu sedikit lebih tenang. Langkah kaki mereka tepat berhenti di depan sebuah pintu jati ukir, yang berukuran raksasa. Tentu saja Arnold sangat mengenalinya. Kamar utama sang Tuan Besar, Charless Darmawan.
Cklek
Arnold mendorong pintu itu tanpa ragu. Pikirannya sudah bersiap untuk menghadapi wajah angkuh Tania atau mungkin anak perempuannya, Leticya, yang seketika menjadi tuan putri di rumah ini.
Namun, pemandangan di dalam kamar justru membuat binar amarah di mata Arnold sedikit meredup.
Bau obat-obatan yang menyengat langsung menyambut indra penciuman mereka. Di tengah ruangan, sebuah ranjang rumah sakit tipe ICU berdiri dengan berbagai alat medis canggih yang berbunyi ritmis. Di atasnya, Charless terbaring lemah dengan selang ventilator di mulutnya, tubuhnya kurus dan ringkih. Ia tak lagi tampak seperti raksasa kejam tiga puluh tahun lalu.
Dan di samping ranjang itu, bukan Tania yang berdiri tak menyadari kehadiran mereka. Melainkan seorang wanita tua berpakaian rapi yang sedang memeriksa botol infus.
"Bii Inah ...?" suara Arnold memecah kesunyian.
Wanita tua itu tersentak. Begitu memutar tubuh dan melihat siapa yang berdiri di ambang pintu, botol infus di tangannya hampir saja terlepas. Matanya yang mulai rabun melebar seketika, berkaca-kaca menatap sosok pria jangkung di depannya.
"T-Tuan Muda?" bisik Bi Inah tak percaya.
Semenjak lulus SMA dan melanjutkan kuliah kedokteran, Arnold memilih angkat kaki dari rumah terkutuk ini dan tinggal di apartemennya sendiri. Jangankan menginap, sekadar singgah pun sangatlah jarang. Ini adalah pertama kalinya setelah dua puluh tahun Arnold menginjakkan kaki lagi di kamar ini, setelah Betris, ibunya diusir.
Bi Inah langsung berlari kecil dan memeluk tubuh tegap Arnold dengan tangis yang pecah. "Tuan Muda ... ini benar-benar Tuan Muda Arnold? Syukur lah Tuan Muda sehat dan terlihat sangat baik. Bibi sungguh merindukanmu, Tuan ..."
Seketika, aura dingin Arnold luruh, berganti dengan senyuman rindu penuh kasih sayang, kepada orang yang telah mengasuhnya semenjak kecil. Ia pun membalas pelukan wanita yang selalu menghiburnya di saat terpuruk dan menangis.
"Iya, Bi. Ini saya, Arnold."
"Kenapa Tuan Muda tak pernah lagi ke rumah ini? Bibi bingung harus bagaimana menghubungi Tuan." Pelukan itu akhirnya terlepas. Kepalanya menengadah ke atas menatap wajah bocah kecil dulu yang selalu bersembunyi di dalam lemari.
"Mana 'dia'? Kenapa saya disambut oleh para pengawal sialan itu? Sejak kapan tempat ini dipenuhi oleh mereka?"
"Ehm ... Nyonya Tania dan Nona Leticya sedang tidak ada, Tuan. Mereka sedang berbelanja ke butik mewah semenjak siang tadi setelah membawa ... membawa seorang wanita entah siapa lalu dimasukan ke ruang bawah tanah," bisik Bi Inah ketakutan, melirik ke arah luar, takut jika Tania tiba-tiba kembali.
Mendengar penjelasan Bi Inah, Lova menggoyang genggaman yang masih belum terlepas.
Hal ini membuat tangis haru Bi Inah mendadak terhenti saat baru menyadari ada yang menggenggam tangan Arnold. Bi Inah mengintip seseorang yang seolah bersembunyi di balik punggung tuan mudanya itu. Tampak seorang gadis yang sendu berdiri dalam diam seribu bahasa.
"Tuan Muda, siapa ini ...?" Bi Inah segera menghapus air matanya, menatap gadis asing itu dengan penuh tanda tanya.
Arnold menarik Lova agar berdiri di sampingnya. Detik itu juga, senyum manis khas Arnold kembali mencuat di bibirnya, meski kali ini menggambarkan karisma laki-laki sejati.
"Bi, kenalkan. Ini Zarisha Allova. Dia ini pas—eh ... maksudku dia ini istriku," ucap Arnold sedikit melirik ke arah Lova.
'Dia bener-bener hanya menganggapku sekedar pasien biasa?' batin Lova semakin redup.
Sementara itu, kata 'istri' yang diucapkan Arnold malah membuat Bi Inah menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Wanita lansia itu menangis tersedu-sedu, tetapi kali ini tangisan itu sebagai isyarat kebahagiaan yang teramat sangat.
Semenjak kematian tragis Arinda tiga puluh tahun lalu, Bi Inah adalah salah satu orang yang paling sakau dan cemas melihat perubahan perilaku Arnold yang mendadak feminin. Selama puluhan tahun, Bi Inah selalu berdoa dalam hati, takut jika orientasi seksual tuan mudanya melenceng akibat trauma masa lalu yang begitu hebat.
"Ternyata, Tuan Muda kami ini sudah menikah? Oh ya Allah ..." Bi Inah langsung menggenggam tangan Lova dengan penuh rasa syukur. "Cantik sekali ... Terima kasih, Neng, terima kasih sudah hadir di hidup Tuan Muda kami. Bibi ... Bibi senang sekali, Tuan Muda ternyata tidak ..."
Bi Inah tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, namun Arnold tahu persis apa maksud kekhawatiran pengasuh tuanya itu. Arnold hanya tersenyum tipis, melirik Lova yang wajahnya mendadak merona merah karena disebut sebagai istri sah oleh bagian masa lalunya ini.
Arnold kemudian mengalihkan pandangannya ke arah ranjang ayahnya yang koma. Tatapannya kembali dingin dan menusuk. Meski tak ia ungkapkan, dengan jelas menyiratkan rasa benci yang amat besar.
"Bi Inah, tolong jaga istriku sejenak," ujar Arnold pelan, melepaskan genggaman tangannya dari Lova dengan lembut.
"Kak ... ja-jangan tinggalkan aku sendiri ..." rintih Lova mendekap lengan Arnold.
"Kamu tenang saja. Kita akan membawa Mama keluar dari neraka ini." Arnold melepaskan dekapan itu memutar badan dan pergi tanpa menoleh.
"Neng, jangan takut. Bibi ini yang mengasuh Tuan Muda Arnold semenjak bayi." Lalu ia menghela napas melirik ke arah Charlees yang tak berdaya.
"Sini, Bibi perkenalkan pada mertua, Neng ..." Bi Inah mengenggam pergelangan Lova, membuat gadis introvert itu terpaksa mengikutinya.
"Tuan, lihat siapa yang ada di samping Anda? Seandainya Anda bangun, pasti Anda akan sangat bahagia saat tahu, putra kesayangan Anda kembali dan membawa istrinya ke rumah ini."
Jemari Charless yang tadinya membeku, perlahan bergerak. Ritme detak jantung pada monitor pun meningkat membuat Bi Inah terbelalak.
*bersambung*
Halo kakak Readers semua, besok lebaran Idul Adha nih. Bagi yang merayakan, Selamat Idul Adha ya ...
kalau memang kamu udah ga bisa sembuhin lova
lepas aja lah🥹
judulnya terapi cantik ku yg rupawan
itu aja Thor
gemulai mah... terlalu klise😍😍
jadi bayangin
aduuh ternoda dah pikiran aye cyiiin🤣🤣🫣
lova si udah mulai sembuh
ga terlalu perlu lu juga si...
tapi gimana yaaa???
keplak kali palanya biar balik normal🤣🤣
cyiin nya diilangin🫣🤣🤣
geplak lagi ninpake anduk
vote otw ka😍
kyk korban pelecehan
🫣🤣🤣🤣