Sebuah trauma kelam di usia dua belas tahun mengubah hidup Lova sepenuhnya. Sejak kejadian mengerikan itu, ia menderita fobia akut yang membuatnya ketakutan setengah mati, bahkan hanya untuk sekadar berdekatan atau disentuh oleh seorang pria. Baginya, semua pria adalah ancaman.
Sampai akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Arnold, seorang psikiater genius dengan reputasi mentereng. Berbeda dengan pria lain, pembawaan Arnold yang sedikit gemulai justru memberikan rasa aman yang tak pernah Lova rasakan sebelumnya. Arnold menjadi satu-satunya pria di dunia ini yang bisa menyentuh kulit Lova tanpa memicu kepanikannya.
Demi menyembuhkan trauma Lova secara total dan sah di mata hukum, Arnold mendesak sebuah keputusan nekat: *Pernikahan Medis*.
Sebuah pernikahan yang menutupi alasan sebenarnya, menikahi wanita penuh trauma bahkan tak dicintai.
Bagaimana kedok psikiater pecinta lagu India ini? Apakah ia berhasil menyembuhkan Lova? Atau ia sendiri terjebak dalam rencana yang ditutup rapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Aura Asing Penyembuhku
Lova sedikit tertegun melihat nama pada layar ponsel yang sedang memanggilnya. Namun, saat ini waktunya terasa kurang tepat. Hingga Lova memilih untuk menolak panggilan tersebut. Ia lebih memilih fokus pada Arnold yang terlihat tidak seperti biasanya.
"Kenapa Anda harus bangun saat ini?" desis Arnold sangat rendah. Tangannya mengepal kuat hingga bergetar.
Mata Charless beralih ke arah Lova dan ibunya yang berdiri di ambang pintu. Ia mendengar dengan samar ada yang mengatakan sang putra membawa istrinya ke rumah ini. Baginya, itu merupakan hal yang sangat mengejutkan hingga memaksanya untuk kembali dari alam yang tak pasti.
Air mata mengalir dari sudut mata pria yang dulu dikenal sebagai raksasa tanpa hati itu. Tangannya yang dipenuhi selang infus bergetar hebat, mencoba menggapai udara ke arah Arnold.
"Ma ... af ... kan ... Pa ... Pa ..."
Tepat di saat itu, suasana mendadak dingin. Arnold tahu, permintaan maaf itu tak akan pernah bisa mengembalikan adiknya atau menghapus sisa trauma di jiwanya.
"Maaf? Setelah tiga puluh tahun? Anda pikir, semua itu bisa selesai hanya dengan kata 'maaf'?" Arnold tertawa dingin tanpa suara.
Lova terpaku. Ini untuk pertama kalinya ia melihat Arnold dalam mode "dingin" seperti ini. Arnold yang ia kenal adalah pria yang selalu punya candaan absurd untuk mencairkan suasana. Namun, pria di depannya ini bagai orang asing, membuat tangan Lova tergenggam dan perlahan ritme pada jantungnya pun meningkat.
"Tuan Muda ... Tolong tenangkan hati dan pikiran Anda. Tuan Besar baru saja sadar, Tuan Muda," bisik Bi Inah lirih, air matanya tak berhenti mengalir. "Tuan Besar telah lama menyesali perbuatannya. Hanya saja, Tuan Arnold tak pernah di sini sehingga tidak mengetahui perkembangan di sini. Jadi, tolong lah beri kesempatan padanya, Tuan Arnold."
"Kesempatan?" Arnold melirik perlahan pada Bi Inah, tatapannya kosong. "Kesempatan untuk apa, Bi? Untuk mendengar dia menyesal karena telah membiarkan adikku mati di lantai ini? Atau menyesal karena telah mengusir Mama seperti sampah demi wanita itu?"
Charless terbatuk parah. Mesin EKG di sampingnya berbunyi semakin liar, menunjukkan detak jantung yang sangat tidak stabil. Tangannya yang bergetar masih berusaha meraih udara, mencoba menyentuh ujung kemeja Arnold.
"Ba... wa... Ma... ma..." suara Charless terputus-putus di balik masker oksigen. "Be... tris... di... ma... na..."
Arnold mendekat satu langkah. Ia membungkuk, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah pria tua itu. "Mama sudah lama mati di hati Anda. Jangan pernah menanyakan Mama lagi! Mama telah bahagia tanpa Anda."
Arnold pun meluruskan badannya kembali. "Saya hanya menjemput mertua yang dibawa paksa oleh istri Anda. Sebenarnya sungguh tak sudi menginjakkan kaki lagi di neraka ini. Namun, ...." Arnold berhenti dan menelan kelanjutannya dalam pikiran dan berbalik.
Tepat saat Arnold hendak berbalik dan benar-benar pergi, Charless mencengkeram lengan bawah Arnold dengan sisa-sisa kekuatannya yang terakhir. Matanya melotot, menunjuk ke arah laci meja di samping tempat tidur dengan gerakan dagu yang lemah.
"Do... ku... men... Ta... nia..."
"Dokumen?" Arnold mengernyit.
Drrtt... Drrtt...
Ponsel Lova kembali bergetar. Kali ini bukan panggilan, melainkan sebuah pesan singkat dari Teddy yang muncul di barisan notifikasi:
[Teddy]: Lova, tolong angkat! Arnold itu mem...!
Lova yang berdiri tak jauh dari Arnold tanpa sengaja membaca barisan kata yang tidak tertulis seutuhnya.
Akan tetapi, Lova masih terfokus pada ketegangan yang ada di ruang ini. Ada rasa tidak nyaman melihat sisi lain pria yang telah mengikrarkan janji suci, atas nama 'terapi' ini.
'Kak? Ternyata masa lalumu seberat itu? Lalu, setelah ini bagaimana denganku?' batinnya lirih. Satu tangannya terkepal menopang dada yang terasa perih.
Tangan Charless terangkat. Bi Inah dengan cepat menggapainya. Entah bagaimana cara mereka berinteraksi, Bi Inah pun mengangguk cepat dan memutar kepalanya ke arah Lova.
"Nona Lova ..." ucap Bi Inah menatap penuh harap. Tanpa melanjutkan, ia hanya menganggukkan kepala.
Lova seakan paham makna tersebut, hanya mampu menelan ludah. Melihat seseorang yang ringkih, tetapi dia adalah seorang pria. Lova ragu dan menggigit bibir merasa bimbang, harus kah mendekat ke sana?
Arnold yang biasanya membuat Lova merasa nyaman, kini justru membuatnya takut. Ia merasa bingung dan mungkin terjebak pada situasi aneh ini.
Lova melirik Arnold yang ternyata masih terpaku menatap laci meja, tanpa menoleh padanya. Lalu tatapannya beralih pada Charless. Ada ketakutan besar yang menghimpit di dada. Ia takut pada sosok pria ringkih yang asing baginya, dan takut pada kegelapan yang mendadak keluar dari tubuh Arnold.
Namun, rintihan Charless dan tatapan memohon Bi Inah seolah menarik kakinya untuk maju. Dengan gerakan sangat pelan, Lova mendekat. Ia bisa melihat betapa rapuhnya tangan Charless yang bergetar, membuat hatinya luluh.
Saat jarak mereka hanya tinggal satu langkah, Charless menggerakkan jemarinya, seolah ingin menyentuh ujung gaun Lova.
"I... istri... Ar... nold..." rintih Charless parau. Matanya yang merah menatap Lova dengan binar penyesalan yang mendalam. Seolah melalui Lova, ia sedang melihat satu-satunya harapan untuk menyentuh kembali hati putranya.
Di sisi lain, Arnold bergerak cepat menarik laci yang ditunjuk ayahnya dengan suara debuman keras. Di balik tumpukan berkas rumah sakit, ia menemukan sebuah amplop cokelat besar yang tersegel rapi dengan logo kantor notaris keluarga Darmawan yang lama.
"Dokumen ini?" Arnold mengangkat amplop itu. Matanya menyipit saat membaca tulisan di depannya. Surat Kuasa Mutlak dan Pengakuan Saksi.
Arnold merobek segelnya tanpa ragu. Ia membolak-balik lembarannya dengan cepat. Detik berikutnya, rahang Arnold mengeras. Dokumen itu berisi pengakuan tertulis tentang manipulasi keuangan yang dilakukan Tania, serta bukti bahwa Charless telah menyiapkan pencabutan seluruh hak waris Leticya dan Tania jauh sebelum ia jatuh koma.
"Jadi Anda sudah mengetahui tabiat wanita itu? Terus masih membiarkan dia menguasai rumah ini?" desis Arnold, menatap ayahnya dengan kebencian yang masih menyala.
Charless tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap Lova, lalu beralih menatap Arnold, seolah ingin menjawab: 'Aku tidak memiliki kekuatan lagi, hanya ini yang bisa kuberikan padamu.'
"Zarisha, bawa Mama kembali ke mobil! Bi Inah, antar mereka!" perintah Arnold mutlak, suaranya kembali datar dan dingin.
"T-tapi Tuan Muda, Tuan Besar baru saja—"
"Lakukan saja, Bi! Bawa mereka keluar dari sini!" bentak Arnold, membuat Lova tersentak kaget. Tangannya semakin mengepal kuat di dada.
Arnold segera mengeluarkan ponselnya, menghubungi nomor yang selama ini ia hindari.
"Pak Anwar? Ini Arnoldy Darmawan. Saya memegang dokumen segel laci 01. Saya ingin Anda mengaktifkan seluruh pasal pembekuan aset atas nama Tania sekarang juga. Saya akan ke kantor Anda sepuluh menit lagi."
*bersambung*
kalau memang kamu udah ga bisa sembuhin lova
lepas aja lah🥹
judulnya terapi cantik ku yg rupawan
itu aja Thor
gemulai mah... terlalu klise😍😍
jadi bayangin
aduuh ternoda dah pikiran aye cyiiin🤣🤣🫣
lova si udah mulai sembuh
ga terlalu perlu lu juga si...
tapi gimana yaaa???
keplak kali palanya biar balik normal🤣🤣
cyiin nya diilangin🫣🤣🤣
geplak lagi ninpake anduk
vote otw ka😍
kyk korban pelecehan
🫣🤣🤣🤣